Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Melelehnya hati.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kabut putih turun bersama dengan gerimis tipis, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Oktober, dimana musim seharusnya panas di Desa kelahiran Pacar Sempurna Nuril. Dan lihatlah sekarang, musim seolah ikut berubah sejalan dengan perasaan Nuril.


Membuka jendela lebar lebar, Nuril membiarkan angin dingin membelai wajahnya, dan berlahan mengulurkan tangannya untuk menyentuh tetesan demi tetesan air hujan. Senyum kecil menyungging di bibir ranum Nuril, juga menyerikan wajahnya di balik pemikiran yang berterbangan jauh ke sebuah rumah nan asri di bukit yang beberapa hari lalu Nuril lihat dari kediaman Mbah Uti Nuril, ketika Nuril baru saja sampai di tanah kelahiran kedua orang tuanya.


Membayangkan menghabiskan waktu di rumah asri dengan pemandangan buah buah segar yang bergelantungan di pohonnya, serta kehangatan bersama keluarga membuat Nuril tak henti hentinya tersenyum penuh misteri. Namun, begitu tujuan kedatangannya kemari belum sampai kepada yang memberi alasan kemari, membuat Nuril menyimpan kembali senyum di bibirnya.


Tiga hari sudah Nuril berada di tanah kelahiran orang tuanya dan selama itu pula Nuril belum melihat batang hidung seseorang yang telah membuat Nuril begitu berani meninggalkan cita citanya tiga bulan lalu. Jangankan, mendatanginya secara langsung, untuk menelfonya saja Nuril tidak berani, meski di hatinya begitu ingin.


Dan yang menyebalkan lagi di hati Nuril begitu merindu dendam sosok yang selama tiga bulan ini sama sekali tidak memberinya kabar. Rindu itu sangat kejam. Kangen itu begitu menyiksa ulu hati. Seakan menguras kantong empedu, hingga membuat hati Nuril tawar dari racun mematikan berupa siksaan cinta.


Kabut semakin menebal, hawa dingin juga semakin menggila seiring dengan beranjaknya sore. Hingga tangan Nuril yang tadinya terulur bermain air, kini memeluk bahunya sendiri sembari sesekali mengelusnya pelan.


"Di tutup saja jendelanya, Cah Ayu. Nanti bisa bisa malah masuk angin." Suara lembut Mbah Ibuk Nuril membuat Nuril segera menoleh ke asal suara, dan mendapati Mbah Ibuknya tengah berjalan mendekat ke arah Nuril dengan senyum yang semakin melebar. "Sekarang seharusnya sudah masuk musim panas, entah kenapa kok masih seneng Rendeng (Musim Hujan.) Mana kabut juga ikut ikutan turun. Jadi makin dingin saja." Lanjut Mbah Ibuk Nuril.


"Alhamdulillah kebutuhan air melimpah, Mbah Ibuk." Tangan Nuril kembali terulur guna menutup jendela.


"Kalau soal air dari dulu di sini tidak akan pernah kekurangan, wong yo terah nek sikile Gunung Raung. (Namanya juga di kaki Gunung Raung.)." Mbah Uti Nuril merapatkan sweeter yang di kenakannya. "Sepertinya selimutnya nanti malam kurang tebal, Ju."


Nuril mengikuti arah pandang mata Mbah Ibuk yang tengah berfokus pada selimut yang menumpuk di ujung ranjang Queen size milik Nuril. "Nanti biar Uwi kelon sama Mbah Ibuk saja biar anget." Ucap Nuril sembari memeluk tubuh renta Mbah Ibuknya.


"Mana boleh seperti itu." Nuril semakin mengeratkan pelukannya, saat dirasakan tangannya di tabok pelan oleh Mbah Ibuknya.


Untuk sejenak keduanya diam, dan menikmati suasana hening dengan pikiran masing masing, hingga Nuril kembali membuka kata mereka. "Mbah Ibuk, Papa dulu suka manja sama Mbah Ibuk.?" Tanya Nuril.


Mbah Ibuk Nuril terkekeh pelan. "Ayo, sini tak ceritakan masa kecil, Bapakmu itu." Jawab Mbah Ibuk Nuril.


"Sambil kerubutan selimut bakal enak Mbah Ibuk." Jawab Nuril dan dengan cepat sudah mengangkat tubuh Mbah Ibuknya ala ala pengantin.


"Ju, turunkan. Nanti si Mbah jatuh." Pekik Mbah Ibuk Nuril kaget.


"Uwi cukup kuat Mbah Ibuk." Dan Nuril segera mendudukan Mbah Ibuknya ranjangnya, sementara Nuril sendiri memutari sisi yang berbeda. "Gini kan enak." Lanjut Nuril begitu sudah menutup kaki keduanya dengan selimut.


"Kamu yang kayak begini persis sekali dengan Bapakmu." Di elusnya kepala Nuril, dan Nuril dengan sengaja menelusupkan kepalanya di ketiak Mbah Ibuknya dengan sangat manja.


"Papa waktu kecil nakal, Mbah Ibuk..?" Tanya Nuril sembari menikmati belaian tangan Mbah Ibuknya di kepala Nuril.


"Nakal, tidak juga. Tapi, suka sekali jahil. Apa lagi kalau sudah sama Bundamu." Kata Mbah Ibuk Nuril sembari memandang jauh ke depan.


"Maksudnya Bunda Ikah.?" Nuril menggerakan kepalanya menatap Mbah Ibuknya.

__ADS_1


"Iya, mereka itu teman dekat dari kecil."


"Kok bisa, Mbah Ibuk."


"Lha yo bisa tho. Wong Mbah Ibuk sama Ibunga Bundamu itu teman dekat. Dan secara tidak langsung mereka sering bertemu." Kenang Mbah Ibuk Nuril. "Dulu, Papamu senang sekali membuat Bundamu menangis, apa lagi saat masih umur 2-4 tahunan. Tapi ya itu, Papamu hanya jahil sama Bundamu seorang."


"Jahil gitu kok bisa di jadiin teman.?" Komentar Nuril.


Mbah Ibuk Nuril tertawa samar. "Kok ya teman, wong kamu saja bisa jadi Istrinya Gus Ali. Padahal Gus Ali juga jahilnya tidak ketulungan sama kamu." Bluss, wajah Nuril seketika memerah mendengar ucapan Mbah Ibuknya.


Istri, satu kata itu benar benar membuat Nuril ingin sekali tidak punya malu, lantas berlari begitu cepat kedalam pelukan seseorang yang telah mengahalalkannya dengan cara yang unik. Memberinya kebebasan, namun sekaligus mengikatnya dengan kencang. Seolah acuh, akan tetapi mendekat lewat do'a yang termunajatkan.


Aih, cinta itu memang tidak perlu harus di ungkapkan secara gamblang dan cinta juga tidak pula harus bersandingan. Namun, bersandingan sudah pasti membutuhkan rasa cinta. Dan kini Nuril baru menyadari, bagaimana cara Gus Ali mencintainya. Cinta yang di bingkai untuk Nuril benar tulus adanya sama seperti yang Nuril semai di dalam dadanya.


Karena sepenggal kalimat yang di ucapkan oleh Mbah Ibuk Nuril. Otak Nuril benar benar ambyar, dan rindu yang menggelora di dada seakan tidak ingin sabar menunggu hari berganti ataupun sekedar hujan agar berhenti supaya Nuril bisa berlari menuju tempat dimana Nuril bisa melepas rindunya, walaupun itu hanya sekedar menatapnya dari kejauhan. Memang, sakitnya cinta itu menghalangi kenikmatan.


Hingga perbincangan berahir di Adzan Mahrib, Nuril baru menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak fokus menyimak apa yang di ceritakan oleh Mbah Ibuknya, karena seluruh pikiran Nuril sedang di penuhi oleh sosok manis yang telah melahab habis rasa malunya.


"Jama'ah sama Mbah Ibuk di rumah saja, Ndhok." Teguran dari Mbah Ibuk Nuril itulah yang mengembalikan pikiran Nuril dan segera beranjak mengambil Wudhu.


Nuril masih asik membungkus separuh dari tubuhnya dengan selimut, sementara di tangannya masih terselip Al-Qur'an yang sesekali di bukanya sedang bibirnya terus saja komat kamit merapal ayat demi ayat yang melekat di otaknya. Adzan Isya' juga sudah usai berkumandang sedari tadi, tapi nyatanya secinta cintanya Nuril kepada Gus Ali, mesih bertempat pada posisi yang kedua. Buktinya, hingga kini Nuril masih berusaha sangat keras mengejar apa yang berusaha untuk di istiqomahkannya.


Hujan makin menggila di malam yang semakin larut, dan akan sangat syahdu jika menghangatkan diri dengan berkumal selimut. Namun, sayup sayup Nuril mendengar suara motor yang seperti berhenti di depan rumah Mbah Ibuknya, hingga membuat hati Nuril tergerak bangkit dari tempat nyamannya. Nuril ingin tau, siapa yang nekat berkunjung di hujan yang cukup deras ini.


"Ndhok sini." Panggil Mbah Kakung Nuril, begitu melihat sekelibat sosok Nuril.


"Enggeh, Kung." Dengan cepat Nuril menjawab dan bergegas mendekat ke arah Mbah Kakungnya.


Deg, dada Nuril seketika bertalu talu saat mata indah Nuril bertemu pandang dengan seseorang yang berada di depan pintu. Jas hujan berwarna silver yang di kenakan sangat kontras dengan helm warna hitam yang juga masih bertengger di tempatnya. Bibirnya yang membiru karena kedinginan, terlihat mengulas senyum manis, dan Nuril memprediksikan itu jauh lebih manis dari sebelum sebelumnya.


"Ini Gusse tak suruh masuk dulu tidak mau. Katanya keburu buru karena masih ada urusan." Keduanya seketika memutus pandangan begitu kalimat Mbah Kakung Nuril masuk di tengah tengah mereka. "Ini, dhok." Lanjut Mbah Kakung Nuril sembari memberikan bungkusan kresek berwarna hitam kepada Nuril.


"Nopo niki, Kung.?" Ucap Nuril, dan rasakan hangat di tangan Nuril.


"Ya kakung tidak tahu, tanya saja sama Suamimu." Ucap Mbah Kakung Nuril sembari melangkah menjauh dari kedua orang yang tengah sama sama diam mamatung.


"Gus, anu, itu monggo pinarak." Ucap Nuril salah tingkah.


"Nanti saja asal tidak di kunciin pintu. Aku masih ada keperluan di luar." Jawab Gus Ali sambil terkekeh pelan.


"Hujan hujan seperti ini.?" Tanya Nuril, dan kali ini terdengar kwatir.


"Itu kwajiban. Aku hanya mampir sebentar mengantar makanan kesuakanmu." Nuril mengintip makanan apa yang berada di balik kresek hitam di tangannya. "Cepat di makan mumpung masih hangat. Aku pergi dulu." Lanjut Gus Ali.

__ADS_1


"Gus." Nuril menggigit bibir bawahnya tidak berani memandang wajah yang begitu di rindukan di depannya.


"Iya, ada apa. Jangan merayuku untuk tetap tinggal, Ju." Mendengar ucapan Gus Ali, Nuril semakin menunduk, wajahnya semerah buah Naga yang matang sempurna.


"Hati hati." Lirih Nuril.


"Iya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam.." Gus Ali segera berbalik dan menyisakan Nuril yang masih terus berdiri di ambang pintu hingga motor yang di kendarai oleh Gus Ali menghilang di telan gelapnya malam.


Nuril senyum senyum tidak jelas sembari memeluk kresek yang masih terasa panas di tangannya. Dan kemudian semakin melebarkan senyumnya tatkala melihat isinya. Benar yang di katakan oleh Gus Ali, itu adalah makanan kesukaan Nuril, tetapi salah satunha apa yang paling di benci oleh Gus Ali. Terang bulan rasa Durian dan juga rasa Coklat.


Lelehan hangat Durian yang pecah di mulut Nuril, selaras dengan hati Nuril yang juga ikut meleleh oleh sikap Gus Ali, yang rela hujan hujanan demi makanan kesukaan Nuril. Padahal, Gus Ali akan mual jika mencium bau si raja buah tersebut. Namun, demi apa coba Gus Ali melakukan itu, jelas jawabannya karena cintalah. Di kira orang yang sedang jatuh cinta bisa merahasiakan perasaannya..?


Nuril masih asik menikmati Terang bulan terlezat yang pernah di nikmatinya, hingga keasikannya terganggu oleh suara ponselnya yang menginginkan segera di sentuh olehnya. Dan manisnya rasa Terang bulan di mulutnya semakin manis saja, saat tertera nama Gus Manisku tertera di benda pipih miliknya.


Nuril masih saja diam padahal layar di ponselnya sudah tersambung di sebrang sana. "Jangan lupa gosok gigi yang bersih, nanti kalau aku mau mencium mu biar tidak bau Durian."


Tut, tut, tut. Sambungan segera diputuskan sepihak oleh Nuril, karena bibir Nuril tidak mampu lagi menjawab hal kecil yang begitu manis dirasa. Dan ada sesal bagi Nuril, kenapa sebelumnya dia harus jual mahal, hingga membuat dirinya harus menahan rindu yang membiru. Andai Nuril tau dari dulu rasanya manis di gombali suami kayak gini, mending ikut saja dari tiga bulan lalu..


.


.


.


.


.


Bersambung....


####


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2