Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Sudah saatnya.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jam di dinding menunjukan pukul 23.00 wib. Namun Gus Ali masih senantiasa duduk di meja belajarnya sembari terus memandang dua benda yang bersejarah sekaligus memberi rasa yang berbeda bagi dirinya. Sebuah kaca mata renang milik seorang gadis yang tidam di kenalnya sama sekali namun mampu membuat dadanya berpacu dengan sendirinya, dan sebuah boneka yang membuat Gus Ali masih di liputi rasa bersalah sekaligus sayang.


Setiap menatap Boneka kelinci di depannya Gus Ali akan menghela nafas dalamnya, karena terus teringat dengan percakapannya tadi siang dengan Pakde Taufiq juga Bude Anne yang membahas tingkah Juju yang menolak dengan tegas saat di ajak kemari, dan alasannya hanyalah karena tidak ingin bertemu dengan Gus Ali.


"Salahnya Gus, kenapa Mamanya Juju bilang kalau Mas Ainya sedang berada dirumah. Coba saja, kalau Mamanya Juju enggak bilang semalam pasti anak itu sekarang sedang duduk disini." Ucapan Pakde Taufiq berhasil membuat Gus Ali menghela nafasnya dalam dalam, mengingat betapa Juju sangat membencinya.


"Ya, memang belum saatnya mereka berdua untuk bertemu." Jawab Abi Farid.


"Iya, kalau ketemu sekarang bisa babak belur Mas Ai di hajar sama Juju." Timpal Bude Anne.


"Masak sih An, Juju bisa menghajar orang. Setahuku dia anak yang kalem." Ucap Bunda Ikah.


"Itu dulu, Fik. Dia banyak berubah sejak Tujuh tahun terahir ini. Kabur dari Pesantren berapa kali saja, itupun cuma untuk hal remeh banget." Turur Bude Anne lagi.


"Bener itu, lha tak kira dia masih pendiam kayak dulu." Bunda Ikah berkata sambil menatap ke arah Gus Ali yang masih saja diam sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Entah lah Fik, aku bingung kalau ngomongin anak itu. Tapi, dia juga tidak pernah bikin kami sebagai orang tua kecewa meski dia suka semaunya sendiri." Ucap Bude Anne seperti sedang berfikir keras sekali.


"Mungkin itu cuma di buat topeng saja." Jawab Bunda Ikah sembari mengelus punggung sahabatnya sejak SMP itu.


"Lalu bagaimana dengan hafalannya." Tanya Abi Farid kepada Pakde Taufiq.


Pakde Taufiq tersenyum sebentar ke arah Abi Farid juga Gus Ali yang senantiasa diam menjadi pendengar. "Insya'Allah masih terjaga sampai kini." Ucap Pakde Taufiq.


"Alhamdulillah, semoga akan terus terjaga sampai datang keyakinan bagi kita semua." Ujar Abi Farid.


"Amin, matur suwun pandongane, Gus." Ucap Pakde Taufiq.


Mereka terus mengobrol kesana kemari, sedang Gus Ali sibuk sendiri mendripsikasikan bagaimana Juju saat ini. Rambutnya yang kriting besar besar, giginya atas yang ompong, serta matanya yang lucu selain itu Gus Ali tidak menemukan lagi dalam ingatan Gus Ali, kecuali wajah Juju yang membiru saat di angkat dari kolam renang oleh Kang Santri dan di bawa ke rumah sakit segera oleh Abi juga Bundanya.


"Mas, bukan begitu.?" Tanya Bunda Ikah.

__ADS_1


Gus Ali yang tidak mendengar ucapan Bunda Ikah langsung tergagap dan menutupinya dengan senyum tipis. "Insya'Allah Bunda." Semua orang tersenyum mendengar jawaban Gus Ali, terutama Bunda Ikah.


Gus Ali kembali menghela nafasnya dalam, bahkan sangat dalam saat mengingat ucapan terahirnya kepada Bundanya siang tadi. Andai saja dia menyimak sebelumnya pasti Gus Ali tidak akan memberi jawaban yang membuat Bundanya memiliki harapan atas perjodohan yang sesungguhnya sangat di paksakan bagi dirinya terlebih untuk Juju.


Gus Ali sadar sepenuhnya, tidak ada satu kebetulan atas ucapan yang keluar tanpa sengaja ataupun apapun itu yang sedang bergerak mendekati takdir. Namun, Gus Ali masih merasa belum yakin, terlebih yakin pada dirinya sendiri akan mampu membimbing hati orang lain, karena hatinya saja masih bercabang pada pemilik Kaca Mata renang.Ya, mungkin waktu dua tahun itu akan cukup baginya untuk menetapkan pilihan.


Gus Ali kembali melirik jam di dinding yang mengantung, lantas bangkit dari duduknya dan bergegas berjalan menuju kamar mandi, mengambil Wudhu lantas segera tenggelam dalam sujud panjang yang terus berulang ulang untuk meminta petunjuk atas kegelisahan yang mendera hatinya, hingga sujud itu usai dan Gus Ali tenggelam dalam dzikirnya yang panjang di saat semuanya tengah terlena dan terbang ke alam mimpi.


Gus Ali kembali ke meja belajarnya dengan perasaan ringan dan mengambil kedua barang tersebut, lantas menuju ke tas yang sudah di persiapkan untuk kepergiaannya besok pagi dan memasukan Kaca Mata renang itu ke dalamnya sembari berkata pelan. "Ini sudah saatnya, aku mencari pemilikmu, sebagai jalan untuk ketenangan hatiku untuk beribadah." Lantas Gus Ali menyimpan Boneka Kelinci di tempatnya kembali seperti tahun tahun sebelumnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi datang kembali, membawa serta Gus Ali pada penghujung cuti seminggu yang di ajukan olehnya, dan juga sudah bersiap-siap hendak kembali ke Surabaya. Gus Ali baru saja hendak keluar dari kamarnya saat Bunda Ikah sudah berada di ambang pintu untuk melihat persiapan putra semata wayangnya.


Bunda Ikah tersenyum melihat senyum tipis tanpa beban yang di sungingkan oleh Gus Ali, lantas mengelus punggungnya pelan untuk menyapa Gus Ali yang belum menyadari keberadaan Bunda Ikah yang berada di sampingnya.


"Mas, kelihatan bahagia sekali." Ucap Bunda Ikah dengan mengulas senyumnya.


Gus Ali mengehembuskan nafas beratnya masih dengan lengkungan di sudut bibirnya, lantas segera memeluk Bunda Ikah sampai mengangkatnya pelan hingga membuat Bunda Ikah memekik kaget. "Mas."


"Saat ini juga akan sama, jika melihatnya." Ucap Bunda Ikah dengan menyentuh pipi putranya. "Apa Bunda boleh tahu, alasan senyum sampean hari ini. Apa itu ada hubungannya dengan Juju." Lanjut Bunda Ikah.


Senyum Gus Ali memudar untuk sesaat mendengar nama Juju di sebut, lantas mengajak Bunda Ikah untuk duduk di ranjang besarnya. "Jika, Ali bilang itu bukan karena Juju apa Bunda akan kecewa.?" Tanya Gus Ali pelan. Untuk sejenak suasana menjadi hening, dan senyum Bunda Ikah juga ikut menghilang untuk sesaat.


"Nda, Ali sedang berusaha menetapkan hati Ali. Dan jawaban atas Istikharah Ali semalam bukan Juju, melainkan orang lain yang sudah berada dalam hati Ali." Ucap Gus Ali pelan dengan menatap Bunda Ikah lembut, lantas di sungingkanya senyum untuk Bunda Ikah.


Gus Ali berfikir, mungkin tidak ada salahnya jika hari ini Gus Ali membagi rahasia yang telah begitu lama di pendam seorang diri, apa lagi itu dengan Bundanya yang selalu mendengarkan segala keluh kesahnya sedari kecil. Dan mencintai itu bukan hal yang berdosa, karena mencintai itu juga manusiawi di rasakan oleh seseorang.


Bunda Ikah terus menatap Putranya yang menceritakan perasaan yang aneh untuk seseorang yang tanpa di tahu siapa namun hati memberi aba-aba untuk mengenangnya, dan itu membuat sekelibat perasaan sentimentil menguasai Bunda Ikah mengingat masa mudanya yang rumit dengan Abi Farid, juga sekaligus seseorang yang membuat dada Bunda Ikah berdegub lebih kencang dari sebelumnya.


"Mas, sejujurnya Bunda menginginkan Juju yang bisa menemani sampean, menjadi penenang bagi hati sampean, juga menjadi bidadari yang akan menemani sampean hingga ke Syurga, namun jika Mas Ali begitu yakin atas gadis itu Bunda tidak bisa apa apa selain mendo'akan bahwa itu adalah yang terbaik untuk sampean." Ucap Bunda Ikah.


Bunda Ikah sadar dan juga tahu, bahwa ini adalah rasa yang pertama buat Putranya. Dan seperti kesepakatan pembicaraan kemarin bahwa baik Bunda Ikah ataupun Abi Farid memberi kebebasan untuk Gus Ali memilih gadis pilihannya asalkan memiliki ke unggulan yang masuk dalam kretria keluarganya. Dan Gus Ali pasti akan bijak dalam memilihnya tidak sekedar mencomotnya sembarangan.


"Memang bisa lari kemana jodoh itu, Nda.? Selagi namanya yang tertulis untuk Ali di Lauhul Mahfudz, maka sejauh apapun Ali lari pasti akan kembali lagi padanya." Ucap Gus Ali sambari memberikan senyum tipis untuk Bundanya. "Jodoh itu seperti rumah, Nda. Dan sejauh manapun Ali pergi pasti akan kembali lagi kerumah bersama Bunda." Lanjut Gus Ali berupaya menenangkan Bundanya.

__ADS_1


"Tapi Mas." Potong Bunda Ikah dan mengenggam tangan putranya dengan erat, seperti ada sebuah ketakutan tersendiri dari genggaman erat itu meski tidak terucap lewat kata.


"Bunda tidak perlu kwatir tentang itu, secinta cintanya Ali pada dunia, semua alasanya masih karena Allah semata." Ujar Gus Ali dengan kembali menyungingkan senyumnya kepada Bunda Ikah.


Bunda Ikah membalas senyum Gus Ali lantas memindahkan tangannya ke arah pipi Gus Ali dan membelainya pelan. "Bunda percaya seratus persen tentang itu pada sampean, Mas. Tapi." Bunda Ikah menjeda ucapannya dan memandang putranya dengan lekat.


"Tapi apa, Nda." Gus Ali menjawab sambil meraih tangan Bunda Ikah yang masih berada di pipinya dan membawanya ke hadapannya dan menciumnya berulang ulang untuk memberikan kepercayaan pada Bunda Ikah bahwa apapun yang di sampaikan oleh Bunda Ikah akan di dengar dan di cermati olehnya sebagai pertimbangan.


"Mencintai seseorang pertama kali itu ibarat sampean berjalan di atas tanah berlumpur. Karena, sampean akan sulit hanya sekedar menghapus jejaknya, meski tidak ada alasan sampean untuk tetap mengingatnya." Ucap Bunda Ikah, dan membuat senyum Gus Ali semakin melebar saja.


"Bagaimana mungkin Ali tidak memiliki alasan untuk tetap mengingatnya, Nda. Karena, cinta petama Ali habis untuk mencintai Bunda." Ucap Gus Ali sembari meraih tubuh Bunda Ikah dalam pelukannya. "Dan jika pada ahirnya Ali harus menyerah tentang jawaban Istikharah Ali, maka menerima pilihan Abi juga Bunda bukan hal yang jelek juga, tapi juga tidak bisa di katakan baik juga, lantaran harus Juju yang crew., ahh sakit, Nda." Lanjut Gus Ali namun segera di cubit oleh Bunda Ikah, saat Gus Ali sudah hendak mulai membuat Bundanya merasa kesal dengan menjelek jelekan kandidat utamanya.


"Jangan di teruskan, Mas. Juga jangan terlalu berlebihan jika menjelekan calon mantu Bunda, nanti kalau jatuh cinta malunya bisa lama." Ucap Bunda Ikah sembari berdiri. Dan Gus Ali semakin mengencarkan cecarannya terhadap Juju kecil yang masih di ingat oleh Gus Ali.


"Sudah, Mas. Sudah saatnya untuk pergi, Mas Nayif pasti sudah menunggu sampean di bawah." Ucap Bunda Ikah, dan dengan senyum manisnya Gus Ali kembali meraih tubuh Bunda Ikah dalam dekapannya, lantas mengambil tasnya yang masih tergletak di samping ranjangnya.


Di tepuknya tas Gus Ali dengan senyum tipis yang masih senantiasa membingkai di bibirnya lantas bergumam pelan. "Sudah saatnya kamu kembali ke pemilikmu."


Bersambung....


####


Nuril apa Juju.?


Gus Ali yakin Nuril, tapi Abi Farid dan Bunda Ikah yakin Juju.


Lantas pembaca yakin sama Emak..🤭🤭🤭🤭


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2