
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Dunia tak selebar daun kelor. Sepertinya pepatah itu salah besar bagi Nuril, karena pada kenyataannya dirinya di pertemukan kembali dengan Salman A.R, sang pemuda yang membuat dirinya selalu ingin melangitkan namanya. Jogja, tempat dirinya petama kali berjumpa dengan Salman A.R, lantas berlanjut di Jakarta meski secara harfiah pertemuan itu hanyalah kebetulan semata dan tidak ada komunikasi setelahnya. Namun, menyisakan sebuah buku agenda kecil yang menjadi benda keramat untuk Nuril di setiap aktifitasanya.
Dan apa ini akan di sebut kebetulan juga, jika pada ahirnya mereka bertemu dan terlibat di tempat yang sama di Surabaya, atau itu sebuah pesan yang Allah berikan kepada Nuril sebagai sedikit jawaban do'a yang selama hampir dua tahun selalu di rapal oleh Nuril. Atau mungkin ini merupakan ujian untuk keimanan bagi dirinya, lantaran Allah terlalu cemburu kepadanya yang selalu dan selalu mengingat seorang hamba seperti Salman A.R.
"Apapun itu, tidak akan satu kejadian tanpa skenario dariNYA."
Yang pasti Nuril menikmati pertemuannya dengan Salman A.R kali ini. Dan tekat di dalam hatinya semakin menguat tatkala pilihan hatinya juga memiliki keistimewaan seperti yang di sodorkan oleh kedua orang tuanya dan telah di tolaknya mentah mentah. Nuril juga tidak akan malu kepada kedua orang tuanya jika pada ahirnya nanti Allah berkehendak Salman A.Rnya lah yang menjadi imamnya.
"Ahh, rasanya terlalu jauh jika mengharapakan dia menjadi Imam untuk ku, karena baru juga bertemu dan hati ini sudah terlalu serakah, dan jauh berfikir mengandai andai." Gumam Nuril sambil mengusap usap wajahnya yang kelihatan memerah.
"Ada apa.?" Tanya teman sekamar Nuril.
Nuril menoleh ke arah temannya, lantas menggelengkan kepalanya pelan seraya berucap. "Hemm, tidak apa apa."
Tatapan tidak percaya di layangkan oleh teman Nuril, dan terus menatap Nuril dengan lekat. "Serius tidak apa apa. Kelihatannya ada apa apa, tuh wajahmu memerah apa lagi di bagian hidung." Kata teman Nuril.
"Masak sih." Jawab Nuril sembari tangan ya meraba raba wajahnya, lantas berjalan pelan menuju ke arah cermin yang tidak jauh dari ranjang susun mereka. Nuril tersenyum tipis sembari mengusap wajahnya yang kian menghangat dan semakin mencetak rona merah di pipinya. "Mungkin karena terlalu panas jadinya memerah." Lanjut Nuril asal.
"Aku rasa malam ini cuaca sedikit lebih dingin, Ipda Nuril." Kata teman Nuril dengan memberikan penegasan di ahir kata katanya.
"Iya kah."
"Kamu bukan orang yang pandai berbohong, dan sialnya lagi aku menguasai pembacaan bahasa tubuh lebih terperinci dari pada kamu." Kata teman Nuril lagi sembari menyandarkan kepalanya pada tangan kirinya sementara tangan satunya menutup buku di tangannya dan menatap Nuril dengan tatapan seorang Polisi.
Untuk sesaat Nuril di buat kelabakan oleh tatapan temannya itu. "Ya, ya. Baiklah." Ujarnya pelan dan dengan menghela nafasnya dalam Nuril kemudian melangkah ke arah sofa kecil di sudut ruangan kamar itu.
Nuril menghempaskan tubuhnya di sofa, dan membalas tatapan temannya. "Istri Pak Kapolda memintaku untuk menjadi Ajudan pribadinya." Kata Nuril mengelakkan dari apa yang sebenarnya di rasakan hatinya. "Dan akan segera di atur prosedur pemindahan tugasnya." Lanjut Nuril.
"Itu bagus, Ri. Tapi, apa yang menjadi alasannya dan kenapa begitu mendadak, mengingat kamu baru juga beberapa minggu berada di devisi kamu." Jawab teman Nuril.
"Alasannya cukup tidak masuk akal juga." Kata Nuril sembari meraih tas tangannya mencoba mencari cari sesuatu dari dalamnya.
"Apa..?"
"Karena acara tadi." Jawab Nuril singkat.
"Karena dia dengar suara kamu.?"
"Tepat sekali, dan aku rasa itu bukan alasan yang begitu bagus, jika aku harus meninggalkan devisi ku karena bukan kinerja ataupun prestasi yang aku lakukan." Jawab Nuril.
"Tapi, menurutku itu bagus juga Ri. Karena hanya sedikit seseorang yang seperti kamu. Aku juga kaget tadi, dan bermaksud memintamu mengajariku soal Agama. Ehh, sudah keduluan Bu Ari." Jawab teman Nuril sembari duduk di tempat tidurnya.
"Itu terlalu berlebihan, dan hanya kebetulan semata." Jawab Nuril dengan memalingkan wajahnya yang sudah kembali memerah saat teringat kembali netra coklat milik Salman A.R yang menatapnya intens.
"Itu bukan kebetulan, Ri. Jika, kamu bisa sefasih itu sudah pasti dirimu menguasai sedari kecil dan pasti bukan hanya itu saja yang kamu kuasai. Aku sangat yakin, jadi bersemangatlah bekerja di devisimu yang baru, aku dengar Istri Pak Kapolda yang baru cukup murah hati." Kata teman Nuril sembari merebahkan dirinya kembali ke tempat tidur. "Sudah cukup larut, besok aku ada jadwal pagi. Ayo tidur. Selamat malam." Lanjut teman Nuril dengan sudah mematikan lampu di sisi tempat tidurnya.
"Selamat malam, mimpi indah." Ucap Nuril, kemudian berjalan pelan ke tempat tidurnya dan meraih tas tangannya mengambil sesuatu yang tadi belum sempat di keluarkannya.
Buku agenda kecil milik Salman A.R, kambali di bukanya dan mata jernihnya sudah menyusuri bait demi bait dari untaian kata kata Manis yang mungkin di tulis oleh Salman A.R.
__ADS_1
"Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh, penuh. Diapun juga tak mengambil apa apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta juga tak memiliki ataupun memiliki, karena cinta telah cukup untuk cinta."
"Kebahagiaan itu tidak terkait dengan apapun, kebahagiaan itu yang mampu menciptakan diri kita sendiri, fikiran kita sendiri, dan juga hati kita sendiri."
"Ketika Allah begitu mencintai hambanya, maka akan di berikan cobaan kepadanya hingga terdengar rintihan hambanya. Dan Allah sengaja memanjangkan ujian kita, karena semata mata Allah sangat menyukai setiap do'a yang kita rapalkan untuknya."
Nuril tersenyum tipis, sembari menutup buku di tangannya dan menaruhnya di nakas sambil tempat tidurnya. Nuril sudah menggulung dirinya dengan selimut tipisnya dan dengan segera kembali mengeluarkan dirinya kembali, saay teringat dengan ponselnya yang belum di carchernya.
Nuril menimang nimang ponsel di tangannya, kemudian menggeleng pelan dan langsung mencolokan carcher yang berada di samping nakas lantas menaruhnya di samping buku yang tadi di bacanya. "Perasaanku saja, karena sehari tidak pegang ponsel makanya terasa sedikit berat." Ujar Nuril kemudian kembali membungkus dirinya dengan selimut tipisnya dan juga sarung buluk milik Pacar sempurnanya.
Menit terus berganti dan mata Nuril yang tertutup nyatanya enggan untuk menyelam ke alam mimpi, malah terus terbayang dengan manik coklat milik Salman A.R dan senyum tipis yang di ulas untuk Nuril ketika menyebut nama Nuril.
"Ahh, itu kebetulan semata, dan dia memang seorang yang ramah, Ri. Jadi jangan GeEr karena dia senyum kepada mu, muka biasa saja enggak usah merona. Memalukan sekali." Omel Nuril kepada dirinya sendiri sembari terus berusaha untuk memejamkan matanya.
Lambat laun dengan usaha yang begitu keras, ahirnya Nuril berlayar juga ke Negri tanpa batas meninggalkan segala aktifitas duninya sebagai seorang Polisi Wanita dan kembali menjadi Nuril yang manja juga sangat kenak kanakan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seperti baru sejam Nuril terlelap, dan harus terbangun dengan deritan ponsel di nakasnya dan dengan cepat tanpa melihatnya Nuril langsung menjawab dengan sikap siap seperti kebiasaannya.
"Siap, Ipda Nuril berada di tempat." Ucap Nuril dengan cepat. Hening terasa karena tidak ada jawaban dari sebrang. "Halo, Ipda Nuril berada di tempat." Kembali Nuril mengulangi kata katanya.
"Assalamu'alaikum." Sapaan lembut dari sebrang membuat Nuril terperangah dan mengangkat ponsel yang berada di telinganya lantas makin tercengang saat melihat foto profil sebuah bunga Lily yang memenuhi layar ponselnya, terlebih lagi nama yang tersemat di sana. Bunda.
"Sejak kapan aku memiliki Bunda." Batin Nuril sambil kembali menempelkan benda pipih ke telinganya.
"Assalamu'alaikum." Kembali sapaan lembut itu berada di saluran ponsel yang menempel do telinga Nuril.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Nuril dengan nada normalnya, dalam artian tidak seperti sikap seorang Polisi.
"Maaf Bu, tapi ini ponsel saya." Jawab Nuril dengan santainya, dan Nuril sekarang Nuril tersadar setelah melihat jam wakker yang berada di atas nakasnya. Jam menunjukan pukul 03.05. Dan kemungkinan ini adalah panggilan spam penipuan seperti mama minta pulsa, tapi anehnya kok suara lembut sekali dan juga seperti ada kekagetan saat yang mengangkat panggilannya Nuril.
"Oh, seperti itu. Kalau begitu saya minta maaf Mbak. Assalamu'alaikum." Jawab suara di sebrang.
"Wa'alaikumussalam." Jawba Nuril, kemudian menggeleng pelan. "Ada ada saja modus penipuan." Gumam Nuril sembari kembali hendak meletakan ponselnya.
Nuril bergegas bangun dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. "Panggilan yang menguntungkan, tidak perlu menunggu alram dari Wakker yang berisik." Gumam Nuril.
Nuril keluar dari kamar mandi dengan wajah fress dan senyum senyum tipis tidak jelas lantas segera menggunakan mukenanya dan sejurus kemudian sudah larut dalam sujud malamnya yang panjang dan berlanjut dengan Muroja'ah untuk keistiqomahannya bukan sekedar menghafalkan apa yang sudah di jaganya selama hampir delapan tahun lamanya ini, melainkan sebagai keistiqomahannya membaca dan melafalkan Al-Qur'an yang telah berada dalam dirinya.
Dan seperti yang sudah sudah setelahnya, Nuril akan menghilang dari kamarnya begitu subuh tiba, dan kembali lagi ke kamar setelah matahari sudah menampakan dirinya. Bulir bulir keringat menemani langlah Nuril menuju kembali ke kamarnya dan rencananya Nuril akan mengahabiskan waktunya ahir pekannya kali ini dengan mendatangi panti jompo yang kemarin sudah do geoglingnya.
Namun, begitu membuka pintu kamar, Nuril di kejutkan dengan wajah teman sekamarnya yang tengah cemberut dan menatapnya dengan tatapan memelas sekali.
"Ada apa.?" Tanya Nuril sembari melepas kaos kakinya lantas bergegas mesuk ke kamar mandi dan keluar kembali setelah membasuh wajahnya.
"Ponselmu dari tadi berisik sekali." Jawab Teman Nuril sembari memakai Baretnya.
"Oh iya." Jawab Nuril dan langsung meraih ponsel yang berada di atas nakas.
"Ahh, Weekend yang tidak menyenangkan." Ucap teman Nuril.
"Di nikmati saja, minggu depan pasti aku juga dapat jadwal." Ucap Nuril sudah mengotak atik ponsel di tangannya, namun wajahnya kelihatan keheranan dan itu tak luput dari pantauan teman Nuril.
__ADS_1
"Ada apa..?" Tanya teman Nuril dengan wajah heran juga.
"Perasaan aku tidak pernah ganti Paswwod kok ponselku tidak bisa di buka." Ucap Nuril sembari kembali mengotak atik ponsel di tangannya.
"Serius, lupa kali Paswwodnya." Jawab teman Nuril dengan santai sembari memakai kaos kakinya.
"Serius, nih lihat." Kata Nuril dengan memperlihatkan layar ponselnya ke arah temannya.
"Ponsel kamu tidak ke tukar kan.?" Tanya teman Nuril.
Nuril berfikir sejenak, kemudian segera berteriak pelan sembari menutup mulutnya. "Ustadz Salman." Kata Nuril dan membuat teman Nuril menatapnya dengan tatapan aneh. "Semalam aku tabrakan dengan Ustadz Salman, dan mungkin saja ini ponsel punya Ustadz Salman." Lanjut Nuril menjelaskan.
"Bisa gitu."
Nuril membolak balikan ponsel di tangannya dan semuanya tampak sama dengan ponsel miliknya, jadi tidak salah juga jika Nuril salah mengambil. "Benar benar sama." Ucap Nuril, kemudian sudah berjalan kesana kamari sambil mengigiti kuku ibu jarinya.
"Nih." Teman Nuril memberikan ponsel miliknya dengan senyum tipis yang mengembang. "Telfon nomer kamu." Lanjutnya saat di lihat Nuril hanya menatap temannya dengan pandangan bodoh.
Nuril tersenyum garing sembari memukul keningnya pelan, lantas segera meraih ponsel temannya dan sudah mendial nomer ponselnya. Namun, ketika hendak mendial panggil kembali dia berhenti. "Itu terlihat murahan tidak ya, saat aku yang menelefonya duluan." Tanya Nuril.
"Lucu sekali." Ucap teman Nuril sambil tertawa. "Memang ada apa, kan murni karena ponsel tertukar." Lanjut teman Nuril sambil menggelng pelan.
Nuril kembali tersenyum garing, dengan menahan malu setengah mati, karena telah berfikir terlalu jauh mengenai Salman A.R. "Kamu itu siapa hingga Salman A.R berfikir lebih mengenaimu." Debat hari Nuril.
"Ken, ini nomer ku." Kata Nuril panik saat ponsel di milik Salman A.R berdering dan terus berjalan kesana kemari tanpa dengan cepat menjawabnya.
"Jawablah, nunggu apa."
"Aku malu."
"Ya elah, Ri. Heran deh, kenapa mesti malu. Siniin aku yang jawab." Ucap teman Nuril dan langsung meraih ponsel yang berada di gengaman Nuril, namun ketika hendak di angkat ponselnya sudah mati lebih dulu dan kembali berdering lagi berbarengan dengan ponsel miliknya yang berada di tangan Nuril berdering juga. "Nih, kamu jawab, aku musti cepat berangakt." Ucap teman Nuril begitu melihat nama yang tercantum di layar pinsel miliknya lantas meninggalkan Nuril begitu saja seorang diri.
Nuril masih terus mondar mandir di kamarnya dengan ponsel yang masih senantiasa dalam gengamannya, hingga ponsel itu berdering untuk yang kelima kalinya Nuril masih saja gugup tanpa berani mengangkatnya.
"Ahhh, kenapa ini lebih horor dari pada ketemu pocong, atau perampok." Gumam Nuril sembari mengelus dadanya yang terus saja melonjak seakan jantung di dalamnya ingin melompat keluar dari tempatnya. Dengan helaan nafas sangat dalam Nuril menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan menekan suaranya agar tidak terdengar bergetar di sebrang sama.
"Assalamu'alaikum." Sapaan lembut di sebrang sana, dan berhasil membuat Nuril ingin menjatuhkan ponsel di tangannya dan entah kenapa bibirnya serasa kelu sekali hanya sekedar menjawab salam dari suara di sebrang sana yang Nuril yakini itu adalah suara milik Salman A.R.
"Halo, Assalamu'alaikum.." Kembali suara lembut itu menyapa dan mengantarkan hangat di wajah Nuril hingga mencetak rona merah di wajahnya yang putih..
Bersambung...
####
Mak Mak, tega bener bersambung. Padahal mau tau apa yang mereka obrolin.
Next part saja..🤭🤭🤭
Like, Coment dan Votenya selalu di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862