
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Gua harus cepat balik." Ucap Nuril setelah melahab habis makanannya dengan sedikit di paksa cepat dan meninggalkan teman sekamarnya yang tengah bingung dengan sikap anehnya.
"Loe, enggak lagi kesambet setan deket Gudang kan."
"Nanti sampai Asrama Gua jelasin. Sorry Gua buru-buru." Ucap Nuril lagi dengan mencium pipi sahabatnya lantas bergegas berlari menuruni tangga. Dalam hati Nuril berharap semoga masih bisa melihat pemuda bernama Salman.AR. yang selalu membayangi mimpinya sejak lima tahun lalu.
Nuril hanya ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat juga tidak sedang bermimpi bertemu dengan Salman.AR. kembali. Lima tahun berlalu Nuril tidak pernah bisa melupakan tahi lalat kecil di dagu pemuda yang di selamatkan olehnya di sebuah Waterpark, dan yang selalu membuatnya selalu penasaran kenapa jantungnya bisa begitu berpacu dengan cepatnya saja saat mengingat kejadian itu.
Nuril sampai di bawah dan melihat punggung Salman. AR. memasuki sebuah mobil dan tak lama mobil itu sudah berjalan melewatinya dan dengan jelas Nuril bisa melihat bahwa itu pemuda yang sama dengan yang berada di Waterpark waktu itu, dan muncul kembali di hadapannya saat ini dengan tingkat kematangan usianya yang semakin memesonakan dirinya.
"Kenapa dari sekian banyak pilihan pakaian, dia mesti memilih sarung." Decak Nuril dengan kesal namun juga senang karena pada ahirnya dia kembali bertemu dengan seseorang yang diam-diam namanya selalu di sisipkan lewat do'anya, bukan untuk apa hanya ingin merayu pemilik hati sebelum benar-benar bertemu dengan si pembawa hati.
Dengan langkah pelan Nuril berjalan kembali ke stasiun MRT untuk kembali ke Asrama Polwan yang sudah dua tahun ini dia tempati untuk menimba Ilmu sebagai calon Polisi Wanita.
Nuril, atau biasanya di sapa dengan Taruni Nuril 0764, sosok Taruni yang sangat rame juga supel dalam pergaulan. Pengetahuannya tentang Ilmu Agama yang lebih daripada teman-temannya selalu menjadikan dirinya tempat bertanya juga sekaligus belajar. Namun, tidak banyak yang tahu jika Nuril adalah seorang Hafidzul Qur'an juga seorang Qori'ul Qur'an dengan talenta suara juga cara baca yang beragam. Di balik penampilannya yang suka semaunya sendiri dan terkesan seperti gembel menurut teman-temannya, terutama Margaretta teman sekamarnya, Nuril adalah Putri seorang pengusaha kuliner juga Perhotelan yang sukses.
Bahkan tidak ada yang pernah tahu. Jika, Nuril yang mereka kenal dengan seseorang yang sangat mandiri juga piawai dalam segala hal itu, sesungguhnya adalah sosok Nuril yang lain jika sudah pulang ke rumah. Nuril di Rumah adalah sosok yang sangat manja, terutama kepada Ayahnya yang di sebut sebagai Pacar Sempurnanya, dan mengklaim bahwa tidak ada Laki-Laki yang lebih sempurna daripada Ayahnya itu.
Tapi, apakah itu akan sama lagi. Jika, pada ahirnya jawaban atas rayuannya kepada pemilik hati mempertemukan dirinya dengan sosok Salman. AR. yang selalu di anggapnya hanya ilusi semata. Buktinya sekarang dirinya sudah tidak sabar ingin segera sampai di Asrama dan membongkar lokernya demi sesuatu untuk keyakinannya bahwa apa yang di lihatnya tadi benar adanya.
Dengan tergesa dia terus melangkah masuk ke dalam Asrama Polwan, dan sesekali dia menyapa atasannya ataupun menyapa menyapa, juga menjawab sapaan teman seperjuangannya untuk menjadi abdi Negara di garda terdepan Bangsa ini.
Sampai di kamarnya Nuril segera mencari-cari sesuatu yang selalu dia simpan selama 5 tahun ini, dan setelah menemukannya dengan segera di lihatnya nama yang tersemat di balik gelang masuk sebuah Taman Wisata di Jogja 5 tahun silam, dan ingatannya kembali ke saat itu.
Lima tahun lalu Nuril rela kabur dari Pesantren demi sebuah kompetisi renang yang di adakan oleh guru Les Privatnya, dan di tempatkan di sebuah Water Park tidak jauh dari Pesantrennya, dan semua harus gagal hanya karena dirinya yang sedang menyelamatkan seorang pemuda. Dan yang membuat Nuril tidak yakin untuk menyelamatkannya adalah, pemuda itu tenggelam di kolam renang anak, yang dalamnya hanya sebatas lututnya saja.
Tapi, pemuda itu benar benar tenggelam bahkan Nuril sampai harus berusaha keras untuk menyadarkannya dan mengeluarkan air yang sudah terlanjur masuk ke lambungnya lantas membuat dirinya harus di diskualifikasi karena terlambat juga kehilangan kaca mata renang kesayangannya.
Dan saat mata pemuda itu terbuka, Nuril benar benar tertarik dalam netra Coklat yang meneduhkan dan rasanya dirinya terikat dalam netra itu. Juga, tahi lalat kecil di dagunya yang sampai saat ini masih di ingatnya. Salman. AR. Nama yang tersemat di gelang masuk taman wisata itu, yang entah bagaimana gelang itu bisa berada di dalam sakunya, dan mulai dari saat itulah Nuril selalu menyisipkan namanya dalam bait do'anya.
Kini buku kecil berisi tulisan rapi ini juga tersemat nama yang sama, yakni Salman. AR. Dan ini bukan sekedar nama yang kebetulan sama. Tapi, juga dia adalah Salman. AR. yang sama yang telah membaut hati Nuril bercabang dari Pacar Sempurnanya, meski belum ada seorangpun yang tahu jika dirinya jatuh cinta pada seseorang tanpa mengenalnya.
Anehnya cinta, dan Nuril terjebak dalam ke anehan dan justru mengalunkan namanya dalam do'anya. Juga berharapa bahwa nama Salman.AR. lah yang telahdi setujuinya sebelum dirinya bersemayam di rahim Nyonya Besar.
Nuril perlahan membuka halaman perhalaman dari buku kecil di tangannya, dan Nuril menambahkan stok kekaguman pada sosok Salman. AR. yang ternyata seorang yang sangat manis dalam berbahasa, itu dapat di lihatnya dalam coretan yang dia buat oleh Salman. AR, baik itu rangkuman ataupun coretan yang menggambarkan situasi yang di hadapi oleh Salman. AR. dan di setiap dari coretan itu tersimpan sebuah nasehat juga seperti sebuah teka-teki bagi Nuril.
Ku titipkan salam untuk wanita yang bersemanyam di relung hati..
Penuh kasih dengan kedua pipi yang merona.
Lekuk tatapannya, aku telah tertawan kerinduan oleh sosok sang manis jelita.
__ADS_1
Sulit sekali Imajinasi ini menggambarkan kerupawanannya.
Tinggalkan, tinggalkan aku.!
Mohon terima alasanku, karena sekarang aku masih sibuk menuntut Ilmu dan memahaminya.
Untuk ku rayuan, farfum semerbak, juga nyayian darimu sang jelita..
Tidak ku butuhkan saat menutut Ilmu, hingga nanti saatnya tiba ku jabat tangan walimu.
Untuk engkau sakinah bersamaku..
Salman. AR.
Nuril menutup buku kecil itu, dan berupaya memahami dari rangkaian kata yang di tulis oleh Salman, AR. hingga menyisakan ruang ngilu tersendiri sesudahnya, lantaran apa yang menjadi idamannya ternyata telah memilih pilhan untuk dirinya.
Mungkin cara Nuril salah dalam merayu pemilik hati, karena dalam do'anya Nuril hanya meminta di pertemukan dengan pemilik gelang kertas itu, tanpa meminta agar saat bertemu dengannya hati pemilik gelang itu menetap kepadanya.
Dan sekarang Nuril akan kembalikan semuanya lantas memulai kembali dari awal untuk merayu pemilik hati dan sementara fokus dulu terhadap apa yang ingin di capainya hingga rela menentang keinginan Pacar Sempurnanya. Seperti apa yang di tulis oleh Salman. AR. dalam bukunya, bahwa dalam menuntut Ilmu urusan hati harus di kesampingkan lebih dulu, karena sudah pasti nama yang tertulis disana tidak akan pernah terganti pada saat di setujui dan di ukir oleh Malaikat.
Di simpannya buku milik Salman. AR. bersama dengan gelang kertas taman wisata, lantas Nuril melangkah membersihkan dirinya dan sejurus kemudian sudah terlihat dirinya fokus pada mufrod kecil di tangannya sembari duduk bersila di atas tempat tidurnya dengan berselimutkan kain Sarung buluk milik Pacar Sempurnanya.
Nuril sudah fokus pada Deresannya, dan meninggalkan seluruh kesan selengean juga rame bagi yang melihatnya. Nuril terlihat begitu anggun, kalem juga berwibawa pada saat melantunkan ayat demi ayatnya, jauh dari kesan yang biasa Nuril tampilkan. Bahkan jika ada seseorang yang melihatnya seperti saat ini jelas tidak akan menyangka bahwa dirinya seorang Taruni yang terkenal dengan larinya yang cepat juga sekaligus salah satu Taruni yang terkenal dengan keahliannya menembak.
"Kenapa berhenti, itu enak sekali, Ri. Aku suka." Kata teman Nuril sembari mengantungkan tas kecil di tempatnya.
"Ngantuk," Jawab Nuril santai sembari bergerak menaruh Mufrodnya ke dalam Lokernya.
"Jangan nyari alasan, Loe punya hutang penjelasan sama Gua."
"Udah malem, Ta. Lagian siapa suruh Loe pulang malem banget." Jawab Nuril sembari menuju ke ranjangnya kembali dan hendak merebahkan tubuhnya disana. Namun, dengan cepat tangan Margaretta sudah meraih sarung buluknya.
"Malam apapan, baru juga jam setengah sebelas. Emang dasar Loenya aja tukang molor." Ujarnya.
"Ta, please deh, balikin." Ucap Nuril sambil berusaha meraih kain Sarung buluk miliknya.
"Enggak, sebelum Loe jelasin ke Gua, kenapa Loe buru-buru balik, dan kenapa wajah Loe jadi lain saat lihat cowok bersarung di Caffe tadi."
Nuril menghela nafasnya dalam, lantas kembali mendudukan dirinya di tepi ranjang sembari tangannya meraih botol air lantas meneguknya isinya dengan kasar. Ketenangannya kembali di usik oleh Margaretta. "Pernah enggak sih Loe Jatuh Cinta sampai rasanya Loe kehilangan akal sehat Loe.?" Ucap Nuril.
"Huaha.ha.ha." Margaretta tertawa sembari memegangi perutnya.
Nuril melempar bantalnya ke arah Margaretta sembari berucap pelan. "Terusin saja."
"Oke, Gua berhenti. Jadi siapa orang beruntung itu, apa salah satu dari fans beratmu. Iptu. Teguh, Bribda. Joko, atau mungkin Taruna yang latihan bareng bulan lalu." Kata Margaretta dengan semangat menggebu-gebu, karena ini hal langka bagi Margaretta bisa mendengar si cuek Nuril berbicara soal hati, kalau perlu akan Margaretta masukan dalam rekor MURI.
__ADS_1
"Enggak ada semuanya. Enggak jadi ahh, entar Loe ketawain." Ujar Nuril dan mengahancurkan kesemangatan Margaretta yang baru di rasakan.
"Sumpah, Gua enggak akan ketawa, kecuali kepaksa."
"Tuh apaan.?" Tuding Nuril karena masih terlihat sungingan senyum di bibir Margaretta.
Margaretta mendekat ke arah Nuril, dan duduk di samping Nuril sembari memberikan kain Sarung buluknya. "Gua seneng, Ri. Ahirnya Loe bisa suka sama seseorang. Percaya deh, Gua bakal bantu Loe buat dapetin tuh cowok." Ujar Margaretta.
Nuril menatap sebentar sahabatnya itu, dan pelan-pelan bibir tipis Nuril sudah bertutur tentang perasaan yang dirasanya selama Lima tahun ini, kepada seseorang yang baru kali pertama di lihatnya bahkan tanpa ada komunikasi setelahnya. Hanya sekedar tahu namanya dari sebuah gelang kertas saja. "Dan Loe tau, Ta. Orang itu adalah cowok bersarung yang di Caffe tadi. Demi Allah, aku tidak salah lihat, bahkan nama di Buku itu juga sama dengan nama yang ada di gelang kertas itu. Salman. AR." Ucap Nuril dengan wajah merona.
Margaretta manggut-manggut mengerti. "Tapi, kan Loe benci banget sama cowok bersarung."
"Itulah, kenapa juga dia mesti bersarung." Ujar Nuril dengan muka cemberut.
"Masalahnya cinta itu suka semaunya sendiri. Tapi, sebenernya Gua juga penasaran kenapa sih Loe kayak trauma gitu sama cowok bersarung."
Nuril seketika langsung mendengus kesal dan meraih gulingnya lantas berulang-ulang meremas, menggigit, bahkan juga menonjok, hingga membuat sahabatnya heran dan memilih pergi dari tempatnya untuk mencari aman.
"Masih orang yang sama, orang yang ngeselin di masa kecil Loe, tapi juga enggak bisa untuk Loe lupain. Capek deh." Ucap Margaretta sambil menepuk kepalanya pelan lantas mendudukan dirinya di atas ranjang miliknya. "Inget ya, Ri. Cinta sama benci itu cuma beda tipis, mungkin saat ini, hati Loe terpaut sama Salman. AR., tapi pernah enggak Loe mikir kalau Loe ketemu sama Si Kampret lagi, bakal enggak terpesona. Secara dari ciri-ciri yang pernah Loe bilang dia cukup cakep di usia yang masih 10 tahun dan bukan tidak mungkin sek.."
"Cukup, Ta. Gua enggak bakalan suka sama Si Kampret yang suka ngarungin Gua sama sarungnya, dan kentutin Gua sampai pingsan. Sumpah, kalau ketemu sama Si Kampret lagi Gua bakal balas dendam." Pekik Nuril dengan memukul gulingnya membabi buta, dan membuat Margaretta memutar matanya jenggah.
"Lanjutkan saja. Cinta itu memang enggak ada ahaknya kok. Dan juga menghilangkan Logika." Kata Margaretta sembari melangkah masuk ke kamar mandi. Dua tahun tinggal sekamar dengan Nuril, Margaretta cukup faham dengan sikap Nuril yang suka Influsif jika sudah membahas tentang seseorang di masa kecilnya. Entah kenangan seperti apa yang orang itu ciptakan untuk Nuril, hingga membuat Nuril menyisakan tempat di hatinya meski itu sebuah kebencian, yang beda tipis dengan rindu yang di rasakannya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat lain, Gus Ali yang sedang mencari buku Agendanya sudah berulang kali mengeluarkan dan memasukan buku-buku dari tasnya, juga tidak ketinggalan mencarinya di tas berisi baju yang hendak di bawanya kembali ke Rumahnya besok pagi, hingga membuat Mas Naufal yang sedari tadi keluar masuk kamar mandi memandangnya dengan heran. Apa lagi saat Gus Ali tiba-tiba sersandung oleh karpet dan tersedak oleh salivanya hingga membuat Gus Ali menghentikan aktivitasnya.
Bersambung...
####
Hemm, kok makin muter-muter bae.
🤣🤣🤣
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu Enggeh.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1