
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Secangkir kopi yang sudah tidak mengepulkan asap masih senantiasa menunggu meja, sedangkan sang pemilik kopi tengah asik dengan kitab di tangannya. Hanya di tangan saja, karena sejatinya pikirannya tengah bercabang kemana mana meskipun netra bermanik coklat itu menatap lurus ke barisan huruf huruf Arab yang tanpa harakah.
Sepuluh hari telah berlalu semenjak kedatangan Gus Ali menjenguk Ipda Nuril di Rumah Sakit waktu itu, dan sejak saat itu Gus Ali belum punya alasan lagi untuk datang kesana kembali menjenguk Ipda Nuril. Tentu juga karena satu alasan yang membuatnya enggan untuk datang kesana.
Om Taufiq, itulah alasan Gus Ali enggan untuk datang ke Rumah Sakit lagi. Pertemuannya dengan Om Taufiq yang merupakan Ayah Juju, sebelum Gus Ali meninggalkan Rumah Sakit, mau tidak mau menganggu pikirannya.
Juju, nama itu masih terus terpatri di benak Gus Ali, meski wajah pemelik nama itu sama sekali tidak tergambar dalam ingatan Gus Ali. Tentu saja itu terjadi, mengingat sudah 17 tahun lamanya mereka tidak bertemu. Dan andaipun Gus Ali bertemu dengan Juju di jalan, Gus Ali yakin seyakin yakinya tidak akan mengenalinya.
Akan bisa lari kemana jodoh itu Nda, selagi namanya yang tertulis untuk Ali di Lauhul Mahfud, sejauh manapun Ali pergi akan tetap kembali padanya. Kata kata itu terus terngiang di benak Gus Ali, setelah pertemuaanya dengan Ayah Juju, dan mengingatkan Gus Ali akan rahasia jodoh yang tak akan pernah bisa lari. Apa lagi saat ini Juju juga berada di kota dimana Gus Ali juga berada.
Dengan helaan nafas dalam, Gus Ali menutup kitab di tangannya, dan berlalu menuju kamar mandi. Tak lama sudah terlihat Gus Ali keluar dari kamar mandi dengan wajah basah air wudhu. Sejurus kemudian sudah bersiap di atas sajadahnya. Lama, Gus Ali terus meminta petunjuk dengan kebimbangan hatinya, hingga malam semakin larut berselimut dinginnya agin yang berhembus.
Sejatinya, hati Gus Ali yakin dengan satu nama. Namun, keinginannya untuk berbakti kepada orang tua, dengan selalu mendengarkan dan meprioritaskan keduanya, membuat Gus Ali gamang akan itu.
Jika Gus Ali tetap maju pada pilihannya, maka ada dua hal yang harus di hadapinya. Pertama, adalah kecewanya orang tua Gus Ali, lantaran tidak bisa memenuhi janji kepada sahabat baiknya. Sedangkan yang kedua, lebih pada Ipda Nuril sendiri. Jika, Ipda Nuril bersedia bersama Gus Ali, maka bukan tidak mungkin Ipda Nuril harus mengorbankan cita citanya. Dan Gus Ali tidak ingin iti terjadi.
Gus Ali merebahkan tubuhnya, dan merapal bait bait do'a hingga dirinya terlelap bersama mimpi jauh tentang masa kecilnya. Dan kembali bertemu juga dengan Juju kecilnya yang selalu mengikutinya dengan banyak tanya dan ceria dengan senyum yang tersunging di bibirnya.
Mas Ai, Juju enggak mau telur setengah mateng, Juju mau telurnya mateng, kuningnya tepat di tengah tengah. Ucapan Juju kecil dengan bibir yang mengerucut lancip dan pipi tembemnya yang mengembang membangunkan Gus Ali dari tidurnya bertepatan dengan alarm dari ponselnya yang berbunyi di sepertiga malam.
Untuk sejenak Gus Ali masih duduk di tempat tidurnya, dan berfikir keras tentang mimpinya barusan. Sebetulnya bukan karena mimpinya, melainkan pada bibir yang mengerucut serta pipi yang mengembung, itu mengingatkan Gus Ali pada tingkah Ipda Nuril.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Siang merambat ke sore, dan sore ini sepulang dari Kampus Gus Ali di utus oleh Kyai Nizam untuk singgah di Masjid Al-Annas. Adzan Asar baru saja berkumandang, dan anak anak kecil santriwan santriwati TPQ juga sedang ramai mempersiapkan diri untuk Jama'ah shalat Asar.
Gus Ali tersenyum simpul menyaksikan beberapa tingkah lucu anak anak kecil yang tengah berkutat dengan Sarung ataupun Mukenanya. Dan tiba tiba dada Gus Ali melonjak dengam cepatnya, saat di dengarnya suara lembut seorang gadis yang tengah membantu membenarkan mukena salah satu anak dengan langsung bersimpuh di depannya.
__ADS_1
Dengan cepat Gus Ali mengalihkan pandangannya dan berjalan masuk ke dalam Masjid, sebelum sang gadis menyadari keberadaannya disana. Senyum lega juga tersunging di sudut bibir Gus Ali, saat tau bahwa Ipda Nuril sudah pulih, meski tidak di katakan benar benar membaik, itu Gus Ali bisa simpulkan karena Gus Ali melihat betapa Ipda Nuril masih kesusahan untuk menggerakan tangan kanannya.
Usai mengerjakan shalat Asar, Gus Ali langsung bertandang ke kantor Takmir Masjid, dan mengutarakan tujuannya datang ke Masjid Al-Annas tak lain dan tak bukan, karena di utus oleh Kyai Nizam untuk menyampaikan beberapa salam beliau.
Dari perbincangan itu, Gus Ali tau dirinya di utus ke Masjid Al-Annas, bukan sekedar untuk hari ini saja, melainkan juga untuk membantu di TPQ sebagai salah satu Ustadz dan itu semua karena permintaan dari Takmir Masjid kepada Kyai Nizam.
Bukan Gus Ali tidak ingin membantu, hanya saja mengingat letak Masjid yang berdekatan dengan Kost kostan Ipda Nuril membuat Gus Ali merasa sedikit tidak nyaman. Bukan tidak mungkin mereka akan bertemu, meski Gus Ali juga tidak akan setiap hari berada disini. Buktinya hari pertama datang kemari saja, Gus Ali sudah langsung melihat Ipda Nuril.
Inginnya Gus Ali setiap hari melihat Ipda Nuril, hanya saja Gus Ali tidak ingin menjadi alasan gagalnya cita cita Ipda Nuril jika Gus Ali tidak bisa menguatkan hatinya untuk menunggu Ipda Nuril sampai berahir pada keterikatan dinasnya. Karena cinta Gus Ali tidak egois hanya memikirkan dirinya sendiri yang sudah di desak untuk membina rumah tangga.
Setelah cukup lama Gus Ali berada di Kantor Takmir, Gus Ali di ajak berkeliling ke kelas kelas yang berjajar tidak jauh dari kantor berada. Dan masuk dari satu kelas ke kelas satunya dengan menyapa beberapa Uatadz juga Ustadzah yang tengah berjuang mencerdaskan bangsa yang berahlaq lewat Ilmu yang mereka bagikan.
Langkah Gus Ali sedikit memberat, saat dirinya di giring ke salah satu kelas dan pandangannya tertambat pada sosok yang tengah duduk bersimpuh di balik meja kecil di depan kelas. Jilbab segi empat berwarna pastel dan tersemat tuspin di bahu sebelah kirinya, membaut penampilannya sangat jauh berbeda dari Ipda Nuril yang Gus Ali kenal.
Ipda Nuril menjelma seperti seorang Ning Ning putri Kyai besar dan terlihat sangat anggun di pandang mata, apa lagi suara yang mengalun merdu membuat lidah Gus Ali semaki kelu untuk mengucapkan tidak perlu ke ruangan ini, ataupun untuk mengingatkan hatinya agar kuat untuk tidak egois dalam mencintai.
"Assalamu'alaikum.." Ucapan salam dari ketua Takmir membuyarkan perdebatan Gus Ali seiring dengan pemilik wajah manis itu menoleh ke arah asal suara, terlebih lagi matanya yang indah sedikit membulat kaget ketika menangkap sosok Gus Ali yang berdiri kaku di belakang ketua Takmir.
"Wa'alaikumussalam.." Jawab anak anak berbarengan dan juga Ipda Nuril dengan sangat lirih.
Gus Ali dan Ipda Nuril sama sama diam dalam ketertundukan kepala yang penuh dengan pikiran masing masing. Di kepala Gus Ali ada banyak sekali keterkejutan mengenai Ipda Nuril, sedang pada Ipda Nuril sendiri, lebih pada rasa malu yang teramat sangat, karena Gus Ali melihat dirinya yang tanpa seragam. Dna Nuril tidak ingin Gus Ali salah mengartikan itu sebagai bentuk rayuan Nuril untuk Gus Ali.
"Ustadz Salman perkenalkan ini Ustadzah Nuril. Beliau adalah Ustadzah satu satunya yang memiliki talenta luar biasa, selain itu juga beliau juga seorang Hafidzul Qur'an sama seperti Sampean." Seketika Gus Ali memandang Nuril dengan keterkejutan yang luar biasa, sedangkan Nuril hanya bisa terus menunduk sembari mengigiti bibir bawahnya untuk mengurangi debaran di dadanya.
"Di samping itu beliau juga seorang Polwan." Lanjut ketua Takmir, dan dengan cepat mohon undur diri dari Gus Ali dan juga Ipda Nuril yang tengah sama sama berdiri kaku di tempatnya lantaran salah satu Uatadz memanggilnya.
Gus Ali terus menatap tangan Nuril yang saling menaut dengan ujung jempol tangan yang saling memilin satu sama lain, dan itu terlihat lucu untuk ukuran Polisi seperti Nuril, karena bagi mata awam Gus Ali bisa melihat ke gugupan yang tidak bisa di sembunyikan oleh Ipda Nuril.
"Apa kabar Ipda Nuril, apa luka sampean sudah pulih.?" Tanya Gus Ali setelah cukup lama meraka saling diam.
"Alhamdulillah tinggal keringnya saja Ustadz Salman." Jawab Nuril dengan nada suara rendah, lebih seperti sebuah bisikan.
__ADS_1
"Ini benar benar kejutan Ipda Nuril." Perlahan Nuril mendongakkan kepalanya ingin melihat wajah seseorang yang sejujurnya ia rindukan, namun yang terlihat hanya kepala yang tertunduk, Nurilpun memilih ikut menundukan kepalanya kembali.
"Jodoh memang tidak akan jauh kemana." Bisik lirih hati Nuril, namun lain lagi yang keluar dari bibirnya. "Enggeh, saya juga terkejut mendapati sampean disini Ustadz."
Kembali keduanya sama sama diam, dan berdiri dengan salah tingkah hingga suara bising dari anak anak di kelas Nurilah yang membuat Nuril berinisiatif untuk pamit terlebih dulu kepada Gus Ali. Dan meninggalkan Gus Ali dengan perasaan campur aduk menjadi satu.
Logika ingin membiarkan dia hingga sukses dengan cita citanya, namun jika di lihat kiprahnya yang akan menjadi dambaan setiap laki laki, bahkan yang terparah adalah idaman orang tua Laki Laki, maka aku tidak bisa jika harus tetap diam. Aku harus segera mengambil tindakan. Kata hati Gus Ali begitu punggung Ipda Nuril menghilang di balik pintu kelas yang menjadi pengahalang penglihatannya kepada wanita yang di dambanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Ayo Gercap Gus Ali, daripada nanti keduluan Emak Emak lain yang mendekati Ipda Nuril bisa bisa sampean terlupakan loh...
Jangan lupa Like, Coment dan Votenya..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862