
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak ada yang tahu sepatah apa hati Nuril, karena semua terlihat biasa saja di jalani oleh Nuril. Memang Nuril bukan tipikal orang yang suka mengumbar cerita kesana kemari, terlebih cerita pribadinya. Bahkan Nuril terkenal tertutup bagi rekan rekannga, meski dirinya tidak pernah membatasi pergaulannya.
Jika, di ibaratkan. Nuril seperti kopi. Seberapapun seseorang menikmati secangkir kopi, tidak akan pernah tau letak nikamatnya kopi itu berada dimana. Karena satu dari yang lain mengatakan bahwa Kopi nikamt karena Gulanya, sedang yang lainnya mengatakan bahwa kopi nikmat karena pahitnya. Dan Nuril bisa terlihat seperti keduanya.
Nuril mengira dengan seiring berlalu waktu, Nuril akan dengan mudah melupakan segalanya. Segala tentang Ustadz Salamnnya. Namun nyatanya itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan dari telapak ke punggung tangan. Bahkan seluruh kegiatan yang di lakukannya selama sebulan ini, juga belum cukup membuatnya lupa dengan Ustadz Salmannya.
Salah Nuril juga, karena niat untuk menghapus ingatan tentang Ustadz Salman tidak sepenuhnya dia lakukan. Dan lihat saja sekarang apa yang di lakukan Nuril malam ini. Nuril masih menyimpan benda kecil itu dan terus membawanya untuk menemaninya dalam menjalani hari hari.
"Aku tidak tahu akan semenderita ini berpisah dengan seseorang. Apa mungkin karena aku yang kurang mencintai Robbku." Gumam lirih Nuril, lantas dengan cepat sudah mengayunkan langkahnya menuju ke kamar mandi.
Melupakan Ustadz Salmannya dengan berbagai tugas dinasnya. Lantas menenggelamkan dirinya dalam deresannya. Sudah Nuril lakukan selama sebulan ini, dan itu masih sama saja. Hatinya masih seperti remuk redam saat mengingat cintanya tidak sampai cinta Robbnya.
Bukan Nuril menikmati rasa sakit ini, selayaknya kopi pahit tanpa gula, yang tidak akan pernah bisa berhenti untuk menikmatinya meski itu pahit. Nuril, juga tidak bisa mengendalikan dirinya yang terus saja mengingat Ustadz Salmannya saat dirinya tengah seorang diri.
Tetes demi tetes kristal bening kadang juga masih menemani Nuril di setiap tangannya menengadah meminta hatinya rela untuk melupakan. Dan sesalnya yang semakin menambah tetesan itu semakin deras adalah. Air matanya masih terbuang begitu saja dengan menangisi anak manusia.
Seharusnya Nuril menyadari bahwa akan sesakit ini jika berpisah. Karena, Nuril pernah merasakan bagaimana dirinya berpisah dengan seseorang yang di anggap sudah seperti separuh dari dirinya. Meski dia sangat menyebalkan. Tapi, ini kenapa jauh leboh skait lagi. Karena ini melibatkan rasa dan hati. Hati seorang wanita, bukan lagi hati seorang gadis kecil seperti Jujunya Mas Ai.
Serpihan serpihan ingatan tentang Mas Ai ikut berjejal di dalam pikiran Nuril dan menambah air mata yang mengalir di pelupuk mata itu semakin menganak sungai membelah pipi putih Nuril. Dan keputusan Nuril memilih Pacar Sempurnanya sebagai laki laki yang tidak pernah mengecewakannya di anggapnya tepat. Lantaran Pacar Sempurnanya lah yang tidak pernah membuatnya terluka.
Tapi, ahir ahir ini paksaan dari Pacar Sempurna Nuril sungguh membuat dirinya jenggah. Karena Pacar Sempurna Nuril yang mengetahui tugas dinas Nuril yang hendak berahir, memaksanya untuk bertemu dengan Mas Ainya. Apa lagi pas Mas Ainya datang untuk kedua kali ke Jogja, membuat Nuril merasa risih sekaligus malas untuk mengangkat telfon dari Pacar Sempurnannya.
Pertimbangan demi pertimbangan Nuril sudah pikirkan, dan pada ahrinya Nuril memilih untuk menerima usulan Pacar Sempurnanya untuk bertemu dengan Mas Ainya. Asalkan Pacar Sempurnannya menerima syarat yang di ajukan oleh Nuril. Yakni, harus menyetujui perpindahan dinas Nuril. Dan semua sekarang tergantung dari Pacar Sempurna Nuril.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa lembar surat surat sudah Nuril siapkan, tinggal menunggu tanda tangan dari Pacar Sempurnanya saja di atas matrai. Dan hari ini Pacar sempurnanya Nuril akan datang mengahdap ke Komandan kesatuan Nuril untuk persetujuan juga sekaligus menerima beberapa nasehat sebagai pembekalan, sebelum Nuril memulai pelatihan dinasnya selama tiga bulan ke depan.
Nuril juga sudah bersiap siap untuk mendegarkan ceramah panjang lebar dari Pacar Sempurna juga Mamanya tentunya, jika mereka tau kemana Nuril akan di tugaskan. Dan tentu itu tidak akan cukup waktu sebentar bagi mereka untuk mengomeli Nuril nantinya. Ahh, tapi Nuril sudah siap badan soal itu. Dan ini sudah menjadi keputusan final baginya. Jika, orang tuanya bersikeras menyuruhnya untuk segera bertemu dengan Mas Ainya.
Seragam kebanggaan Nuril melekat pas dan apik di tubuh Nuril, dengan senyum yang tak surut dari bibirnya. Nuril, menyambut kedatangan kedua orang tuanya ke Polda beserta dengan rekan rekannya yang juga menerima surat panggilan dinas seperti dirinya satu bulan lalu.
Senyum para orang tua melengkung sempurna penuh bangga saat mereka satu persatu keluar dari ruangan tertutup tersebut. Namun, tidak untuk kedua orang tua Nuril. Senyum keduanya tidak secerah waktu mereka datang tadi. Senyum itu tampak kaku bagi Nuril, meski hampir di setiap langkah mereka mendekat ke arah Nuril selalu mendapat salaman dan pujian atas prestasi Nuril yang tergabung dalam jajaran satuannya sebagai Polwan termuda dan bakat yang mumpuni.
Dan ahirnya disinilah Nuril sekarang. Di sebuah kamar hotel VIP, kedua orang tuanya mendudukannya tanpa bicara apa apa. Hanya terus menatap Nuril dengan tatapan tidak percaya, bahwa putri mereka menukarkan kebebesannya dengan pertunangan yang di rencanakan.
__ADS_1
"Papa tidak mengira kamu akan berbuat seperti ini, Wi." Ucap Papa Nuril pelan, setelah mereka diam dalam kebisuan untuk beberapa saat. Nuril tidak berani menyahuti Papanya, karena seumur umur Nuril tidak pernah melihat tatapan Papanya yang menusuk penuh kemarahan kepadanya.
"Kenapa mesti ke Afrika. Kalau ini hanya untuk jalan kamu menghindari Mas Aimu. Lebih baik jangan lakukan." Lanjut Papa Nuril.
"Kamu sengaja tidak memberi tahu kami sebelumnya, agar memudahkan rencanamu kabur lagi." Timpal Mama Nuril.
Nuril masih diam saja. Ingin sekali Nuril mengatakan bahwa sejatinya Nuril menerima tugas itu lantaran ingin melupakan rasa patah hatinya. Namun, bibir Nuril terasa sangat kelu sekedar untuk membukanya.
"Bukankah Papa pernah bilang, jika kamu punya pilihan lain, silahkan kenalkan kepada kami. Bukan malah seperti ini caramu. Ini menyakiti kami juga."
"Uwi, tidak bisa menentukan kemana Uwi harus tugas Pa. Ini murni soal urusan dinas." Kilah Nuril.
"Lalu keman Ustadz Salman mu itu.?" Deg, nama itu kenapa mesti Papa Nuril yang menyebutkan. Itu membuat ngilu tersendiri bagi Nuril, lantaran nama itu benar benar tak ingin Nuril sebutkan lagi. Bukan karena membencinya, tapi karena terlalu mencintainya hingga Nuril tidak pernah berani menyebut nama Ustadz Salmannya.
"Siapa Salman, Pa.?" Tanya Mama Nuril dengan memandang keduanya secara bergantian.
Nuril hanya bisa terus menunduk. "Papa menyuruh orang memata matai Uwi.?" Kata Nuril pelan.
"Itu Papa perlu lakukan. Karena Papa pikir Papa..."
"Karena Papa pikir Uwi masih anak kecil, dan semua harus dalam pengawasan Papa." Kata Nuril.
"Hingga soal hati Papa perlu mengurusnya juga."
"Wi, kami hanya kwatir tentang mu. Jadi, apa yang di lakukan Papa tidak salah juga." Air mata sudah terlanjur merebak di pelupuk mata Nuril. Dan tak lama isakan juga sudah berirama di ruangan besar yang hanya berisikan mereka bertiga.
"Kak Nana tidak pernah di perlakukan seperti Uwi. Kenapa Uwi harus begini, harus begitu, dan semua harus dalam pengawasan Papa.." Ari mata semakin deras membelah pipi Nuril dan membuat Mama Nuril berpindah tempat duduk di samping Nuri lantas membelai punggung Nuril lembut. "Jangan bilang, kepergian Ustadz Salman ada hubungannya sama Papa." Kata Nuril dengan nada pilu.
"Papa tidak tau menahu soal itu. Papa hanya menyuruh orang untuk memata mataimu dan mencari tau siapa orang yang dekat dengan mu. Selebihnya Papa tidak pernah ikut campur."
"Sebenarnya siapa Ustadz Salman. Salman Ali Rid.."
"Tidak penting lagi itu Ma. Bukan kah dia sudah pergi kata Uwi." Potong Papa Nuril.
"Ya, kenapa dia pergi."
"Karena memang dia terbukti bukan yang tepat untuk Uwi kita." Hati Nuril seketika memanas mendengar ucapan Papanya.
"Karena bagi kalian berdua hanya Mas Ai, dan Mas Ai tidak ada pilihan ketiga dan ke empat." Jawab Nuril.
__ADS_1
"Bukannya Papa pernah bilang, suruh Uatadz Salmanmu datang menemui Papa."
"Untuk apa, agar Papa bisa membandingkannya dengan pilihan Papa. Papa selalu memaksakan hal itu kepada Uwi. Beri alasan untuk Uwi, apa yang mengharuskan Uwi menerima ini." Setelah sekian lama dan menahannya, ahirnya Nuril berani juga bertanya apa yang menjadi alasan kedua orang tuanya memaksakan perjodohan ini.
Papa Nuril membenahi cara duduknya, kemudian berdehem pelan sebelumnya ahirnya menceritakan sebab musabab bagaimana janji itu terikrar di antara dua sahabat itu. Dan Nuril hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, saat tau bahwa diringa juga yang menyebabkan semua persoalan ini terjadi.
"Jadi. Apa Papa bisa mendapatkan maaf darimu sekarang." Ucap Papa Nuril di ahir ceritanya. Nuril tidak bisa berkata apa apa, hanya saja pipinya benar benar memerah menahan malu, juga sekaligus menahan sebal di dadanya lantaran Si Kampret Sarungan juga harus bertanggung jawab dengan persoalan ini.
Dan Nuril yakin, jika orang tuanya menceritakan soal ini kepadanya leboh dulu. Maka, Nuril tidak akan kucing kucingan lagi untuk lari dari ini semua lantas menemui Si Kampret Sarungan dengan segera agar dirinya bisa terbebas dari perjodohan konyol ini. Dan mungkin saja, andai mereka sudah bertemu sebelumnya, Nuril akan memiliki alasan untuk mencegah Ustadz Salmannya tetap tinggal di sampingnya.
"Uwi bersedia bertemu dengan Mas Ai. Tapi, setelah Uwi selesai dari pelatihan." Ucap Nuril pelan.
"Itu artinya sebelum kamu berangkat ke Afrika."
Ucap Mama Nuril. Dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Nuril.
Kedua orang tua Nuril tersenyum penuh arti. "Semoga setelah bertemu kamu akan berubah pikiran tentnang penilainmu mengenai Mas Aimu, Wi." Ucap Papa Nuril.
"Itu tergantung dari sikap Si Kampret Sarungan. Apa dia tetap menyebalkan seperti dulu." Jawab Nuril dengan pikiran jauh entah kemana. Tapi, yang pasti itu tidak tentang Mas Ainya. Melainkan tetang Ustadz Salmannya. Tapi, semua terlalu terlambat untuk di lakukan jika Nuril melangkah saat ini.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu enggeh.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
__ADS_1
@maydina862