Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Bimbang.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kabut baru saja menghilang berbarengan dengan sinar jingga yang merekah di ufuk timur. Naynyian nyanyian burung dan kokokan ayam bersahut sahutan menjadi musik tersendiri di pedesaan. Di tambah dengan pemandangan padi yang menguning sejauh mata memandang, dan berahir pada Gunung nan tinggi gagah menambah tenang jiwa.


Sudah hampir sejam lamanya Gus Ali berada di Balkon kamar Bundanya di rumah Pakde Hanan. Dan setiap kali datang dan menginap di sini selalu Gus Ali akan menghabiskan banyak waktunya di balkon kamar ini, ataupun di ruang baca, atau perpustakan pribadi milik Bundanya.


Bagi Gus Ali, berada di sini memberi ketenangan tersendiri di saat hati sedang gelisah. Gelisah.?, ya Gus Ali sedang gelisah, lantraan perbincangannya semalam dengan kedua orang tuanya. Dan Gus Ali merasa perlu untuk memikirkan kembali apa yang mereka berdua sampaikan.


Pilihan tersulit itu di kala dua cinta yang sama sama kuat berada di dalam hati. Dan menjadi delema tersendiri jikalau pilihan itu menyangkut orang tua. Soal cinta, jelas Gus Ali tidak bisa mengesampingkan cinta pertamanya di dunia ini. Yakni, kedua orang tuanya. Karena dari mereka berdualah, Gus Ali belajar bagaimana mencintai dengan indah.


Namun, saat cinta lain datang, dan tidak tersambut dengan tangan yang benar benar terbuka oleh orang tuanya, maka Gus Ali tidak mempuyai pilihan lain, selain dari meminta petunjuk sembari menenangkan diri.


Memang iya, kedua orang tua Gus Ali tidak menolak pilihannya, tapi syarat yang di ajukan keduanya benar benar membuat Gus Ali bingung. Pujaan hatinya belum siap jika harus di ajak berkenalan dengan kedua orang tuanya. Sedang Gus Ali sudah berjanji akan menunggu Ipda Nuril sampai usai masa ikatan dinasnya.


Dan keterburu buruan Abi Farid seolah memberi isyarat yang kurang mengenakkan, apa lagi dengan kondisi Abi Farid saat ini yang sering kurang enak badan. Membuat Gus Ali harus berfikir ulang jika ingin mengambil keputusan.


Jika di suruh menimang, jelas lebih berat cinta kepada orang tuanya. Karena cinta mereka berdua murni. Tapi, bukan berarti Gus Ali meragukan cinta yang dimiliki oleh Ipda Nuril. Andia saja rahasia jodoh, bisa di ketahui lebih dulu oleh keduanya, maka baik Gus Ali dan Ipda Nuril tidak akan salah melangitkan nama yang telah tertulis sebelumnya.


Helaan demi helaan nafas dalam Gus Ali seakan memberi pertanda pada seseorang paruh baya yang sedari tadi telah memperhatian Gus Ali. Kerutan kerutan di wajahnya tidak menyamarkan bahwa dulunya dia juga seorang pemuda yang tampan. Dan sedikit banyak memang mirip dengan Gus Ali, andia Gus Ali jadi anaknya orang lain juga pasti akan setuju bahwa mereka mirip.


"Le, lagi mikirin apa." Sembari duduk di kursi dekat Gus Ali, Pakde Hanan menyapa Gus Ali.


Gus Ali tersenyum tipis ke arah Pakdenya yang selalu tau jika dirinya sedang mencoba untuk memecahkan masalah, bahkan sering Pakde Hanan malah memberi solusi bagi Gus Ali. "Hanya soal pekerjaan Pakde. Juga tentang kesehatan Abi." Jawab Gus Ali.


Hening sejenak di saat keduanya saling tatap. "Sikapmu yang seperti ini, persis seperti Bundamu, Le." Lirih Pakde Hanan. "Banyak sekali pertimbangan setiap kali ingin mengambil keputusan, dan itu semua demi perasaan orang banyak. Dan abai dengan perasaannya sendiri." Lanjut Pakde Hanan.


Bukan kali ini saja, Pakde Hanan selalu mengatakan bahwa Gus Ali lebih mirip dengan Bundanya, terlebih lagi soal menjaga perasaan orang lain. Dan kali ini ucapan itu kembali Gus Ali dengar, hanya saja Gus Ali tidak mampu jika harus bersikap egois, dengan memaksakan keinginannya begitu saja. Setidaknya orang orang di sekitarnya harus menerima pilihan Gus Ali dengan alasan yang tepat. Dan itu jauh berbanding terbalik dengan sikap Gus Ali ketika masih kecil.

__ADS_1


"Mas Fikri masih di repot sama Ngidam Mbak Hafiza ya Pakde.?" Gus Ali mengalihkan pembicaraan dengan cepat, agar sesungguhnya kegelisaan hatinya tidak membuat Pakde Hanan ikut memikirkannya lantas memberi tau Bundanya. Sudah cukup Bunda memikirkan kesehatan Abinya saja, jangan sampai sikap Gus Ali yang masih kekankan menambah beban pikiran Bundanya.


Pakde Hanan hanya mengangguk sebentar, lantas mengambil buku yang tergletak di meja bundar di samping mereka. "Apa sesungguhnya yang sedang menganggu pikiran sampean , Le. Ceritakan ke Pakde." Ucap Pakde Hanan dengan nada tenang.


Gus Ali diam sesaat, hendak menjawab namun bingung mau memulai dari mana, karena menurut Gus Ali ini hal yang memalukan baginya. "Ini soal Mar'ah Pakde."


Pakde Hanan tersenyum simpul melihat keponakannya yang tengah tertunduk malu, malu karena mengakui perasaannya. "Sudah jangan malu seperti itu. Pakde dulu juga pernah muda. Jadi yang menjadi masalahnya soal Juju." Tebak langsung Pakde Hanan.


Gus Ali menggeleng sebentar. "Baik Abi atua Bunda tidak mempermasalahkan hal itu, Pakde. Hanya saja, Abi dan Bunda meminta Ali untuk serius dengan gadis itu." Terang Gus Ali.


"Itu juga benar. Karena laki laki itu harus tegas, berani mengambil keputusan dengan cepat. Bukan berarti terburu buru."


"Masalahnya, Ali sudah terlanjur berjanji akan menunggunya hingga usai dengan ikatan dinasnya. Dan selama dalam ikatan dinas gadis itu belum boleh ada ikatan terlebih dulu." Jawab Gus Ali.


"Berapa lama lagi.?" Tanya Pakde Hanan, sembari mengerutkan keningnya.


Gus Ali melepas peci di kepalanya sebentar, lantas menyisir rambut hitamnya dengan jari jari tangannya dan setelah memakai kembaku pecinya Gus Ali kembali muali berkata. "Mungkin delapan bulan lagi, Pakde."


"Tapi, Ipda, eh, maksud Ali, gadis itu beda Pakde. Dia seorang aparat." Kata Gus Ali dengan gagab dan hampir saja kelepasan menyebutkan nama Ipda Nuril.


"Polwan.?" Kata Pakde Hanan dengan raut heran. Dan Gus Ali hanya menjawabnya dengan mengangguk. "Tanggapan Abi juga Bundamu bagaimana.?"


Dengan cepat Gus Ali menjelaskan reaksi orang tua Gus Ali, saat Gus Ali menceritakan tentang sosok gadis yang telah memenangkan hatinya. Secara sikap dan keilmuan orang tua Gus Ali tidak memepermasalhakan, hanya saja soal profesi yang membuat kedua orang tua Gus Ali sedikit keberatan. Sedikit saja tidak banyak. Hanya saja itu yang menjadi permasalahan Gus Ali.


"Abi dan Bundamu benar ada, Le. Walau bagaimanapun, sampean itu adalah harapan satu satunya yang akan menjadi penerus bagi perjuangan mereka, dan memelih bibit, bobot dan bebetnya sudah barang tentu mereka terapkan. Meski, tidak menekankan juga terhadap sampean. Mengingat mereka dulu juga pernah berada dalam posisi yang sulit juga." Kata Pakde Hanan panjang, dan menjedanya sebentar sebelum ahirnya di lanjutkan lagi.


"Juga, soal perjanjian mereka dengan Om Taufiq, juga bukan hal yang bisa di gampangkan. Dan itu terjadi lantaran Abi juga Bundamu yang menjanjikan lebih dulu. Meski itu penyebabnya juga sampean."


Gus Ali sangat kaget mendengar ucapan Pakde Hanan. "Maksud Pakde.?" Tanpa sadar kata kata yang Gus Ali keluarkan sedikit keras.

__ADS_1


Pakde Hanan menghela nafasnya dalam, sejurus kemudian mulai betcerita tentang ke adaan Juju yang kritis di rumah sakit, dan terus terusan memanggil manggil Gus Ali tanpa henti. Hingga kata kata yang sejati tidak pernah tertulis itu menjadi perjanjian yang sama sama melekat di keduanya. Hingga pada tahun tahun terahir inilah, Om Taufiq terus mengungkit perjanjian itu, lantaran khwatir dengan putrinya.


Bahu Gus Ali seketika merosot mendengar cerita mengenai kondisi Juju, hingga tanpa sadar tubuh Gus Ali gemetaran seiring ingatannya yang kembali di saat tubuh kecil Juju yang membiru di angkat dari kolam mandi Kang Santri.


Semua berawal dari Gus Ali, dan seolah Gus Alilah yang menulis takdirnya sendiri untuknya. Dan setelah mendengar cerita ini Gus Ali tidak yakin lagi hatinya mampu kelaur dari rasa bersalah yang begitu besarnya. Dan akan tidak adil jika ini hanya di tanggung oleh Juju seorang. Namun, kenapa kedua orang tua Gus Ali tidak pernah menceritakan hal yang sebenarnya kepada Gus Ali. Jelas itu di lakukan agar Gus Ali tidak merasa terbebani.


Kalau saja orang tua Gus Ali menceritakan semuanya lebih awal, pasti biji biji di hati Gus Ali tidak akan di biarkan bertunas begitu saja, bahkan hingga sampai bermekaran bunga di setiap sudut hatinya. Kini membayangkan mata indah milik Ipda Nuril yang meredup membuat Gus Ali takut, namun ada yang lebih menakutkan lagi bagi Gus Ali, saat ingatannya kembali kepada Juju yang tengah menbiru dengan mata tetutup rapat.


Rasa bimbang menguasai seluruh pikiran Gus Ali, dan Gus Ali merasa bahwa dirinya terlalu memaksa berjodoh dengan nama yang selalu ia langitkan, sementara disana telah tertulis nama lain baginya. Lantas apa ini bisa di sebut benar juga.? Bahwa apa yang terjadi di masa kecil Gus Ali hanyalah cerita masa kecil saja, sedang saat ini Gus Ali hendak membuat cerita dengan kisah yang berbeda. Namun apa ini cukup adil bagi Juju.


Maka kunci utama terletak pada Juju, asal Juju mau membatalkan semuanya maka tidak lagi ada beban bagi Gus Ali. Dan sepertinya menemui Juju dengan secepatnya adalah pilihan terbaik, agar hati tidak di buat bimbang.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz kopi


@maydina862


__ADS_2