Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Sebenarnya Cinta.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kamar berhiaskan bunga bunga menguarkan wewangian kebahagiaan, kebahagiaan yang pada ahirnya Nuril pilih dengan segenap jiwa dan raganya. Duduk tenang di depan meja rias, Nuril membiarkan para MUA melalukan pekerjaannya, dan sudah tak terhitung berapa kali alat make up menyentuh wajahnya, dan Nuril tetap duduk dengan tenang, meski dadanya berdebar debar.


Nuril tidak pernah mengira, bahwa hanya dengan anggukan kecil dirinya kepada Gus Ali tiga minggu lalu di rumah sakit, semuanya dengan cepat Gus Ali sudah siapkan. Tempat resepsi, Undangan, Souvenir, bahkan sampai dengan baju yang mereka gunakan untuk hari ini.


"Tidak ada kemulyaan dalam dunia ini, melainkan mengagungkan cinta untuk alasan ibadah. Dan, biarkan aku menyempurnakan perjalanan di dunia dengan beribadah bersamamu. Nuril Maydina Juwahir. Bersedialah menjadi belahan jiwaku. Dan dari situ, akan ku berikan seluruh hidupku untuk masa depan kita berdua, untuk mencari Ridho Allah dengan niatan ibadah sunah terpanjang."


Karena ucapan Gus Ali itulah, Nuril semakin mantap dengan pilihannya.


Dan inilah yang terjadi setelahnya. Tiga minggu setelah itu Gus Ali sama sekali tidak menemui Nuril dan terus membrondong Nuril dengan kejutan yang seolah tidak ada habisnya. "Cukup kamu meniyaka, aku sudah menyiapkan segalanya." Itulah kata terahir yang di ucapkan oleh Gus Ali kepada Nuril, dan benar adanya yang terjadi. Nuril sama sekali tidak melakukan apa apa dan tidak tau apa apa, semuanya sudah siap dan tidak ada yang Nuril tidak sukai.


Gaun warna Lavender bergaya India membalut tubuh Nuril. Rok lebar dan besarnya selaras dengan make up bold yang mengexplore mata Nuril menjadi lebih tajam. Soal kecantikannya, jangan di tanyakan lagi. Nuril terlihat begitu memuaku dengan make up tebal yang tidak pernah Nuril gunakan sebelumnya.


Kedua tangan yang meremas di balik sikap tenang yang di tunjukan oleh Nuril, jauh berbeda dengan apa yang di rasakan oleh hati Nuril yang sedang deg degan tidak karuan. Bagaimana tidak deg degan, dengan status yang sudah sah menjadi Suami Istri, Gus Ali sama sekali tidak memberinya kabar sama sekali. Hanya menyuruh orang lain untuk memberi tau Nuril dengan apa yang telah di siapkan oleh Gus Ali.


"Aku ingin mengantikan rasa gugubmu, rasa deg deganmu saat akad nikah, yang tidak sempat kamu rasakan." Mungkin Gus Ali memang ingin benar benar membuat Nuril merasakan betapa gugubnya saat akad nikah, sama seperti Gus Ali waktu itu, yang tiba tiba di minta kesiapannya untuk menikahi Nuril, tanpa bisa memberi taukan kepada pengantinnya.


Sekarang, ini sukses Gus Ali lakukan kepada Nuril. Nuril benar benar gugub setengah mati, seperti Nuril tidak tau siapa mempelainya yang akan membawanya keluar dari istana megah, dan mengantikan posisi Pacar Sempurnanya. Dan meskipun Nuril tau itu siapa, anehnya debaran di dadanya sama sekali tidak berkurang justru semakin bertambah membahana.


"Cantik sekali putri Papa." Ucap Papa Nuril begitu memasuki kamar pengantin dimana Nuril berada.


Menyungingkan senyum tipis ke arah Papanya, Nuril terlihat makin memesona meski tubuhnya semakin menegang. "Kayak biasanya enggak cantik saja."


"Jelas bedalah, karena hari ini Putri kecil Papa tengah melangkah ke jenjang pernikahan. Membina mahligai pernikahan, dengan laki laki yang tepat. Dan Papa tidak sedikitpun ragu, menyerahkan putri Papa kepadanya." Jawab Papa Nuril dengan mata berkaca kaca.


"Kesannya, Uwi di buang gitu aja." Jawab Nuril, dan membuat Papa Nuril sontak tertawa mendengar penuturan Nuril. "Kok Papa malah ketawa.?" Tanya Nuril heran.

__ADS_1


"Tidak apa apa, Papa hanya merasa itu hanya sebuah pengalihan untuk kegugupanmu saja."


"Sotoy Papa mah." Ucap Nuril sembari memalingkan wajahnya.


"Iya, iya, Papa sok tau." Ucap Papa Nuril sembari meraih buket bunga yang sedari tadi di putar putar oleh Nuril. "Ini buktinya." Lanjut Papa Nuril, begitu mengelap tangan Nuril yang di penuh oleh keringat dingin.


Malu malu, Nuril menarik tangannya dan mengusap usapkan di rok besarnya. "Ini kena air." Masih tak ingin mengakui Nuril.


"Apapun itu, Wi. Papa sudah lega, pada ahirnya hari ini tiba juga." Ucap Papa Nuril dan sudah meraih kepala Nuril dalam dekapan hangatnya. "Papa tidak tau harus menasehatimu seperti apa, karena Gus Ali sudah cukup bagimu untuk mengambil contoh."


Nuril mengurai pelukan Papanya, lantas memandang Papanya dalam dalam. "Uwi, jauh sebelumnya menjadikan Papa sebagai penutan, tuntunan dan kebanggaan. Dan Papa tidak akan terganti." Jawab Nuril.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menjadi putri Papa." Lagi, Papa Nuril memeluk Nuril dengan erat dan hampir saja membuat Nuril memecahkan airmatanya, andai saja Mama Nuril tidak masuk dan menyuruh keduanya agar lekas keluar karena acara akan segera di mulai.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ballroom sebuah hotel telah di sulap layaknya sebuah taman bunga. Bunga bertebaran disana sini di atas karpet merah yang membentang menjadi alas. Di antara ratusan para tamu yang hadir, Nuril tengah berjalan pelan mengikuti arah karpet merah menunjukan jalan baginya dengan degupan dada yang maha dasyatnya.


Seiring dengan itu, kedua orang tua Nuril berhenti yang ikut juga menghentikan langkah Nuril. Lantas, Nuril menutup matanya rapat rapat sembari menghirup udara dalam dalam. Hingga Papa Nuril meraih tangan Nuril dan berganti dengan sebuah tangan hangat. Tangan ini begitu lembut meraih jemari Nuril, lantas menyelipkan sebuah cincin di jari manis Nuril.


Perlahan Nuril membuka matanya kembali begitu sentuhan di jarinya terurai. "Pakaikan, Dhok." Lembut, kata Bunda Ikah sembari mengasukan Cincin Emas putih yang jauh lebih lebar dari yang melingkar di jari manis Nuril. Dan Nuril terlihat begitu manis tatkala menjadi seorang gadis penurut, dengan menyematkan cincin di jari manis orang yang gagah berdiri di depannya.


Kembali Nuril merasakan kehangatan di tangannya, begitu telapak tangan Gus Ali kembali meraihnya dan menyelipkannya di lengannya. Lantas, mengajaknya berjalan menyusuri jalan yang di penuhi bunga bunga yang di taburkan oleh beberapa anak anak kecil di depan mereka berdua, hingga sampai pada sebuah pelaminan yang di dominasi warna silvir beratahkan kaca kaca kecil, beriringkan Sholawat Thola'a Badru Alaina.


Duduk dalam singasana bak Raja dan Ratu, keduanya sama sama tersenyum malu malu dengan jari jemari yang saling menaut erat. Seerat, rasa mereka berdua yang telah bersatu dalam bahtra rumah tangga dan tidak hanya para tamu undangan yang menjadi saksi bagi keduanya, melainkan juga para malaikat yang telah mencatat niatan sholih mereka untuk berumah tangga.


Gemuruh riuh hadrah yang di tabuh, juga merdu suara sang vokal yang tengah melantunkan sholawat mengisi acara bahagia mereka, tidak akan seindah dan membahana gemuruh dada mereka berdua. Nyanyian cinta itu begitu terlihat hingga dari setiap lirikan mata yang tanpa sengaja tertangkap membuat para tamu yang hadir juga ikut malu malu di buatnya.


Cinta mereka yang indah, mengalun bak irama yang tersampaikan lewat syair lagu. Bahkan bisikan malu keduanya, seakan akan dunia juga malu mendengarnya. Ohh, inikah cinta yang sebenarnya, cinta yang tak di sangkakan akan bersama namun ahirnya berujung pula dalam satu jalinan asmara yang halal untuk terus bersama. Merenda asa dengan do'a dan mengembalikan segala atas sang pencipta.

__ADS_1


Waktu yang ikut berbahagia seakan enggan berpisah dengan alunan mesra cinta mereka, hingga tanpa sadar bergulir begitu cepat membawa semuanya dalam penghujung acara seiring beranjaknya mereka berdua dari singasana dengan segala do'a do'a keberkahan yang menyertai langkah mereka.


Keserasian dalam rupa dan cinta, membuat semua merasa iri dan ingin memiliki cinta yang tersirat dari keduanya, hingga keduanya menghilang dari tatapan para tamu yang hadir, tetap menyisakan rasa yang di bawa oleh kebahagiaan kedua mempelai.


"Biar aku bantu." Itulah kata yang keluar dari bibir Gus Ali setelah mereka benar benar keluar dari tempat acara.


"Tidak usah, saya bisa sendiri." Jawab Nuril, dengan meraih kain sari yang panjang menyapu lantai yang di lewatinya.


"Aku tidak keberatan melakukannya." Balas Gus Ali dan kemudian dengan cepat sudah meraih kain yang berada di tangan Nuril. "Apa lagi untuk menyingkirkannya agar kamu terbesas dari kain ini." Bisik pelan Gus Ali tepat di telinga Nuril, hingga membuat Nuril berdiri kaku di tempatnya..


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Sudah mau nakal nakal ya Gus Ali. Emang turunannya Gus Mimi sih yah..


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2