
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jam yang mengantung di dinding seakan menertawai mereka berdua yang masih asik dalam kebisuan setelah satu dua patah kata basa basi telah usai di tanyakan oleh Ustadz Salman kepada Ipda Nuril. Entah kemana perginya Nuril yang bawel saat bersama Pacar Sempurnanya tadi.
Bulir bulir keringat bahkan terlihat membasahi wajah mereka berdua yang berada dalam ruangan bersuhu dingin dengan AC, meski hawa panas datang dari pintu yang di biarkan terbuka oleh Ustadz Salman tadi saat masuk, namun seharusnya tidak sampai membuat kedua berkeringat begitu banyak. Kecuali jika keduanya tengah sama sama gugub.
Malam terus merambat di antara kebisuan mereka berdua, dan sama sekali tidak ingin kompromi dengan mereka yang sibuk dengan spekulasi hati masing masing. Hingga, sebuah kepala yang melonggok ke dari pintulah yang membuat suara kembali terdengar nyaring di tengah suasana kamar yang sepi itu.
"Ustadz Salman, sudah waktunya kembali."
"Enggeh, Gus Malik." Jawab Ustadz Salman, lantas dengan cepat sudah berdiri dari tempatnya duduk tidak jauh dari bangsal Ipda Nuril. "Semoga lekas membaik Ipda Nuril, kami mohon pamit dulu." Lanjut Ustadz Salman dengan gerak salah tingkah.
"Terima kasih Ustadz Salman. Terima kasih juga untuk parsel buahnya." Jawab Nuril dengan menambahkan senyum di sudut bibirnya. Ustadz Salman cukup salah tingkah dengan senyum yang di sungingkan Nuril hingga menggumam pelan sembari mengusap tengkuknya.
"Enggeh, semoga berkenan." Tatapan keduanya bertemu untuk sesaat, sebelum deheman pelan dari Gus Malik terdengar seperti alarm bagi keduanya. "Saya permisi Ipda Nuril, Assalamu'alaikum."
"Sangat berkenan Ustadz Salman, apa lagi kalau di beri kesempatan metik sendiri." Ucap Nuril dengan senyum yang tertahan menyiratkan pengharapan. "Hati hati di jalan Ustadz Salman, Wa'alaikumussalam." Senyum tertahan keduanya membuat Gus Malik mau tidak mau masuk dan membuyarkan pemandangan lucu beberapa saat itu.
"Semoga lekas sembuh Ipda Nuril, kalau tidak sembuh sembuh nanti saya yang gantian sakit." Ucap Gus Malik sedikit ambigu dan berhasil membuat wajah Ustadz Salman memerah menahan malu dan dengan cepat segera melangkah ke arah pintu terlebih dahulu. "Sungguh merepotkan berurusan soal hati." Lanjut Gus Malik dan berjalan mengekor di belakang Ustadz Salman setelah mengucap salam kepada Ipda Nuril.
Nuril terus saja memandang pintu yang tertutup rapat setelah kepergian Ustadz Salman, dan berusaha untuk kembali istirahat dengan memejamkan matanya, namun bayangan senyum jahil dari Mas Ainya berhasil membuatnya kembali enggan untuk menutup matanya.
"Menganggu sekali, semoga saja kamu terus saja tersedak sampai hidungmu memerah." Gumam Nuril. Kemudian mengalihkan memilih komat kamit mengurus deresannya sampai pintu kembali terbuka dan terlihat sosok Pacar Sempurnanya dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Tidak Fik, sepertinya dia buru buru." Pacar Sempurna Nuril meletakkan bungkusan di sebelah parsel buah Ustadz Salman dengan kernyitan kening dan mengalihkan tatapannya pada Nuril.
"Tidak juga, dia dan temannya." Kali ini Nuril memperhatikan Pacar Sempurnanya yang tengah serius dengan panggilan telefonnya. Dari gelegat serta cara bicara Pacar Sempurnanya, Nuril bisa menebak bahwa itu pasti Bunda Ikah, Bundanya si Kampret Sarungan.
"Jangan di kwatir lagi, Uwi baik baik saja. Tidak masalah itu, nanti kalau waktunya ketemu pasti ketemu tanpa kita nyuruh mereka bertemu." Nuril memutar matanya jenggah mendengar ucapan Pacar Sempurnanya, karena sepertinya misi perjodohan ini belum juga usai, meski sinyal tentang Ustadz Salman sudah Nuril kirimkan kepada Pacar Sempurnanya.
"Baik, baiklah. Salam untuk Gus Farid. Wa'alaikumussalam." Pacar Sempurna Nuril kembali mengantongi benda pipihnya, lantas menarik kursi di sofa kecil di samping bangsal dimana Nuril tengah terbaring.
"Apa..?" Nuril membuka kata terlebih dulu, setelah cukup lama Pacar Sempurnanya memindai wajah Nuril dengan penuh tanya.
"Itu dari siapa..?" Tunjuk Pacar Sempurna Nuril pada parsel buah yang berada di samping meja.
__ADS_1
Nuril mengulas senyumnya tipis di barengi dengan semburat merah muda di tulang pipinya. "Ustadz Salman." Lirih Nuril sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Entah kenapa mengakui seseorang yang di sukainya datang menjenguknya Nuril merasa sangat malu.
"Sekarang dimana dia.?, sama siapa dia datang.?" Cecar Pacar Sempurna Nuril.
"Sudah pulang."
"Kenapa tidak suruh tunggu Papa. Papa mau lihat apa dia cukup pantas untuk jadi saingan calon Papa."
"Kok jadi mau di banding bandingkan. Yang jelas pilihan Uwi pasti akan lebih baik." Sungut Nuril kesal, karena ternyata apa yang di pikirkan Nuril tentang Pacar Sempurnanya sebelum keluar kamar tadi salah besar. Alasan Pacar Sempurna Nuril ingin melihat pilihannya lantaran ingin membandingkannya dengan si Kampret Sarungan.
Keduanya diam sesaat, seperti kehabisan bahan perbincangan. Dan hening itu membuat Nuril berfikir keras tentang apa yang telah Nuril katakan kepada Pacar Sempurna Nuril kali ini apa cukup benar, mengingat segalanya antara dirinya dan Ustadz Salman tidak ada kepastian apa apa.
Hubungan seperti apa ini. Apa arti hadirnya dia di hatiku, sama seperti aku yang ada di hatinya. Tanya itu terbersit di hati Nuril, mengingat antara Nuril dan Ustadz Salman tidak ada pembicaraan soal itu. Mungkinkah ini hanya akan berahir di hatiku seorang. Lirih sentimentil hati Nuril, sampai sampai Nuril tidak mendengar apa yang Pacar Sempurnanya katakan sebelumnya.
"Apa Pa.?" Tanya Nuril dengan ekpresi kaget, mendengar sepenggal cerita Pacar Sempurnanya. "Papa ulangi lagi ketemu sama siapa..?" Ulang Nuril.
"Papa ketemu Gus Ali tadi di depan. MAS AIMU." Tegas Pacar Sempurna Nuril dengan menekankan kata "Mas Aimu" kepada Nuril. "Sayangnya saat tak ajak untuk menjengukmu, dia keburu ada telfon dan menyuruhnya agar segera kembali." Nuril tidak ingin lagi mendengar kata seterusnya dari Pacar Sempurnanya dan memilih mengangkat tangannya untuk memberi intrupsi kepada Pacar Sempurnannya agar tidak perlu melanjutkan ceritanya.
"Uwi mau istirahat Pa." Kata Nuril pelan lantas segera menutup matanya.
"Bukankah Papa sudah berjanji tidak akan memaksa. Untuk saat ini biarkan Uwi mengejar apa yang Uwi inginkan, Pa." Ucap Nuril tanpa membuka matanya dan justru mengangkat tangan kirinya untuk menutupi matanya.
"Iya, Papa tau itu. Maka dari itu Papa ingin lihat seperti apa pilihanmu itu."
"Nanti kalau sudah saatnya." Ucap Nuril pelan.
"Ya sudah istirahatlah. Apa mau Papa matikan lampunya." Nuril hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dan Pacar Sempurnanya pun melangkah mematikan saklar lampu di kamar VIP tersebut.
Belaian lembut di kepala Nuril membuat Nuril berlahan lahan meninggalkan segala keresahan hati tentang kepastian sebuah hubungan yang tidak bernama ini. Dan bertemu dengan Salman A.Rnya di pingiran pantai berpasir hitam legam di indahnya alam mimpi, dan tempat itu adalah tempat dimana dulu Nuril sering mengikuti Mas Ainya untuk menghabiskan waktunya untuk memancing sambil melancarkan hafalannya.
Dan di tempat itu juga untuk pertama kalinya Nuril melihat sisi lain dari Mas Ainya yang berbeda, dan memindai kekaguman di balik sifat jahil serta nakal yang selalu di tunjukan Mas Ainya kepada semua orang, terutama kepada Nuril.
Melihat hembusan nafas teratur Nuril, Pacar Sempurna Nuril segera mengalihkan tangannya pelan pelan dari kepala Putrinya. Di raihnya segera benda Pipih yang berada di saku celananya dan dengan pelan segera bergeser dari tempatnya menuju ke arah pintu. Sebelum pintu di tutupnya, tatapan yang tidak bisa di artikan si tujukan ke arah Nuril yang tengah terbuai di alam mimpi dan kemudian segera fokus ke arah ponsel di tangannya setelah pintu di tutupnya dengan sangat pelan.
"Aku mau kamu cari tau semua tentang Ustadz Salman, dia seseorang yang tengah dekat dengan putriku." Sebuah kalimat langsung keluar dari Pacar Sempurna Nuril begitu sambungan telfon yang menempel di telinganya mendapat respon dari sebrang.
"Tidak. Berapapun biayanya yang harus aku keluarkan. Tapi aku tidak ingin putriku sampai tau soal ini." Lanjut Pacar Sempurna Nuril dengan raut serius.
__ADS_1
"Kamu harus sangat hati hati, karena putriku seorang Polisi. Aku tidak ingin putriku tau jika aku menyewa seseorang untuk memantaunya." Ucapannya kali ini di sertai dengan tatapan penuh penegasan serta keinginan seorang Ayah melindungi putrinya.
"Baik, aku tunggu kabar segera, dan semoga itu tidak mengecewakan." Panggilan berahir dan tubuh tegap Pacar Sempurna Nuril menyandar di sandaran kursi tunggu di depan kamar dengan pandangan jauh ke depan tanpa jelas apa yang tengah di lihatnya. Namun, sorot itu tampak begitu menakutkan dengan tangan yang saling meremas antara satu dan lainnya.
Beranjak dari tempatnya duduk, dan menuju ke kamar yang tamaram dimana Nuril tengah terbaring, tatapan itu berubah lembut dan syarat akan kesakitan yang luar biasa. Apa lagi saat tangan bergetar itu menyentuh luka yang masih basah yang tertutup perban di balik baju pasien yang di kenakan oleh Nuril.
"Papa mencoba yang terbaik untukmu Wi. Papa hanya ingin memastikan kamu baik baik saja, dan Papa yakin hanya Mas Aimu saja yang bisa mengendalikan sikap keras kepalamu ini. Maafkan Papa, bukan maksud Papa ikut campur urusah hatimu, hanya Papa ingin tau apa dia bisa di andalkan seperti pilihan Papa. Semoga nanti kamu tidak akan marah sama Papa." Ucapnya pelan dengan airmata yang sudah merebak di pipi yang sudah tidak muda lagi itu.
"Papa tidak bisa jika Uwi terus menjalani profesi seperti ini dan mendapat luka seperti sekarang ini. Papa sayang Uwi. Kami semua sayang Uwi." Kecupan lembut mendarat di kening Nuril sangat dalam, dan di balik sikap santai serta bersahabat Pacar Sempurna Nuril, tidak pernah ada yang tahu alasan Pacar Sempurna Nuril begitu kekeh memaksakan perjodohan Nuril dengan Mas Ainya, lantaran begitu sayangnya Pacar Sempurna Nuril dengan Nuril.
Ketidak berdayaan Pacar Sempurna Nuril menolak segala cita cita Nuril, membuatnya rela di benci sesaat oleh Nuril dengan terus memaksakan perjodohan konyol atas janji kedua orangtuanya, yang sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan Nuril, dan andaipun janji itu tidak terlaksana juga tidak akan apa apa. Namun, Pacar Sempurna Nuril sadar, hanya dengan cara itulah Nuril akan benar benar meninggalkan profesinya yang penuh dengan bahaya.
Maka dari itulah Pacar Sempurna Nuril terus mengungkit perjanjian konyol itu di hadapan sahabat baiknya sejak kecil, sekaligus meminta tolong kepadanya juga untuk menyakinkan Putra semata wayangnya agar mau menepati janji di antara keduanya. Sebagai jalan agar putrinya menetap dan tinggal saja di rumah. Agak egois memang, tapi itulah orang tua yang hanya ingin anaknya aman berada di sampingnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Papa Taufiq keren deh buat pean. Love you puooolll.
Jangan lupa Like, Koment dan Votenya..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1