Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Kejutan Di Antara Kejutan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Nuril duduk di sofa ruang keluarga dengan bibir mengerucut dan menambahkan wajah sebalnya ke setiap orang, terutama kepada seseorang yang beberapa jam lalu mengaku sebagai suami Nuril. Sejagat raya juga tau, bahwa Nuril belum menikah. Dan pengakuannya tadi membuat protes keras kepada seluruh keluarganya yang seperti kompak mempermainkan Nuril.


Bukan hanya soal keluarganya yang kompak memepermainkan Nuril, yang membuat Nuril sebal setengah mati. Tapi, juga lantaran sikap menyebalkan Mas Ainya tadi di dalam kamar yang membuat Nuril merasa teraniaya oleh rasa malu yang begitu luar biasa.


Bagaimana Nuril tidak malu. Mas Ai justru malah menggoda Nuril, hingga Nuril kehilangan seluruh kata katanya dan menyisakan wajah memerah bak Tomat dengan tingkat kematangan sempurna. Dan melihat wajah tenangnya malam ini, membuat Nuril berfikir liar bahwa kemungkinan Mas Ainya memiliki dua kepribadian sekaligus.


Masih terekam jelas di ingatan Nuril, saat tadi siang Mas Ainya yang tiba tiba di kamarnya dan membuat jantung Nuril terasa mau copot dari tempatnya lantaran kaget yang luar biasa. Dan Nuril harus mengakui kehebatan keluarganya, dalam memberikan kejutan yang benar benar mengejutkannya, terutama penghargaan hebat untuk Papanya.


Dengan tenangnya Mas Ai meraih kedua tangan Nuril yang sedang meraih apapun yang bisa di jangkaunya untuk di lemparkan ke arah Gus Ali yang tengah berajalan pelan ke arah Nuril. Seumur hidup Nuril, baru kali inilah dirinya berada sangat dekat dengan seorang laki laki yang membuat kerja jantungnya meningkat, bahkan hingga hidung bangir Nuril yang mengendus aroma farfum khas laki laki juga ikut menyumbang atas kerja jantungnya yang menggila.


Jangan di tanya bagaimana kabar dada Nuril siang tadi. Andai itu jantung letaknya ada di luar, pasti semua akan tau bahwa genderang di jantung Nuril sedang di tabuh dengan kekuatan penuh, hingga suaranya mampu menggema dimana mana.


"Ini kamar kita, bukan kamar kamu seorang." Kata pelan Gus Ali ketika berhasil meraih tangan Nuril.


"Tidak ini kamar ku." Jawab Nuril, tanpa meyadari ucapan Gus Ali yang menyebutkan bahwa ini kamar mereka berdua. "Sampean itu tamu, harusnya ada di kamar tamu. Jangan masuk kamar sembarangan." Lanjut Nuril dengan mencoba melepaskan tangannya.


Gus Ali memainkan alisnya sembari menatap intens wajah Nuril yang tengah memerah antara malu dan sebal. "Mungkinkah aku salah masuk." Ucap Gus Ali. "Tapi, sepertinya tidak. Ini benar kamar Istriku."


"Istri, Istri. Siapa yang Is.. Apa,." Terlihat wajah Nuril memerah sempurna meski raut kaget juga tidak bisa di sembunyikan begitu saja oleh Nuril.


Gus Ali terkekeh melihat wajah Nuril yang di penuhi semburat merah, dan itu berhasil mengirimkan jutaan bunga yang bermekaran di dada Gus Ali. "Iya, ini kamar Istriku. Sudah lama sekali aku menunggunya." Kata Gus Ali dengan wajah yang di penglihatan Nuril itu menyebalkan sekali. Meski, dalam hati Nuril mengakui bahwa wajah yang di rindukan ini semakin terlihat matang dan ahh, menggoda tentunya.


"Bohong, itu tidak benar. Aku akan tanya Papa. Sampean hanya mencari kesempatan, agar bisa masuk ke kamar ku dan mengintipku kan." Gus Ali semakin melebarkan tawanya mendengar penuturan Nuril.


Seumur hidup Gus Ali, tidak pernah sekalipun terpikirkan untuk mengintip perempuan. Bahkan Gus Ali terkenal pendiam juga sekaligus sangat menjaga pandangannya dari perempuan manapun, termasuk kepada Mbak Mbak Santriwati. Dan tuduhan Nuril benar benar membuat Gus Ali merasa geli sekaligus gemas dengan reaksi Nuril yang bagi Gus Ali itu sangat lucu untuk ukuran seorang Nuril.


"Mau aku temani menemui Papa." Tangan Gus Ali melepaskan pergelangan tangan Nuril, lantas beralih dengan cepat ke kening Nuril yang berjatuhan beberapa anak anak rambut. "Pakai dulu jilbabnya, nanti baru keluar." Gus Ali membenarkan anak anak rambut Nuril dan meyelipkannya pelan ke telinga Nuril.

__ADS_1


Nuril masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dan hanya bisa membeku di tempatnya, sementara dalam otak Nuril berfikir keras dengan apa yang di lakukan oleh Gus Ali barusan. Rasa tidak percaya Nuril, menggiring pemikiran bahwa apa yang di lakukan oleh Gus Ali merupakan hal yang sangat tidak pantas dengan predikat Ustadz serta Gus yang di sandang oleh Gus Ali.


"Lekaslah, Ipda Nuril." Suara lembut Gus Ali menyadarkan Nuril dari keterbekuan dirinya. Dan dengan cepat sudah mundur dari tempatmya tatkala Gus Ali mencondongkan tubuhnya untuk berbisik kepada Nuril. "Aku suka aroma wangi sampo ini. Dan lebih suka lagi saat rambut ini kering, lantas menyurainya di tanganku." Lanjut Gus Ali dengan jemari Gus Ali yang sudah menyusuri rambut panjang Nuril yang terurai tak tertutup sempurna dengan handuk di kepalanya.


Nuril merasakan kakinya melemas seperti kehilangan seluruh tulang tulangnya, saat pelan dan pasti tangan Gus Ali mengangkat helaian rambut Nuril dan membawanya kehadapan wajahnya lantas menghirup aroma wanginya dengan mata tertutup.


"Sayangnya aku terlalu lapar saat ini." Kata Gus Ali lagi dengan pelan. Lantas segera berbalik dengan cepat dan meninggalkan Nuril yang masih terpaku di tempatnya tanpa bisa berucap apa apa dengan wajah kacau. Kacau lantaran kaget, kacau lantaran bingung, dan terlebih lagi kacau lantaran malu. Wajah Nuril memerah sempurna seiring dengan detag jantungnya yang terus saja seperti di bombardir. Hingga tubuh tegap Gus Ali sudah berada di dekat pintu Nuril masih saja tak mampu menggerakan tubuhnya.


"Lekaslah turun, kalau tidak kupastikan aku akan memakanmu saat ini." Ucap Gus Ali sembari meraih hendel pintu dan mengerlingkan mata nakal sebelum ahirnya Gus Ali menghilang di balik pintu kamar Nuril.


Untuk sesaat Nuril masih belum bisa percaya dengan apa yang tengah terjadi. Dan masih sibuk menenangkan jantungnya yang sedang asik berdisco ria. Perasaan ini aneh, di balik rasa sebal yang berlebihan juga memiliki kebahagiaan yang luar biasa tak terjabarkan. Terlalu bahagia itu membuat Nuril tak mampu berkata kata dan melupakan apa makna dari kejutan yang mengejutkan ini bagi Nuril.


Dan lihatlah sekarang dia. Duduk dengan santainya di tengah tengah keluarga Nuril. Seolah telah begitu lama saling mengenal. Ya, memang iya sudah lama saling mengenal, hanya Nuril merasa hubungan mereka semua sebelum sebelumnya tidak sedekat ini juga. Bahkan yang membuat Nuril semakin tidak percaya, adalah cara Gus Ali memanggil "Papa" juga sudah seperti yang sangat fasih dan terkesan natural.


Dengan menahan segala kesal didada, Nuril hanya memutar bola matanya jenggah saat semua keluarga mengoloknya. Terutama Kak Nana dan Suaminya, yang dengan terang terangan menyingung perihal pernak pernik rumah tangga, hingga sampai ke hal yang sedikit tidak pantas untuk di obrolkan bersama.


Tingkat ketenangan Gus Ali semakin membuat Nuril kesal, dengan sangat santai Gus Ali duduk bersanding dengan Papa Nuril dan berbincang seolah tidak ada yang perlu di jelaskan kepada Nuril. Papa Nuril juga sama menjengkelkannya buat Nuril. Beliau sama sekali tidak ingin menjelaskan soal kehadiran Gus Ali di tengah tengah keluarganya, hingga hadir ke dalam kamar Nuril.


"Harusnya kamu bicarakan sendiri dengan Suamimu, Wi. Kenapa mesti tanya sama Papa." Itulah kata yang keluar dari Papa Nuril saat Nuril mencoba meminta penjelasan tentang kehadiran Gus Ali di kamar Nuril.


"Kamu tanya saja sama yang ijab kabul. Papa cuma memberi ijin saja." Ucap Papa Nuril dengan santai.


"Papa tidak bisa sembrono gitu. Mana bisa menikah pengantin perempuannya tidak tahu menahu. Itu pelanggaran HAM, Pa." Jawba Nuril masih dengan nada tidak terima.


"Terus.? Kamu keberatan.? Atau kamu mau mengulangi pernikahan itu lagi. Kalau iya, gampang tinggal bilang saja sama suamimu. Wong mahar saja sudah dipakai sejak setahun lalu kok masih ribut minta nikah ulang."


"Papa, siapa sih yang minta nikah ulang. Uwi, itu hanya tidak mau menikah." Jeda Nuril sembari berfikir tentang ucapan Papa Nuril barusan. "Tadi apa yang Papa katakan.?"


"Yang mana.?" Terdengar nada menggoda dalam suara Papa Nuril.


"Soal Mahar, Pa.!"

__ADS_1


"Oh, mahar. Itu gelang yang kamu pakai. Itukan salah satu mahar yang di berikan Gus Ali untuk mu." Ucap Papa Nuril dengan senyum penuh kemenangan di tengah wajah bengong Nuril dengan memandang gelang di tangan kirinya. "Gus, Istrimu tidak terima sepertinya di nikahkan diam diam. Segera jadwalkan kapan akan membuat resepsi."


Seketika Nuril ikut menoleh ke arah pandang Papa Nuril, dimana Gus Ali yang tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. Dan tanpa di komando dada Nuril seketika bertalu talu seperti getaran drum yang tengah di tabuh dengan hebatnya. Apa lagi saat Gus Ali berlahan masuk dan Papa Nuril keluar begitu saja dari ruangan lebar yang seketika menyempit bagi Nuril saat di tinggal hanya berdua saja dengan Gus Ali.


"Papa serahkan sama sampean, Gus." Ucap Papa Nuril sebelum menutup pintu perpustakanan pribadi itu. Lantas menyisakan oksigen yang seperti hanya sehelaan saja bagi Nuril.


Tingkat gengsi yang masih terlalu tinggi milik Nuril. Membuat Nuril memilih berlari dengan cepat dari ruangan itu, tanpa menunggu Gus Ali menjelaskan barang setengah kata saja. Meski, rasa penasaran Nuril memenuhi otaknya. Tapi, berdekatan dengan Gus Ali, apa lagi hanya berdua saja, itu jauh lebih horor dari apapun di dunia ini. Cukup siang tadi Nuril menjadi korban atas sikap usil Gus Ali yang sengaja sangat manis di depannya, hingga Nuril memerah sempurna.


Lalu, bagaimana Nuril bisa menghabiskan malam ini istirahat dengan tenang. Jika, seluruh keluarga memandang dengan aneh saat Nuril pamit hendak kembali ke kamarnya dengan alasan istirahat lebih awal. Apa lagi saat Kak Nana meminta Nuril untuk mangajak Gus Ali ikut ke kamarnya dan di beri anggukan setuju oleh seluruh keluarganya. Rasanya, jalan menghidar yang sukses di lakukan Nuril tadi akan sia sia belaka saat ini.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Bakal ada Drama seru di kamar kayak e..😅😅😅😅


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2