
Happy Reading...
ππππππ
Halaman luas Pesantren mendadak menjadi ramai dan beberapa santriwan juga santriwati yang tadinya hilir mudik untuk sesaat menghentikan kegiatannya, lantas berfokus pada dua orang berbaju loreng lengkap dengan ransel besar di punggungnya yang baru saja memasuki area Pesantren.
Langkah langkah lebarnya pasti menyusuri pintu dhalem yang terbuka lebar, badan tegab dari mereka berdua semakin memukau para Santri yang kini sedang berbisik satu dengan yang lainnya. Kulit kecoklatan dengan otat yang menyumpal, di tambah dengan raut tampan tapi datar menambah daya tarik bagi kaum hawa di sekitarnya.
Misterius, seperti itulah kesan yang di tangkap dari salah satu pemuda berbaju loreng yang berjalan fokus tanpa memerdulikan bisik bisik di sekitarnya. Riaknya dingin, sedingin malam yang pekat tanpa bintang. Dan, senyum pemuda itu seketika terbit tatkala di ambang pintu keluarlah si empunya rumah, siapa lagi kalau bukan Gus Ali.
"Assalamu'alaikum.." Sapanya sembari menurunkan ransel di punggungnya, lantas segera melepas sepatu yang berlumuran lumpur.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Gus Ali lantas lekas merentangkan tangannya untuk menyongsong sang Prajurit. "Terahir bertemu sampean masih setinggi ini, Bang Yudha." Lanjut Gus Ali setelah mengurai pelukan mereka.
"Alhamdulillah, karena berkah do'a sampean juga, Mas Agus." Jawab Bang Yudha dengan kekehan pelan.
"Lama sekali tidak mendengar panggilan itu. Ayo, ayo masuk dulu." Gus Ali mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam.
"Apa kabar Prajurit ini. Sudah tau rasanya nai Tank.?" Gus Ali sibuk membuka tutup toples setelah mereka semua duduk.
"Seperti yang sampean lihat, Mas. Alhamdulillah." Jawab Bang Yudha dengan expresi yang jauh berbeda ketika di luar tadi, saat ini wajah Bang Yudha terliaht santai tidak sedingin tadi.
"Alhamdulillah. Semua keluarga di Semarang juga baik baik saja.?"
Bang Yudha tidak sekaligus menjawabnya dan terlihat berpikir untuk sejenak, sebelum ahirnya katanya keluar juga. "Semua yang masih tersisa disana, baik baik saja."
Gus Ali terlihat tersenyum meski kaku, karena Gus Ali sadar betul setelah kepergian Mbak Lalanya, disana hanya tertinggal Om Ghani dan keluarganya serta kembaran dari Lily. Kenapa seperti itu, karena dr.Rama memilih menenggelamkan dirinya dengan dalih pendidikan. Sedangkan Lily sendiri memilih tinggal bersama keluarga Papi Rusly.
"Jadi, ini Bang Yudha dari mana atau memang sengaja sekali menyempatkan datang kemari sebagai pembuktian bahwa sekarang sudah benar benar memiliki seragam itu dengan kehormatan." Sadar dengan suasana yang sedikit mendingin, Gus Ali segera mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Bisa jadi opsi terahir itu yang mendasar. Tapi juga karena saya dan kesatuan memang sedang dalam tugas di Kabupaten sebelah." Jawab Bang Yudha.
"Begitulah seorang prajurit jawabannya selalu logis." Merekapun ahirnya terlibat obrolan serius seputar profesi Bang Yudha ataupun hal lainnya, hingga Ning Kia masuk ke dalam dengan masih lengkap menggunakan seragam sekolahnya.
"Paman, Paman. Eh." Seketika suara Ning Kia segera di redam begitu menyadari bahwa Pamannya sedang ada tamu. "Ada tamu. Maaf, Paman." Lirih Ning Kia dan hendak berbalik namun segera di cegah oleh Gus Ali.
"Dhok Kia, sapa dulu Bang Yudhanya Kak Lily." Ucap Gus Ali, dan itu langsung membuat Ning Kia mengangkat kepalanya dengan antusias begitu sadar siapa tamu tersebut.
"Assalamu'alaikum, Bang Yudha. Apa kabar, apa kabar juga dengan Kak Lily." Tanya Ning Kia borongan dan seperti seakan tidak sabar menunggu jawaban dari Bang Yudha.
"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah baik." Jawab Bang Yudha dengan raut wajah yang tiba tiba berubah dan sulit sekali untuk di jabarkan, entah apa yang sedang dirasakannya ketika satu nama yang mati matian untuk tak di sebutkannya dalam do'a. Nama itu terlalu sakral baginya.
"Lalu Kak Lily." Kejar Ning Kia seolah belum puas dengan jawaban Bang Yudha.
"Semoga Lily juga baik baik saja." Lirih Bang Yudha.
"Kok semoga. Harusnya saat ini juga kelulusan buat Kak Lily kan.?" Kaget Ning Kia.
"Dhok, Bang Yudha sedang dalam tugas, dan tidak setiap waktu bertemu dengan Kak Lily. Dhok Kia tau sendiri kalau Kak Lily tinggalnya di Surabaya." Gus Ali mencoba menengahi. "Sudah sana, bilang sama Mbak Raudhoh untuk menyiapkan meja."
__ADS_1
"Baik, Paman. Oh iya, tadi Bulek Uwi telfon ke nomer Kia, katanya pulangnya agak terlambat." Kata Ning Kia sebelum menghilang di balik tembok pembatas.
"Seperti itulah anak anak, Bang Yudha. Dulu Bang Yudha juga seperti meraka yang selalu mengikuti Almarhumah Mbak Zilla. Tidak terasa kini sudah cukup pantas untuk menjaga anak gadis orang." Gurau Gus Ali yang sadar dengan perubahan sikap Bang Yudha begitu nama Lily di sebut.
Tidak terasa waktu terus merambat dengan cepat setelah makan siang bersama, dan setelah mempersilahkan agar Bang Yudha istirahat sejenak, kini dengan cepat matahari sudah sedikit condong ke barat. Bersamaan dengan persiapan kembali Bang Yudha, sebuah mobil putih masuk ke dalam halaman dhalem dan keluarlah sang ratu hati sekaligus ratu rumah tangga Gus Ali. Nuril.
Bisa di pastikan, jiwa Nuril merasa terpanggil dengan hadirnya dua Om Om Loreng, mengingat dulu Nuril pernah memiliki seragam kebanggaan meski tidak serupa dengan yang di kenakan mereka.
"Assalamu'alaikum." Ucap Nuril dengan lembut lantas segera meraih tangan Gus Ali dan menciumnya dengan takdzim. "Sudah dari tadinya tamunya.?" Tanya Nuril pelan kepada Gus Ali.
"Sudah harus lekas kembali ke kesatuan." Jawab Gus Ali tak kalah pelan.
"Bang Yudha perkenalkan ini Ratu Istana saya. Nuril. Dulu dia juga memiliki seragam kebanggaan seperti sampean. Tapi, sekarang sayalah yang menjadi kebanggannya." Ucap Gus Ali yang langsung mendapat cubitan dari Nuril.
Bang Yudha dan temannya terpana dengan tingkah Gus Ali yang langsung saja berubah begitu Nuril datang. Kharismatiknya seketika bertambah stok, yakni penyayang istri dan romantismenya membuat para jomblo tidak tau harus berbuat apa selain hanya berdo'a semoga lekas merasakan seperti yang di rasakan oleh Gus Ali.
"Jangan di dengarkan Om Yudha."
"Kok mesra banget, Om.?" Potong Gus Ali dan itu sukses membuat Bang Yudha tersenyum penuh arti dan sekaligus lekas menjawab ucapan Gus Ali.
"Bagi kami, panggilan Om adalah hal yang sangat biasa dan wajar, Mas." Jelas Bang Yudha.
"Saya paham, Bang Yudha. Hanya saja dengan sedikit rayuan akan semakin menumbuhkan cinta agar terus bergeliat. Suatu saat nanti sampean akan paham jika sudah di taklukan dengan sang ratu hati." Jawab Gus Ali dengan senyum yang semakin melebar dan lebih lebar lagi saat bibir kecil Nuril sudah mengerucut lucu.
"Sampean dari Semarang.?" Tanya Nuril tiba tiba, begitu menyadari salah satu atribut yang berada di ransel Bang Yudha.
"Bang Yudha itu adalah anak angkat dr.Rama." Jelas Gus Ali dan di benarkan oleh Bang Yudha dengan senyum hangatnya.
"Oh begitu, berarti kesini juga sama Lily.?" Ucap Nuril dengan nada tanya dan berbolak balik menatap ke arah ke Gus Ali dan Bang Yudha secara bergantian, karena wajah mereka tampak pelik dengan ucapan Nuril.
"Soalnya tadi saya papasan sama Lily di persimpangan jalan makam." Kekeh Nuril dengan wajah bingung seperti kedua orang yang berada di sampingnya.
"Mungkin sampean salah lihat. Tidak mungkin anak lima belas tahun bisa sampai kesini seorang diri.?" Ucap Gus Ali menyakinkan.
"Sungguh, saya malah sempat berhenti dan menyapanya. Dan masih sama seperti buasanya dia irit bicara." Papar Nuril dengan sungguh sungguh.
"Bang Yudha."
"Saya akan lekas menyusulnya." Ucap Bang Yudha dan segera pamit dengan tergesa gesa lantas memacu langkahnya berubah menjadi larian.
Gus Ali dan Nuril memandang kepergian Bang Yudha dengan tanya yang tak sempat tersampaikan. Tentang keperdulian, tentang perasaan menjaga, tentang rindu yang tersirat dimatanya. Namun, Gus Ali sadar akan rasa yang disimpan diam oleh Bang Yudha kepada Lily terah berubah tanpa disadari olehnya. Dan itu mengingatkan Gus Ali akan cinta sepihak yang dimilikinya dulu, ketika hanya mampu meneriakan segala rasanya lewat do'a. Mungkin Bang Yudha memilih diam karena dia belum menyadari akan perasaannya terhadap Lily.
Merangkul bahu Nuril dengan hangat, Gus Ali mengajak Nuril untuk segera masuk ke dalam istana mereka, dimana hanya ada seorang ratu dan raja. Dan meski istana mereka belum diramaikan oleh pangeran dan putri, tidak sedikitpun mengurangi kebahagiaan mereka berdua. Karena setiap diri dari orang itu membawa takdirnya masing masing, dan tugas manusia itu hanya berusaha menjadikan takdir menjadi berwarna.
Dan karena takdir yang belum memberikan penghias dari rumah tangga mereka, tidak lantas mengurangi cinta keduanya dan menjadi bahan untuk saling menyalahkan satu dan lainnya, lantas menghadirkan satu alasan untuk takdir yang baru. Setelah ikhtiar dan sabar, maka puncak dari segalanya adalah tawakal.
Semakin masuk kedalam, semakin erat tangan Gus Ali meraih bahu Nuril dan ahirnya menyandarkan ke dalam bahunya setelah tiba dimana hanya ada Gus Ali dan Nuril seorang.
"Aku tadi lihat daster bagus di depan stan bakso di utaranya pom bensin. Pokoknya besok harus sampean belikan." Gus Ali ternganga dengan ucapan Nuril yang tiba tiba. Bukan apa apa, karena ini lucu menurut Gus Ali. Karena biasanya Nuril akan manja seperti anak kecil saat bersamanya, tapi kali ini entah kenapa sepertinya sifat judes Nuril tiba tiba kambuh. Persis seperti saat mereka baru tau bahwa Gus Ali adalah Mas Ainya.
__ADS_1
"Jawab Mas Aii.." Rengek Nuril katika Gus Ali belum menjawabnya.
"Tadi kenapa tidak di beli." Jawab Gus Ali.
"Maunya sampean yang beliin. Pokonya besok harus di beliin dan warnanya maunya pink bunga bunga." Kata Nuril dengan sudah kembali bertingkah manja.
"Memang dimana sampean lihatnya.?" Tanya Gus Ali.
"Kan tadi sudah aku bilang, di utaranya POM. Depan stan Bakso. Besok sampean kan lewat sana." Ucap Nuril lagi dengan mode nada ketusnya.
"Iya baik, besok ingatkan ya." Ucap Gus Ali sembari hendak mencuri ciuman dari Nuril seperti biasanya, namun kali ini Nuril lebih peka dan segera menghindar dengan cepat serasa berdiri dan lekas masuk kamar mandi.
"Tadi kenapa malah nelfon Ndhok Kia, bukan telfon saya.?" Tanya Gus Ali ketika Nuril sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"Males denger suara sampean." Jawab Nuril santai dan itu sukses membuat tangan Gus Ali yang tadinya hendak menopang dagunya seketiak terjatuh di sertai dengan wajah melongo karena Nuril masih saja tak perduli dengan Gus Ali...
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
βΊοΈ: Ih, masih bersambung aja Mak.?
π: Iya dung kan masih mau mengotewekan Gus Ryan..π π π π . Pokok sabar saja.
βΊοΈ: Wokey wokeylah, akan sabar menunggu Emak yang suka mut mutan. Beteweh kok ada Bang Iyudnya Lily sih Mak.
π: Tau aja kalau Emak manis kayak mut mutan. Bang Iyud yah. Ya, kan Emak emang demennya gitu.
βΊοΈ: Hadeh, sakterahmu wes Mak, kulo pun manut dalane..
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
ππππππ
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1