
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bermalas malasan di tempat tidur, sengaja sekali Nuril lakukan selepas shalat subuh. Hal yang hampir tidak pernah Nuril lakukan sebelum sebelumnya. Mungkin karena bawaan cuaca yang sedikit mendung di ambah dingin, membuat Nuril enggan untuk memulai aktifitas pagi seperti biasanya. Sedikit aneh memang, tapi apa mau dikata, toh Nuril tetap berada si peraduan lengkap dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
Tidak sekali dua kali, Nuril terus melongak ke arah pintu, seakan tak sabar pintu itu lekas terbuka. Dan benar saja, tidak lama berselang pintu benar benar terbuka bersama dengan sosok yang sedari tadi di tunggunya.
"Mas Ai tidak lupa kan.?" Tanya Nuril tanpa basa basi dengan apa yang sedari tadi sedang di pikirkannya. Ralat, bukan dari tadi. Melainkan dari lusa.
"Apa.?" Tanya Gus Ali sedikit bingung dengan tanya Nuril sekaligus dengan perangai Nuril yang masih bermalas malasan di tempat tidur.
"Dasterrrr, Massss." Lebih kaget lagi Gus Ali mendengar jawaban Nuril dengan nada judes juga sebalnya. "Yang kemarin lupa tidak di belikan." Lanjutan kata kata Nuril membuat Gus Ali menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Iya insya'Allah, nanti di belikan kalau tidak tutup tokonya seperti kemarin." Jawab Gus Ali pelan. "Nanti di ingatkan, ya."
"Iya nanti Kang Basori biar tak ingatkan." Jawab Nuril cuek.
Gus Ali semakin terheran heran. "Lo, kok jadi Kang Basori yang di ingatkan.?" Tanya Gus Ali dengan nada penuh tanda tanya.
"Maunya gitu aja. Kadang suka males dengar suara Mas Ai." Gus Ali melongo mendengar jawaban Nuril yang absurt, bahkan dengan santainya Nuril memalingkan pandangannya dari Gus Ali.
Gus Ali mendekat ke arah Nuril, dan Nuril justru menggeser badanya menjauh dari Mas Ali. Membuat Gus Ali semakin bingung saja dengan tingkah Nuril. Tidak hanya hari ini, bahkan Gus Ali sudah merasakan tingkah aneh Nuril beberapa hari belakangan ini.
"Ada apa.?" Tanya Gus Ali masih dengan nada kalem. "Apa Mas ada salah sama Juju.?" Lanjut Mas Ali membuat Nuril membulatkan matanya sembari mengembungkan pipinya. Justru yang seperti itu membuat Gus Ali gemas dan hendak mencubit pipi Nuril.
"Apa sih, Mas Ai ini. Juju tuh enggak kenapa napa, cuma males aja sama Mas Ai." Jawab Nuril sembari menepis tangan Gus Ali pelan. "Jangan sentuh sentuh sembarangan. Lagian sampean itu sudah di tunggu Kang Kang, buruan ganti baju dan jangan lupa nanti pulangnya belikan daster di toko bakso utara pos bensin. Warnanya Pink yah." Cerocos Nuril tanpa peduli dengan keheranan Gus Ali.
"Sepertinya ada yang salah dengan sampean." Lirih Gus Ali ke arah Nuril.
"Sampean saja yang perasaan. Saya biasa biasa saja." Ucap Nuril sembari mengerucutkan bibirnya.
Demi apapun Gus Ali tidak tahan dengan tingakh Nuril yang menurutnya sangat menggemaskan, hingga tanpa segan lagi Gus Ali langsung menyambar kepala Nuril dijatuhkan dalam dada bidangnya sembari mengusak rambut kriting Nuril gemas.
"Mas Aiii." Protes Nuril keras dengan tangannya yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Gus Ali.
"Sebentar saja. Makanya jangan bertingkah menggemaskan seperti ini." Sergah Gus Ali.
"Aku tuh enggak mau, Mas Ali bau banget." Tidak hanya ucapan, Nuril membuktikan itu dengan menutup hidungnya rapat rapat dengan salah satu tangannya. Dan itu sontak membaut Gus Ali melepaskan pelukannya dari Nuril.
"Sejak kapan saya jadi bau."
"Sejak kemarin, kemarinnya lagi, dan lagi." Jawab Nuril. "Sudah sana pergi." Lanjut Nuril sembari mendorong tubuh Gus Ali menjauh darinya.
Masih dengan berfikir keras, namun Gus Ali menurut juga dengan ucapan Nuril. Beranjak dari tempat tidur, Gus Ali berjalan ke arah kamar mandi sembari menciumi bajunya, yang menurut Nuril bau. Tapi, Gus Ali tidak menemukan keanehan perihal bau. Bahkan tidak ada yang berubah dengan bau farfum atau bau khas tubuh Gus Ali. Sama. Ini jelas yang aneh Nuril.
Meninggalkan drama pagi yang tidak seperti biasanya, ahirnya Gus Ali berangkat juga meninggalkan rumah dengan begitu banyak tanda tanya sekaligus pesan pesan lucu Nuril. Dan masih soal daster warna pink yang tak terlupakan dari seminggu yang lalu.
Jangankan Gus Ali, Nurilpun juga heran dengan perubahan mendadak pada dirinya. Bahkan Nuril juga heran, kenapa acap kali melihat Gus Ali atau mendengar suara Gus Ali, Nuril seperti kembali kemasa masa dimana Nuril sangat membenci Gus Ali namun juga merinduinya.
Termasuk siang ini, pada saat jam makan siang. Nuril justru keliling ke kamar kamar Mbak Santri yang sedang menikmati makan siang mereka. Melihat beberapa Mbak Santi yang sedang makan di nampan membuat perut Nuril meronta ronta ingin di isi. Hingga membuat Mbak Mbak Santri merasa tidak enak melanjutkan makan mereka, menyangka Nuril membutuhkan sesuatu dari mereka.
"Tidak apa, lanjutkan saja makannya." Ucap Nuril ketika salah satu Mbak Santri menyapa Nuril.
"Enggeh, Ma." Jawab mereka hampir berbarengan. Namun belum mereka fokus kembali ke nampan berisi makanan mereka Nuril kembali berbalik dengan tanya yang membuat mbak mbak Santri kaget hingga ada yang sampai tersedak.
"Itu apa sambel teri.?" Tanya Nuril dengan mata berbinar seperti seorang anak yang dimasakan indomie oleh ibunya.
"Enggeh, Ma." Lagi, salah satu Mbak Santri menjawab tanpa berani memandang Nuril, apa lagi bertanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya mau ikut makan disitu." Sontak saja, beberapa mbak Santri langsung terbatuk batuk hebat mendengar penuturan Nuril.
Dan benar saja, Nuril langsung mengambil tempat duduk ternyamanya setelah memastikan Mbak Mbak yang tadi makan ikut duduk melingkar bersama dengannya. Bukan tidak perduli dengan apa yang dirasakan Mbak Santri yang sungkan dengan keberadaanya, bahkan Nuril juga sebenarnya tidak ingin menganggu mereka. Hanya saja, pesona sambel trasi dnegan nasi gosong atau intip tidak bisa Nuril tolak.
Bahkan Nuril merasa ini makanan terlezat yang pernah Nuril rasakan, sampai nampan di depannya bersih tak tersisa barang satu bulir nasi. Bukan itu saja, Nuril juga meminta untuk besok di buatkan sambel teri dengan nasi intip yang sama seperti barusan. Dan apa bisa di kata oleh Mbak Santri selain dari menyanggupi permintaan Nuril dengan heran.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sore datang dengan cepatnya, dan sedari habis ngaji asar tadi, Nuril sudah tidak sabar menunggu kedatangan Gus Ali dengan oleh oleh yang dimintanya. Tentu itu setelah beberapa kali memastikan kepada Kang Basori bahwa titipannya tidak terlupakan atau tokonya tutup seperti lusa.
Senyum Nuril seketika merekah, saat mendengar suara mobil memasuki pelataran garasi. Dengan cepat Nuril menyongsong Gus Ali yang turun dari mobil dengan kresek hitam di tangannya. Tapi, keanehan kembali terjadi lagi. Bukan kresek hitam berisi daster yang menjadi fokus Nuril. Melainkan beberapa nasi berkat yang sedang di tenteng Kang Santri untuk di bawa masuk ke rumah yang membuat air liur Nuril seakan tidak bisa di tahan untuk keluar.
"Kang Muslimin, saya minta satu berkat yang punya Kang Kang. Tukarkan saja sama punya Abuya." Kata Nuril dengan santai sembari setelah mencium tangan Gus Ali.
"Inggeh, Ma." Jawab Kang Santri patuh.
"Umma." Bisik Gus Ali kepada Nuril.
"Tidak apa apa, kan masih ada yang lain." Ucap Nuril berlalu begitu saja setelah mendapat apa yang di inginkannya dan berlalu meninggalkan Gus Ali ke ruang makan.
Menyingsing lengan bajunya, Nuril membuka nasi berkat yang berada di hadapannya. Dan seperti tersihir dengan Telur Cit yang biasanya tidak dia sukai hingga tidak sadar bahwa Gus Ali mengikuti langkah Nuril sampai ke ruang makan.
"Apa sebegitu nikmatnya.?" Tanya Gus Ali yang melihat lahapnya Nuril makan nasi berkat bahkan masih di tempatnya tanpa memindah ke piring. Karena biasanya Nuril akan menyisihkan lebih dulu untuk Gus Ali sebelum dirinya.
"Tentu saja. Nasi bau do'a itu tidak ada tandingannya." Jawab Nuril.
"Makanya sampean sampai lupa membagi dengan saya." Nuril seketika merengut mendengar penuturan Gus Ali.
"Sampean tadi kan sudah makan disana." Lagi lagi, Gus Ali di kejutkan dengan jawaban Nuril.
"Rasanya tidak sama." Jawab Gus Ali lagi setelah sejenak diam.
"Iya. Ya sudah sampean habiskan. Saya ke atas duluan."
"Sampean mau saya habiskan ini semua, biar gendut gitu." Nada suara Nuril langsung terdengar sebal, dan seketika menyudahi makannya.
"Bukan begitu, saya han.."
"Itu kata lainnya dari sampean gendut." Nuril lekas membereskan sisa makannya dan mencuci tangannya dengan cepat. "Ini kan daster pesenan saya." Ucap Nuril sembari mengambil kresek yang masih di tenteng Gus Ali.
Senyum yang terbit di bibir Nuril membuat Gus Ali tidak bisa berkata kata, karena dengan begitu mudahnya mood Nuril berubah. Lucu. Itulah yang di pikirkan oleh Gus Ali. Dalam jangka lima tahun pernikahan, baru seminggu ini Nuril bertingkah lucu dan jauh dari kata mandiri seperti biasanya.
Mengekori Nuril yang sedang berbahagia dengan daster pesanannya Gus Ali ikut menyungging senyum. Satu persatu anak tangga yang di lalui Gus Ali tidak terasa sudah habis, dan sampai juga mereka di kamar, tempat paling pribadi untuk mereka berdua.
Nuril masih tersenyum penuh bahagia dengan kresek yang telah di letakkannya di atas tempat tidur, bahkan kini Nuril sudah sangat cepat menyiapkan kebutuhan mandi Gus Ali seperti handuk dan baju ganti. Senandung kecil juga tidak luput meluncur dari bibir Nuril membuat Gus Ali tidak tahan lagi untuk merengkuhnya dari belakang.
"Mas Aii. Lepaskan, Mas Ai tuh bau banget." Ucap Nuril sembari berusaha melepaskan dirinya dari Gus Ali.
"Iya, saya tau. Tapi sebentar saja." Pinta Gus Ali sungguh sungguh. Bagi Gus Ali, ini sudah sangat lama sekali tidak dilakukannya, lantaran Nuril terus saja bertingkah judes terhadap Gus Ali.
"Enggak mau, rasanya enek banget di perut." Jawab Nuril masih tetap meronta. "Sayang telur citnya kalau sampai di muntahin."
Gus Ali hanya bisa terbengong dengan jawaban Nuril. Sejak kapan Nuril sangat begitu memuja makanan, kecuali martabak durian yang jarang bisa dia nikmati karena Gus Ali yang tidak bisa mencium bau durian.
"Sana buruan mandi." Perintah Nuril sembari mendorong tubuh Gus Ali masuk ke kamar mandi.
Menyegarkan diri dengan air dingin, pikiran tentnag keanehan Nuril ikut lenyap bersama dengan pegal dan tidak nyamannya badan selama sehari beraktifitas di luaran. Dan dengan kaos putih dalaman Gus Ali keluar dari kamar mandi sembari mengosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Rasa nyaman Gus Ali seketika berubah saat terlihat wajah sebal Nuril dengan daster yang berada di pangkuannya. Benar benar cepat sekali angin berubah haluan, baru sepuluh menit Gus Ali masuk kamar mandi wajah Nuril terlihat bahagia dengan saster pesanannya. Tapi saat daster pesanannya berada di tangannya, justru wajah tak suka langsung ditemukannya.
__ADS_1
"Kenapa bukan warna pink." Ucap Nuril terlebih dulu mendahului tanda tanya di pikiran Gus Ali.
"Itukan pink." Jawab Gus Ali heran.
"Bukan pink yang ini." Geram Nuril.
"Itukan pink bunga bunga yang seperti sampean mau."
"Bunganya yang kecil Mas Aiiii." Jawab Nuril sembari menghentak hentakan kakinya selayak ya anak kecil.
"Lha tadi tidak bilang." Jawab Gus Ali bingung sendiri.
"Dari kemarin saya kan sudah bilang, mau daster yang pink bunga bunga kecil. Mas Ai saja yang tidak perasan." Ucap Nuril sembari menangis.
"Jangan nangis gitu dong, ini kan cuma daster besok bisa beli lagi."
"Enggak mau di tukar, enggak mau beli lagi. Maunya sekarang. Tapi enggak mau ini." Gus Ali makin bingung dengan jawaban Nuril, ingin mendekat Nuril tidak mau di dekati sama sekali.
"Terus gimana.?" Tanya Gus Ali.
"Mas Ai saja yang pakai." Jawab Nuril sembari mengencangkan tangisnya.
"Sudah, sudah, jangan nangis kayak gini. Apa lagi perkara daster, kan sampean punya banyak daster."
"Cuma daster, ini bukan sembarang daster, Mas." Gus Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mau bebilang bagaimanapun, tetap yang salah akan Gus Ali.
"Iya, iya. Nanti habis ngaji kita beli dasternya bareng bareng." Jawab Gus Ali ahirnya, namun di tolak mentah mentah oleh Nuril.
"Tidak usah repot repot. Biar Bunda yang nganterin beli daster." Ucap Nuril sambil berdiri dan langsung mengambil tas slempangnya dan melenggang pergi meninggalakan Gus Ali setelah menyalami tangan Gus di tengah kebingungan akan kata kata serta sikap spontan Nuril dan pemicunya sangat tidak masuk akan. Daster.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
😏: Lha masih bersambung lagi sih Mak.?
😊: Iya dung, kan menunggu launcing Gus Ian.
😏: Halah Mak, Mak. Wong update ae Sewindu sekali sok sokan bikin bersambung pula.
😊: Pokok cintanya masih untukku, percayalah itu milik KD.
😏: Seterah wes Mak, karep karepmu. Pokok jangan PHP.
😊: Enggak janji, yang penting cintamu masih padaku. Love yu pull sekebon kurma yang ada di Arab sana.
By: Ariz Kopi.
__ADS_1
@maydina862