Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Apa itu sebuah undangan..?


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Seakan berada dalam cermin yang begitu lebarnya, daun daun Mahoni yang mulai menguning tercetak begitu nyata di kolam yang berisikan air jernih. Usut punya usut, setelah Nuril bertanya tanya dengan beberapa orang yang bekerja di Kebun buah ini, ternyata air yang memenuhi kolam ini berasal dari mata air tidak jauh dari kolam itu sendiri.


Masya'Allah. Ucapan itu tak henti hentinya Nuril senandungkan di bibirnya. Mata Nuril penuh dengan kekaguman, kekaguman atas ciptaan Allah sang maha pencipta. Tiga tahun terahir, bayangan rumah di tengah tengah kebun selalu menari indah dalam benak Nuril. Dan, kejutan terindahnya adalah syurga yang seakan tergambar disini sekarang.


Syurga di gambarkan dengan taman yang idnah, dimana terdapat sungai sungai yang mengalir di tengah tengahnya. Ini, seperti gambaran itu. Ya, Syurga yang di ciptakan oleh Gus Ali.


Kolam seketika beriak saat Nuril menjejakan kaki putihnya ke dalamnya, mengaburkan gambar yang seakan terlukis indah di atasnya. Duduk dengan kaki di masukan ke dalam kolam, Nuril mampu merasakan bahwa dingin dari air kolam tidak hanya merayap di kakinya, namun juga seakan menusuk ke dalam tulangnya.


Lafadz demi lafadz Al-Qur'an berhamburan dari bibir Nuril seiring dengan kakinya yang bermain air dengan hasil irama yang senada. Kricik, kricik, kricik. Begitulah seterusnya hingga tanpa terasa matahari sudah meninggi. Dan, segala sesuatu yang di lakukan dengan hati bahagia serta sepenuh hati, akan tidak terasa berlalunya. Bahkan, Nuril juga tidak menyadari bahwa Gus Ali sudah berdiri cukup lama memperhatikan apa yang di lakukan oleh Nuril.


Bersendekap dengan ******* senyum yang menawan, Gus Ali seakan untuk berkedip saja terasa sayang. Seperti Syurga yang di ciptakannya, Gus Alipun telah berhasil membawa Bidadari untuk melengkapinya.


"Byur.." Sebuah Jambu air jatuh tepat di ujung kolam. Nuril tersentak kaget, begitupun dengan Gus Ali hingga keduanya sama sama tersenyum canggung.


Tanpa berucap sepatah katapun, Gus Ali berjalan pelan mendekat ke arah Nuril. Menyibak sarung batiknya, Gus Ali ikut menjejakan kakinya ke dalam kolam persis dengan yang di lakukan Nuril.


Gus Ali meraih tangan Nuril dan setiap ruas dari jari mereka saling menaut dalan genggaman. "Setiap orang memiliki devinisi Syurganya masing masing. Begitupun dengan ku. Dan bahagianya aku, karena kamu yang menjadi Bidadari di dalam Syurga yang aku ciptakan. Cup." Kecupan lembut mendarat di telapak tangan Nuril.


Nuril tersipu, ingin sekali Nuril menarik tangannya. Tapi, hatinya tak menginginkan itu, justru menginginkan hal lebih, terbawa oleh suasana hangat bercampur dingin dengan desauan angin membelai wajah mereka berdua. Perlahan, namun pasti. Nuril menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Gus Ali.


Memejamkan mata, Nuril meresapi betapa nikmat ini begitu sempurna di rasakan olehnya.


"Tak pernah berani ku bayangkan sebelumnya, bahwa aku akan kembali ke tempat ini lagi, dengan status halalmu." Gumam Nuril pelan.


"Akupun juga. Setiap waktu, terasa menyesakan ketika aku terus berusaha untuk ikhlas melepaskan perasaan yang tumbuh subur. Aku, selalu berusaha untuk mengahdirkan sosok Juju kecilku, meski bayangan Ipda Nurillah yang terus datang. Dan lucunya, ternyata itu adalah orang yang sama." Gus Ali terkekeh pelan setelah selesai dengan ucapannya.


"Siapa yang mengira bahwa Ustadz Salman adalah Mas Ai yang usilnya kebangetan dan menyebalkan sekali." Jawab Nuril.


"Iyakah.?" Gus Ali mengangkat kepala Nuril dan kini mereka berdua saling bertatapan, tatapan lembut yang membaut serasa malu berada di sekitar mereka. Tenggelam dalam diam, mereka membiarkan angin berbisik kepada seluruh dunia, bahwa cinta mereka telah sampai pada hakikatnya. Membiarkan burung burung yang berterbangan di atas mereka menyanyikan betapa hati mereka telah mekar oleh jutaan bunga bunga.


"Dan siapa yang mengira kalau Ipda Nuril ternyata adalah Juju si bawel dengan pipi tembem dan gigi yang hilang di makan gerhana." Gus Ali memecah kesuyian di antara keduanya.


"Itu, karena Mas Ai tau." Cemberut, yang itu justru nampak sangat manis bagi pengliahtan Gus Ali.

__ADS_1


"Tidak juga, Juju memang bawel. Suka ngintil kemana mana pula. Mas Ai, Mas Ai ikut, terus ujung ujungnya nangis." Ledek Gus Ali.


"Mana ada, yang ada nangisnya karena di masukin ke dalam sarung." Cicit Nuril dengan bibir yang mengerucut sempurna.


Gus Ali hanya menaikan satu alisnya tanpa menjawab perkataan Nuril, dan itu justru membuat Nuril belingsatan tak karuan. Karena, dari tatapan itu Nuril bisa melihat kabut yang berangsur angsur menebal.


Detag jantung Nuril seakan akan berirama bak musik disco, ketika pelan pelan Gus Ali mengikis jarak mereka. Dan.. "Byur.." Tangan Nuril mendorong tubuh Gus Ali hingga terlempar masuk ke dalam kolam.


Nuril tertawa puas namun seketika tawanya tersapu kepanikan, saat dirinta teringat bahwa Gus Ali fobia dengan air yang menggenang. Bahkan, Gus Ali sudah melambai lambaikan tangannya bertanda meminta pertolongan. Tanpa, pikir panjang Nuril segera melompat ke dalam, yang itu ternyata tidaklah dalam, hanya sebatas dada Nuril.


Alangkah kagetnya Nuril ketika hendak meraih tubuh Gus Ali, justru pinggang Nurillah yang di apit erat oleh Gus Ali. Hingga tubuh keduanya benar benar menempel sempurna. Dan wajah keduanya berjarak hanya beberapa centi saja.


Harusnya, Nuril hanya perlu diam saja. Membiarkan waktu berjalan sesuai kehendak alam. Namun, Nuril justru membuka suara yang membuat suasana romantis yang tercipta terhanyut bersama air yang justru sudah tenang.


"Sampean sudah tidak fobia sama air lagi.?"


"Iya, itu semua karena Ipda Nuril." Jawab Gus Ali.


"Jadi, sampean mengerjai aku.!" Histeris Nuril. Gus Ali hanya tersenyum simpul, dan kembali Nurillah yang menjadi korbannya disini.


Gus Ali segera mencekal tangan Nuril, dan membalikannya dengan cepat. Menatap dalam mata Nuril, Gus Ali tak bersuara. Hanya ibu jarinya yang di kecup pelan kemudian di usapkan ke bibir merah Nuril dan itu sukses membuat Nuril membeku.


"Jangan marah. Aku merindukan Jujuku yang dulu. Aku merindukan bibir kecil ini yang terus mengomeli ku tanpa lelah. Aku merindukan segalanya tentang Jujuku. Dzuhur lewat beberapa saat tadi, ayo lekaslah." Ucap Gus Ali sambil meggiring Nuril untuk menepi.


Berjalan dengan basah kuyup, membuat orang orang yang tengah istirahat dari pekerjaannya, memandang dengan tawa yang tertahan. Bisik bisik setelahnya juga tak terelakkan lagi. Apa lagi tangan Nuril yang di genggam erat oleh Gus Ali, membuat Nuril semakin menunduk malu dengan sikap posesif Gus Ali.


Masuk ke dalam rumah, Gus Ali masih tak ingin genggamanya terurai. Dan terus membawa Nuril dalam iringannya hingga berada dalam sebuah kamar besar bernuasa abu abu. Aromanya begitu di dominasi kemaskulinan. Ranjang bulat di tengah tengah kamar itu, begitu berbeda karena keseluruhan berwarna putih begitupun dengan tirai yang berada di atasnya.


Dan yang membuat Nuril semakin mengaggumi kamar dimana dia berada sekarang adalah, atap dari kamar. Kamar ini beratapkan kaca. Persis seperti sebuah rumah rumah kaca milik Barbie ataupun Princess yang selalu menemani bermain dulu waktu Nuril masih kecil.


Mungkinkah.?. Pikiran konyol sejenak berseliweran di otak Nuril, sebelun Gus Ali menyodorkan sebuah Bathrope ke arah Nuril.


"Lekaslah mandi, Ju. Jangan sampai kamu masuk angin." Ucap Gus Ali.


Mengangguk kikuk, Nuril segera meraih jubah mandi yang di sodorkan Gus Ali dan berjalan pelan mamasuki kamar mandi. "Sampean apa tidak mandi.?" Mengigit bibirnya, Nuril merasa ucapannya begitu ambigu untuk di dengar. Apa lagi setelah melihat respon Gus Ali yang langsung tersenyum jahil ke arahnya.


"Tidak jadi. Brak." Nuril segera meralat ucapannya dan menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Meraup wajahnya yang terasa panas, Nuril terus saja berusaha menatap perasaannya yang sedang kacau seperti balon hijau yang pecah. Namun, itu sia sia belaka karena ucapan Nuril sudah terlanjur di dengar oleh Gus Ali.

__ADS_1


Sementara Gus Ali di luar kamar mandi terus saja tetsenyum sembari menggeleng gelengkan kepalanya. Lantas, sejurus kemudian mengambil jubah mandi yang lain dan berjalan keluar kamar utama.


Setengah jam berlalu, Nuril masih betah di dalam kamar mandi meski tubuhnya sudah mengigil kedinginan. Dan ahirnya dengan menguatkan mentalnya, Nuril membuka pintu kamar. Mendapati kamar kosong, Nuril segera berlari ke arah lemari kayu yang berada di ujung kamar.


Menepuk jidatnya pelan, Nuril sadar. Nuril tidak memiliki baju ganti. Bergerak dengan gelisah Nuril terus berpikir, dan pikirannya semakin ngeblank saat di lihatnya handle pintu bergerak. Spontan saja Nuril menarik kemeja dan sarung Gus Ali yang berada dalam lemari. Lantas berlari ke kamar mandi lagi.


Kemeja putih milik Gus Ali kedodoran melekat di tubuh Nuril. Sementara sarung goyor Gus Ali justru tertata rapi menutup bagian bawah tubuh Nuril. Apa yang tidak bisa membuat Gus Ali berpaling saat Nuril baru membuka pintu kamar mandi.? Adalah baju yang di kenakan Nuril sedikit tembus pandang.


"Apa kamu sengaja mengundangku dengan pakaian itu, Ju." Suara berat Gus Ali sedikit serak. Serak yang membuat Nuril takut hanya sekedar membalas tatapan Gus Ali...


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Sengaja banget Mak.


Mak e tertawa jahat...🤣🤣🤣🤣🤣


Like, Coment dan Votenya di tunggu.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2