Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Lagi lagi kecewa.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Detak jantung Nuril yang menggila menggiring tubuhnya ikut gemetaran, kedua tangan Nuril juga secara otomatis langsung saling menaut sementara kedua Ibu jari tangannya menekan antara satu dan lainnya. Wajah, iya wajah Nuril juga langsung pucat pasi begitu derap langkah terdengar semakin mendekat di belakang Nuril.


Jika saja, tidak banyak orang di sekitar Nuril. Maka, Nuril akan memilih mencari alasan agar bisa kabur dari tempatnya sekarang. Tapi, alih alih dirinya bisa beranjak, justru kakinya seperti tertanam di tanah sementara tubuhnya seperti pohon tertiup angin yang hanya bisa melambai lambai.


"Ju, kamu tidak apa apa, Dhok.?" Tanya Bunda Ikah yang melihat perubahan pada diri Nuril. Inginnya Nuril menjawab bahwa dirinya jelas apa apa. Tapi, jangankan untuk menjawabnya bahkan untuk menggerakkan kepalanya untuk menggeleng saja Nuril tidak sanggup.


Memalukan. Nuril terus merutuki dirinya sendiri, yang masih saja tidak bisa menghilangkan beberapa kenangan di masa kecilnya yang bercampur aduk jadi satu. Benci tapi rindu, Rindu tapi dendam. Seperti itulah yang di rasakan Nuril terhadap Mas Ainya.


"Ju." Kata Bunda Ikah dengan mengelus bahu Nuril pelan. "Eh, kenapa.?" Bunda Ikah ikut berjingkat kaget karena Nuril yang juga berjingkat saat tangan Bunda Ikah menyentuh bahunya.


"Tidak ada Bunda, Juju hanya capek." Senyum kaku coba Nuril ulas, dan hendak melanjutkan kata katanya untuk pamit menuju mobil dimana kedua orang tuanya tengah menunggu. Namun, baru saja Nuril hendak membuka mulutnya Abi Farid sudah terlebih dahulu menanyai seseorang yang berhenti di belakang tubuh kaku Nuril.


Seketika dada Nuril seperti mendapat pasokan berpuluh puluh kubik Oksigen, begitu nama yang di sebut oleh Abi Farid bukan nama seseorang yang membuatnya ingin segera kabur dari tempatnya. Ternyata Nuril hanya terlalu paranoid, dan seseorang yang berdiri di belakangnya bukanlah Mas Ainya, melainkan Kang Santri yang di suruh oleh Mas Ainya menyampaikan bahwa Mas Ainya tidak bisa ikut pualng saat ini, lantaran Mas Naufal menyuruhnya untuk tinggal menemani Mas Naufal sementara waktu.


Nuril langsung menghembuskan nafas leganya, dan itu tidak luput dari pandangan Bunda Ikah, yang merasa heran dengan tingkah Nuril, yang seperti terlepas dari beban yang berat. Dan setelah berbincang sebentar Nuril pamit, dengan pelukan hangat Bunda Ikahpun melepas kepergian Nuril sembari terus bertutur pelan kepada Abi Farid mengenai pilihan yang di buat untuk Putra semata wayang mereka tidaklah salah.


Sampai di dalam mobil, Nuril kembali menghela nafasnya dalam dalam untuk mengambalikan ketenangan pada dirinya. Namun, ketenangan belum di dapat malah olokan sudah terlebih dulu menyambut Nuril. Hingga membuat Nuril jenggah dan malas untuk meladeni olokan kedua orang tuanya terhadap dirinya, dan memilih membuang pandangannya jauh ke luar kaca mobil.


Malam datang dengan membawa hawa dingin khas pegunungan. Suara suara yang khas pedesaan juga tidak kalah membuat suasana menenangkan. Nuril baru saja ingin beranjak dari sajadahnya setelah rutinan panjang setiap harinya yang selalu dia lakukan untuk menjaga apa yang telah ada dalam dirinya. Al-Qur'an kecil yang selalu di bawanya juga baru saja Nuril letakkan ketika pintu kamarnya di buka dan tampak kepala Pacar Sempurnanya yang menyumpal di balik pintu.


"Ju, buatin Papa kopi." Kata Papa Nuril


Nuril menoleh sekilas sebelum ahirnya menjawab perkataan Papanya. "Tumben bener. Mencurigakan." Kemudian Nuril kembali fokus ke arah rak buku dan memilih beberapa buku.


"Papa kangen ngobrol sama kamu. GPL ya. Papa tunggu di Gazebo belakang." Jawab Papa Nuril lantas beranjak meninggalkan tempatnya.


Nuril bergegas menuju dapur sembari membawa dua Novel yang sudah lama dia beli tapi belum sempat di bacanya. Sembari menunggu air mendidih mata Nuril sesekali melirik kue yang siang tadi di bawakan kepadanya dari rumah Bulek Rany saat mereka mampir setelah pulang dari acara nikahan Mas Naufal.


Mata Nuril juga tidak luput memperhatikan beberapa bahan bahan kue serta sembako yang sedikit berlebih dari biasanya, bahkan cendrung agak berantakan. Ini sangat tidak wajar. Bisik hati Nuril, namun hanya terhenti disana saja. Lantaran Nuril sadar usia Mbah Utinya tidak lagi muda, juga pasti capek karena seharian sibuk di rumah Bulek Rany. Bisa jadi juga saat ini beliau belum pulang dari rumah Bulek Rany, untuk mempersiapkan acara ngunduh mantu besok pagi.


Besok pagi aku akan bantu bersih bersih. Putus Nuril dalam hati sambil menyeduh kopi dan dengan cekatan dua cangkir kopi sudah berpindah ke nampan kecil lantas di bawanya melangkah ke luar lewat pintu samping yang memang sedari tadi terbuka.


Nuril seketika merapatkan jaket yang di kenakannya, setelah meletakkan nampannya. "Mama ada di rumah, berarti Mbah Uti di rumah Bulek Rany sendirian saja.?" Ucap Nuril lantas berbalik.


"Ju, duduk dulu. Papa tadi kan sudah bilang mau ngobrol sama kamu." Tegas Papa Nuril.


"Iya, Mama juga." Mama Nuril ikut ikut bersuara.


"Iya bentar. Uwi ambil buku sekalian buatin teh untuk Mama." Jawab Nuril sambil lalu, dan tak lama setelah itu sudah kembali dengan membawa Novel yang di taruh di atas kepalanya dan tangannya membawa cangkir teh.

__ADS_1


Kedua orang tua Nuril menggeleng pelan melihat tingkah putri mereka. "Ini namanya melatih ketangkasan, jadi jangan terlalu heran." Ucap Nuril seperti tau saja apa yang sedang di pikirkan oleh kedua orang tuanya. "Ini Nyonya tehnya, sedikit gula dengan perasan lemon. Di jamin nagih." Lanjut Nuril dan dengan cepat mengambil posisi duduk di samping pacar sempurnya.


"Terima kasih chef Juju." Ucap Mama Nuril dengan segera meraih cangkir tehnya dan menghirup kuat kuat aroma tehnya. "Sempurna." Lanjutnya lantas sudah menyeruput sedikit dan kemudian segera tersenyum sembari menatap Nuril.


"Dulu saat Mama mu seusia kamu. Kami mulai saling mengenal dan mulai dekat. Bukan begitu, Ma." Tutur Papa Nuril pelan, dan di angguki oleh Mama Nuril. Tangan Papa Muril sudah meraih tempat makan ikan lantas menaburkannya perlahan ke kolam yang berada di samping Gazebo dengan beberapa jenis ikan yang sudah berebutan memakannya.


Nuril menghela nafas dalamnya, kemudian menutup kembali lembaran Novel yang untuk sesaat tadi sudah di bukanya. Dan kemudian mulai fokus mendengarkan cerita kedua orang tuanya yang tengah membahas kenangan indah mereka berdua saat menjalin kasih. Setelah cukup lama Nuril mendengarkan, ahirnya Nuril kini faham di giring kemana arah pembicaraan mereka berdua.


Senyum seketika menghilang dari bibir Nuril, saat keputusan telak yang di buat oleh Papanya Nuril tidak bisa di ganggu gugat olehnya bahkan Nuril tidak memiliki hak untuk menolaknya lantaran janji yang pernah di ucap Nuril, sebelum dirinya memutuskan untuk masuk ke Akpol sebagai harga atas dukungan pilihannya yang harus di setujui oleh orang tuanya.


Tapi, Nuril tidak pernah menyangka. Bahwa apa yang di minta oleh kedua orang tuanya adalah hal yang membuat dirinya harus terjabak dengan cerita masa kecil yang mungkin saja akan terulang ketika dirinya bertemu kembali dengan Mas Ainya..


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gamis Syar'i warna Wardah degan aksen bunga sakura warna Pink membalut tubuh tinggi Nuril, Jilbab lebar polos warna senada dengan dasaran gamisnya, menambah kecantikan Nuril semakin terpancar. Tapi, wajah Nuril sama sekali tidak berseri selayaknya orang orang yang mengerumuninya. Semua begitu tampak begitu bahagia, dengan keputusan Nuril yang menerima perjodohan ini. Bahkan semua sangat bersemangat menyiapkan segala sesuatunya.


"Jika, kamu punya pilihan. Papa dan Mama tidak akan melarang, Ju. Bawa pilihanmu itu kemari Papa akan lihat apa cukup pantas dia merebut posisi pilihan Papa." Kembali ucapan Papa Nuril malam kemarin terlintas di kepalanya.


"Bukan kerena Bunda Ikah atau Abi Farid yang jadi patokan kami. Tapi, Mama melihat sendiri bagaimana Mas Aimu saat ini." Timpal Mama Nuril.


"Paaa...." Hanya satu kata panjang itu yang bisa keluar dari bibir Nuril sebagai bentuk protes dirinya kepada kedua orang tuanya.


"Kamu punya pilihan, dan yakin sebaik Gus Ali.?" Tanya Papa Nuril dengan serius. Dan seumur umur baru kali inilah Papa Nuril sangat serius dengan Nuril.


"Maksudnya apa, mengangguk kemudian menggelang.?" Tanya Mama Nuril.


"Ju. Katakan, Papa tidak pernah memaksa kamu, jika yang kamu pilih memang lebih baik Papa tidak akan keberatan." Ucap Papa Nuril dengan meletakan tangannya di bahu Nuril.


Dengan terbata Nuril menjelaskan satu rahasia yang selama ini selalu di simpannya rapat rapat. Rasa yang belum pernah di sampaikan kepada siapapun dan hanya di rapalnya lewatlt do'a semata, berharap dengan mendekati penciptanya cintanya akan sampai kepada ciptaannya.


"Lalu.?" Tanya Papa Nuril.


"Tidak ada lalu, hanya sebatas itu saja. Papa kira Uwi akan nyatain rasa Uwi sama Ustadz Salman. Nuril cukup tau malu, Pa. Meski tidak ada salahnya juga wanita melamar lebih dulu terhadap Laki-Laki." Jawab Nuril dengan menahan air mata yang sudah hendak menetes begitu saja, saat menyadari bahwa rasa yang di tanam di dalam hatinya sekian tahun, ahirnya hanya berahir bertepuk sebelah tangan saja.


"Bukankah Sayidatina Siti Khodijah juga seperti itu." Ucap Papa Nuril, dengan mengangkat wajah Nuril yang tengah tertunduk dan kemudian meraih Nuril dalam dekapan hangatnya.


"Tapi Uwi, bukan Siti Khotijah, Pa. Uwi hanya putri Papa yang memiliki banyak kekurangan." Kata Nuril Pelan.


"Bukan banyak kekurangan, hanya saja Ustadz Salman mu tidak bisa melihat kelebihan Juju kami." Tutur Mama Nuril ikut membelai punggung Nuril pelan. "Buktinya Abi Farid dan Bunda Ikah sudah beberapa kali datang kepada kami untuk Putra mereka, kalau mereka tidak begitu yakin kamu mampu bersanding dengan Mas Aimu tentu saja mereka tidak akan terus mendesak kami, Ju." Lanjut Mama Nuril.


"Tapi, kenapa mesti Mas Ai sih. Kenapa tidak yang lain." Ucap Nuril kembali menegakkan tubuhnya.


"Ya mungkin jodoh mu memang adalah dia." Jawab Mama Nuril.

__ADS_1


"Percaya kepada kami, Ju. Dia pasti yang terbaik. Bukankah itu menyenangkan berjodoh dengan teman sendiri sewaktu kecil." Ucap Papa Nuril.


"Maksud Papa apa. Papa masih ngarep jodoh Papa teman masa kecil Papa." Timpal Mama Nuril dan seketika membuat Papa Nuril gelagepan. Dan Nuril tidak tau persis siapa yang di maksud oleh Mama Nuril, yang Nuril tau sedari kecil Mamanya akan cemburu hanya dengan kata kata teman sewaktu kecil.


"Baik, Uwi bersedia. Tapi, Uwi hanya bisa setuju untuk bertuangan saja, entah nanti akan seperti apa kedepannya, Uwi tidak bisa menjamin." Ucap Nuril setelah perdebatan panjang dirinya dengan kedua orang tuanya.


Dan ahirnya inilah hasil keputusannya malam itu. Dirinya duduk di depan meja rias dengan wajah sendu memikirkan keputusan yang tidak seharusnya di buatnya dengan gegabah. Cuma karena mengingat bahwa Ustadz Salmannya juga sudah bertunangan.


Nuril terus mondar mandir di dalam kamar, dan sesekali pikiran untuk kabur dari acara pertunangan juga tidak kalah ikut bersuara dalam hatinya. Bahkan juga sudah menggiri g otaknya untuk berfikir bagaimana menrealisasikan cara kaburnya, agar tidak di ketahui oleh keluarganya. Namun, bayangan wajah bahagia kedua orang tuanya saat Nuril menerima perjodohan ini tergambar jelas di matanya, hingga itu membuat ciut nyalinya dan tidak tega jika harus melihat wajah kedua orang tuanya menanggung malu karena dirinya.


Jam di ruang tamu sudah berdenting tepat sembilan kali, dan seharusnya tamunya sudah datang saat ini. Bahkan Mama Nuril juga sudah beberapa kali memeriksa penampilan Nuril, dan berulang ulang kali juga sudah memberikan wejangan kepada Nuril. Dan ini kali ke empat Mama Nuril masuk ke kamar dimana Nuril berada. Namun, tidak sendirian melainkan bersama dengan Papanya.


Wajah sendu keduanya, membuat Nuril tidak bisa menahan rasa penasaran dan ingin segera tau apa yang gerangan yang membuat keduanya masuk dengan bersamaan. "Ada apa.?" Tanya Nuril ahirnya, saat keduanya hanya kompak diam sembari terus menatap Nuril yang masih duduk di depan meja riasnya.


"Ju, maafkan kami." Ucap Papa Nuril pelan kemudian merangkul hangat tubuh Nuril. "Pertunangannya di batalkan." Lanjut Papa Nuril dengan semakin mengeratkan pelukannya.


Nuril tidak tau harus bagaimana, harusnya dia bahagia akan hal ini. Karena tanpa harus berbaut apa apa, acara yang tidak di inginkannya batal dengan sendiringa. Namun, justru sebaliknya yang di rasakannya, hatinya merasakan kecewa, juga seperti di sayat luka kembali. Bukan karena apa apa, tapi melainkan karena ini kali ke tiga, Mas Ainya tidak menepati janjinya.


"Ju, mereka sedang berduka. Jadi, acaranya akan di ganti besok. Apa kamu bersedia menenunggu hingga besok." Kata Mama Nuril pelan.


Nuril menengadah, melihat wajah kedua orang tuanya, sejurus kemudian menggeleng pelan. "Papa dan Mama tau, ini bukan hal mudah untuk Uwi, dan Uwi juga harus segera kembali hari ini juga. Segala sesuatu yang di paksa tidak akan berjalan dengan sempurna, Papa dan Mama tau itu." Jawab Nuril diplomatis untuk penolakan yang sebenarnya sedari awal sudah di proteskannya.


"Ju, maafkan kami semua. Bukan maksud mereka seperti itu, hanya saja ini musibah tidak seorangpun yang tau kapan datangnya." Ucap Mama Nuril lagi.


"Ma, Uwi tidak mempermasalahkan hal ini, hanya saja ini kali keberapa Mas Ai tidak menepati janjinya sama Uwi. Mama pernah berfikir tidak kalau sebenarnya Mas Ai juga sebenarnya tidak menginginkan hal ini. Dan ini murni keputusan kalian sebagia orang tua." Kata Nuril dan membuat kedua orang tuanya terdiam. "Cukup, ini kali terahir Uwi berhubungan dengan Mas Ai, Pa, Ma. Tolong hargai keputusan Uwi." Lanjut Nuril, dan kembali hendak melanjutkan kemarahan yang sebenarnya di tujukan untuk seseorang yang tengah membuatnya berani mengambil keputusan sulit, namun lagi lagi harus kecewa.


Ponsel Nuril yang terus berdering, membuatnya menghela nafas untuk menetralkan segala rasa yang campur aduk menjadi satu. Dan semuanya segera berubah saat dirinya menggeser tombol warna hijau dan sejurus kemudian sudah mengemasi segala barang barangnya setelah panggilan telefonenya berahir.


"Uwi, harus segera kembali ke Surabaya saat ini. Ada tugas mendadak, lagi cuti Uwi berahir sore ini." Ucap Nuril menjawab keheranan kedua orang tuanya lantas segera menyuruh kedua orang tuanya untuk mengantarkannya ke stasiun terdekat, dan kembali menambahkan kenangan yang tidak menyenangkan menganai Mas Ainya, Kampret Sarungannya, musuh bebuyutannya, juga sekaligus cinta masa kecilnya.


Bersambung...


####


Dan ternyata belum ketemu juga Ipda Nuril sama Gus Ali..🤭🤭🤭🤭


Like, Koment dan Votenya masih di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2