
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Bunga Bunga Krisan berbagai warna tertata rapi di setiap sudut dari taman. Putih, Kuning, Merah muda, Ungu, juga tidak kalah yang paling kekinian adalah Bunga Krisan Pelangi. Semua bunga bunga itu tersusun sesuai warna dan merekah begitu indah dengan paduan air hujan yang masih tertinggal di dedauannya, sehingga menghasilkan refleksi indah begitu matahari mulai menyentuhnya dengan sinar hangat.
Jika, di tanya bunga bunga itu milik siapa.? Jelas jawabannya adalah milik Mamanya Nuril. Karena, di dalam kamus Nuril tidak ada namanya bunga bunga atapuan telaten dengan namanya menghabiskan waktunya untuk berkebun. Dan pasti tidak akan ada yang percaya jika mendengar hal apa yang di sukai Nuril. Bagi Nuril, hal yang paling membuatnya lupa diri adalah ketika dirinya menghabiskan waktu di Perpustakaan.
Perpustakaan adalah salah satu tempat favorit bagi Nuril, sebagai seorang penyuka kedamaian dan keheningan. Kamar pribadi sebelumnya juga adalah tempat favorit Nuril. Tapi, untuk saat ini itu sudah tidak lagi, tentu saja itu karena kehadiran Gus Ali, yang telah sukses membuat Nuril merasa tertindas jika berada di tempat pribadinya.
Seolah tanpa perduli dengan seseorang yang membuntutinya, Nuril masih saja berjalan menuju gazebo di tengah tengah taman dengan wajah kesal.
"Ini bunga apa..?" Tanya Gus Ali begitu mereka sampai di Gazebo.
Sekilas Nuril melirik ke arah Gus Ali juga sekaligus melirik ke arah bunga yang di tunjuk oleh Gus Ali. "Krisan." Jawab Nuril pelan, lantas mendudukan dirinya di sebuah kursi yang seperti ayunan.
"Yang itu.?" Gus Ali mendekat ke arah salah satu Bunga berwarna Merah manyala yang tertata rapi di sebuah rak dari kayu.
"Sama saja. Krisan."
"Oh iya. Aku kira namanya akan lain." Gus Ali berbalik dengan satu tangkai Bunga yang telah berpindah di tanggannya. Mendekat dengan pelan ke arah Nuril. "Bunga adalah hal terindah yang di miliki oleh tanaman. Sedangkan kamu adalah hal terindah yang di berikan untuk ku." Tangan Gus Ali terulur memberikan bunga yang di petiknya kepada Nuril.
"Modal kok gombalan. Kalau Nyonya lihat bunganya di petik pasti ngamuk ngamuk." Nuril memalingkan wajahnya tanpa menerima Bunga yang berada di tangan Gus Ali.
"Ckckckckck.." Gus Ali terkekeh mendengar ucapan Nuril. "Keliru juga, aku bukan tukang gombalan. Aku kan punyanya kebun buah. Jadinya tukang buah. Buahagia bersamamu."
Nuril berdecak antara bahagia dan kesal. "Cih, sama saja itu ngegombal." Dumel Nuril sembari menyembunyikan senyumnya. "Berdiri terus enggak capek apa. Eh, tapi enggak apa apa sih, kalau kuat berdiri terus." Lanjut Nuril dengan bergeser ke tepi, sehingga memberikan ruang bagi Gus Ali untuk duduk di samping Nuril.
"Baiklah kalau kamu memaksa agar aku duduk."
"Dimana kalimat memaksanya." Cicit Nuril dan seketika Nuril membelalakaan matanya tatkala Gus Ali tersandung dan menarik tali dari tempat duduk Nuril, hingga Nuril terpelanting dan jatuh dengan posisi tidak begitu bagus.
"Dug, Dug, Dug." Suara detag jantung keduanya sama membahananya. Semenit dua menit, keduanya masih tetap membeku dengan posisi Nuril berada di atas tubuh Gus Ali. Kedua iris mata itu, saling memenuhi bayangan masing masing dengan tatapan hangat berselimut malu malu namun mau.
Mendung tetiba kembali datang menutupi mentari yang baru saja sejenak menghangatkan bumi. Namun, di hati keduanya mentari justru semakin meninggi dan menghangatkat dada mereka bersama dengan bermekarannya bunga bunga yang tak tampak namun semerbak mewangi lewat alunan cinta yang terpancar di mata keduanya.
Apakah cinta itu perlu di ungkapkan.? Jika, dari tatapan saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa keduanya sama sama dalam.satu gelombang yang sama. Meski, secara terang terangan Nuril menolak mengakuinya. Apa perlunya penolakan secara terbuka. Jika, pada kenyataannya mata Nuril berhianat dengan terang terangan.
Ketidak mampuan Nuril berpaling dari wajah berseri milik Gus Ali sudah menjadi bukti, pun dengan apa yang di lakukan Gus Ali sama halnya dengan Nurip, juga menjadi bukti bahwa perasaan itu sama.
Setitik demi setitik, gerimis kembali turun. Dan menjadi penganggu atas drama jatuh dengan indah di antara keduanya. Lantas mengubah suasana yang tadinya sedikit menghangat menjadi canggung, terutama bagi Nuril yang dengan segera bergegas bangkit dari tubuh Gus Ali.
Tanpa berkata kata, Nuril kembali ke posisi semala. Duduk dengan membuang pandangannya entah kemana, asal matanya tidak bertemu pandang dengan Gus Ali. Tentu, itu dirasa sangat memalukan bagi Nuril. Karena, sejenak tadi Nuril terlena oleh pesona yang masih tak ingin di akuinya terang terangan.
"Ahh.." Suara seakan kesakitan Gus Ali, membuat Nuril kembali memalingkan kepalanya ke arah Gus Ali, dan terlihat oleh Nuril, Gus Ali sedang mengibas ibaskan tangan kanannya.
__ADS_1
"Kenapa..?" Membuang gengsi itu memang sulit. Tapi, ada yang jauh lebih sulit lagi. Yakni, mengendalikan hati, agar tidak merasakan sakit ketika melihat seseorang yang di cintai kesakitan. Meski, itu masih belum di akui secara terbuka.
"Tidak apa apa." Dengan cepat Gus Ali menjawab sembari menyembunyikan tangan kanannya ke belakang.
Nuril kembali bergeming dari tempatnya, dan berjalan ke arah Gus Ali yang seperti masih meringis kesakitan. "Lihat tangannya." Ucap Nuril begitu sudah berada di hadapan Gus Ali.
Gus Ali tetap diam. Dan semakin menyembunyikan tangannya dari Nuril, hingga separuh dari tubuh Gus Ali keluar dari Gazebo dan sudah terkena tetesan air yang kini bukan gerimis lagi melainkan sudah menjadi hujan.
"Lihat."
"Enggak."
"Kasih lihat enggak." Tegas Nuril sudah maju satu langkah lagi. "Jangan sampai nanti saya yang kena omel, karena sampean terluka." Lanjut Nuril dengan memandang ke arah Gus Ali antara jengkel dan kwatir.
"Kan memang gara gara kamu." Terdengar sedikit tawa geli di ucapan Gus Ali, sehingga membuat Nuril mendelikkan matanya ke arah Gus Ali.
"Mana ada. Itu karena sampean yang menarik tali kursinya." Bela Nuril dengan berusaha meraih lengan Gus Ali.
Gus Ali terkekeh dengan gerakan yang di lakukan Nuril dan tidak berusaha untuk menyembunyikan lagi tangannya. Melainkan, Gus Ali membiarkan Nuril meraih lengannya dan melihat jari tangannya yang tengah mengenggam.
Wajah Nuril terlihat bingung untuk sesaat, lantaran Nuril sama sekali tidak menemukan luka di jari jari Gus Ali. "Dasar, tukang gombal." Pekik Nuril dengan tiba tiba, begitu melihat jari Gus Ali yang membuat simbol Finger Heart berulang ulang.
Dengan wajah yang memerah Nuril memutar tubuhnya membelakangi Gus Ali yang masih terkekeh geli, karena berhasil menjahili Nuril lagi.
"Kan sudah ku bilang itu gara gara kamu. Jadi, harus bertanggung jawab."
"Hari ini aku akan kembali ke Banyuwangi, Ju." Pelan kata yang di ucapkan oleh Gus Ali, dan itu mampu menghapus kedutan di bibir Nuril yang tengah di buat kagum oleh cara menggombal Gus Ali sejenak tadi. "Jika kamu mau ikut aku tidak akan keberatan."
Nuril masih membisu, seluruh rangkaian kata kata yang sudah di susunnya dari subuh tadi, dengan tiba tiba lenyap begitu saja. Dan itu hanya karena Gus Ali yang ingin kembali hari ini.
Mungkin hujan tidak begitu deras saat ini, bahkan itu tidak sampai membuat basah Gazebo yang mereka berdua tinggali. Namun, hujan di hati Nuril sudah datang badai dengan hebatnya.
"Bunda pasti akan sangat senang, jika kamu mau ikut." Kelanjutan kalimat Gus Ali membuat kilatan halilintar menyambar di dada Nuril dan sontak membuat Nuril berbalik dan menatap ke arah Gus Ali dengan tatapan nyalang penuh dengan kebencian.
Ulasan senyum Gus Ali tidak mampu membuat badai di dada Nuril mereda, bahkan itu hampir membuat tanggul di matanya jebol, lantaran Nuril merasa begitu kecewa. Karena keinginan Gus Ali membawanya dengan alasana Bunda Ikah.
Nuril sudah membuka mulutnya untuk bicara, namun terhenti lantaran sebuah lengkiangan suara teriakan Mama Nuril yang tengah tergopoh gopoh menuju kearah mereka berdua dengan payung yang tidak menutup sempurna. Itu karena, tangan satunya masih menempelkan ponsel di telinganya.
"Iya, ini Fik. Sudah." Ucap Mama Nuril begitu sudah sampai di Gazebo dan segera menyerahkan ponselnya kepada Gus Ali berbarengan dengan ponsel Nuril yang juga berdering.
Keduanya sibuk dengan ponsel yang tengah sama sama menempel, dan raut keduanya juga sama. Tidak terlihat bahagia seperti beberapa waktu lalu. Lebih lagi, Gus Ali yang mendadka berubah sendu.
"Innalillahi wa innailaihi rojiu'un." Pelan Gus Ali, dan membuat Mamanya Nuril mengelus lengan Gus Ali penuh pengertian. Dan tidak begitu lama Gus Ali sudah menutup panggilan telfon dari Bundanya, lantas mengembalikan ponsel milik mertuanya.
"Sepertinya kami sekeluarga belum bisa kesana hari ini, Gus." Ucap Mama Nuril.
__ADS_1
"Enggeh, tidak apa apa, Ma." Jawab Gus Ali masih senantiasa menatap punggung Nuril.
"Ma, Uwi harus pergi lapor ke atasan hari ini." Ucap Nuril begitu selesai dengan panggilannya tanpa memerdulikan Gus Ali.
"Ijin sama Suami kamu." Ucap Mama Nuril sembari beranjak. Seolah memang sengaja membuat ruang di antara keduanya.
Dingin udara bersama hujan pagi hari, juga sampai pada hati Nuril yang tiba tiba ikut mendingin, dan itu juga di rasakan juga oleh Gus Ali. Namun, ada yang jauh lebih penting yang harus Gus Ali segerakan saat ini.
"Ju, aku akan kembali pagi ini juga." Terdengar sendu kata itu di telinga Nuril. Namun, Nuril tak ingin kembali terkecoh oleh Gus Ali.
"Saya ada yang harus di kerjakan. Maaf." Terdengar tegas. Tapi, sarat akan kekecewaan.
Gus Ali menghela nafas panjangnya dan menatap Nuril lekat lekat. "Paman Wahyu meninggal dunia." Bola mata Nuril bergerak gelisah sedang bibirnya mengumam pelan mendengar alasan Gus Ali ingin segera kembali pagi ini juga. Namun, kenapa dan mengapa Paman Wahyu bisa meninggal secara mendadak Nuril sama sekali tidak bisa bertanya kepada Gus Ali.
"Kali ini aku harus egois, Ju." Gus Ali menjeda ucapannya, dan memastikan bahwa Nuril sedang memperhatikannya. "Tiga bulan. Aku rasa itu akan cukup untuk mengurus segala keperluan pengunduruan diri. Dan itu adalah sarat mutlak untuk kita bisa bersama." Nuril menatap Gus Ali dengan pandangan tidak percaya. Namun, lagi lagi Nuril kalah oleh hatinya yang di butakan oleh cinta.
"Tidak perduli akan seberat apa rindu tiga bulan mendatang. Selama itu, aku janji tidak akan menganggumu, hingga kamu mendapat surat keputusan pengunduran diri secara terhormat. Dan akan aku siapkan segalanya hingga kamu datang."
"Saya ak.."
"Sesstt, sudahlah. Aku tidak mau mendengar apa yang menjadi alasan mu. Cukup aku yang menjadi tujuanmu. Dekat, juah, dimanapun kamu berada. Kamu ada disini." Ucap Gus Ali sembari menepuk nepuk dadanya. "Kamu berada di dalam hatiku. Cintamu aman di dalam hatiku. Dan cinta itu akan berarti ketika kamu juga mencintaiku." Lanjut Gus Ali dengan di barengi sebuah kecupan kecil di kening Nuril begitu kata kata itu berhenti.
Nuril masih membatu di tempatnya seakan kakinya di tanam disana dan tak bisa berucap apa apa hanya terus memandang punggung Gus Ali yang tengah berlari lari kecil membelah hujan ringan, meninggalkan Nuril seorang diri dengan tangan yang berlahan mengelus keningnya dimana masih menyisakan hangat bibir Gus Ali disana.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Alfatihah buat the real Mr.W.
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862