
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Panas menyengat membakar kulit, panasnya Kota Surabaya. Langit tampak biru cerah dengan sedikit mendung putih berarak seperti sebuah kapas yang berterbangan tertiup angin. Matahari bersinar penuh ketegasan tepat di atas kepala, dan akan nikmat sekali jika saat ini menghabiskan waktu dengan rebahan di gubuk tengah persawahan sembari menikmati hidangan khas pedesaan.
Jam jam seperti ini akan sangat menyenangkan sekali berada di dalam rumah, ataupun di dalam ruangan ber AC. Seharusnya, itu bagi orang yang normal. Tapi, tidak seperti itu menurut Nuril. Buktinya di tengah panas yang tengah membakar ini, Nuril masih asik berada di tengah tengah lapangan lengkap dengan pakaian olahraganya. Dan entah sudah berapa kali Nuril terus berlari mengitari lapangan dengan kecepatan penuh. Hingga bulir bulir keringat bercucuran keluar membasahi jilbab serta baju olahraganya.
Apa ini yang di sebut patah hati.? Jelas Nuril tidak mau mengakui itu. Namun, semenjak kembalinya Nuril ke Surabaya sepuluh hari lalu, segala sesuatunya selalu tidak benar menurut Nuril. Mau tidak mau, suka tidak suka, sebenarnya Nuril sangat terpengaruh dengan apa yang di alaminya sebelum kembali lagi ke Surabaya. Dan sekarang inilah buktinya. Nuril melepaskan emosinya dengan berlari mengitari lapangan di tengah panas yang tengah terik teriknya.
Tidak hanya suasana hatinya yang di rasa menyebalkan oleh Nuril, bahkan teman temannya mulai pagi tadi juga sangat menyebalkan. Semua orang di sekitarnya benar benar membuat dirinya harus bisa menahan emosi jiwanya. Dan yang lebih parah lagi, anak anak didik di Masjid dekat kost kostannya subuh tadi juga membuat Nuril geram setengah hidup.
Hari ini, sungguh dunia seolah sedang mengujinya dengan rasa patah hati yang tidak mau di akui oleh Nuril. Nuril tidak ingin memikirkan hal yang telah terjadi beberapa hati silam, tapi jauh di dalam hatinya Nuril tetaplah merasa kecewa, juga patah hati meski Nuril tidak ingin menyebutnya seperti itu. Dan semakin terpatahkan hatinya, di saat mengingat bahwa kedua orang yang mengisi hatinya tidak menginginkan dirinya.
Ustadz Salmannya juga Mas Ainya. Keduanya telah benar benar mematahkan hati Nuril secara bersamaan dan membuat Nuril tidak memiliki pilihan lain selain dari menyembuhkan luka hati yang di buat oleh dirinya sendiri juga oleh seseorang yang telah kembali berhasil membuat Nuril teringat dengan luka lama.
Helaan nafas dalam Nuril memperlihatkan betapa dia ingin keluar dari beban hati yang di tanggungnya, dan berlahan larian Nurilpun berubah menjadi jalan lebar, lantas keluar dengan cepat dari arena lapangan, dan menyusuri pinggiran jalan raya menuju kembali ke kostannya.
Langkah lebar Nuril, sudah hampir sampai di persimpangan jalan menuju kostannya, dan dengan cepat langkah itu berubah melambat saat tidak jauh dari tempatnya di lihatnya sosok yang telah mengoyakkan hatinya tengah tersenyum tipis kepada seseorang yang tengah berdiri tidak jauh darinya.
Senyum itu sangat manis di mata Nuril, senyum itu juga menggoyahkan ketekatan hati Nuril agar tidak memandangnya dan menambahkan stok mengagumi yang telah tertanam begitu dalam di hatinya. Tapi, jatuh cinta itu bodoh. Apa lagi cinta sendiri yang terus di rawat tanpa ada kepastian dan keberanian untuk mengungkapkannya.
Jatuh cinta, kata itu seharusnya tidak perlu jatuh. Karena, yang namanya jatuh itu sudah pasti sakit, biarpun itu jatuh cinta sekalipun. Dan itulah yang di rasakan oleh Nuril. Karena, cintanya bertepuk sebelah tangan.
Kepalang tanggung, Nuril yang hendak berbalik memilih jalan lainnya keburu di panggil oleh Iptu Jonathan, dan derap larian kecil Iptu Jonathan terasa seperti hentakan suara meriam yang meledak di dadanya, lantaran matanya bersitubruk dengan netra teduh milik Ustadz Salman yang juga berjalan pelan menuju arah Nuril tengah berdiri mematung.
Jika, jika saja. Nuril tidak mengingat bahwa Salman A.Rnya telah memiliki tunangan, jelas Nuril tidak akan memutus pandangan itu dengan tergesa gesa dan membuang pandangannya ke arah Iptu Jonathan yang tengahe menghampirinya dengan senyum yang tersungging melebar di bibirnya.
"Susah sekali, Ipda Nuril di carinya, padahal kita satu komplek." Ucap Iptu Jo begitu berdiri tepat di depan Nuril hingga benar benar menutupi seseorang yang tengah berjalan pelan di belakangnya.
Senyum tipis sedikit kaku Nuril sunggingkan dan kemudian cepat menunduk, begitu Salman A.Rnya berdiri di samping Iptu Jo. "Iptu Jonathan yang super sibuk, maklum mau naik jabatan." Jawab Nuril yang di sambut tawa renyah oleh Iptu Jo.
"Puji Tuhan semua karena Do'a orang orang terkasih. Bukan begitu Mas Salman.?" Ucap Iptu Jonathan, dan hanya di angguki sembari tersenyum oleh Ustadz Salman di balik kepalanya yang juga tertunduk. Dari kedua kepala yang saling tertunduk itu, sudut mata mereka sesekali curi pandang meski itu hanya sesaat saja dan kembali menunduk dengan isi kepala yang hampir sama, dan dada yang juga berdetag seirama.
"Apa nanti malam Ipda Nuril bebas tugas.?" Tanya Iptu Jo, di tengah pikiran kedua orang di sampingnya yang tengah saling berspekulasi sendiri dengan menyembunyikan itu dengan cara menunduk.
"Tugas di satuan tidak ada, tapi ada tugas lain yang tidak bisa di tinggalkan." Jawab Nuril pelan. Dan tidak ingin me jelaskan tugas apa yang tidak bisa untuk di tinggalkannya.
"Sampai jam berapa tugas itu berlangsung, kami siap menunggu." Kata Iptu Jonathan sembari merangkul bahu Ustadz Salman.
Nuril mengangkat kepalanya sekilas, dan lagi lagi matanya bertubrukan dengan netra teduh Salman A.Rnya yang juga tengah tersenyum menanti jawabannya. "Hanya sampai sehabis Isya'."
__ADS_1
"Nahh, kebetulan sekali. Kebetulan Mas Salman juga bisanya agak malaman, bukan begitu Mas Salman.?"
"Leres, Bang Jo." Timpal Ustadz Salman.
"Jadi, nanti saya jemput sehabis Isya' di kostan ya." Putus Iptu Jonathan tanpa memerdulikan cicitan Nuril yang keberatan akan hal itu.
Nuril keberatan akan hal itu, dan itu semata mata karena Salman A.Rnya. Nuril hanya tidak ingin Salman A.Rnya beranggapan bahwa dirinya seorang gadis yang senang berhura hura di luar dan menghabiskan waktunya untuk menongkrong, namun Nuril juga tidak bisa mengatakan bahwa dirinya bukan gadis seperti itu secara langsung kepada seseorang yang dia sukai.
Dan apa yang di bisa Nuril sekarang, selain hanya diam sembari mengangguk lemah, saat Iptu Jonathan menetapkan waktu untuk menjemput dirinya di tengah senyum tipis Salman A.R yang juga di tujukan kepadanya. Dan kembali, Nuril tidak bisa mengontrol sikapnya di depan Salman A.Rnya tatkala tangan kanan Nuril masih saja terus terangkat membalas lambaian tangan Salman A.Rnya hingga orangnya menghilang di jangkauan mata Nuril.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Gerimis tipis, menguyur kota Surabaya, dan membawa aroma tanah basah menguar mengisi indra penciuman Nuril yang masih saja tersenyum bahagia, setelah hampir setengah bulan senyumnya menghilang. Dan senyum itu bukan karena dirinya yang tengah duduk di teras Kostanya untuk menanti Iptu Jonathan yang hendak menjemputnya. Melainkan, senyum bahagia itu karena kejutan yang di berikan oleh anak anak didiknya di Masjid.
Nuril, tidak pernah merayakan ulang tahunnya, oleh karena itu Nuril tidak pernah ingat kapan tanggal ulang tahunnya. Dan hari ini, benar benar kejutan yang sangat manis untuk Nuril, hingga membuat Nuril menitihkan air mata haru, lantaran merasa begitu di perhatikan dan di cintai oleh anak anak kecil yang tidak pernah berbohong dengan perasaan mereka.
"Wah, Ipda Nuril begitu bahagia menunggu kedatangan saya." Sebuah kata langsung membungkus kembali senyum Nuril menjadi ******* senyum malu malu. "Semoga alasan senyum itu benar benar karena saya." Lanjut Iptu Jonathan yang sudah bersandar di pagar besi pintu gerbang.
Nuril hanya melambaikan tangannya fi udara sebagai jawaban atas ucapan Iptu Jonathan, lantas bergegas kembali masuk ke dalam meminta ijin kepada Ibu Kost untuk pergi keluar.
"Ayo, Iptu Jonathan. Jangan sampai saya berubah pikiran." Ucap Nuril dan berjalan mendahului Iptu Jonathan yang masih terkekeh dengan sikap cuek Nuril kepadanya.
Tidak ada yang tahu rencana yang terselip di otak Iptu Jonathan, setahu orang orang yang di ajaknya malam ini, hanyalah pesta perpisahan yang di gelar oleh Iptu Jonathan yang akan segera di pindah tugaskan sekaligus naik jabatan. Dan rencana itu sudah di aturnya sejak Iptu Jonathan kembali dari Banyuwangi beberapa waktu lalu.
Cinta tidak harus di ungkapkan. Mungkin kata kata itu patut di sematkan untuk Ustadz Salman dan Ipda Nuril, yang memilih diam dengan perasaannya yang mampu terbaca oleh Iptu Jonathan. Dan atas dasar kesetia kawanan itulah Iptu Jonathan memilih membesarkan hatinya untuk mengalah. Bukan karena apa apa, karena memang tidak ada tempat bagi Iptu Jonthan bagi Ipda Nuril. Itu Iptu Jonathan lihat saat Ipda Nuril jatuh dalam dekapan Ustadz Salman waktu itu.
"Tak, Tak, Tak." Suara jentikan jari Nuril di depan Iptu Jonathan membuyarkan lamunan Iptu Jonathan akan rencana yang di susunnya.
Senyum lebar Iptu Jonathan segera mengembang. "Tidak hanya kamu saja yang bsia tersenyum misterius, saya juga bisa." Kilah Iptu Jonathan, kemudian segera menarik peda gas mobil yang di tumpanginya begitu sabuk pengaman sudah mereka kenakan
Tidak ada percakapan berarti yang mereka bicarakan selama perjalan menuju tempat yang di tuju, hanya bahasan mengenai tempat baru yang akan Iptu Jonathan datangi, sebagai amanat tugas dari Negara yang di embannya. Dan kemudian suasana hati Nuril mendadak tidak enak saat Iptu Jonathan membelokkan mobilnya ke arah parkiran yang lenggang oleh kendaraan, padahal tempat yang mereka datangi merupakan sebuah caffe denggan standart tongkrongan keren bagi kaula muda.
"Yakin tempatnya ini.?" Ucap Nuril sambil membuka sabuk pengamannya, dan hanya di jawab anggukan mantap oleh Iptu Jonathan.
"Ayo." Ucap Iptu Jonathan dan berjalan mensejajari Ipda Nuril.
Suasana dalam Caffe juga cukup lenggang, dan membuat Nuril berfikir jauh kemana mana, bukan pikiran aneh, melainkan pikiran mengenai Pacar Sempurnanya. Ya, suasana Caffe yang sepi, membuat Nuril berfikir jika Caffe yang mereka datangi ini sedang bangkrut, dan andai saja hal yang sama terjadi dengan usaha Pacar Sempurnanya jelas tidak jauh beda suasananya.
Begitu kaki Nuril menapak anak tangga terahir di undakan teratas, suasana sepi seketika berubah meriah dengan berbagai balon warna warni, serta lampu mainan yang tiba tiba menyala berkelap kelip, juga di sertai dengan teriakan serentak yang membuat mata Nuril berkaca kaca.
"Happy BirthDay Ipda Nuril." Suara serempak di sertai dengan beberapa potongan kertas warna warni yang di tiupkan ke arah Nuril. Dan tawa semuanya semakin pecah saat di lihat reaksi Nuril yang hanya bisa terdiam sembari menangis bahagia atas kejutan yang bertubi tubi di terimanya hari ini.
__ADS_1
Nuril, hanya tidak menyangka bahwa teman temannya mengetahui tanggal lahirnya, bahkan sampai bersusah payah memberinya kejutan, beberapanya juga masih berseragam. Dan satu persatu menyalaminya memberikan ucapan selamat kepada Nuril. Dalam tradisi keluarga Nuril tidak pernah ada ulang tahun, meski keluara Nuril cukup berada. Dan peringatan hari lahir Nuril ataupun keluarga lainnya, hanya dengan makan bersama dan mendatangi panti asuhan lantas berbagi dengan mereka yang kurang beruntung dalam materi.
Dan kali ini, benar benar baru yang pertama bagi Nuril. Ada balon, ada kado, ada hiasan hiasan, juga ada kue ulang tahun, meski kue ulang tahunnya datang belakangan. Tapi, bukan kue ulang tahunnya yang membuat Nuril tersenyum tidak menentu, melainkan siapa yang membawa kue itu kepadanya yang membuat dadanya kembali terus berdetag tidak mau mengikuti otaknya yang telah mrmperingatkan dirinya bahwa itu tidak benar dia lakukan.
Dengan balutan celana jean's coklat muda, di padu dengan kemeja silver yang di gulung di bawah siku, Ustadz Salman tampak memesona mata Nuril, terlebih lagi rambut Ustadz Salman yang biasanya tertutup peci di tata rapi menyamping seperti tatanan pemuda pemuda masa kini. Dan satu lagi, senyum Ustadz Salman benar benar membuat Nuril tidak bisa menolak pesona Ustadz Salman dengan membalas senyumnya dengan senyum manis yang baru pertama kali ini Nuril persembahkan untuk seorang pemuda.
"Barokah fi umrik, Ipda Nuril. Sanah hilwah." Ucap Ustadz Salman sembari memberikan kue coklat berbentuk hati kepada Ipda Nuril, dan itu berhasil membuat beberapa di antara gadis gadis disana patah hati. Lantaran, mereka melihat Ustadz Salman seolah telah menyerahkan hatinya untuk Ipda Nuril saat tengah menyerahkan kue itu kepada Ipda Nuril.
Senyum Nuril mengembang, saat tangannya terulur dan menerima kue yang di sodorkan kepadanya dengan berucap pelan. "Terima kasih Ustadz Salman."
Jika boleh egois sesaat, Nuril ingin egois untuk malam ini saja. Dan menikmatinya dengan tidak ingin mensia siakan amlam ini dengan terus menikamati senyum Ustadz Salman, lantas menghempaskan sesaat rasa bersalahnya terhadap Tunangan Ustadz Salman, yang pasti akan sakit hati jika mengetahui bahwa ada Nuril yang mengaguminya dengan tidak tahu diri.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Wah wah, Mbak Nuril amat taon yah. Dapat kado apa ya, dari Ustadz Salman..🤔🤔🤔🤔.
Untuk itu, di tunggu part selanjutnya.
Masih selalu di tunggu Like, Coment dan Votenya.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1