Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Polwan Cantikku VS Gus Manisku.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mentari terlihat cerah menyentuh embun yang masih tertinggal di dedaunan. Cahayanya masih malu malu di ufuk timur berbenar dengan hangat, sehangat dua orang yang tengah duduk berdempetan menghangatkan diri dengan sinarnya.


Cahaya yang terpancar dari keduanya lebih cerah dari matahari yang hendak merangkak dari peraduan. Sorot lembut dari setiap tatapan yang bertubrukan tak ayal memberi tahu bahwa keduanya tengah di landa kasmaran. Bahkan setiap sentuhan yang membelai lembut, juga membangkitkan keirian dari angin yang tak berkesempatan ikut menyentuhkan desirnya.


Dua cangkir minuman herbal menemani mereka berdua yang tengah asik menikmati cinta kasih dengan berbagai bahasan masa depan, menikmati masa masa manisnya madu pernikahan. Merenda setiap hari kedepan dengan rencana rencana keindahan berumah tangga yang di titipkan lewat untaian do'a.


"Matahari saja malu melihat kita berdua, Ju." Ucap Gus Ali ketika matahari yang sedang ingin merangkak lebih tinggi lagi terhalang oleh awan yang bergerombol.


"Itu memang awannya aja yang lagi berkerumun disana." Jawab Nuril.


Gus Ali terkekeh mendengar penuturan Nuril. "Harusnya kamu jawabnya, iyalah Mas kan mereka iri dengan kita, gitu."


"Ih, Mas Ai mah lebay." Kata Nuril sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gus Ali.


"Itu bahasa cinta, Ju. Jangan salahkan bahasa yang paling indah juga paling tidak bisa di saingi. Bahkan bahasa cintanya para sufi itu jauh lebih indah. Cinta kepada Allah, lantas menyuarakan cinta mereka lewat segala kalimat yang di rangkai dengan indah." Nuril manggut manggut untuk sesaat.


"Aku masih terlalu mentah dalam hal itu." Jawab Nuril.


Gus Ali menarik hidung bangir Nuril pelan, dan terlihat cinta dan sayang selayaknya seorang Ayah kepada anaknya, selayaknya kakak kepada adiknya, juga selayaknya sahabat. "Kita bisa belajar bersama." Pelan Gus Ali.


Nuril mengurai pelukannya. "Ada begitu banyak hal yang telah aku lewatkan, hanya kerena terlalu terbawa kebencian masa kecil." Ucapan Nuril terdengar serius.


"Aku penyebabnya kan." Pandangan mata Gus Ali terlihat dalam dan sarat akan penyesalan.


Nuril menggeleng. "Tidak, hanya hati saja yang kurang puas lantas meninggalkan rasa yang di sebut benci tapi juga rindu."


Gus Ali terkekeh. "Sedalam apa rasa itu untuk, Ju.? Hingga rasa benci itu masih di kalahkan oleh rindu ingin bertemu denganku."


Nuril mencebikkan bibirnya, lantas menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Gus Ali. "Mas Ai tuh enggak nyadar apa seberapa jahilnya Mas Ai sama aku."


"Masak sih, kayaknya aku enggak jahil jahil amat. Malah manisnya kebangetan."


"Manis apaan.!" Sergah Nuril dengan cepat.

__ADS_1


"Lha buktinya kamu terus ngintilin aku kayak semut yang lihat tempatnya gula." Nuril terdiam sesaat setelah mendengar penuturan Gus Ali.


"Itu enggak kayak gitu. Itu karena anak kecil saja." Ucap Nuril sembari melambaikan tangannya sebagai bentuk tidak menerima argument Gus Ali. "Soalnya, tidak ada lagi yang bisa di ikutin."


"Itu pembelaan saat ini aku rasa. Jelas jelas sewaktu kecil dulu kamu yang selalu lengket sama aku. Berarti sebenernya aku enggak nyebelin."


"Enggak nyebelin, cuma jahilnya enggak ketukungan. Ketut sembarangan. Suka banget nyembunyiin barang barang ku, nguyel nguyel rambut. Kan itu semua nyebelin."


Gus Ali terbahak mendengar penuturan Nuril. "Itu cuma aku lakuin sama kamu saja, Ju."


Nuril memandang sekilas wajah Gus Ali yang masih di liputi perasaan bahagia hingga senyum Gus Ali tampak begitu murah di mata Nuril. Padahal beberapa tahun lalu Nuril tidak pernah berani membayangkan bahwa suatu saat akan menghabiskan pagi harinya bersama seseorang yang telah merajai hatinya secara diam diam selama bertahun tahun.


Dan manisnya takdir Allah. Menyatukan dua hati yang sedari dulu telah terikat oleh satu nama cinta, meski nama dari cinta itu berbeda. Dan kini, tidak ada alasan bagi mereka berdua untuk tidak mereguk manisnya cinta, karena Allah telah mengahalalkan kebersamaan mereka berdua dengan jalan ibadah terpanjang anak cucu Adam.


"Ju, kemarilah." Ucap Gus Ali lagi, setelah berdebatan singkat mengenai hal indah waktu kecil yang mereka lalui bersama sama.


Menuruti perkataan Gus Ali. Nuril duduk di samping Gus Ali yang tengah menatapnya lekat lekat dengan pandangan memuja dan penuh kelembutan, hingga Nuril tak kuasa untuk menolaknya.


"Boleh aku tanya sesuatu.?" Lanjut Gus Ali dan itu membuat Nuril terperangah untuk sesaat. Karena, menurut Nuril itu adalah satu nilai kesopanan yang senantiasa Gus Ali terapkan. Selayaknya semalam saat Gus Ali meminta haknya, Gus Ali bahkan tidak memaksanya meski setiap kata yang keluar penuh dengan rayuan untuk Nuril.


"Katakan, jika bisa untuk di jawab kenapa tidak.?" Ulasan senyum tipis, Nuril tambahkan untuk membumbui ucapannya.


"Awalnya iya." Nuril menjeda ucapannya. "Tapi, setelah aku tau bahwa Mas Aiku adalah Ustadz Salman, orang yang diam diam namanya selalu aku sisipkan dalam do'aku, seluruh keraguan itu musnah. Hanya saja aku butuh sedikit waktu untuk menelaah hubungan yang untuk sesaat aku kira sudah selesai, tapi justru baru bermulai."


"Begitupun denganku. Dengan susah payah aku melepaskan Ipda Nuril dan mencoba untuk Ikhlas menerima jawaban atas istikharahku. Dan mendapatkan kejutan dari ikhlas menerima apa yang menjadi ridho orang tua." Timpal Gus Ali dengan tatapan hangat.


Keduanya diam dalam sebuah senyuman penuh syukur dengan kening keduanya yang menyatu hingga untuk beberapa saat, dan Gus Ali kembali menegakkan kepalanya, mengangkat dagu Nuril agar juga melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Gus Ali.


"Aku merasa takut jika cintaku terlalu egois, hingga membuatmu harus mengorbankan cita citamu untuk agar kita bersama. Katakan, apa itu berat bagimu harus meninggalkan seragam kebangganmu.?" Tanya Gus Ali dengan tatapan sendu.


Nuril mengulas senyumnya, senyum terbaik yang Nuril miliki, agar apa yang di katakan akan terdengar sama manisnya dengan senyumnya kali ini. "Pada saat, aku memutuskan untuk menyukai Ustadz Salman dan Ustadz Salman memberi alasan untuk berada di dekatnya. Aku sudah mengambil keputusan, bahwa aku rela menanggalkan seragam itu hanya agar aku bisa menjadi seorang Istri yang bisa di banggakan, dan menjadi seorang Ibu seperti Bunda."


"Kamu yakin dengan itu. Itu adalah cita citamu dari kecil kan.?" Tanya Gus Ali lagi.


"Hahahaha.." Terdengar tawa Nuril renyah, hingga membuat Gus Ali terbuai oleh itu. "Jadi, sampean diam diam mendengarkan ceritaku dengan Bunda. Sayangnya sampean tidak sampai selesai mendengarkannya." Lanjut Nuril.


Wajah heran Gus Ali berubah dengan cepat begitu tangannya sudah terulur untuk menarik kepala Nuril agar terjatuh di dada bidangnya. "Jadi, apa yang tidak aku ketahui.?" Kata Gus Ali begitu Nuril telah kembali bersandar di dadanya dan mendengarkan setiap detak yang mengalun beirama cinta dari dendangan nada indah jantung Gus Ali.

__ADS_1


Nuril kembali tidak bisa menahan tawanya dan terkikik pelan sembari tangannya menari indah membuat ukiran di perut rata Gus Ali. "Itu karena supaya aku memiliki borgol dan memenjarkan sampean."


Kini ganti Gus Ali yang terbahak mendengar ucapan Nuril dan kenangan masa kecil mereka berdua terlukis kembali di ingatan Gus Ali, saat Nuril yang begitu kekeh ingin menjadi seorang Polwan.


"Itu berhasil, Ju. Sangat berhasil. Kamu bukan saja hanya memborgol, tapi sekaligus memenjarakanku dalam hatimu, dan tidak ada satu celah barang sedikit saja aku akan bisa kabur dari tempat itu, kecuali maut yang memisahkan. Bahkan maut yang memisahkan itu juga hanya sementara saja, karena sesaat setelah kematian aku tetap akan menjadi tahananmu. Polwan Cantiku."


Nuril tersipu mengantarkan semburat merah di tulang pipinya mendengar pengakuan cinta Gus Ali. Cinta yang tidak hanya di harapkan hanya di dunian saja, namun juga akan sampai di ahirat. "Teriama kasih Ustadz Salmanku, terima kasih Gus Manisku."Jawab Nuril dengan terkekeh pelan.


Berpelukan erat, keduanya menyambut sang mentari yang telah berhasil menerobos awan yang bergerombol menyembunyikan sinarnya. Seperti cinta keduanya yang kini telah berhasil bersama setelah melalui ujian rumit berbagai perang pengendalian hati, antara ridho orang tua, juga ikhlas melapas cinta yang yang belum sebenarnya. Lantas mereka mendapatkan segalanya atas buah dari memilih menyerahkan cinta mereka kepada pemilik cinta..


.


.


.


.


.


__________"""The End."""__________


####


Assalamu'alaikum Reader's semuanya.


Syukur Alhamdulillah, Polwan Cantik vs Gus Manis sudah Tamat. Jujur, menulis cerita Gus Ali dan Ipda Nuril itu rasanya nano nano banget.


Karena saya tidak tau menau soal dunia Kepolisian dan saya memaksakan diri untuk halu disini.🤭🤭🤭. Jadi, bilamana disana sini banyak kekeliruan, mohon untuk di maafkan.


Terima kasih untuk Reader's semuanya, yang sudah mensuport tulisan serba halu ini, baik lewat Vote, Like, Comen yang jarang di bales.🤭🤭. Sekali lagi, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya. Dan sampai jumpa di Mawar Yang Tak Di Cinta.


Insya'Allah Lily juga udah siap siap mau lahiran asal Mawarnya udah mulai mekar. (Ujung ujungnya ngiklan.)


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2