Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Budak Cinta.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jam dinding yang mengantung di ruang tamu kediaman Gus Ali menunjukan pukul 22.25 saat Gus Ali baru saja memasukan motornya ke garasi. Asrama asrama juga sudah sepi dari para Santri. Kalaupun ada beberapa santri yang masih berada di luar Asrama, itu sudah pasti mereka sedang berjaga.


Hujan sudah berhenti sedari tadi. Tapi, dinginnya masih tersisa dan membuat Gus Ali mengeratkan jaket yang di kenakannya. Tadi, sebenarnya Gus Ali berencana tidak pulang ke rumah ini. Hanya saja, begitu urusan yang di lakukan oleh Gus Ali sedikit mundur dari jadwal berahirnya, membuat Gus Ali memutuskan pulang ke rumah meski harus rela memutar cukup jauh lagi setelah sampai setengah jalan menuju rumah orang tua mertuanya.


"Kok sampai malam banget, Mas." Suara Bunda Ikah terdengar kwatir begitu Gus Ali membuka pintu utama rumahnya.


"Bunda kok belum tidur.?" Gus Ali balik bertanya, lantas dengan cepat meraih tangan Bunda Ikah di kecupnya dengan lembut.


"Masya'Allah Mas, dingin sekali tangannya. Nekat hujan hujanan ya.?" Perubahan nada suara Bunda Ikah membuat Gus Ali meraih tangan Bundanya dan membawanya untuk menangkup pipi Gus Ali. "Mas, ini tidak baik. Kenapa tidak menginap saja di rumah Mas Naufal." Lanjut Bunda Ikah.


"Besok pagi pagi sekali Ali kan harus menggantikan Abi." Sembari berkata Gus Ali terus saja mengusap usapkan tangan Bunda Ikah di pipinya. "Bunda kok belum tidur jam segini."


Terlihat Bunda Ikah menghela nafas dalamnya sebelum menjawab tanya Gus Ali. "Bunda menunggu sampean pulang." Jawab Bunda Ikah dengan nada datar.


"Maafkan Ali, Nda." Lirih ucapan Gus Ali merasa bersalah. "Tadi, habis dari acara Ali langsung ke suatu tempat dulu." Terlihat wajah Gus Ali bersemu merah, dan itu tidak luput dari penglihatan Bunda Ikah.


Senyum Bunda Ikah samar terbit begitu mendapati wajah putranya memerah serta senyum malu malu yang coba Gus Ali sembunyikan dari Bunda Ikah. Perlahan tangan yang sedari tadi membelai pipi Gus Ali, Bunda Ikah pindahkan ke bahu Gus Ali dengan menambah senyum yang penuh pengertian.


"Sudah berapa persen persiapannya.?" Tanya Bunda Ikah. Hingga membuat Gus Ali mengusap usap tengkuknya pelan untuk mengalihkan rasa malu terhadap Bundanya.


"Dingin, Nda." Ucap Gus Ali dengan cepat sudah memeluk Bunda Ikah dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Bunda Ikah.


Bunda Ikah terus mengusap punggung Gus Ali sembari terus tersenyum melihat tingkah malu malu putranya. "Jadi, sudah siap semuanya.?" Kembali Bunda Ikah mengulangi kata kata menggoda putranya.


"Semua karena Do'a Bunda." Deplomatis jawaban yang di berikan Gus Ali untuk Bundanya.


"Mulai besok kurangi bergadang, juga kesibukan sampean, Mas." Bunda Ikah mengurai pelukannya dan kembali menyentuh pipi Gus Ali. "Bunda kangen pipi sampean yang gembil kayak dulu masih kecil."

__ADS_1


"Itu bisa di atur, Nda. Kan vitaminnya sudah datang." Jawab Gus Ali sembari terkekeh pelan. "Ini sudah malam. Ayo, Bunda lekas istirahat." Lanjut Gus Ali dan meraih bahu Bunda Ikah di ajaknya naik ke lantai dua.


Berjalan ringan tanpa beban, Gus Ali terus merangkul bahu Bunda Ikah. Hingga, mereka sampai di depan kamar Bunda Ikah. "Bunda cepat istirahat." Gus Ali membukakan pintu kamar Bunda Ikah.


"Sampean juga lekas istirahat. Besok siang tau kan jadwalnya apa.?" Ucap Bunda Ikah dengan senyum penuh arti.


Gus Ali justru semakin melebarkan senyumnya dan berbisik pelan di telinga Bundanya. "Dia sudah ada disini."


Bunda Ikah melebarkan matanya tidak percaya. "Sejak kapan.?" Tanya Bunda Ikah.


"Tiga hari yang lalu." Jawab Gus Ali dengan wajah malu.


"Kok Bunda tidak di kasih tau. Jadi, sampean tadi nekat hujan hujanan karena Juju." Anggukan kepala pelan Gus Ali membuat Bunda Ikah tersenyum dengan leganya.


"Jadi, kapan Juju akan sampean ajak kemari.?"


"Itu tergantung Bunda besok." Jawab Gus Ali sembari mengecup kening Bunda Ikah pelan kemudian segera mendorong pintu di belakang Bunda Ikah. "Abi pasti akan cemburu. Lebih baik Bunda cepat masuk. Selamat malam." Sengaja sekali Gus Ali melakukan itu terhadap Bundanya.


Oleh sebab itulah, Gus Ali rela menerobos derasnya hujan demi Terang Bulan rasa Durian kesukaan Juju. Meski, karena itu Gus Ali harus menahan mual sepanjang jalan. Dan berahir di rumah Mas Naufal dengan terkapar beberapa menit sebelum ahirnya semua isi di dalam perutnya keluar semua.


Kalau di bilang cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Mungkin ini tidak akan sebanding dengan perjuangan Qa'is untuk Laila. Namun, bagi yang tidak tahan dengan bau si raja buah dengan kulit bergerigi tajam. Itu adalah ujian yang jauh lebih sulit daripada harus menghafal rumus Kimia.


Gus Ali memasuki kamarnya dengan perasaan lapang. Apa lagi saat mengingat senyum Juju yang tersirat tanpa penolakan terhadap Gus Ali, membuat Gus Ali bertekat bahwa besok Jujunya harus datang kerumah ini. Dan Gus Ali sudah punya rencana untuk itu.


Jangan di kira seseorang yang sedang jatuh cinta itu mampu menyembunyikan perasaannya begitu saja. Buktinya, Gus Ali. Hingga Gus Ali membaringkan tubuhnya, senyum Gus Ali tak pernah surut sedikitpun dari sana.


Padahal, jika Gus Ali mau menuruti hawa nafsunya. Bisa saja Gus Ali datang ke tempat Jujunya berada dan menghabiskan malam panjang bersamanya dengan membicarakan rencana indah masa depan mereka. Namun, Gus Ali tak ingin menggunakan status halalnya sebagai alat.


Sudah cukup bagi Gus Ali egois sekali, dengan menikahi Juju tanpa sepengatahuannya. Kali ini Gus Ali akan membalas keegoisan itu dengan memberikan kehormatan untuk kekasih halalnya sebuah Resepsi impian, lantas membawanya bersamanya dengan penuh cinta juga kemulyaan seperti yang selalu di beritahukan Bundanya kepada Gus Ali.


"Tidak ada satu kehormatan dan kemulyaan bagi seorang wanita, kecuali dirinya di bawa dengan cinta kasih dan restu, serta di berikannya tempat istimewa di sampingnya dengan selalu menghargai dan menghormatinya." Karena kalimat Bunda Ikah itulah, Gus Ali selalu tak ingin memaksakan inginnya kepada Juju, kecuali pernikahan secara diam diam.

__ADS_1


Dan inilah yang di sebut cinta bagi Gus Ali. Ketika seluruh yang ada di dada dan jiwa menderu menginginkannya, Gus Ali mampu bertahan untuk kehormatan orang yang di cintanya. Lantas, beginilah cinta yang di inginkan oleh Gus Ali. Demi rasa cinta kepada kekasinya yang tiada terkira dalamnya menghujam di dada. Gus Ali menekan seluruh egoisnya, dan rela menjadi budak atas cintanya dengan keihlasan yang dimilikinya.


Agar, kelak ada alasan bagi Gus Ali untuk tetap berada di sampingnya sebagai alasan yang tepat. Seseorang yang bisa di andalkan dan mengantikan cinta terhadap kekasih pertamanya. Seseorang yang memberinya alasan bertahan hanya lewat sebuah belaian lembut di helaian rambutnya dan meninggalkan jejak di keningnya.


"Aku rela menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu. Budak yang akan selalu setia terhadapmu. Budak yang tidak akan pernah menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri, kecuali senyum kebahagiaanmu. Aku rela menjadi budakmu atas ijin Allah, dan karena Allah juga aku menjadikanmu kekasihku." Tulis Gus Ali dengan keyakinan penuh, lantas mengirimkannya kepada Jujunya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Semua karena Kupie pahit ini mah.


Like,.Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2