
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak ada yang tahu dengan skenario yang di buat oleh sang maha pencipta, begitupun dengan Gus Ali. Entah ini harus di sebut dengan kebetulan atau sebagai jalan bagi Gus Ali untuk mendekati seseorang yang telah lama bertahta di hatinya.
Dengan masih menimang nimang ponsel yang semalam tertukar, Gus Ali mengulas senyum tipis dengan tulang pipi yang bersemu merah. Hampir semalaman Gus Ali terus terjaga, memikirkan siapa pemilik dari Ponsel yang berada di tangannya, dan semakin tidak karuan lagi saat di sepertiga malam alarm dari ponsel itu berbunyi dan memperlihatkan wallpapper dari seorang gadis yang tengah cemberut lucu.
Dan perasaan sakit tiba tiba saja ikut datang, saat pagi menyapa dan ponsel milik Ipda Nuril berdering, tertera dengab jelas nama disana, Pacar Sempurna. Kebetulan yang Gus Ali anggap sebagai jalan, berubah sebagai peringatan bahwa dia sudah berpunya, dan Gus Ali harus puas hanya dengan menyimpan perasaannya seorang diri.
"Ini tidak seharusnya." Putus Gus Ali, setelah panggilan yang lancang Gus Ali terima. Dan dengan cepat Gus Ali terus mencoba menghubungi nomer ponselnya, namun sama sekali tidak ada jawaban setelah berulang ulang.
Kembali, Gus Ali menghubungi ponselnya. Dan nyesss, suara lembut dari sebrang membuat dada Gus Ali melonjak seperti ingin lompat dari tempatnya. Dengan berbasa basi sedikit ahirnya Gus Ali dan Ipda Nuril sepakat untuk bertemu di tempat Ipda Nuril sedang melakukan aktifitas ahir pekannya.
Sedari pagi, senyum Gus Ali terus saja tersunging dan tentu saja itu dengan alasan yang sangat tepat. Dan itu juga nyatanya mampu di baca oleh teman yang sedang bersama sama Gus Ali merumuskan pemecahan masalah di acara Basthu Masa'il kali ini.
Meski teman Gus Ali tidak menanyakan secara gamblang dengan apa yang membuat Gus Ali terus tersenyum tipis dengan tulang pipi yang ikut memerah, tapi kiasan yang di ucapkan oleh temannya Gus Ali sangat faham betul, bahwa dirinya saat ini sedang di olok.
Acara Gus Ali sudah selesai, setelah Dzuhur tadi. Dan sehabis shalat Gus Ali yang sedang berbincang dengan temannya itu, terus saja melirik ponsel yang tergletak di samping tas miliknya. Teman Gus Ali yang menyadari hal itu, dengan tenangnya malah menyuruh Gus Ali untuk menghubungi seseorang yang membuat pikiran Gus Ali terbelah.
"Bagaimana.?" Tanya Gus Malik, teman dari Gus Ali.
"Dia masih sibuk, Gus." Jawab Gus Ali, saat satu panggilan pertama tidak ada jawaban dari Ipda Nuril.
"Apa dia Santri, atau Ustadzah mungkin.?" Ucap Gus Malik dengan nada penuh canda.
Gus Ali tersenyum simpul lantas menggeleng pelan seraya berucap. "Bukan keduanya."
"Cukup menarik, Tadz. Saya jadi penasaran, gadis seperti apa yang membuat Ustadz Salman bisa memecahkan konsentrasinya." Gus Malik membuka buku di hadapannya dan beberapa saat fokus dengan buku di depannya. "Coba hubungi lagi." Kata Gus Malik setelah beberapa saat.
Gus Ali sedikit ragu. Gus Ali hanya takut jika Gus Ali akan terlalu menggebu gebu, sehingga membuat Ipda Nuril merasa terganggu dan merusak kegiatan yang sedang di lakukan oelh Ipda Nuril.
"Ayolah, Ustadz Salman. Saya rasa tidak ada salahnya mencoba lagi, dan menjadikan Ponsel njenengan sebagai alasannya.Siapa tahu jadi jodoh." Ucap Gus Malik, saat di lihatnya Gus Ali hanya terus menimang nimang ponsel di tangannya.
Helaan nafas berat Gus Ali menandakan bahwa dirinya sedang gugub begitu nyata terlihat saat jari jari Gus Ali mulai mengeser geser benda pipih di tangannya, dan tak lama setelah itu perbincangan singkatpun terjadi dan berhasil membuat Gus Ali kembali tersenyum tipis dengan menekuk kepalanya.
"Ayo, dimana tempatnya.?" Tanya Gus Malik dengan sangat antusias, karena menurut Gus Malik ini hal langka, bisa melihat Gus Ali malu malu.
Hampir delapan tahun kenal dengan Gus Ali, dan selama empat tahun tinggal bersama di Yaman dan lanjut lagi dua tahun bersama di Surabaya, sungguh Gus Malik tidak pernah sekalipun melihat Gus Ali akan malu malu, atau sekedar membicarakan seorang gadis. Padahal dulu waktu di Yaman, banyak sekali teman kuliah dari mereka yang secara terang terangan menyatakan perasaan sukanya terhadap Gus Ali.
"Tunggu sebentar, lokasinya belum di kirimkan." Tukas Gus Ali sambil mengemasi barang barangnya dan memasukkannya di dalam tas ransel.
"Ping." Suara dari notif ponsel. Dengan cepat Gus Ali meraihnya dan setelah melihatnya Gus Ali mengerutkan keningnya, lantas memberikan ponsel di tangannya kepada Gus Malik.
"Ini lokasinya bukannya dekat dekat sini saja ya, Gus."
"Biar saya lihat." Jawab Gus Malik dan dengan cepat ponsel sudah berpindah ke tangan Gus Malik. "Iya, terpisah dua blok saja." Lanjut Gus Malik dan menggembalikan ponselnya kepada Gus Ali.
__ADS_1
"Ya sudah ayo." Ucap Gus Malik saat di lihatnya Gus Ali yang masih duduk di tempatnya.
"Tidak terlalu tergesa gesa, Gus." Jawab Gus Ali.
"Memang kalau jodoh tidak akan lari kemana mana. Tapi jodoh juga tidak akan datang dengan sendirinya kalau sudah di kasih lampu ijo masih terus mandek di tempat." Jawab Gus Malik dan membuat Gus Ali tersenyum kaku.
"Jauh banget ke jodoh." Jawab Gus Ali.
"Memang tidak ada yang tahu akan hal itu, dan tidak ada salahnya berusaha. Sekurangnya kita pernah berusaha untuk menjadikan dia jodoh kita, tidak hanya hubungan yang tidak jelas." Kata Gus Malik dengan bersemangat seolah olah Gus Malik sendiri berani ketika sudah berhadapan dengan seorang gadis.
Bagi Gus Ali, berhadapan dengan seorang gadis itu sudah sangat biasa, dan di gombalin gadis juga sudah menjadi makanan sehari hari. Itu Mahasiswi, lah ini yang di hadapi Gus Ali adalah seorang Polisi Wanita, yang terkenal dengan disiplin dan tegas, dan kemungkinan galak. Karena mereka terbiasa dengan didikan yang keras.
"Baiklah ayo." Ahirnya Gus Ali membuat keputusan.
"Tidak sabar, ingin lihat gadis seperti apa dia." Gus Malik berjalan terlebih dahulu menuju ke tempat Alexa berada.
Memalukan, mungkin itu yang di rasakan oleh Gus Ali, karena hingga usianya yang ke 27 tahun, baru kali inilah dirinya merasa nyalinya menciut hanya karena hendak bertemu dengan seorang gadis. Mungkin ada satu nama yang membuat Gus Ali enggan untuk berjumpa dengan si empunya nama, namun sama sekali bukan karena ciutnya nyali, lebih kepada rasa bersalah yang begitu besar tumbuh di hatinya.
Dan rasa yang sekarang sedang di rasakan oleh Gus Ali adalah sebuah rasa yang selama bertahun tahun lalu sudah tumbuh, dan Gus Ali merawatnya, menjaganya tetap di tempatnya dengan hanya melangitkan sepenggal dari nama yang di ketahui olehnya. Nuril, sepenggal nama itulah yang di ketahui oleh Gus Ali, dan sekarang nama itu semakin lengkap di ketahui oleh Gus Ali lewat tag name yang tersemat di Seragam kebanggaan Negara. Ipda Nuril M.J.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Motor Vespa membelok ke pelataran Panti Jompo Harapan Kasih. Dan itu berhasil membaut Gus Ali sedikit tercengang saat apa yang di lihatnya tidak sesuai dengan apa yang di pikirkannya. Dalam benak Gus Ali, Gus Ali mengira bahwa tempat yang dia akan datangi adalah sebuah tempat untuk latihan ataupun tempat dimana Gus Ali akan menemukan Ipda Nuril dalam keadaan tengah tugas dan menarik perhatian semua orang lewat seragam dinasnya.
Tapi, ini alih alih Gus Ali mendapati Ipda Nuril yang sangar dalam balutan seragam dinasnya, malah Gus Ali melihat seorang gadis yang mampu membuat kepala Gus Ali sulit untuk di tundukan untuk menjaga pandangannya. Jilbab warna Mint, di padu dengan cardigan dengan warna senada di tambah dengan rok plisket warna hijau pias membuat penampilan Ipda Nuril seperti seorang Mahasiswi Gus Ali di kampus. Itu sungguh penampilan yang sangat menggemaskan sekali.
"Eh, Ustadz Salman sudah datang. Maaf saya tidak sadar." Ucap Ipda Nuril saat melihat Gus Ali berdiri tidak jauh dari tempatnya dan dengan cepat Gus Ali segera menundukan pandangannya, sembari merutuki dirinya sendiri karena telah larut oleh bisikan syetan.
"Assalamu'alaikum." Ucap Gus Malik dengan menyungingkan senyum kepada semua orang yang tengah berada di taman bersama Ipda Nuril.
"Wa'alaikumussalam." Jawab semuanya. Dan selayaknya orang lanjut usia yang sudah lebih dulu mengalami hal hal menarik semasa muda, membuat beberapa dari mereka ada yang mengolok Ipda Nuril dengan Gus Malik, bukannya Gus Ali.
"Sudah, sana pergi Nak Uwi. Kami juga pernah muda, jadi tau seperti apa." Ucap salah seorang Oma Oma dengan kerlingan nakal ke arah Ipda Nuril.
"Iya, saya juga punya cucu seusai kamu, Wi. Boleh di kenalkan sama pemuda yang masih menunduk itu." Lanjut yang lain.
"Boleh, Oma. Kalau nanti saya sudah kenal juga ya. Baiklah Uwi tinggal dulu sebentar."
"Sudah sana." Jawab semuanya sambil mengibaskan tangannya ke udara.
Ahrinya Nurilpun melangkah menuju dimana Gus Ali dan Gus Malik tengah berdiri. "Maaf, mereka tidak tahu menahu, Tadz." Ucap Nuril begitu sudah berdiri tidak jauh dari Gus Ali dan Gus Malik. Lantas mengajak mereka berdua ke tempat duduk yang tidak jauh dari tempat para Oma Oma berada itu.
"Saya seperti pernah kenal dengan sampean, Mbak. Tapi, diamana ya."Ucap Gus Malik saat mereka sudah berada di tempat duduk yang juga melingkar.
Baik Gus Ali dan Ipda Nuril saling melempar pandangan ke arah Gus Malik, yang masih senantiasa memperhatikan Ipda Nuril dengan seksama, berusaha sebisa mungkin mengingat ingat.
"Oh iya. Apa sampean dulu pernah belajar di Jogja. Kalau ndhak salah belajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah.?" Kata Gus Malik sembari tersenyum tipis dan kembali ucapan dari Gus Malik membuat Gus Ali juga Ipda Nuril memandang Gus Malik dengan tatapan heran dan tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu hingga membaut keduanya sama sama memutus pandangan tersebut, meski dada keduanya sama sama berdetag sama hebatnya.
__ADS_1
"Benar kan.?" Ulang Gus Malik.
"Enggeh." Jawab Nuril masih dengan wajah penasaran, karena Nuril tidak begitu mengingat seseorang yang tengah berada di samping dari Gus Ali tersebut.
"Hampir saya tidak mengenali sampean, Mbak Uwi." Deg. Nuril semakin terkejut. Begitupun dengan Gus Ali yang semakin memandang lekat ke arah Gus Malik. "Kita dulu satu Pesantren Mbak Uwi. Sampean ingat tidak." Lanjut Gus Malik.
"Tidak yakin." Jawab Nuril masih dengan mencoba untuk mengingat ingatnya. "Silahakan duduk dulu, sebentar saya ambilkan ponselnya." Lanjut Nuril dan kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan dimana dia meninggalkan tasnya.
Gus Ali, terus saja memperhatikan punggung Nuril hingga menghilang di balik tembok pembatas dan kembali mengulas senyum tipisnya saat di sadarinya bahwa orang yang mampu menggetarkan hatinya, nyatanya memiliki besic pendidikan yang setidaknya sama dengan dirinya.
Tidak berapa lama Nuril sudah kembali lagi, dengan ponsel berada di tangannya. Dan langsung menaruhnya di atas meja lantas menggesernya pelan ke arah Gus Ali yang tengah duduk dengan kepala tertunduk. Dan Gus Ali juga melakukan hal yang sama, dengan apa yang di lakukan oleh Nuril, tanpa mengatkan sepatah katapun.
"Terima kasih, Ustadz Salman." Ucap Nuril begitu mengambil ponselnya dan segera memasukan dalam kantong bajunya.
"Saya juga terima kasih, Ipda Nuril." Jawab Gus Ali pelan.
"Tunggu, Ipda Nuril. Jadi Mbak Uwi ini Polwan." Kata Gus Malik dengan nada kaget.
"Maaf, saya sama sekali tidak ingat dengan sampean. Tapi, sampean kok tau panggilan akrab saya." Jawab Nuril sopan.
Gus Malik tertawa sampai mengeluarkan suaranya, hingga membuat Nuril juga Gus Ali merasa heran di buatnya. "Mbak Uwi, pernah di hukum di suruh mebersihkan kolam mandi, tapi malah asik bermain air. Juga pernah bertengkar dengan Kang Santri yang kepergok menengok ke gerbang Asrama Putri. Dan juga satu hal, Mbak Uwi juga pernah kabur dari Pesantren kan." Ucap Gus Malik dengan masih mempertahankan senyumnya, sementara Nuril dan Gus Ali menatap Gus Malik tanpa kedip.
"Apa sampean ketua keamanan waktu itu, yang sering memberikan hukuman kepada saya." Ucap Nuril dengan pura pura mengelus keningnya, untuk mengurangi rasa malunya.
"Betul sekali. Saya tahu sekarang, jadi ke bar baran sampean dulu, sekarang ada manfaatnya. Bisa untuk menghajar penjahay di penjara."
Nuril semakin salah tingkah, dan sesekali curi curi pandang ke arah Gus Ali yang tengah menahan senyumnya, dan Nuril hanya bisa berharap bahwa senyum dari Gus Ali tidaklah senyum yang memalukan dirinya. Meski sudah sangat jelas, bahwa sepenggal cerita masa lalu dirinya sangat memalukan bagi yang mendengarkan, terlebih lagi itu di dengar oleh orang yang di sukainya. Jelas membuat citra buruk bagi dirinya.
Tapi, apa yang membuat Gus Ali tersenyum, adalah kerena Gus Ali mengingat kenakalan dirinya waktu remaja, dan rasa rasanya Gus Ali akan mendapat lawan yang sepadan jika dirinya bertemu lebih awal dengan Ipda Nuril. Dan sungguh jika melihat bagaimana tindak tanduk dari Ipda Nuril saat ini, Gus Ali seperti tidak mempercayai bahwa Ipda Nuril dulunya sangat bar bar, tapi begitu ingat kembali akan pekerjaan dari Ipda Nuril, itu tidak mustahil bagi dirinya.
Bersambung...
####
Belum ngobrol Mak, kok sudah bersambung wae.
besok lagi..🤭🤭🤭
Like, Coment, dan Votenya masih di tunggu enggeh.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1