
Happy Reading...
Wajah Nuril kembali merona dan juga masih terus saja senyum senyum sendiri, ketika melihat dua benda yang di sejajarkan di atas mejanya. Dengan menopang dagunya dengan kedua tanggannya, Nuril tidak sedetik pun menggeser tatapannya dari buku catatan kecil yang di temukannya beberapa tahun silam juga benda yang baru di berikan padanya. Tapi, bukan sekedar itu saja yang membuat Nuril tidak dapat berpaling.
Pulpen berwarna hitam yang berada di atas buku itulah yang menjadi alasan Nuril tak ingin menggeser pandangannya. Pulpen itu bukan sekedar Pulpen biasa, Pulpen itu sudah beberapa bulan ini Nuril incar, dan Nuril juga sudah pula merayu rayu kepada Pacar Sempurnanya untuk membelinya, namun tidak mendapat ijin. Dan kali ini, Pulpen itu ada di hadapannya di berikan oleh seseorang yang di harapkan namanya tertulis untuknya.
Pulpen dengan flasdisk di dalamnya, yang bisa di fungsikan sebagai alat perekam, jelas itu sangat bermanfaat besar buat Nuril. Dan Nuril tau itu harganya tidak murah. Bukan masalah murah atau mahal yang membuat Nuril merasa sangat tersanjung oleh Salman A.Rnya. Melainkan bagaimana Salman A.Rnya bisa memikirkan hal mendetail untuk Nuril, itulah yang membuat Nuril semakin merona dan merona.
"Kamu sudah mendapat pasanganmu, semoga ini juga akan menjadi pertanda, bahwa aku, ckckckck. Sadar Wi, sadar. Dia sudah punya Tunangan." Kata Nuril sambil cekikikan dengan pikirannya yang traveling entah kemana.
Setelah mengucap kata kata itu, Nuril segera meraih ponselnya, dan memeriksa beberapa chat yang masuk dan berhenti pada chat Kakak Nuril yang mengirimkan beberapa foto kepada dirinya. Dan senyuman samar penuh arti Nuril sungingkan saat matanya fokus menatap layar tersebut.
"Tunggu Uwi, kembali berkumpul bersama kalian." Ucap Nuril sembari mencium layar di ponselnya. Dan kemudian menggeser lagi layar ponselnya, berahir pada sebuah kontak nama yang sering sekali Nuril lihat, tapi tidak pernah berani menghubunginya lebih dulu. Tanpa Nuril sadari tangannya menyentuh kotak nama itu, dan alhasil muncullah layar chat disana.
Nuril sudah hendak mengeluarkan dirinya dari layar chat, namun di urungkannya lantaran terlihat disana sedang Online. Dan semakin tidak menentu lagi saat terlihat di layar disana sedang mengetik. Nuril tidak tahu harus bagaimana, tapi yang jelas saat ini jantungnya sudah jempalitan sesukanya. Meski rasa malu lebih dominan di rasakannya, karena ketahuan masih menyimpan kontak Salman A.R setelah ponsel mereka tertukar beberapa bulan yang lalu.
Tunggu, harusnya Nuril juga menyadari jika bukan dirinya saja yang masih menyimpan kontak Ustadz Salman, bukan malah asik menikmati perasaan aneh yang sedang memenuhi hatinya. Ya, itu sah sah saja. Soalnya kalau sudah berhadapan dengan seseorang yang sedang jatuh cinta semuanya bakal abnormal.
Nuril tercengang begitu barisan huruf yang di nantinya beberapa menit itu muncul di layar ponselnya. "Assalamu'alaikum.." Hanya kata itu saja yang tertera disana. Nuril mengira akan ada kata panjang yang di rangkai oleh Salman A.Rnya mengingat cukup lama mengetik.
Dengan perasaan sedikit kecewa Nurilpun cepat membalas chat itu dengan cukup singkat. "Wa'alaikumussalam." Nuril menanti beberapa saat, masih centang satu yang artinya pesan tersebut tidak terbaca. Dan entah mengapa itu membuat hati Nuril jadi kesal, sehingga tanpa sadar bibirnya sudah mengerucut.
Perlahan tangan Nuril mengarahkan ponselnya ke arah Pulpen pemberian Salman A.Rnya dan membidikan kamera ponselnya disana. Dan dengan gerakan cepat Nuril sudah mengetik kata di bawahnya.
"Benar benar di luar expectasi saya, dan sungguh sangat amazing. Terima kasih banyak." Send, dan hanya terlihat centang dua disana, Nurilpun keluar dari aplikasi chatnya dan menaruh poselnya begitu saja lantas beranjak ke kamar mandi.
Belum langkah Nuril sampai di kamar mandi, ponselnya sudah berbunyi nada dering panggilan hingga membuat Nuril cukup melonjak kaget dengan andai andai bahwa Salman A.Rnya lah yang telah menelfonnya. Dan dengan gerakan cepat Nuril segera meraihnya, kemudian segera tersenyum geli sendiri dengan pikirannya yang awkward di otaknya begitu terlihat di layar ponselnya nama salah satu Komandan dalam tim khusus.
"Siap, Ipda Nuril berada dalam saluran, siap mendengarkan arahan." Ucap Nuril dengan nada tegas, dan hilang sudah Nuril yang malu malu serta lemah lembut sesaat tadi.
"..." Nuril serius mendengarkan apa yang di arahkan kepadanya, dan sesekali kerutan di keningnya mengisyaratkan bahwa apa yang di dengarnya cukup penting.
"Siap laksankan, Dhan." Tegas Nuril dengan posisi siap dan segera meletakan ponselnya, lantas segera meraih baju ganti, bukan berupa baju tidur seperti yang di pikirkannya barusan, melainkan baju tugas khusunya. Karena sesuatu sedang terjadi, dan membutuhkan Nuril sebagai Sniper yang di ketahui kehandalannya menembak dalam keadaan gelap. Dan inilah yang sangat Nuril inginkan sejujurnya.
__ADS_1
Keinginan Nuril terbesar adalah masuk dalam tim khusus seperti Densus 88 atau di tugaskan ke luar Negri di daerah konflik. Karena dengan begitu Nuril tidak akan sempat untuk berfikir aneh aneh soal hatinya sendiri. Nurilpun keluar dari kost kostnya begitu ijin dari Ibu kost di dapatnya, dan berjalan sedikit tergesa ke jalan raya karena Komandannya mengatakan bahwa sudah ada yang menjemput Nuril disana.
Langkah lebar Nuril seketika terhenti, saat matanya menangkap seseorang yang tengah berjalan berlawan arah dengannya, yang artinya berjalan ke arahnya. Di tangannya tertenteng paper bag, dan itu Nuril sadari adalah miliknya.
Di sebrang sana langkah Ustadz Salman juga ikut memelan dan dengan pelan namun pasti langkah itu sampai juga tidak jaih dari Nuril. "Assalamu'alaikum.." Sapanya dengan pelan berbarengan keduanya yang sibuk menundukan pandangannya.
"Wa'alaikumussalam.."
Hening, dan semilir angin seolah membisikan perasaan mereka berdua, berirama lewat desauan yang membelai lembut wajah mereka berdua yang sebenarnya sama sama merona, namun tersembunyi di keremangan lampu penerangan jalan.
"Tadi, saya coba hubungi sampean, tapi tidak ada respon." Seketika Nuril meraba ponsel di kantongnya dan benar saja ada beberapa panggilan, mungkin saja itu tadi pas Nuril berada di kamar mandi. "Ini tadi ada yang ketinggalan." Lanjut Ustadz Salman dengan mengulurkan paper bag ke arah Nuril.
"Ahh, jadi merepotkan Ustadz Salman." Nuril mengulas senyumnya tipis sembari tangannya terulur menerima paper bag di depannya, lantas menyimpan ponselnya kembali. "Harusnya tadi saya memeriksa ponsel saya." Lanjut Nuril.
"Mungkin, memang sudah garisnya saya kembali kesini." Nuril dengan cepat mengangkat kepalanya, dan masih mendapati kepala tertunduk di depannya. Ini semakin terasa mendebarkan bagi Nuril, atau sebenarnya sama sama mendebarkan bagi keduanya. Namun, keduanya tidak menyadarinya seperti orang orang yang menyadari perasaan mereka berdua hanya dengan sikap keduanya yang malu malu.
Keduanya sama sama kagetnya, saat tiba tiba Ponsel Nuril berbunyi dan dengan gerakan cepat Nuril segera mengangkatnya, kembali sikap tegas Nuril terlihat begitu panggilan di angkat. "Siap, akan segera berada di tempat." Jawab Nuril dan sesaat sudah kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
Tatapan menyesal Nuril layangkan ke arah Salman A.Rnya, dan dengan cepat bibir kecilnya bertutur lembut kembali. "Maaf Ustadz Salman, saya harus segera pergi. Ada tugas mendadak yang harus saya laksanakan."
"Sekali lagi terima kasih Ustadz Salman. Assalamu'alaikum.." Sejujurnya Nuril tidak ingin menyudahi ini, namun karena ponselnya yang kembali berdering membuat Nuril tidak bisa abai dan mementingkan perasaannya sendiri.
"Wa'alaikumussalam.." Jawab Ustadz Salman dan di sertai dengan ulasan senyum tipis, tapi senyum itu terlihat misterius di mata Nuril. Dan sudah seperti film film romantis saja, Nuril meninggalkan Salman A.Rnya yang masih berdiri mematung melihat punggungnya. Hingga kembali langgkah Nuril terhenti saat di dengarnya seruan menyuruh Nuril untuk menunggu saat Nuril sudah hendak berbelok.
"Tunggu.." Ustadz Salman sedikit berlari mendekat ke arah Nuril dan berhenti tidak begitu jauh dari Nuril yang sudah berbalik dan menatap sedikit heran Salman A.Rnya.
"Berhati hatilah Ipda Nuril." Nuril tidak ingin percaya dengan apa yang di dengarnya di lihatnya. Tapi itu nyata, tatapan Salman A.Rnya kepada Nuril syarat akan kekhawatiran dan juga pengharapan kembalinya Nuril dengan selamat, dan itu berhasil membuat dada Nuril tak berirama semestinya. Apa lagi kata kata yang di ucapkan Salman A.Rnya selanjutnya, nyaris membuat Nuril tertarik ke dalam netra yang memabukkan baginya.
"Karena disini, ada hati yang menanti kabar keselamatan sampean.." Kata itu pelan, tapi itu seperti sebuah boom yang mampu membuat gendang telinga Nuril pecah. Pecah karena sangking bahagianya.
"Beriring dengan do'a, semoga sampean cepat kembali dengan membawa kabar gembira untuk Seragam sampean, untuk keluarga sampean, juga untuk saya." Lagi Nuril hanya bisa ternganga mendengar penuturan Salman A.Rnya.
Nuril tidak butuh moment, Nuril juga tidak butuh hal indah untuk sebuah ungkapan. Karena bagi seseorang seperti Nuril yang sering berhadapan dengan bahaya, setiap apapun akan menjadi moment yang penting dan indah. Dan kali ini, tidak pernah terbayang oleh Nuril bahwa akan ada yang menyemangatinya dengan kata kata yang Nuril yakin, justru akan membuyarkan konsentrasinya dalam berkerja.
__ADS_1
Nuril tidak bisa berkata apa apa, mungkin karena terlalu bahagia dan dering dari ponselnya lah yang membuatnya kembali le bumi dengan wajah yang yakin seyakin yakinnya dirinya akan begitu malu, jika melihat cermin saat ini. Lantaran tidak hanya merona tapi memerah sempurna dengan senyum yang di tahan dan bertingkah seperti anak ABG yang sedang di tembak gebetannya. Padahal yang di katakan oleh belum kata kata I Love You.
Tanpa membalas kata kata Salman A.Rnya, Nuril segera berbalik dengan tingkah lucu. Dan terlihat jelas ke gugupannya sembari tersenyum dan sesekali menggigiti bibir bawahnya karena merasa gemas sendiri dengan dirinya, terlebih lagi dengan seseorang yang kini tengah memandang punggung Nuril dengan untaian do'a yang membasahi bibirnya.
"Jika hari ini berhenti hanya sampai disini, sekurang kurangnya aku sudah pernah mengungkapkan apa yang bersuara di hatiku." Gumam pelan Ustadz Salman, dan sejurus kemudian ikut berjalan ke arah Nuril yang tengah menyembunyikan perasaannya yang sangat luar biasa bahagia, lantaran ternyata perasaannya tidak seorang diri saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Wadidau, ada yang uwu uwu an nih. Tapi, belum I Love You lho yah. Jadi, belum bener bener sah..
Like, Koment dan Votenya masih di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862