Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Permata Dalam Pelukan


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Bulan membulat sempurna, cahaya purnama yang jatuh menimpa dedaunan membuatnya memantul bak kilauan permata. Riak riak air kolam meliuk liuk yang tertiup angin malam, juga ikut menari syahdu di malam yang memasuki hawa dingin bulan ke Delapan. Pemanadangan dan moment indah ini justru berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan oleh hati Nuril.


Tidak ada alasan untuk tidak bahagia, seharusnya. Hanya saja Nuril terlalu malu untuk mengakui bahwa dirinya sangat berbahagia dengan kejutan yang telah memporak porandakan hatinya. Juga, tentu karena gengsinya yang berlebihan yang membuat Nuril tidak ingin dia terlihat sangat bahagia dan gugp setengah mati. Tentu juga karena alasan yang lebih spesifik lagi, membuat Nuril tidak ingin terlihat terlampau bahagia.


Suara gemericik air di wastafel seolah menjadi musik yang menenangkan bagi Nuril. Meski itu tidak mampu membuat dadanya sedikit saja merasa lebih tenang. Helaan nafas, sudah berulang ulang Nuril ambil untuk mengurangi kegugupanya. Dan itu masih sama Nuril rasakan, lantas semakin mengencang kembali saat membayangkan ada siapa di luar kamar mandi kamarnya.


Sudah hampir setengah jam lamanya Nuril berada di kamar mandi, dan berulang ulang membasuh wajahnya. Hanya untuk satu alasan, untuk mengurangi kegugupannya. Bagi Nuril berada dalam satu ruangan dengan lawan jenis, bukan hal yang luar biasa, itu sering terjadi. Tapi, sungguh berada di dalam satu ruangan dengan orang yang di cintai membuat Nuril tidak bisa mengontrol detak jantungnya.


Setelah memalui pergulatan batin hebat, ahirnya pelan pelan Nuril mulai membuka pintu kamar mandi, dan melangkah keluar dengan wajah tertunduk dalam. Nuril tak ingin ge-er, hanya saja Nuril meyadari bahwa ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya. Yap, dan betul saja, sejak tadi memang Gus Ali terus memperhatikan pintu kamar mandi di dalam kamar Nuril yang tak kunjung terbuka.


Hingga Nuril keluar dari kamar mandi berbalutkan baju tidur warna kuning bergambar tokoh kartun kesukaannya dari kecil dulu. Lantas duduk di sofa, tanpa berani menoleh ke arah Gus Ali yang tengah duduk setengah bersandar di sandaran ranjang Nuril dengan kitab yang tengah terbuka di pangkuannya.


"Dhemmm." Deheman pelan Gus Ali yang menggiring kepala Nuril untuk menoleh ke arah Gus Ali. Dan sungguh kemampuan akting Gus Ali sangat luar biasa hebatnya. Lantaran, saat Nuril menoleh ke arah Gus Ali, Gus Ali seakan fokus dengan bacaannya. Hingga membuat Nuril merasa tidak berarti di dalam kamar itu.


Merengut kesal, Nuril mengerucutkan bibirnya dan menatap Gus Ali yang tengah tersenyum samar tanpa Nuril sadari. "Sampai kapan sampean berencana akan mensabotase ranjang saya." Ketus Nuril.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari bacaan di pangkuannya, Gus Ali menjawab Nuril dengan tenang. "Ranjang kita, Ju. Bukan ranjang punyamu seorang."


Nuril mendengus kesal mendengar penuturan Gus Ali. "Itu pemaksaan."


"Lha, terus kamu maunya gimana.?, katakan saja." Jawab Gus Ali masih dengan santai.


Dalam hati Nuril sudah berkumpul beberapa batu yang siap di muntahkan. Dimana mana, perempuan akan malu saat di tanya maunya gimana. Termasuk aku. Gerutu hati Nuril. "Terserah." Masih dengan ketus Nuril menjawab tanya Gus Ali, meski itu berlawanan dengan apa yang di bisikan hatinya.


"Kalau terserah saya, berarti kemarilah." Kali ini Gus Ali mengeser matanya dari bacaanya hingga mata keduanya bertubrukan beberapa saat. Seperti tidak terjadi apa apa untuk keduanya, walau sejatinya dada keduanya sama sama ingin meledak oleh luapan kebahagiaan.


Mata indah Nuril membulat sempurna mendegar ucapan Gus Ali. Apa lagi saat Gus Ali berlahan mengubah cara duduknya, dan menepuk nepuk tempat di sampingnya. "Paling enak bicara itu berdekatan, Ju. Apa lagi sambil berpelukan." Sungguh, dalam mimpi ataupun imajinasi Nuril, tidak pernah sekalipun terbayang bahwa Ustadz Salman yang Nuril kenal akan berbicara nakal dengannya. Ini, asli sifat Mas Ainya.


Tidak kuat dengan godaan yang di berikan oleh Gus Ali, Nurilpun melengos memutus tatapan mata mereka berdua, hingga kekehan geli Gus Ali membahana. "Kamu yakin, tidak ingin pindah kesini." Lanjut Gus Ali.


"Enggak. Lagian mana ada tiba tiba saja statusku berubah begitu saja." Nada kesal masih Nuril pertahankan.

__ADS_1


"Itu tidak tiba tiba. Itu sudah setahun lalu, dari sebelum kamu pergi ke Afrika." Gus Ali nergerak menaruh bacaannya di atas nakas.


"Itu pemaksaan namanya. Mana bisa itu di sebut sah, kalau sebagai pengantin wanitanya saya tidak tahu menahu." Keluar juga pertanyaan yang sedari tadi siang memenuhi pikirannya.


"Lha rukun menikah itu kan kamu sudah tau. Satu, ada mempelai Laki Laki dan Perempuan. Kedua, ada wali. Ketiga, ada saksi. Dan keempat ada Ijab dan Qobul. Mana yang bisa di sebut tidak sahnya." Jawab Gus Ali masih dengan nada menggoda kepada Nuril agar Nurip terus terusan jengkel, yang di itu terlihat imut sekali di mata Gus Ali.


"Tapi, saya tidak tau kalau saya menikah."


"Hahaha. Memang, rukunnya harus ada kedua memepelai. Tapi, tidak juga harus ada dalam satu tempat." Jawab Gus Ali.


"Saya menolak."


"Gimana bisa menolak, kalau kamu sudah sah jadi Istri saya."


Kembali Nuril memandang ke arah Gus Ali yang kini sudah duduk menyilakan kakinya. "Mana boleh menikah tanpa memberi tahu terlebih dulu. Terlebih lagi memaksanya."


"Boleh, itu boleh di lakukan oleh wali Mujbir." Gus Ali menjeda ucapannya sesaat. Dan kemudian tersenyum kecil, tatkala Gus Ali menangkap kegusaran di mata jernih milik Nuril. "Wali Mujbir itu, adalah orang yang memiliki hak untuk menikahkan anak perempuan mereka, ataupun budak mereka tanpa harus meminta persetujuan terlebih dahulu. Dan itu terdiri dari Kakek dan Ayahnya, serta yang memiliki nasab ke atasnya."


Hening, Nuril sibuk membuang pandangannya dari Gus Ali yang telah membuat Nuril tidak bisa berkutik dengan alasan yang di buat buatnya. Sementara Gus Ali, terus memperhatikan Nuril yang sedang salah tingkah.


Nuril tidak mampu menjawab tanya Gus Ali. Bahkan saliva yang masuk ke tenggorokan Nuril tak ubahnya seperti silet yang melukai setiap sudutnya, tatkala hati Nuril bergejolak ingin menjawab tidak. Ada keresahan yang mampu di tangkap oleh Gus Ali dari mata Nuril yang bergerak gerak gelisah, serta dari kebisuan panjang yang tercipta.


"Aku merasa, aku harus berani egois saat itu, Ju. Dan mengambil keputusan dengan segera, agar tidak ada penyesalan kemudian hari. Lantaran, aku kira karena kita memiliki perasaan yang sama. Bukan semata karena kamu sebagai Juwahir saja. Tapi, juga karena kamu adalah Ipda Nuril, Polwan Cantik ku."


Pelan, kata itu sangat pelan. Namun, efek yang di timbukan di dada Nuril sungguh luar biasa dahsyatnya. Dan inilah yang di harapkan oleh Nuril. Bukan hanya sekedar memiliki Mas Ainya, tapi juga kepiawaian Ustadz Salman dalam mengolah kata.


"Aku sadar, ini akan sulit buatmu. Maka dari itu, kami semua diam. Dan memilih cara seperti ini. Jadi, tiga bulan, apa itu cukup." Lanjut Gus Ali.


"Tiga bulan, apanya yang tiga bulan.?" Tanya Nuril membeo begitu saja.


"Untuk menyelesaikan urusanmu." Jawab Gus Ali sambil beranjak dari tempatnya.


"Ini, ini ap.." Ucap Nuril sangat gugub, bagaimana tidak gugub. Gus Ali sudah berlahan lahan mengikis jarak di antara keduanya. Dan kata kata Nuril seketika berhenti di tenggorokannya tatakala Gus Ali mencondongkan wajahnya ke arah Nuril lantas berbisik pelan di telinga Nuril.


"Aku tidak mau tau, dalam tiga bulan aku minta urusanmu sudah harus usai. Mau Jendralmu marah, mau Komandanmu tak memberi ijin, aku tidak akan sanggup menunggunya lagi. Jika, itu tidak kamu lakukan jangan salahkan aku. Ketika nanti tiba tiba aku menculikmu jadi pengantinku."

__ADS_1


Nuril membatu di tempatnya, nafasnya seakan berhenti berhembus karena seluruh paru parunya telah penuh berisikan aroma khas dari Gus Ali. Apa lagi saat sebuah kecupan yang tinggalkan oleh Gus Ali di ujung mata Nuril, membuat seluruh tulang tulang Nuril melemas bak sebuah benda cair yang tak mampu bertahan tetap di tempatnya tanpa adanya wadah.


Sampai sampai Nuril tidak menyadari bahwa Gus Ali sudah melangkah menjauh dari Nuril, lantaran Nuril sibuk menata debaran di dadanya dengan mata yang tertutup rapat, di tengah pipinya yang bersemu merah.


"Memang, kamu sudah menjadi Istriku. Tapi, kamu belum pernah menjadi pengantinku. Untuk itu, aku akan menyiapkan segala sesuai mimpimu. Juga untuk kamar pengantin tentunya." Mata Nuril kembali membola, begitu mendengar ucapan terahir Gus Ali, apa lagi setalah itu Gus Ali mengerling dengan nakal ke arah Nuril membaut semburat di wajah Nuril semakin melebar hingga ke telinganya.


Suara pintu yang tertutup dan menelan hilang seluruh tubuh Gus Ali di baliknya, membuat perasaan tak rela langsung menghinggapi Nuril. Namun, itu tidak bertahan lama. Karena, setelah teringat kembali akan ucapan Gus Ali, Nuril seketika bangkit dari tempat duduknya dan loncat loncat kegirangan dan membanting tubuhnya di atas ranjang dimana Gus Ali tadi membaringkan dirinya.


Nuril terus saja terjaga, meski seluruh saraf dari tubuhnya ingin sekali beristirahat. Namun, jatuh cinta dan mendapat balasan cinta, serta bersatu dalam sebuah ikatan suci di bawah restu dan ridho, membuat mata Nuril enggan untuk terpejam. Karena, kenyataan jauh lebih indah dari mimpi dan khayalan.


Baru setelah jam lewat dari tengah malam, Nuril baru benar benar terlelap dengan perasaan damai. Sedamai Gus Ali yang tengah merengkuh mesra tubuh Nuril dalam dekapan hangatnya dan tak bisa berpaling dari permatanya yang kini telah sepenuhnya menjadi miliknya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Hadueww, saya ikut mesem mesem Mbak Nuril.


Like, Koment dan Votenya masih selalu di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2