Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Mau Di Rayu Tapi Malu


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tidak ada yang salah dengan menu sarapan pagi ini, yang membuat salah hanya rasanya Nuril saja. Sendok, garpu, juga piring tidak ada yang salah, terlebih pada nasi jagung kesukaan Nuril yang di buatkan khusus oleh Mamanya untuk Nuril. Semua terasa semakin salah saja bagi Nuril, dengan percakapan yang menurut Nuril sok akrab antara dua laki laki yang duduk bersebrang dengan Nuril.


"Wi, apa sih. Kok berisik banget." Nuril hanya menoleh ke arah Mamanya dengan wajah juteknya saat suara berisik dari dentingan peralatan makannya di komentari oleh Mama Nuril.


"Uwi, sudah selesai." Ucap Nuril dengan langsung berdiri sembari membawa peralatan makannya ke dapur.


Sementara Gus Ali hanya terus tersenyum simpul memperhatikan gelagat Nuril yang menurutnya sangat lucu. Dan itu persis dengan Jujunya waktu kecil, yang sering ngambek, nangis dan ngedumel tanpa henti saat Gus Ali mengusilinya. Dan jauh berbeda saat Gus Ali mengenal Juju sebagai Ipda Nuril.


"Apa coba sok akrab. Memang sedekat itu apa. Dasar." Gumam Nuril sambil mencuci alat makannya.


"Apa apaan sih, Pa. Masak Papa yang bawa piring kotor ke dapur." Kata Nuril tanpa menoleh ke arah seseorang yang meletakan piring kotor di dekatnya, dan hanya memperhatikan sekilas saja bahwa tangan laki laki yang menaruhnya.


"Papa enggak seharusnya ikutan berberes, biar nanti Uwi yang bersihin. Tapi, nunggu Si Kampret Sarungan pergi dulu." Lanjut Nuril sambil meraih piring yang baru saja di letakan. Nuril terus saja berbicara sambil mencuci peralatan makan yang kotor, dan Nuril baru berhenti saat di merasa orang yang berada di sampingnya tidak meresponnya sama sekali.


Jika, Nuril terus saja mengajukan keberatananya soal kehadiran Gus Ali di rumahnya. Maka lain lagi bagi Gus Ali yang tengah berdiri tidak jauh dari Nuril. Setengah badanya di sandarkan di kitchen set dengan kaki yang menyilang, sementara tangannya bersendekap di dada terlihat sangat santai. Senyumnya terus terukir seiring dengan bibir Nuril yang terus saja berucap mengenai dirinya, dan mengira bahwa Gus Ali yang sedang di dapur bersamanya adalah Papanya.


"Papa kenapa sih diem saja." Kata Nuril lagi, dan kali ini Nuril sama sekali tidak terima saat hanya di dengar deheman saja sebagai jawaban. "Papa lag.." Bluss, wajah Nuril seketika memerah begitu dirinya menoleh ke arah Gus Ali yang tengah berdiri dengan pose bak model saja.


Apa lagi senyumnya, membuat Nuril merasa seperti ingin meremas wajah di depannya itu. Senyum itu dulu terlihat manis sekali di mata Nuril. Tapi kali ini, senyum itu terasa mengejek buat Nuril. Apa lagi, saat sebelah alis tebal itu terangkat semakin menambah kesan menjengkelkan bagi Nuril.


"Ap, apa yang kamu lakukan disini.?" Tanya Nuril dengan gagap.


Gus Ali menatap Nuril dengan jenaka. "Memperhatikan Juju mencuci piring." Jawab Gus Ali setelahnya.


Nuril mendengus kesal dan segera membersihkan tempat mencuci piringnya, lantas beranjak dari dapur. "Kenapa sih, mesti kemari." Gumam Nuril sambil melangkah menjaih dari dapur.


Nuril baru saja hendak naik ke atas, karena Nuril berencana akan mengurung dirinya di kamar hingga Si Kampret Sarungan pergi dari rumahnya. Namun, baru saja satu kaki Nuril menapak tangga, Papanya sudah memanggil Nuril dan tidak mau mendengar protesan Nuril.


Dengan wajah di tekuk sempurna, disinilah Nuril sekarang. Duduk di taman belakang rumahnya dengan Gus Ali juga berada disana. Pada awalnya Nuril hanya terus menjadi pendengar setia, dan memilih menutup mulutnya rapat rapat. Dan ternyata menjadi seorang pendengar itu tidak menyenangkan bagi Nuril.


Seketika semua berubah tidak menyenangkan, atau sebenarnya mendebarkan bagi Nuril, saat kedua orang tuanya kompak mendapat panggilan dari ponsel masing masing. Hingga dengan tergesa mereka berdua pamit dan menyisakan Nuril dengan Gus Ali hanya berdua saja dalam kecanggungan.

__ADS_1


"Ipda Nuril." Kata Gus Ali dengan nada lembut, dan itu membuat gerakan Nuril terhenti yang sudah hendak kabur dari tempatnya. Karena, bagi Nuril suara itu adalah milik Ustadz Salmannya, bukan Mas Ainya yang menjengkelkan. Ya, meski orangnya sama. Tapu, entah kenapa bagi Nuril kadang suara itu terdengar menjengkelkan sekali.


"Beri kesempatan saya untuk bicara sebentar." Lanjut Gus Ali saat di lihatnya Nuril menghentikan gerakannya.


Nuril kembali mendudukan dirinya. Tapi, di buangnya pandanganya dari Gus Ali yang tengah duduk di depannya. "Sepuluh menit." Ucap Nuril dengan cepat.


Gus Ali tidak hanya tersenyum simpul, lantas tidak menyia nyiakan waktu yang di berikan oleh Nuril. Dan dengan tenang Gus Ali memulai pembicaraan yang keluar jauh dari yang di rangkainya sebelumnya, karena tidak mengira bahwa Juju Gus Ali adalah Ipda Nurilnya. Jelas ini menjadi kejutan bagi Gus Ali dan Nuril.


"Saya tidak menyangka, bahwa apa yang Juju kecilku adalah sampean Ipda Nuril. Dan ini sungguh menjadi kejutan yang begitu luar biasa bagi saya. Harusnya, dari awal saya tidak perlu menolak saran orang tua saya untuk bertemu dengan sampean dan mempertahankan argumen saya sendiri." Ucap Gus Ali.


Ini tatanan bahasa Ustadz Salman yang di dengar Nuril. Dan itu membuat Nuril merasa tidak nyaman, karena seperti sedang di permainkan oleh Gus Ali.


"Maksud sampean, sampean menyesal karena telah mempertahankan Ipda Nuril. Dan menyerah begitu saja. Apa di kira Juju akan menerima sampean dengan mudah." Kata Nuril dengan nada kesal. "Juju bukan gadis gampangan ya. Apa lagi gadis bodoh kayak waktu kecil dulu. Yang diem saja dimasukan ke sarung buluk sampean lalu di kentutin. Rambut di berantakin diem saja. Di jahilin cuma bisa nangis. Enggak, Juju bukan lagi seperti itu." Cerocos Nuril dengan wajah sebalnya, tanpa menyadari bahwa sikapnya yang seprti itu membuat Gus Ali menyungingkan senyumnya lebih lebar lagi.


"Dan, perlu sampean tau yah. Juju bukan lagi anak yang lemah, dan tergantung dengan sampean. Dan lantas begitu percaya pada sampean, hingga karena keusilan yang sampean lakukan sampai harus membuatnya mengalami trauma dengan air untuk beberapa waktu. Saya adalah Ipda Nuril." Kali ini suara Nuril tidak terdengar jengkel, melainkan terdengar seperti sebuah penyaluran kekecewaan yang di tahannya.


"Untuk itu saya minta maaf. Sunggub saya minta maaf." Kata Gus Ali masih dengan nada lembutnya.


Nuril hanya melengos. Dadanya bergemuruh hebat. Dia benci tapi juga sekaligus ada rasa sakit yang sama di rasakan di hatinya saat hendak menyalurkan segala unek uneknya selama ini. Andai saja Mas Ainya bukan Ustadz Salmannya, maka semua akan lebih mudah bagi Nuril untuk balas dendam. Dan, pasti Nuril tidak akan merasa tidak di perjuangkan sama sekali. Karena, Mas Ainya menerima Juju atas dasar perjodohan yang di janjikan untuknya.


"Ipda Nuril." Kata Gus Ali lagi. Nuril makin memutar matanya dengan jenggah. Dan merutuki dalam hatinya sendiri, bisa bisanya dia mengharap laki laki akan peka terhadap keinginan wanita.


"Tidak ada.!" Tukas Nuril dengan sudah mendorong kursinya.


"Apa aku harus mejadi Mas Ainya Juju, atau Ustadz Salman bagi Ipda Nuril." Kata Gus Ali.


"Terserah. Keduanya sama sama menjengkelkan." Ucap Nuril sudah hendak berjalan menjauh. "Sudah sepuluh menit." Lanjut Nuril.


"Baiklah, aku sudah tau." Ucap Gus Ali. "Aku akan menunggumu pulang setahun lagi."


"Tidak perlu. Karena aku tidak mau." Jawab Nuril. "Sudah aku bilang, aku bukan Juju yang dulu." Lanjut Nuril dengan menghentak hentakan kakinya kesal. Karena Mas Ainya sama sekali tidak peka bahwa Nuril ingin di rayu. Di rayu, seperti yang di lakukan Ustadz Salman kepada Ipda Nuril, tapi dengan cara Mas Ainya.


"Tapi, aku ingin. Karena aku merindukan Juju kecilku."


"Aku bukan Juju kecil lagi, yang akan dengan suka rela masuk dalam sarung mu saat kamu merayunya." Ucap Nuril dengan nada tegas sembari menunjuk nunjuk sarung Gus Ali.

__ADS_1


Gus Ali tersenyum dengan reaksi yang di tunjukan Nuril, dan tidak menyangka bahwa Nuril justru berfokus pada kisah sarungnya. Padahal yang di maksud dari Gus Ali adalah sifat kekanakan Nuril. Sikap manja Nuril, juga sikap cerewet Nuril.


"Kamu mau mengulang masuk dalam sarungku. Aku tidak akan keberatan. Tapi, itu nanti setelah aku menghalalkanmu." Ucap Gus Ali singkat dan membuat Nuril ternganga dengan wajah memerah malu. Dan berjalan dengan cepat sambil mengentak hentakan kakinya penuh dengan kekesalan, karena lagi lagi Mas Ainya berhasil membuat Nuril malu setengah mati.


Nuril tidak lagi menghiraukan perkataan Papa dan Mamanya yang menyuruhnya untuk berhenti, dan dari wajah kedua orang tuanya yang menahan tawa. Nuril dapat menyimpulkan, bahwa orang tuanya pasti tau soal percakapan terahirnya dengan Mas Ainya yang membahas sarung.


Di dalam kamar Nuril terus saja merona, dengan ucapan Mas Ainya. Lantas berguling guling di atas kasurnya dengan sesekali menutup wajahnya dengan bantal saat dirinya mengingat ucapan Mas Ainya. "Kamu mau mengulangi masuk dalam sarungku. Aku tidak akan keberatan. Tapi, nanti setelah aku menghalalkanmu."


Kata kata itu begitu ambigu di dengar hingga Nuril benar benar malu mengingat segalanya. Apa lagi soal sarung, mungkin waktu kecil dulu itu tidak berarti apa apa. Tapi, jelas akan lain maknanya jika saat ini. Apa lagi dengan embel embel kata halal di belakangknya. Ahh, ini membuat pipi Nuril terus terusan merona. Meski Nuril enggan untuk mengakuinya..


"Siapa juga yang mau di halalkan oleh kamu, Kampret Sarungan. Tidak akan mudah untuk kamu ya. Ingat tidak akan mudah. Karena aku tidak mudah untuk di rayu." Ucap Nuril dengan kembali menutupi wajahnya dengan bantal.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Ckckckckkc.. Kok yang di bahas masuk dalam sarung tho. Tak kira tadi bakal ada bahasan apa gitu..🤣🤣🤣🤣🤣. Dasar Ipda Nuril, sok nolak padahal dalam hati inging di rayu rayu.


Sama persis kayak Emak deh, yang amunya di rayu rayu lewat Like, coment dan votenya...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2