
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Mata jernih Nuril memanas, dan jelas sekali bahwa dirinya sedang mengotrol emosinya agar tidak berpengaruh pada produksi air mata yang sudah di tahannya sejak pertama kali Ustadz Salman memulai pembicaraan serius dengannya. Namun, Nuril cukup membesarkan dadanya untuk terlihat tegar di hadapan Ustadz Salman.
Bahagia sesaat siang tadi bersama saudara Ustadz Salman ternyata itu tidak mampu terus bertahan dengannya, seiring kepergiaan mereka juga membawa kejelasan alasan Uatadz Salman untuk duduk bersama. Boneka Pingwin yang berada dalam dekapan Nuril tidak mampu menenangkan detak jantungnya yang berirama ngilu.
Nuril sadar tidak ada yang abadi dengan setiap hubungan yang terjalin dengan sesama manusia. Jika, bukan berpisah karena takdir yang tidak membiarkan bersama. Maka, berpisah selama lamanya jauh lebih mengerikan lagi. Namun, Nuril tidak pernah menyangka bahwa itu akan secepat ini.
Begitu banyak hal yang belum di bicarakan dan di ceritakan antara dia dan Ustadz Salmannya. Bahkan tanya kenapa Ustadz Salman bisa sampai tenggelam di kolam renang anak, belum sempat Nuril utarakan. Apa lagi tentang Mas Agusnya Lily. Dan semua cepat sekali berahir begitu saja, dengan kalimat kalimat santun Ustadz Salman yang memilih untuk menerima pilihan orang tuanya.
Kenapa, kenapa Ustadz Salman harus melakukan ini terhadap Nuril. Harusnya, Ustadz Salmannya tidak perlu memberi pelangi di hatinya, sehingga saat pelangi pergi tidak perlu ada gerimis yang melanda. Harusnya, jika Ustadz Salman sudah tau tentang konsekwensinya akan seperti ini, Ustadz Salman tidak perlu memberi sebuah kenangan manis yang akan terus di kenang.
"Sampean itu ibarat langit jingga yang datanganya hanya sesaat, namun di butuhkan kesabaran hebat untuk menanti kedatangannya. Kelak, saya tidak akan menati datangnya langit jingga lagi. Karena, langgit jingga tidak akan pernah datang bersamaan dengan pelangi, cendrung membuat pelangi menghilang. Menghilang dengan perasana rela untuk mengikhlaskan." Tutur Nuril dengan tatapan dalam menghujam telak di manik mata Ustadz Salman.
Tidak hanya hati Nuril yang teriris perih. Bahkan Ustadz Salman yang terlihat duduk dengan tenang di depanya sebenarnya juga merasakan kepedihan serupa. Andai saja Ipda Nurilnya tidak memiliki batasan saat ini juga untuk datang menemui orang tuanya, atau orang tuanya memiliki kesempatan untuk datang kemari menemui Ipda Nuril, semua akan tampak mudah bagi keduanya. Namun, lagi lagi mata Jujulah yang membuat Ustadz Salman melemah. Melemah karena rasa bersalah.
"Jingga yang menghilang menggantinya dengan gelap dan akan banyak yang datang bersama gelap. Bintang yang bercahaya, Bulan yang menawan, serta akan menyembunyikan bayangan." Jawab Ustadz Salman lirih.
"Bersembunyi dalam pekat." Hembusan nafas dalam Nuril terlihat sarat akan kesakitan. "Saya mengerti Ustadz Salman. Terima kasih untuk kenangan yang sampean tinggalkan, dan ini tidak selayaknya bersama saya." Lanjut Nuril sembari menyodorkan boneka Pingwin yang sedari tadi berada dalam dekapannya.
"Sampean simpan saja. Ndhok Nila memberikan itu kepada sampean sebagai hadiah."
"Tidak, Dek Nila memberikan itu sebagai hadiah untuk seseorang yang di anggapnya akan menjadi saudara dan saya tidak berhak atas ini." Mata jernih mengerjab sesaat sembari ucapan itu keluar dari bibirnya.
"Memang ini akan sulit kita lalui. Tapi, selayaknya buku yang di baca, akan terus berganti dengan lembar yang baru setiap kali kita ingin terus melanjutkan membacanya."
"Itu tidak akan mudah. Karena, tidak ada alasan saya untuk membenci sampean." Sisi lemah itu memang sangat menyakitkan, dan yang lebih menyakitkan lagi lemah karena hal hati.
"Dengan begitu kita bisa tetap berhubungan baik." Nuril tersenyum getir. Berhubungan baik tanpa milibatkan hati, jelas itu nonsen untuk di lakukan. Yang ada setelahnya tidak akan ada kembali yang seperti semula, selain dari meninggalkan sesak di dada.
Sakit memang, sama sama mencintai tapi harus berpisah karena alasan ada cinta lain yang lebih di utamakan. Cinta kepada orang tua serta ketawadhu'annya. Dan sepertinya Nuril juga harus belajar dari Ustadz Salmannya bahwa cinta dari orang tuanya lebih dari segalanya dan berusaha menerima kemunduran Ustadz Salman dari hidupnya sebagai cambuk.
Namun, apa itu akan mudah untuk Nuril lalukan. Jawabannya jelas tidak, karena Ustadz Salman sudah terlanjur mengisi penuh hatinya. Dan untuk menghapusnya akan di butuhkan waktu. Waktu untuk patah hati.
Lantas siapa yang harus di salahkan.?. Jelas diri Nuril sendiri, karena telah melangitkan nama Ustadz Salman terlalu lama, dan memaksa kepada pemilik hati agar mengisi hati Ustadz Salman dengan cintanya. Hingga ada yang terlupa, bahwa seharusnya yang di minta Nuril adalah di pertemukan dengan jodohnya, bukan di pertemukan dengan Salman A.Rnya. Jika, yang terjadi seperti sekarang, maka kebesaran hatilah yang di butuhkan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sejam dua jam, hingga berganti ke hari. Dan hari terus berganti hingga datang bulan. Bulanpun juga silih berganti. Bulan sabit ke Purnama, Purnama hingga sabit kembali. Tiga Purnama telah berlalu, dan hati Nuril masih sama sakitnya mengingat bahwa tidak ada lagi Ustadz Salman dalam hari harinya. Hubungan yang terlalu singkat itu, terus meninggalkan kenangan tersendiri bagi Nuril.
__ADS_1
Setidaknya Nuril dan Ustadz Salman masih bisa sering bertemu dan bertegur sapa, tidak terpisah oleh kematian. Hanya berpisah karena takdir yang tidak memihak kepada keduanya. Atau sesungguhnya takdir yang di buat oleh mereka beruda seoarang.
Tapi, bagi Nuril inilah yang tersulit. Karena mereka harus sama sama menjaga perasaan mereka yang telah di ketahui memiliki bunga namun tidak bisa memetiknya. Jika, Nuril ingin egois sesaat dan merendahkan marwahnya sebagai seorang wanita. Maka memaksakan egonya terhadap Ustadz Salmannya adalah pilihan hatinya. Namun, Nuril cukup menghormati pilihan Ustadz Salmannya yang memilih takdzim kepada orang tuanya. Karena Nuril tau itu juga sulit untuk Ustadz Salmannya.
Dan nyatanya kekecewaan Nuril, rasa sesak di dada Nuril dengan keputusan Ustadz Salman tiga bulan lalu. Jauh lebih sesak lagi malam ini, saat Ustadz Salmannya pamit kepada semuanya, bahwa Ustadz Salman tidak lagi mengisi acara di Polda. Bahkan Nuril juga sempat mendengar beberapa waktu lalu dari rekan rekannya di Masjid, jika Ustadz Salman juga sudah berpamitan kepada takmir Masjid.
Membayangkan bahwa ini hari terahir bagi Nuril bisa menatap wajah seseorang yang belum bisa di lupakan, membuat Nuril dengan berani mengangkat wajahnya dan mengisi penuh matanya dengan sosok yang tengah bersalam salaman dengan rekan rekannya.
Hingga tanpa sadar Ustadz Salmannya sudah berdiri di depan Nuril dengan senyum simpul yang mampu merobohkan pertahanan Nuril, andai Nuril tidak segera mengalihkan tatapannya. Tidak ada kata kata yang terucap lain untuk Nuril, selain dari ucapan perpisahan sama dengan rekan rekan Nuril.
Waktu merambat dengan cepat, membawa larut malam dengan semilir dingin yang membelai wajah Nuril. Langkah gontai Nuril menyusuri jalan kembali ke Kostan terlihat tidak ada semangat sama sekali, pikirannya di penuhi oleh hari harinya kedepan yang tidak bisa lagi melihat Ustadz Salmannya, meski otu hanya dari jauh.
"Ini tidak seberapa, dan ini bukan hal yang benar juga. Lantas bagaimana pedih dan sakitnya saat seseorang di pisahkan dari belahan jiwanya selamanya, karena Allah lebih menyanyanginya. Masih beruntung diriku." Lirih Nuril.
Kaki Nuril baru saja menapak di gerbang Kostnya, dan sekita terhenti saat suara yang begitu di kenalnya memanggil namanya lirih. Dan tanpa di komando, kepala Nuril sudah terlebih dulu menoleh tanpa memerdulikan otaknya yang mencegah untuk berpaling.
"Assalamu'alaikum Ipda Nuril." Sapa Ustadz Salman pelan.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Nuril dengan sedikit tergagap. Entah meski sudah tau bagaimana hubungan mereka yang terjalin tidak sempurna, tapi dada Nuril tetap abai dengan berdetag lebih dari ritmenya setiap kali melihat senyum Ustadz Salman.
"Apa boleh saya masuk sebentar." Nuril tidak menjawab, hanya seketika menoleh ke arah teras yang masih ada beberapa orang sedang duduk mengobrol.
"Silahkan Ustadz Salman." Lirih Nuril sembari berjalan masuk terlebih dulu.
"Saya akan kembali ke kampung halaman saya besok Ipda Nuril." Lirih Ustadz Salman.
"Saya tau. Semoga selamat sampai tujuan Ustadz Salman." Jawab Nuril tidak kalah lirih.
Kembali keduanya diam larut dalam pikiran masing masing. Dalam diam Nuril, kedua tangannya saling menaut dan meremas. Ingin sekali bibir Nuril berucap, bawa serta dirinya bersama Ustadz Salman. Namun, kata kata itu hanya terus berhenti di tenggorokan, apa lagi saat tangan Ustadz Salman terulur menaruh benda kecil di atas meja.
"Tidak ada alasan saya terus menyimpan ini, Ipda Nuril. Saya kembalikan ini, seperti semua kembali ke pada tatanannya." Remasan di dada Nuril semakin menjadi, karena menyadari semua sudah terlambat. Andai saja Nuril berani bicara sebelumnya, mungkin saja saat ini Nuril akan berada dalam kepastian.
Alih alih dirinya berucap, malah dengan tenang Nuril berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Di bongkarnya laci meja belajar yang menjadi tempat benda benda keramat milik Ustadz Salman. Lantas dengan cepat kembali ke depan dengan membawa serta bersama Nuril.
"Ini juga tidak layak saya simpan lagi Ustadz Salman. Semua serba kebetulan." Ucap Nuril. Senyum Nuril menyunging saat satu persatu benda milik Ustadz Salman di letakannya di samping kaca mata renang miliknya.
"Saya yang masih penasaran, kenapa sampean bisa tenggelam di kolam renang anak anak, padahal itu hanya selutut dalamnya." Ujar Nuril saat meletakan gelang kertas lusuh bertulis Water Park terkenal di Kota Jogja.
"Jangan tanyakan soal itu Ipda Nuril, itu sungguh memalukan." Jawab Ustadz Salman ikut tersenyum simpul.
"Iya, tidak ada alasan lagi saya tau tentang sampean. Semua telah kembali kepada pemiliknya sekarang." Ucapan lirih Nuril mampu menghilangkan senyum di antara keduanya.
__ADS_1
"Itu terdengar menyakitkan. Tapi, setidaknya tidak akan sesakit sebelum sebulmnya. Dengan saya pergi sampean tidak perlu berusaha keras untuk menutupi segalanya."
"Apa saya bisa Ge-Er, jika kepergian sampean kembali ke kampung halaman karena saya. Meski saya tau itu jelas tidak mungkin kan." Kata Nuril sambil tertawa untuk menghibur hatinya.
Kembali senyum simpul Ustadz Salman terukir tipis di bibirnya. "Pertama iya, kedua iya, dan ketiga juga iya. Tapi, ada alasan yang jauh mendasar lagi tentunya. Dan sampean tau itu apa."
"Sampaikan salam hormat saya untuk kedua orang tua sampean. Sungguh saya akan menjadi pengagum nomer satu kedua orang tua sampean." Kata Nuril sambil memberikan dua jempolnya kepada Ustadz Salman. "Juga untuk Istri sampean kelak." Lanjut Nuril dengan lirih.
"Insya'Allah. Tapi, untuk yang terahir itu saya tidak bisa janji. Siapa tau Allah berkehendak lain. Karena tidak ada yang tau rencana dari Allah." Jawab Ustadz Salman dengan kekehan yang di buat buat.
"Ini sudah larut Ustadz Salman." Kata Nuril pelan. Dan dengan penuh pengertian Ustadz Salmanpun pamit dari kost kostan Nuril. Juga sekaligus pamit pada hatinya, bahwa Ipda Nuril kini hanya sebagian dari cerita masa lalunya.
Nuril terus menatap punggung lebar Ustadz Salman yang menjauh dari gerbang kost kostannya, hingga menghilang di bersama gelap malam tanpa bayangan yang di tinggalkan. Juga seperti itu yang di harapkan oleh Nuril, agar lambat laun Ustadz Salmannya juga pergi dari hatinya tanpa meninggalkan kenangan.
"Selamat tinggal Ustadz Salman." Lirih Nuril lantas berbalik dan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Melupakan, dan aku memiliki jalan untuk melupakanmu saat ini." Gumam Nuril sembari meraih amplop coklat yang dari kemarin masih di biarkan tersegel begitu saja di atas meja. Kini Nuril memiliki alasan untuk menerima amplop itu tanpa keberatan untuk jalan melupakan.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Amplop apakah itu. Kok kepo saiya. Jangan jangan amplop dari Mas Ai. 😅😅😅😅
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862