Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Tanggung Jawab sekaligus jalan


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Panas Ibu Kota Jawa Timur menyengat membakar kulit, di bawah terik matahari yang sedang terik-teriknya Gus Ali tetap Istiqomah menjalankan kwajibannya yang tidak terasa sudah setahun di jalaninya di Surabay. Tidak perduli selama setahun ini Gus Ali sering bolak-balik Surabaya-Banyuwangi entah itu seminggu sekali, setengah bulan sekali. Tapi, yang pasti Gus Ali melakukan semua itu dengan Ikhlas karena baktinya untuk orang tua yang di kasihinya.


Vespa lawas yang selalu di kendarainya menuju Kampus tempatnya mengajar sudah berapa kali suka ngambek, dan membuat Gus Ali lagi dan lagi harus berbesar hati meluangkan waktunya untuk membelai lembut mesin yang sudah seharusnya Istirahat sebelum keluar dari IAIN Sunan Ampel-Surabaya.


"Assalamu'alaikum, Pak Salman." Sapa seorang Mahasiswi yang tengah melintas bersama beberapa teman-temannya.


Gus Ali menoleh sebentar lantas dengan cepat berdiri dan menjawab salam Mahasiswi yang cukup familiar untuk Gus Ali. "Wa'alaikumussalam, Ning." Jawab Gus Ali dengan ramah sembari mengulas senyum tipisnya dan juga menganggukan kepalanya.


Lantaran keramahan Gus Ali inilah hampir semua Mahasiswa dan Mahasiswi menaruh respeck untuknya, terlebih lagi bagi Mahasiswi. Karena selain ramah juga piawai dalam keilmuan, Gus Ali juga sangat menarik bagi para wanita jelas karena ketampanan wajahnya, keteduhan matanya, kearifan cara bertuturnya, juga karena dia proposional dinpandang mata sebagai Laki-Laki tentunya.


Meski pada saat mengajar dia sangat tegas, tapi Gus Ali akan sangat ramah terhadap siapapun saat sudah di luar kelasnya. Termasuk terhadap Zidayu, salah satu Mahasiswi yang manis dengan Jilbab lebar yang menjuntai hingga menutup hampir separuh dari tubuhnya. Dan juga tak lain adalah salah satu putri Kyai besar di Krian kenalan Abi Farid, juga sekaligus teman akrab dari Ning Nila Putri Amu Ni'am, sepupu Abi Farid.


Tidak perduli bagaimana caranya Ning Nila mencoba mencomblangkan mereka berdua, yang sama-sama masih single, hingga keduanya merasa jenggah terhadap sikap Ning Nila yang tiba-tiba suka mengolok mereka berdua di waktu yang berbeda. Bahkan, Ning Dayu yang sebelumnya hanya tersenyum tipis saat menanggapi perjodohan Ning Nila dengan sepupunya, kini Ning Dayu mulai tersipu malu saat Ning Nila membicarkan Mas Alinya kepada Ning Dayu, yang tak lain adalah Pak Salman Dosen favorit Mahasiswi di kampusnya, juga seseorang yang membuat dada Ning Dayu bekerja sangat keras hanya dengan menatapnya sebentar saja.


"Macet lagi, Pak." Ucap Ning Dayu pelan sambil menunduk dalam.


"Enggeh, Ning. Sudah biasa mesin tua minta sering-sering di pijit." Jawab Gus Ali.


"Di ganti saja sama yang baru, Pak Salman." Ujar salah satu Mahasiswi yang berada di samping Ning Dayu.


Gus Ali tersenyum simpul. "Belum waktunya." Jawabnya singkat.


"Ayo, Yu. Keburu panas." Ujar salah satu Mahasiswi yang juga tengah berada di samping Ning Dayu.


"Iya, Enggeh Pak Salman. Ngaturaken salamnya Mbak Nila, kalau berkenan besok Jum'ah di minta untuk datang ke Pesantren menjenguknya, katanya mau titip untuk Uminya kalau Pak Salman pulang ke Banyuwangi." Kaya Ning Dayu dengan senyum tipis yang terkulum.


"Enggeh, Ning. Sampean sampaikan kepada Ndhok Nila, Insya' Allah saya usahakan kesana." Jawab Gus Ali.

__ADS_1


"Insya' Allah, Assalamu'alaikum." Ucap Ning Dayu, lantas berbalik dan melanjutkan langkahnya setelah salamnya di jawab oleh Gus Ali dan begitupun dengan Gus Ali yang kembali fokus memijat Vespa yang menjadi temannya berjuang selama setahun ini Surabaya.


Karena Vespanya yang ngambek, Gus Ali sampai di Pesantren Al-Fattah ll, cukup terlambat, hingga Gus Ali harus melewatkan mengajar kelas Diniyyah. Meski, sudah meminta batdhal dari temannya, Gus Ali masih saja merasa bersalah dan merasa dirinya kurang begitu menghargai waktu dan secara langsung meminta maaf kepada Kang-Kang Santri yang telah terabaikan olehnya.


"Bagaimana aku bisa mengambil alih tanggung jawab yang begitu besar, jika tanggung jawab atas kwajibanku saja masih sering terabaikan." Gumam Gus Ali sambil menggelengkan kepalanya pelan, selepas keluar dari kamar-kamar Kang Santri untuk meminta maaf lantas hendak memacu langkah lebarnya untuk sampai ke kamarnya guna untuk bersih bersih.


Langlah lebar Gus Ali baru sampai di depan pintu kamarnya, saat datang dengan tergopoh seorang Santri abdi Ndalem dan segera memberi tahukan kepada Gus Ali, jika Abah Nizam memanggilnya. Dan tanpa menunda lagi Gus Ali langsung mengukuti langkah dari abdi Ndalem tersebut, dan melangkah masuk ke ruang tamu dari Ndalem Abah Nizam.


Gus Ali duduk di dengan Takdzim di sudut ruang tamu yang beralaskan karpet tebal dan meja panjang yang berisi dengan toples yang selalu ada isinya, sama persis dengan keadaan ruang tamu yang berada di rumah Gus Ali ataupun ruang tamu Ndalem pada umumnya Pesantren. Tidak begitu lama, Abah Nizam keluar dari dalam dengan ucapan salamnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Dengan sigap Gus Ali menjawab salam Abah Nizam dan menyalami tangan beliau.


"Alhamdulillah, Ayo silahkan duduk kembali." Ucap Abah Nizam juga dengan mendudukan dirinya tdi sebrang meja dimana Gus Ali berada. "Mendekatlah, Gus. Jangan jauh-jauh." Lanjut Abah Nizam lagi, saat melihat Gus Ali mundur dari dekat meja.


"Enggeh, Bah." Jawab Gus Ali lantas kembali mendekat ke arah meja.


Di sela sela Gus Ali mengecap rasa dari Rengginan, Abah Nizam terus mengajaknya bicara tentang kegiatan dari Gus Ali, mulai kesibukannya di kampus juga di Pesantren yang di bawah asuhan Abah Nizam, yang sekarang makin berkembang pesat.


"Gus, Saya mau minta bantuan sampean." Ucap Abah Nizam setelah cukup lama mengajak Gsu Ali mengobrol.


"Enggeh, Bah. Monggo, apapun itu saya siap." Jawab Gus Ali dengan masih menjaga ketawadhu'annya terhadap gurunya. Dan memang seharusnyalah sikap seperti itu yang harus di lakukan seseorang yang sedang menuntut ilmu terhadap gurunya, karena saat seseorang sedang menuntut Ilmu yang berhak atas dirinya di urutan pertama adalah gurunya, bukan orang tuanya.


Abah Nizam tersenyum simpul ke arah Gus Ali, kemudian menepuk pelan bahu Gus Ali seraya berkata. "Coba kalau saya punya anak perempuan, sudah tak ambil mantu sampean, Gus. Beruntungnya nanti seseorang yang menjadi mertua sampean."


Gus Ali semakin merunduk bukan, karena merasa sangat malu di puji sedemikian rupa oleh orang yang berilmu yang menjadi panutannya.


"Saya mau minta tolong sampean, untuk mengantikan kegiatan saya di Polda Surabaya setiap malam Jum'ah juga setiap hari Senin di awal bulan." Tutur Abah Nizam lagi dengan sinar di netranya yang menandakan bahwa Gus Ali sangat bisa di andalkan oleh beliau.


Gus Ali menengadah sebentar menyambut netra teduh milik Abah Nizam, dan kemudian kembali merundukan kepalanya seraya berucap. "Tapi, Bah. Saya apa bisa mengantikan Njenengan, dari segi Ilmu juga pengetahuan saya jauh di bawah Njenengan."

__ADS_1


"Kan belum di coba. Coba saja dulu besok malam. Bukankan Sampean pernah beberapa kali ikut ke Polda Surabaya bersama saya." Ujar Abah Nizam dengan senyum lembut beliau yang semakin mengembang. "Dan mulai besok, saya akan melepas sampean kesana."


Seperti tau ke gelisahan Gus Ali, Abah Nizam kembali berucap. "Tidak ada awalnya yang tidak gugub, bahkan saya dulu juga seperti itu. Tapi yakin saja, seperti saya yakin kepada sampean, dan sampean yakin kepada Gusti Allah."


Gus Ali masih diam untuk sesaat, sebelum ahirnya kepalanya mengangguk pelan serayan menjawab dengan pelan dan pasti atas permintaan gurunya itu. "Enggeh, Bah. Saya akan terima tugas ini."


"Bukan tugas, melainkan berjuang di jalan Allah dengan ilmu yang sampean miliki. " Gus Ali kembali mengangkat kepalanya sebentar dan menemukan senyum tipis dari Abah Nizam yang semakin memupuk semangatnya untuk mengamalkan ilmu yang telah di berikan kepada Gus Ali dari orang-orang shaleh yang telah begitu tlaten membimbingnya.


"Persiapkan diri dari sekarang, saya akan menghubungi Kapolda Rudianto, bahwa saya sudah mendapat pengganti untuk saya." Ucap Abah Nizam lagi dengan senyum yang semakin mengembang.


"Enggeh, Bah. Assalamu'alaikum.." Gus Ali kemudian segera mundur perlahan dari tempatnya setelah mendapat jawaban salam juga mencium tangan Abah Nizam. Dengan dada yang berdebar hebat Gus Ali berjalan pelan menuju kamarnya, bahkan bahunya juga serasa berat dirasa karana beban dan tanggung jawab yang baru saja di ambilnya.


Bagi Gus Ali, Tausiyah di hadapan para Santri sudah biasa, atau membendah segudang kitab dalam Basthul Masa'il, terlebih membahas tafsir di hadapan para Mahasiswa juga Mahasiswinya, itu juga bukan hal yang sekali dua kali di lakukannya. Tapi, kali ini jelas tetap berbeda, karena yang di hadapi adalah aparat Negara, yang terkenal dengan kedisplinan waktu juga ketegasan dalam bersikap, juga atitudenya sesama Polisi.


Gus Ali merasa sedikit merasa menyesal karena telah menerima tanggung jawab yang begitu besar ini, dan juga merasa belum cukup Ilmu jika harus berahapan dengan berbagai karakter di dalamnya, apa lagi jelas disana tidak hanya muslim saja. Dan itu masih terlalu awam untuk Gus Ali.


"Astaghfirllahhaladzim." Desah Gus Ali pelan, sembari mengusap wajahnya pelan. "Kenapa aku jadi seseorang yang begitu sombong, dengan begitu risau akan hari esok, padahal belum tentu aku akan sampai pada malam ini." Ujarnya lantas segera melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan sesudahnya lekas bertafakur meminta petunjuk dari Allah hingga hatinya mantap untuk mengemban tugas dari gurunya.


Besambung...


####


Bakal ketemu Polwan Cantik dong Gus Ali nanti disana. Enggak sabar siapa yang jadi Polwan cantiknya Gus Ali.


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2