Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Rahasia Takdir


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gerimis tipis berintik rebutan untuk menyentuh tanah panas kota Surabaya, debu berterbangan seiring dengan tergelaparnya rinai yang semakin banyak dan berlomba lomba menjatuhkan dirinya untuk memeluk tanah, meski sesudahnya hanya akan hilang tanpa bekas.


Di bawah rinai yang semakin lama semakin menjadi rintikan hujan itu, berlarian Gus Ali dari arah parkiran Polda Surabaya guna untuk mengisi acara rutin yang satu bulan sekali, yang seharusnya di laksanakan pada malam Jum'ah di ganti pada malam Minggu atas kebijakan Kapolda baru yang baru menjabat sekitar satu mingguan lebih.


Gus Ali terus saja berlari lari kecil dengan tangannya yang memengang tas kecilnya untuk menutupi kepalanya, dan hampir saja terpeleset saat tiba di teras tepat di lantai yang licin terkena percikan air. Angin juga tidak kalah ikut ribut dengan terus berdesir lebih kencang mengabarkan bahwa rinai ini akan berubah menjadi hujan deras seiring dengan hawa dingin yang juga ikut datang bersama desauan angin.


Gus Ali mengibas ibaskan tasnya yang terkena air, lantas kembali berjalan pelan menuju ke sebuah Aula dimana biasanya dia akan mengisi acara. Namun, langkah Gus Ali dengan seketika terhenti saat sebuah suara bacaan seorang Qori' yang bertugas membaca ayat ayat dari Al-Qur'an menyeruak ikut masuk mengisi gendang telinganya yang di ikuti dengan debaran dada yang bertalu talu seperti memberi isyarat kepadanya.


Cukup lama Gus Ali terdiam di tempatnya, dan menikmati suara lembut yang mendayu dayu itu sembari menutup matanya hingga mengirimkan suatu rasa aneh yang kemudian memenuhi otaknya hingga sekujur tubuhnya merinding di buatnya. Bukan sekali dua kali ini Gus Ali mendengar seseorang sedang Qori', bahkan Gus Ali sudah sering menjadi juri untuk acara Musabaqoh tilawatil Qur'an. Namun, baru kali ini Gus Ali bisa begitu terpesona dengan suara seseorang Qori' selain dari suara Bundanya, yakni Bunda Ikah.


"Mas Salman, kok masih disini." Sebuah tepukan pelan di bahu Gus Ali di sertai sapaan sopan dari Iptu Jonathan yang sudah berdiri di samping Gus Ali mengembalikan seluruh ingatan Gus Ali.


"Astaghfirllohhal adzim." Ucap Gus Ali dengan menggeleng pelan, dan Gus Ali terus saja beristghfar hingga membuat Iptu Jonathan heran di buatnya.


"Apa saya terlalu mengagetkan Mas Salman, kok sampai segitunya?" Tanya Iptu Jonathan.


Gus Ali tersenyum sebentar kemudian menggeleng pelan. "Tidak sama sekali Bang Jo, saya saja yang memang sedang tidak Fokus." Ucap Gus Ali sembari menahan nafas dalamnya lantas berlahan mengeluarkanya dengan perlahan lahan seperti sedang mengeluarkan beban berat dari dalam dadanya. "Mari Bang Jo, saya rasa saya akan segera terlambat." Lanjut Gus Ali dan tampak sekali wajah bijak dari Iptu Jonathan yang hanya mengulas senyum misterius saat Gus Ali mengajaknya untuk segera bergegas.


Tanpa berbicara mereka terus melangkah menuju ke Aula, dan suara Qori' itu semakin dekat semakin jelas memenuhi ruang rungu Gus Ali, dan selesai saat Gus Ali sampai di depan pintu lebar dari Aula yang tengah tertutup rapat itu.


Dan entah kenapa itu membuat Gus Ali memerosotkan bahunya tanpa sebab yang jelas, dan kembali Gus Ali beristighfar tanpa henti sembari membuka pintu di depannya lantas segera merundukkan pandangannya dan berjalan dengan pasti menuju ke kursi yang sudah di siapkan baginya.


Berpuluh puluh pasang mata terus saja mengawasi gerak gerik langkah Gus Ali untuk sampai di kursi depan dan senyum tipis Gus Ali tidak pernah meninggalkan membingkai wajahnya, hingga itu mampu membuat wajah seroang Polwan Cantik mencetak rona merah di pipinya lantas menundukan kepalanya dengan segera begitu Gus Ali menoleh ke arah dimana dia sedang terduduk di belakang Istri Kapolda.


Gus Ali duduk dengan tenang di tempatnya, dan ikut memperhatikan acara sambutan yang tengah di sampaikan oleh Bapak Kapolda baru, hingga kembali sang penguasa acara mempersilahkan dirinya untuk naik ke atas untuk memberikan Tausiyah. Seperti biasa Gus Ali tidak pernah mengambil tema yang berat berat dan cendrung mudah di cerna serta di terima oleh yang mendengarkannya.


Satu jam setengah berlalu Gus Ali menutup Tausiyahnya dengan salam, lantas bergegas turun dari tempatnya dan segera di samhut oleh Pak Kapolada baru. Dengan jabatan tangan hangat sekaligus tegas Kapolda baru itu memperkankan dirinya.


"Assalamu'alaikum Ustadz Salman, Alhamdulillah ahirnya saya bisa ketemu anda. Dan memang sangat menarik seperti cerita yang saya dengar sebelum sebelumnya." Ucap Pak Kapolda dengan sangat ramah, dan jelas terlihat sekali di wajahnya jika dia adalah orang yang mengetahui wawasan tentang agama yang luas juga.


"Itu terlalu di lebih lebihkan, Pak Teuku." Jawab Gus Ali sembari membaca tag nama yang berada di dada beliau.


Pak Kapolda tertawa renyah mendengar Gus Ali menyebut nama depannya lantas kembali menjabat tangan Gus Ali sembari berucap. "Tak kenal maka tak sayang." Tawanya kembali pecah. "Teuku Mansyahri Ubaidillah. Anda bida memanggil saya Bang Ari, Ustand." Lanjut Pak Kapolda dengan nada bersahabat.


"Salman Ali Ridho." Jawab Gus Ali dengan masih mengulas senyum tipisnya "Apa anda dari Aceh.?" Tanya Gus Ali.

__ADS_1


"Iya tepat sekali." Jawab Pak Ari bertepatan dengan acara yang sudah berahir dan semua menikmati acara hiburan yang sedang berlangsung untuk saling mengakrabkan.


"Saya rasa bicara di ruangan saya akan lebih menyenangkan, Ustadz." Ucap Pak Ari yang merupakan sebuah ajakan untuk Gus Ali. Dan Gus Ali hanya bisa mengangguk pelan sembari tersenyum sebagai tanda menerima ajakan Pak Ari.


Pak Ari berjalan perlahan menuju ke kerumunan para Polwan yang sedang berdiri seperti sedang berebut untuk meminta tanda tangan Artis ternama, dan berlahan memberi jalan kepada Pak Ari dan Gus Ali yang tengah mendekat ke arah mereka.


"Ustadz Salman, ini belahan jiwa saya." Ucap Pak Ari begitu sudah sampai kerumunan Polwan Cantik Cantik dan berhenti tepat di hadapan wanita paruh baya yang tengah menggunakan stelan Bhayangkari dengan anggun. "Di panggilnya Bu Ari, Ustadz Salman. Tapi, sejujurnya saya lebih suka itu, karena menunjukan kepemilikan saya atas dirinya." Lanjut Pak Ari dengan berbisik ke arah Gus Ali, dan itu berhasil membuat Gus Ali melebarkan senyumnya lantaran teringat dengan Abi juga Bundanya yang di usia yang sudah tidak muda lagi masih selalu saling mengasihi satu sama lain.


"Senang bertemu dengan anda, Ustadz Salman. Dan ternyata masih sangat muda dan ganteng sekali, pasti banyak para Polwan yang berlomba lomba mendekati anda, Ustadz." Ucap Bu Ari dengan nada tegas namun sopan, dan akan seperti itulah Istri Istri para pejabat Negara. Dan sikap yang seperti itu di lalukan bukan semata untuk menujukan jabatannya, melainkan untuk menjaga marwah di depan bawahannya.


Gus Ali tersipu oleh ucapan Bu Ari, karena menyadari mereka sedang di kelilingi oleh para Polwan yang sedang ikut memperhatikan mereka. "Dan itu tidak benar, karena hingga saat ini saya masih saja sendiri." Jawab Gus Ali dengan deplomatis.


"Sendiri karena memilih untuk sendiri." Kata Bu Ari dengan sakartis.


"Itu kebiasaan Istri saya, Ustadz. Suka cariin jodoh orang orang di sampingnya dan saya rasa anda lah, target berikutnya." Ucap Pak Ari dengan menepuk bahu Gus Ali pelan.


"Pa, jangan buka kartu. Itu namanya misi belum jalan sudah gagal duluan." Ucap Bu Ari dan keduanya tersenyum penuh arti ke arah Gus Ali yang tengah bingung menatap keduanya.


"Baiklah Ustadz Salman, mari keruangan saya saja. Jika, anda tetap disini saya pastikan semua Polwan yang masih single akan terus menatap anda." Ucap Pak Ari dan kemudian melangkah beriringan dengan Gus Ali menuju ke pintu yang masih senantiasa tertutup rapat.


Sebelum Gus Ali benar benar meninggalkan Aula, Gus Ali kembali menoleh ke belakang lantaran mendengar seseorang menyebut sebuah nama yang berhasil membuat kinerja jantungnya berdetak lebih kencang beberapa tahun belakangan ini, terlebih saat Kaca Mata renang milik gadis itu di bawa Gus Ali hingga ke Surabaya ini.


Cukup lama Gus Ali berbincang bincang dengan Pak Ari, dan perbincangan itu berjalan sangat hangat, karena karakter dari Pak Ari sangat berbeda dengan karakter Kapolda lama yang bertugas sebelumnya.


"Saya rasa ini sudah sangat larut bagi Santri seperti anda, Ustadz. Apa lagi selain Santri anda juga Dosen tentu banyak sekali waktu yang telah saya sita jika anda tetap mengobrol dengan saya." Ucap Pak Ari saat sadar Gus Ali sering melirik jam di tangannya ketika mengobrol.


"Maafkan saya Pak Ari. Bukan maksud hati saya seperti itu, tapi saya sedang ada janji lain malam ini." Kata Gus Ali dengan nada menyesal namun masih dengan sopan.


"Tidak apa apa, Tadz. Masih banyak waktu untuk mengobrol lagi. Dan jujur saya sangat menyukai anda." Jawab Pak Ari.


Gus Ali berbasa basi sebentar sebelum ahirnya pamit dan berdiri yang di ikuti berdiri juga oleh Pak Ari, pas berbarengan dengan Bu Ari yang tengah masuk keruangan itu dengan seorang polwan yang tengah menggendong anak kecil yang sedang tertidur.


"Sudah mau kembali Ustadz Salman.?" Tanya Bu Ari sambil menata sofa agar Polwan yang datang bersamanya bisa membaringkan putri mereka.


"Iya Bu Ari. Selamat malam semuanya, Assalamu'alaikum." Ucap Gus Ali.


"Wa'alaikumussalam." Jawab semua orang yang berada di ruangan itu, lantas Gus Alipun melangkah pergi meninggalkan ruangan Kapolda dan berjalan pelan menuju ke tempat Alexa berada. Namun, kembali terhenti karena sesuatu yang menusuk perutnya dan ingin segera di kondisikan.


Gus Ali memacu langkahnya ke arah berlawanan, dan melebarkan langkah kakinya agar segera sampai di toilet yang di tuju, juga untuk mempercepat waktu yang sudah sedikit mundur dari janjinya untuk ngopi bersama dengan Iptu Jonathan sekaligus bertemu dengan salah satu Mahasiswanya di tempat tersebut.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Gus Ali keluar dari toilet pria sembari membetulkan peci hitamnya, dan kembali berjalan dengan sedikit terburu buru begitu melihat jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul 22.15. yang artinya dirinya sudah terlambat beberapa menit.


Gus Ali berjalan sembari mengetik pesan kepada seseorang yang tengah menunggunya, hingga tidak menyadari bahwa di koridor yang berbelokan itu mungkin sedang ada seseorang yang juga sedang berjalan. Dan benar saja dari arah berlawanan seseorang juga sedang berjalan dengan sedikit tergesa hingga tabrakan di antara keduanya tidak bisa di hindari lagi.


"Maaf." Pekik keduanya yang juga sama sama terjatuh di arah yang berlawanan.


Dan keduanya sama sama terkejut begitu saling memandang siapa yang sedang di tabrak. Sedetik dua detik hingga detik betubah menjadi menit keduanya masih sama sama diam dengan mengisi mata mereka dengan bayangan masing masing.


"Ipda Nuril, apa kamu baik baik saja." Kehadiran suara itulah yang mampu menyadarkan keduanya dan Gus Alipun berdehem pelan untuk membersihkan tenggorokannya yang tiba tiba terasa kering sembari berdiri, begitupun dengan Nuril


"Tidak apa apa Bripka Rika. Hanya sedikit kecelakan kecil saja." Jawab Nuril.


"Saya minta maaf Ipda Nuril, karena tidak memperhatikan jalan saya menabrak sampean." Ucap Gus Ali dengan menahan debaran di dadanya.


"Saya juga minta maaf Ustadz Salman, saya juga tidak memperhatikan jalan." Jawab Nuril dengan wajah tertunduk.


"Saya juga mau kalau yang di tabrak kayak Ustadz Salman." Ucap Bripka Rika dengan cekikikan. "Iptu Nuril, sudah di tunggu Pak Ari." Lanjut Bripka Rika.


"Baik." Jawab Nuril lantas segera mengambil salah satu ponsel yang tengah tergeletak di lantai. "Sekali lagi saya minta maaf Ustdz Salman. Mari, Assalamu'alaikum." Lanjut Nuril lalu langsung melangkah meninggalkan Gus Ali begitu jawaban salamnya di jawab oleh Gus Ali.


Gus Ali menatap punggung Nuril sesaat lantas segera meraih ponsel yang berada di lantai dan langsung memasukan ke dalam sakunya sembari tersenyum tipis, dan itu merupakan senyum misterius yang pernah di ulas oleh Gus Ali.


"Dunia ini memang kadang benar benar begitu sempit, ternyata apa yang di cari cari selama ini begitu dekat dengan kebaradaan kita dan kita tidak pernah manyadarinya selagi Allah belum berkehendak untuk kita tahu rahasia dari takdirnya." Ucap Gus Ali sambil tersenyum begitu sampai di parkiran.


Bersambung...


####


Hemm, dan ahirnya ketemu juga sama Nuril. Ponsel oh Ponsel semoga saja kamu tidak tertukar ya..🤭🤭🤭


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2