
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Waktu terus berkejaran, seperti ombak di lautan yang ingin segera sampai di tepian. Namun, waktu tidaklah kembali berputar kebelakang selayaknya ombak yang akan kembali ke lautan. Waktu akan terus berputar dan meninggalkan siapa saja yang tidak ingin untuk ikut terus maju bersama sama dengannya.
Sehari dua hari, seminggu dua minggu, hingga sudah sebulan lamanya, Nuril menghitung waktu. Dan menyebalkannya jika waktu tidak mau tau bahwa Nuril sesunggunya sangat merindu. Karena pada kenyataannya, kesibukan dirinya juga Salman A.Rnya, membuat mereka sama sama tidak punya waktu untuk sekedar duduk bersama, berbincang, membahas, atau bercerita keseharian yang mereka lalui.
Dulu, waktu seperti apa Nuril tidak pernah ingin memprotesnya. Tapi kali ini, sungguh sangat menyebalkan seperti ini. Benar, tidak sepnuhnya juga Nuril tidak bertemu dengan Salman A.Rnya, tapi mereka seperti dua orang asing saja saat bersua di Polda ataupun di Masjid dekat Komplek Nuril tinggal.
Akan lebih mudah bagi Nuril, jika sebelumnya tidak ada pembahasan soal hati. Lah ini, sungguh menganggu sekali di hati Nuril. Rasa hati yang serakah, ingin duduk bersama. Tidak sekedar hanya mengobrol lewat aplikasi hijaunya saja. Itupun juga bukan yang telfonan, karena cuma sekedar chat semata. Rindu itu ternyata jauh menyebalkan, daripada cinta seorang diri.
Seperti malam ini, Nuril terus saja berguling guling di atas kasurnya. Sesekali tangannya mengusap benda pipih yang berada tidak jauh dari jangkauan tangannya."Biasanya jam segini sudah online." Nuril mendengus kesal dan dengan cepat mengerucutkan bibirnya.
Sejam lamanya Nuril menunggu Salman A.Rnya berada dalam jaringan, dan nampaknya itu akan sia sia belaka. Karena hingga saat malam semakin larutpun, Salman A.Rnya masih saja anteng tanpa kabar.
"Ya sudah, semaunya saja Mas Sal. Besok gantian aku yang sibuk." Putus Nuril kemudian segera meraih selimut, dan malam minggu yang di harapkannya berahir dengan bercinta dengan kasur dan bantalnya.
Di antara setengah jeda dan pejam, ponsel Nuril meraung raung dan tanpa melihatnya Nuril segera mengangkatnya. Namun, seketika tercengang begitu suara pelan seseorang yang sedari tadi di tunggunya berada dalam saluran telfon. Dan, dengan suara tergagap Nurilpun langsung menjawab sembari langsung terduduk.
"Wa'alaikumussalam.." Kekehan pelan terdengar oleh Nuril, begitu Nuril bersuara.
"Sudah tidur..?" Pertanyaan dari sebrang.
"Hampir."
"Maaf, mengangganggu. Kalau begitu selamat istirahat." Nuril memutar matanya jenggah. Sebal, bukan kepalang. Dalam hati Nuril menginginkan Salman A.Rnya merayunya.
"Hemmm." Pura pura Nuril untuk menutupi kekesalan di hatinya. "Nyadar enggak sih, kalau dari tadi tuh di tungguin. Giliran pertama telfon, gitu duang. Di rayu kenapa Bang." Dalam hati Nuril berisik sendiri. Andai saja Ustadz Salman kali ini melihat wajah menggemaskan Nuril sudah pasti senyumnya akan melebar.
"Ipda Nuril.?" Kata Ustadz Salman lagi, sesaat setelah tidak mendapat jawaban dari Nuril selain dari "Hemmm" tadi.
"Iya."
"Iya untuk apa..?" Kali ini suara Ustadz Salman terdengar menggoda Nuril.
"Untuk apa saja."
"Termasuk untuk Asytaaqu ilayki." Mata bulat Nuril seketika membelalak dan sirna sudah rasa kantuknya. Dan anehnya mereka berdua, jika benar benar bertemu hanya saling diam dan menunduk, tapi saat sudah dalam jaringan entah setan seperti apa yang telah merasuki keduanya.
Akan tidak normal, jika Nuril tidak mengikuti alurnya. Dan dengan senyum malu malu, Nurilpun ahirnya bersuara. "Apa artinya itu."
"Itu yang mana..?"
"Yang bahasa Korea barusan." Jawab Nuril.
"Emmm, saya lupa. Tolong ulangi." Terdengar suara kekehan reyah Ustadz Salman sembari berucap.
"Wong sampean yang bilang kok, saya yang suruh ngulangi. Lagian ini bukan Ujian Matematika Mas Salman, jadi tidak ada Remidi." Keluar karakter bawel Nuril, hingga tanpa sadar Nuril memanggil Ustadz Salmannya dengan embel embel Mas.
"Kan memang bukan Matematika. Kalau Matematika masih rasional Dek Nuril. Dan jawaban dari Matematika tidak bisa seperti Bahasa Indonesia." Nuril menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kali ini Nuril benar benar salah perhitungan. Dan tidak menyangka saja ternyata Ustadz Salmannya yang kelihatan diam bisa banyak bicara seperti sekarang ini. Tapi, jujur dalam hati Nuril menyukainya.
"Baiklah Pak Dosen. Sebelum ini nanti bisa pindah ke Pelajaran Sejarah, ataupun pelajaran lain." Cetus Nuril. "Apa artinya Astaaqu ilayk**a**" Nuril mengalah.
__ADS_1
"Saya juga." Jawab Ustadz Salman dengan cepat.
"Ehh,." Kata Nuril kaget. "Kok jadi gitu artinya." Kali ini bukan lagi kekehan yang Nuril dengar, melainkan tawa renyah dari Ustadz Salman.
"Sampean bilang, Aku merindukanmu, ya tak jawab saya juga."
"Kok jadi saya, kan yang bilang tadi sampean..!" Pekik Nuril merasa terjebak, lebihnya sih karena malu.
"Apa iya sih. Tapi, saya berharapnya sampean juga gitu. Ahh, berarti itu cuma perasaan saya seorang saja." Terdengar nada suara Ustadz Salman yang berubah. Dan tentu saja itu pura pura saja, agar Nuril semakin salah tingkah saja.
"Sampean kok jadi Usil gini sih."
"Usil gimana sih."
"Pokoknya Usil, kayak Kampret Sarungan." Nuril segera menutup mulutnya begitu nama keramat itu keluar dari bibirnya. Jika Nuril merasa kelepasan dengan nama itu, maka lain yang di rasakan oleh Ustadz Salman. Ada sesuatu yang membakar dada Ustadz Salman, saat Nuril menyebut nama panggilan yang sepertinya sangat akrab dengan Nuril.
Cemburu, itulah nama yang tepat untuk perasaan yang tiba tiba membakar dada. Dan ternyata Ustadz Salman juga tidak kebal dengan rasa Cemburu itu, meski untuk alasan yang elbih siknifikan tidak ada. Ya, mau bagiamanapun cinta yang baru saja tumbuh itu seperti seorang Hafidzul Qur'an yang baru khatam.
Karena untuk mendapatkan cinta itu mudah, yang sulit adalah merawat cinta itu agar semakin bertambah. Selayaknya seorang Hafidzul Qur'an. Menghafal Al-Qur'an itu mudah, yang susah adalah menjaga hafalan itu sendiri. Apa lagi yang masih baru baru khatam, jelas harus lebih rajin lagi untuk Muroja'ah. Jangan di tanya akan sampai kapan itu selesai, yang pasti tidak akan pernah selesai selama masih ada nyawa di kandung badan.
Seperti itu juga cinta. Selama masih ada rasa cinta di hati, akan selalu di ikuti rasa cemburu di sampingnya.
"Dhemm." Ustadz Salman berdehem pelan, untuk membersihkan tenggorokannya yang tiba tiba terasa kering. Atau sebenarnya itu untuk menetralkan perasaannya di dadanya.
Nuril salah tingkah sendiri, dan nama keramat itu telah merenggut debar debar bahagianya. "Jadi Ustadz Salman, sepertinya sudah malam ya." Kata Nuril garing untuk memecah suasana yang dirasanya kaku.
"Apa sampean besok ada waktu.?"
"Besok saya free padahal. Sampean apa ada tugas di kesatuan..?" Kali ini nada suara Ustadz Salman terdengar kwatir.
Nuril tersenyum simpul, sambil memilin milin pucuk bantal yang berada dalam pangkuannya. "Bukan dalam kesatuan, hanya saja besok saya dan beberapa tim khusus akan mengawal Bu Ari beserta anak anaknya."
"Apa sampai di luar kota.?"
"Tidak, hanya di sekitaran Surabaya saja."
"Baiklah, kalau begitu." Kata kata Ustadz Salman syarat akan nada kecewa, tapi Nuril tidak bisa melakukan apa apa. Selain hanya bisa menyesali kata katanya tadi sebelum Ustadz Salman menelfon. Konsekwensinya berhubungan dengan aparat seperti Nuril, ya seperti ini, tidak ada libur dengan sesuka hati meskipun itu tanggal merah. Karena dalam sistem kerja di departemen Nuril, kerja selalu di bagi dalam shif shif. Kali ini Nuril mendapat jatah shif di waktu weekend.
"Minggu depan saya Insya'Alloh free." Dengan cepat Nuril menyahut. Tidak tau minggu depan akan dapat jatah libur atau tidak, setidaknya jika Ustadz Salman mengajaknya untuk kencan, Nuril bisa tukar shif dengan temannya.
Desahan nafas dalam di hela Ustadz Salman. "Minggu depan, jadwal saya pulang. Dan di moment itu, saya juga ingin menyampaikan tentang sampean kepada orang tua saya. Apa sampean keberatan.?"
Dada Nuril menabuh genderangnya dengan cepat. Perempuan mana yang tidak ingin di cintai dengan alasan yang baik, terlebih lagi di bawa ke arah yang lebih baik. Namun, Nuril tidak bisa menjawab tanya itu, lantaran hatinya terlalu penuh dengan bunga bunga yang sedang bermekaran.
"Apa sampean keberatan..?" Ulang Ustadz Salman. Bodohnya Nuril, karena kepalanya terus mengangguk tanpa bibirnya mau berucap. "Sepertinya sampean belum siap akan hal itu."
"Tidak, bukan seperti itu. Saya juga belum bicara pada orang tua mengenai sampean.?" Kali ini Nuril terus mengigiti bibir bawahnya untuk menetralkan perasaan gugubnya.
"Saya mengerti, seperti kata saya sebelumnya, saya akan menunggu."
"Tapi Ustadz Salman." Nuril menjeda kata katanya, dan entah kenapa Nuril terdorong untuk menanyakan hal ini kepada Uatadz Salmannya. "Boleh saya bertanya kepada sampean..?"
"Silahkan."
__ADS_1
Nuril menghela nafasnya dalam dalam, mencoba mengumpulkan semua keberaniannya, juga sekaligus menyiapkan hatinya akan kemungkinan jawaban yang di terimanya. "Saya pernah mendengar mengenai sampean dari Iptu Jonathan, bahwa sampean sudah bertunangan. Apa itu benar.?" Lolos juga ahirnya kata itu dari bibir Nuril.
Hening, baik Nuril ataupun Ustadz Salman diam sampai sampai suara detak jam di dinding kamar Nuril seperti suara detik detik Bom yang akan siap meletus.
"Hal yang keliru dan sangat berani saya lakukan dalam hidup saya, adalah mencintai sampean." Pelan, namun cukup jelas terdengar di telinga Nuril, bahkan kata kata itu sampai menembus jantung Nuril, dan mesin mesin ketik jauh di dalam sana bekerja keras untuk menulis sebuah pengakuan dari sesorang yang telah benar benar berani mengambil sikap untuk Nuril.
"Saya akan menyakinkan orang tua saya tentang itu. Soal tunangan, saya belum bertunangan, cuma orang tua saya berencana menjodohkan saya." Lanjut Ustadz Salman. Perjodohan, mendengar kata itu Nuril jadi teringat juga tentang dirinya dan Mas Ainya. Namun, hendak bertutur soal itu, Ustadz Salman terdengar sedang ada yang memanggil.
Untuk beberapa saat Ustadz Salman sedang berbicara dengan seseorang, sementara Nuril hanya terus bisa mendengarkan tutur sopan Ustadz Salman yang menggunakan bahasa Kromo Inggel Bahasa Jawa (bahasa jawa halus). Itu membuat stok mengaggumi Nuril semakin meningkat. Bahasa seperti itu dulu sering sekali Nuril dengar di gunakan oleh Gus atau Ningnya dulu di Pesantren.
"Ipda Nuril, Ipda Nuril."
"Ehh, iya." Jawab Nuril tergagap, karena sangking asiknya mendengarkan tutur Ustadz Salman, hingga Nuril tidak sadar bahwa Ustadz Salman sudah memanggilnya berulang ulang.
"Maaf, saya harus menyudahi dulu. Ada sesuatu yang harus saya lakukan. Selamat malam, selamat istirahat."
"Enggeh mboten nopo nopo, Tadz. Sampean juga lekas istirahat, jangan bergadang terus. Undangan tidak akan sampai jika sampena terus bergadang tiap malam."
"Undangan, undangan apa..?"
"Undangan hadir dalam mimpi saya. Assalamu'alaikum.." Ucap Nuril lantas mematikan ponselnya dengan cepat, tanpa menunggu jawaban dari Ustadz Salmannya.
Nuril tersenyum puas sembari meletakan ponselnya di dadanya. Sementara tangannya terus saja memegangi pipinya yang terasa terus memanas tatkala setiap ucapan Ustadz Salmannya kembali terngiang di benaknya.
"Hal yang keliru dan sangat berani saya lakukan di dalam hidup saya, adalah mencintai sampean." Ahh, kata kata itu jelas sekali bahwa rasa ini di perjuangkan olehnya. Dan kali ini Nuril benar benar punya alasan untuk menolak Mas Ainya, jika orang tuanya kembali mengungkit soal perjodohannya dengan Mas Ainya.
Mungkin Nuril punya alasan untuk menolak perjodohannya dengan Mas Ainya. Tapi Nuril tidak pernah berfikir bahwa orang tuanya juga berhak untuk menolak Ustadz Salmannya juga.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Di nikmati saja Ipda Nuril. Sebelum Ustadz Salman kembali sama Mbak Juju. 😀😀😀😀
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1