
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jalan berkelok dengan batu batu lancip, dan rumput ilalang tinggi di sisi jalan menguarkan aroma yang sangat khas, yakni aroma pedesaan. Matahari yang masih malu malu ikut mengintip di pucuk pucuk pohon Mahoni yang seperti jilatan emas, sinar lembut itu menyentuh embun yang berada di dedaunan sehingga membiaskan sinar yang menyilaukan.
Ponsel Gus Ali terus saja bergetar di dalam sakunya, sementara Gus Ali memilih fokus pada jalan yang tengah menanjak menuju bukit dimana hari ini akan ada beberapa Suplayer buah dari Surabaya, datang untuk mensurvay buah buahan di kebun Gus Ali. Gus Ali memang tengah gencar gencarnya mengusahakan agar hasil buah dari kebunnya masuk ke Supermarket di beberapa Kota Kota besar. Dan jika itu berhasil, bukan hanya Gus Ali yang akan sukses dalam bidang ini. Melainkan juga beberapa Kang Santri yang ikut bagi hasil dalam kerja yang di tetapkan oleh Gus Ali.
Kebun buah yang di kelola oleh Gus Ali, bukan semata mata hanya untuk penghasilannya seorang, tapi Gus Ali juga menggolong golongkan siapa saja yang berhak atas hasil dari kebun tersebut. Terutama untuk kemajuan dan kesejahteraan Pesantren yang di asuh oleh orang tuanya, juga sekaligus Pesantren keluarga besarnya.
Pada saat membeli tempat ini lima tahun silam, lahan seluas dua belas hektar ini, sebelumnya hanyalah sebuah bukit mati dengan tanaman pohon pohon besar dengan umur jauh di atas Gus Ali. Dan dengan pertimbangan matang Gus Ali ahirnya merombak habis dan mengubahnya menjadi kebun buah. Meski dasar untuk Ilmu pertanian Gus Ali tidak memiliki sebelumnya. Tapi, itulah Gus Ali. Siapa yang tidak tahu tentang kecerdasan Gus Ali. Bahkan sedari kecil Gus Ali yang nakalnya luar biasa juga memiliki akal yang luar biasa hebatnya.
Setelah tiga tahun berlalu, kebun buahnya sekarang benar benar sudah berkembang dengan pesat. Karena tidak hanya buah saja yang di utamakan penghasilannya, tetapi juga beberapa sayur mayur yang di tanam di bawah tanaman buah yang masih kecil, ikut menyumbang banyak penghasilan dan bisa di putar hasilnya sebagai modal juga untuk menggaji Kang Santri ataupun orang desa yang ikut bekerja.
Tepat di kelokan yang terahir Gus Ali memelankan laju motornya, dan fokus pada tempat dimana dua hari yang lalu Gus Ali tanpa sengaja bertemu dengan Ipda Nuril. Untuk sejenak helaan nafas dalam Gus Ali terlihat berat juga dalam, sebelum ahirnya Gus Ali memutuskan untuk melajukan motornya kembali hingga sampai di gerbang yang sudah terbuka.
Dengan senyum ramah Gus Ali menyapa beberapa orang yang sudah mulai bekerja. Ada yang meracik obat, ada yang mengecek mesin semprot, ada juga yang sedang membersihkan beberapa buah yang terjatuh akibat lalat buah. Juga tidak ketinggalan beberapa perempuan perempuan hebat yang juga sudah berjibaku dengan pekerjaan mereka. Dan setiap kali Gus Ali melihat para perempuan perempuan hebat tersebut, Gus Ali selalu di buatnya kagum dan mensyukuri segala yang Gus Ali punya, karena Gus Ali tidak perlu menyaksikan Bunda tercintanya bersusah payah bekerja demi keluarganya.
Gus Ali menghentikan motornya tepat di samping beberapa motor yang di bawa oleh Kang Santri ataupun orang orang yang ikut membantu bekerja. Dan tak lama setelah Gus Ali melepas helm serta jaketnya, salah satu Kang Santri datang menghampiri Gus Ali dengan buku besar di tangannya.
"Assalamu'alaikum, Gus."
"Wa'alaikumussalam, Kang Hasan." Ulasan senyum Gus Ali di tambahnya melebar, lantas mengajak Kang Hasan berjalan menuju kursi kayu yang tidak jauh dari halaman rumah yang senantiasa terawat rapi. "Ada apa Kang, sepertinya penting sekali.?" Ucap Gus Ali lagi, setelah keduanya duduk berhadapan.
Kang Hasan menyodorkan buku yang telah di bukanya, dan dengan cermat tangannya mengayunkan bolpoinnya ke arah tulisan yang di tulis olehnya sendiri. "Ini beberapa obat Plastisida habis, juga Fungisidanya." Kang Hasan menunjuk beberapa jenis obat yang di maksud kepada Gus Ali. "Kalau melihat daun buah jeruk yang sudah mulai hijau tua, sudah waktunya untuk memupuk kembali, Gus."
Gus Ali manggut manggut sembari membaca jenis jenis obat yang di tunjukan oleh Kang Hasan. "Saya sudah pesan obat obatnya dari Malang kemarin Kang. Mungkin kalau tidak ada kendala besok akan sampai." Ucap Gus Ali sembari memberikan buku kembali ke Kang Hasan. Gus Ali berdiri dan berjalan berlahan yang di ikuti oleh Kang Hasan yang berjalan di belakangnya.
"Kalau soal pemupukan, tunggu Buahnya di panen dulu baru setelah itu di pupuk. Stok pupuk masih ada kan Kang.?" Kata Gus Ali sambil memetik satu buah Jeruk yang sudah terlihat kekuningan.
"Enggeh, Gus." Jawab Kang Hasan. "Pupuk di gudang hanya tinggal beberapa saja, nanti saya akan hubungi Pak Ruslan selaku ketua kelompok tani, apa jatah Pupuk untuk bulan ini sudah turun atau belum." Lanjut Kang Hasan.
"Iya Kang, saya percayakan sama sampean juga Kang Toyib masalah mengurus kebun." Jawab Gus Ali. "Oh iya, untuk yang bantu bantu kerja, sampean bilangin Kang, jangan terlalu di forsir kerjanya. Kalau capek ya istirahat." Lanjut Gus Ali dan segera berbalik karena mendengar suara ponselnya yang di taruh di atas meja kembali berbunyi lagi.
"Saya permisi lanjut kerja, Gus." Pamit Kang Hasan kepada Gus Ali, dan dengan anggukan kepala pelan dari Gus Ali Kang Hasan pun pergi meninggalkan Gus Ali seorang diri.
Gus Ali mengeryitkan keningnya melihat Ponselnya yang banyak sekali panggilan masuk dari Kakaknya juga Bundanya. Gus Ali melirik jam di tangannya menunjukan pukul 06.45. Dan kemudian menggeleng pelan sembari mengusap Poselnya guna melakukan panggilan balik.
__ADS_1
Gus Ali hanya bingung saja, karena tadi sebelum keluar rumah Gus Ali sudah bilang akan ke kebun, belum ada sejam Gus Ali keluar sudah berapa banyak panggilan yang di buat oleh orang rumah, yang sepertinya sangat khwatir akan dirinya. Lebih tepatnya adalah khwatir Gus Ali akan kabur dari acara pertunangan nanti siang.
"Ini masih jam 07 belum ada, sedangkan acara jam 09." Gumam Gus Ali sambil menghela nafasnya dalam. Belum Gus Ali mendial nomer Bundanya, nomer Kakaknya sudah lebih dulu menghubunginya.
"Assalamu'alaikum." Ucapan tergesa dari sebrang saat Gus Ali baru saja mengusap tombol hijau dari Ponselnya. Terdengar nada sengau dari Kak Afiqah seperti sedang menahan tangis, bahkan suara di belakang Kak Afiqah sungguh membuat Gus Ali mulai di rudung panik dengan macam macam pikiran tidak menentu.
"Wa'alaikumussalam. Ada apa Kak..?"
"Mas Ali dimana, pulang sekarang Mas." Kata Kak Afiqah dengan isakan yang tidak bisa di sembunyikan lagi.
"Ada yang terjadi di rumah, Kak.?" Tanya Gus Ali dengan sudah meraih kunci motornya dan berjalan dengan tergesa ke tempat motornya di parkir.
"Mas, Mbak Zilla, Mbak Zilla." Seketika Gus Ali langsung mematikan panggilannya begitu terdengar suara anak kecil menangis dengan memanggil manggil Ibunya. Gus Ali meraih motornya sembari berteriak memanggil Kang Santri yang tidak terlalu jauh darinya, dan dengan cepat pula Gus Ali pamitan tanpa memberi kejelasan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Gus Ali seperti lemas tak memiliki tenaga, saat sampai di depan gang rumah Mbak Zilla. Dan itu semua karena bendera putih yang melambai di salah satu pagar rumah tetangga Mbak Zilla, dan juga ramainya kendaraan yang sudah terparkir di sana sini. Sehingga membuat Gus Ali meninggalkan motor dan helmnya begitu saja di tempatnya, lantas berjalan dengan tergesa menuju dimana orang orang juga tengah berjalan menuju tempat duka.
Inginnya Gus Ali tidak meneteskan airmatanya, namun saat melihat jenazah yang terbaring tertutup kain putih itu Gus Ali benar benar tidak sanggup lagi untuk tidak menitikan airmatanya. Ditambah lagi, Gus Ali melihat Bunda juga Kakaknya yang duduk di samping Jenazah dengan tangis sesenggukan. Seumur umur Gus Ali tidak pernah melihat Bundanya begitu sedih hingga menangis tanpa henti. Sehingga sirna seluruh kebahagiaan kemarin hingga tadi malam yang terus tergembar jelas di wajahnya saat membicarakan acara pertunangan yang akan berlangsung hari ini.
Tidak jauh dari tempat Bundanya, Gus Ali melihat Lily yang duduk dengan jilbab menutup kepalanya dan menyembunyikan rambut kritingnya. Tidak ada airmata keluar dari matanya, tidak ada isakan dari bibirnya yang terus berkomat kamit melantunkan ayat demi ayatnya. Tapi, matanya sayu menatap ke arah wajah Ibunya yang terbaring dengan senyum menghias wajahnya yang bercahaya.
Tidak jauh dari tempat Lily, duduk dr.Rama dengan di peluk kedua anaknya yang lain dan Yudha yang berada di sampingnya terus menatap ke arah Lily. Dr.Rama hampir sama seperti Lily, tidak ada airmata keluar dari matanya, namun terlihat jelas di wajahnya bahwa duka begitu kental menyelimuti hatinya begitupun dengan Yudha yang berada di sampingnya. Sementara Deasy juga Aby tidak henti hentinya menangis dengan sesekali histeris terus memanggil manggil ibunya.
Gus Ali menembus gerumbulan orang yang sedang bertahlil dan mendudukan dirinya di samping Kakak Iparnya yang duduk tepat di samping dr.Rama. Dan dari tempat Gus Ali berada dapat terlihat jelas expresi Lily yang berusaha terus tegar.
"Mas, sudah waktunya. Tidak baik menunda nunda waktu." Ucap Gus Nayif, saat di lihatnya segala persiapan untuk mengurus jenazah sudah siap.
"Tunggu sebentar, Gus." Ucap dr.Rama lantas melepaskan pelukan kedua anaknya yang kembali menangis dengan keras. Yudha mengambil alih kedua adiknya dan membiarkan dr.Rama beranjak menuju dimana Lily tengah duduk.
Dr.Rama menarik Lily dalam pelukannya, namun sama sekali tidak terlihat melunak dalam dekapannya, tubuhnya tetap kaku dan kepalanya sama sekali tidak meninggalkan memandang Ibunya. Dan saat itulah terlihat dr.Rama menitihkan airmatanya. Juga begitupun dengan Gus Ali dan lainnya, betapa dukanya Lily begitu mendalam tanpa harus menitikan airmata sebagai simbol bahwa dirinya benar benar tidak rela.
Setelah dr.Rama kembali ke tempatnya. Gus Nayif mengelus bahu dr.Rama pelan. "Saya telah berjanji dengan Istri saya, bahwa saya dan anak anak akan memandikan jenazahnya Gus, hingga membaringkannya di tempat peristirahatannya yang terahir tanpa air mata. Tapi, ini sulit sekali." Ucap dr.Rama pelan dan terasa sekali bahwa itu sangat menyakitkan baginya.
"Tidak ada yang tidak berduka ketika di pisahkan dengan belahan jiwanya, apa lagi berpisah untuk selamanya. Tapi, ada yang membutuhkan sampean lebih kuat lagi. Lihatlah mereka." Jawab Gus Nayif dengan menepuk nepukkan tangannya di bahu dr.Rama sembari memandang anak anak dr.Rama.
Gus Alipun ikut memandang anak anak dr.Rama dan berhenti cukup lama pada Lily. Entah apa yang di pikirkan oleh kepala kecil Lily hingga benar benar tidak ada airmata keluar dari matanya dan terlihat begitu tegar, meski itu menampakan dirinya seperti orang lain.
__ADS_1
Segala persiapan sudah selesai di siapkan, dan Jenazah pun di mandikan oleh keluarga inti juga beberapa orang saja, termasuk Bunda Ikah dan Kak Afiqah. Dan setelah selesai segala prosesnya, dengan deraian airmata Jenazah pun di berangkatkan ke pemakaman yang tidak begitu jauh dari rumah duka.
Di situasi seperti itu, dr.Rama tampak begitu tegar dengan turun langsung ke dalam liang lahat Mbak Zilla, meski sesekali dr.Rama menengadah ke atas agar airmatanya tidak merebak di pelupuk matanya. Gus Ali terus memperhatikan Lily yang sama sekali tidak ingin di sentuh oleh siapapun seperti biasanya. Bahkan dengan Gus Ali sekalipun, juga dengan Yudha sama sekali tidak ingin di sentuh. Padahal Gus Ali ingin menenangkan Lily dengan pelukannya.
Setelah proses penguburan selesai, semua berangsur angsur meninggalkan pemakaman. Dan tersisa hanya keluarga inti saja juga Gus Ali yang masih betah berlama lama di tempatnya.
"Kak Ly, ayo kembali ke rumah sayang." Ucap dr.Rama sembari meraih tubuh kecil Lily dalam dekapannya. "Kita sama sama ikhlaskan, masih ada Ayah disini." Lanjut dr.Rama.
Gus Ali maju dan mendekat ke arah Lily yang tidak mau bergeming dari tempatnya setelah dr.Rama melepas pelukannya. "Dengan do'a semua akan tetap dekat. Ayo, tidak ada gunanya tetap disini tanpa bait do'a yang di munajat." Ucap Gus Ali dan dengan cepat mata yang biasanya jernih itu menatap Gus Ali.
Gus Ali merasakan sakit di seluruh rongga hatinya. Bagaimana tidak, mata yang biasanya jernih penuh semangat serta ceria itu, kini tiba tiba meredup dan tak bercahaya. Lily seperti bunga yang tanpa warna. Dingin seperti citra bunga Lily yang tak tersentuh oleh sembarangan tangan. Dan mata itu kemudian tertutup di iringi dengan tubuhnya yang limpung dalam dekapan Gus Ali.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Masih saja di buat mewek sama Mbak Zilla.
Semakin dekat dengan Syawal, dan artinya bulan penuh maghfiroh pun akan berlalu dari kita. Semoga dengan berlalunya Ramdhan nanti akan membawa kita semua lebih baik kedepannya.
Like, Koment dan Votenya masih di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862