
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Aku rela menjadi Budakmu. Budak yang halal bagimu. Budak yang akan selalu setia terhadapmu. Budak yang tidak akan pernah menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri, kecuali senyum kebahagiaanmu. Aku rela menjadi Budakmu atas ijin Allah, dan karena Allah juga aku menjadikanmu kekasihku." Karena kalimat manis yang di kirim oleh Gus Ali di tengah malam kemarin, di pagi buta Nuril sudah senyam senyum tidak jelas.
Bahkan itu bertahan hingga sore menjelang malam, meski setelahnya Gus Ali tidak lagi mengiriminya chat. Sudah makan belum, lagi ngapain. Atau kalimat lain yang berupa perhatian. Namun, Nuril masih saja merasakan dadanya membuncah bahagia, seperti berjuta juta bunga bermekaran di dadanya.
Tak terhitung sudah berpuluh kali Nuril membaca kalimat rayuan yang di tulis untuknya itu, atau mungkin juga sudah ratusan kali. Dan tidak peduli berapa kali Nuril membacanya, setiap kali itu pula dadanya terus saja berdebar hebat. Ahh, ternyata rasanya akan semanis ini di gombalin dengan cinta, serta di jaga marwahnya sebagai seorang wanita.
Hingga tiga hari berlalu, kalimat itu tidak bertambah sama sekali. Tapi, Nuril tidak pernah sama sekali berfikir untuk membalasnya, meski jauh di dalam hati Nuril menginginkan saling merenda kata dengan sang pengenggam jiwanya. Nuril hanya tak ingin tergesa gesa. Karena, pasti akan banyak waktu setelah ini untuk bersama sama. Toh, sang pengirim juga tidak pernah aktif lagi setalah malam itu.
Kabut yang kembali turun sore ini bersama dengan mendung yang sedikit menghitam, mengabarkan bahwa mungkin saja hujan akan turun lagi. Dengan tergesa Nuril ikut mengumpulkan Jagung hasil panen Mbah Kakungya kemarin pagi. Bersama sama dengan Mbah Ibuknya serta beberapa orang yang membantu di kediaman Si Mbah, Nuril bahu membahu menyisihkan Jagung ke gudang penyimpanan.
Kegesitan serta kekuatan fisik Nuril, membuat orang orang yang membantu Si Mbahnya tercengang, bahkan ada yang sampai menegurnya terang terangan. Masya'Allah, cucunya Mbah Asoh kuat sekali. Dan banyak sekali kata kata lainnya yang hanya di tanggapi senyum simpul oleh Nuril.
Nuril baru saja memasukan satu karung Jagung ke dalam gudang penyimpanan, dan tetesan peluh bak kristal berlomba lomba berjejalan membasahi kerudung warna coklat yang di kenakannya.
"Pantesan sepi sekali di depan. Orang semua ada disini." Nuril langsung memalingkan kepalanya ke asal suara, dan mengukir senyumnya begitu mendapati saudara sepupu keduanya yang tengah berjalan menuntun Putrinya.
"Assalamu'alaikum." Sapa Mas Naufal.
"Wa'alaikumussalam." Jawab semuanya.
"Ayo, ayo sini." Ucap Mbah Ibuk Nuril sembari berjalan ke arah Gazebo tempat dimana biasanya orang orang yang membantu istirahat.
"Enggeh, Mbah Asoh." Jawab Mas Naufal. "Ningnya kok suruh bantu ngangkatin Jagung Mbah." Sadar akan ucapannya yang akan memantik kekesalan Nuril, Mas Naufal sengaja memilih tempat yang sedikit jauh dari Nuril.
"Ning-Nong." Balas Nuril dengan expresi datar. "Cantik, sini sama Aunty." Lanjut Nuril sembari mengulurkan tanganya kearah Putri kecil Mas Nuafal.
"Mancul." Mengeratkan tangannya di lengan Ayahnya begitu Nuril menyapa Putri Mas Naufal.
"Kok Wangsul. ( Kok Pulang.) Mbah Asoh kan belum ngasih makan ikannya Mbah Asoh." Kata Mbah Ibuk Nuril. "Lha Ibunya kemana tho, Fik. Kok tumben sekali kamu datang cuma berdua sama Mayang."
"Dek Fiza, sedang menggantikan Bunda Ikah, Mbah. Yang itu harusnya jadi tugas Mbak Juju." Mas Naufal tersenyum ke arah Nuril yang tengah menautkan kedua alisnya ke arah Mas Naufal.
Mbah Ibuk Nuril tidak berkata apa apa, hanya terdengar helaan nafas dalam begit tatapan netra tuanya betsitubruk dengan mata Nuril. Dan melihat itu, Nuril merasa tidak enak sendiri.
"Fiza, pulang jam berapa.?" Nuril mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana yang tiba tiba diranya canggung.
"Sepertinya agak malam, karena Bunda sedang berada di Rumah Sakit." Jawab Mas Naufal seakan memberi kode kearah Nuril. Namun, Nuril sama sekali tidak tau kode apa yang di berikan kepadanya.
"Sia.."
"Siapa yang sakit.?" Tanya Mbah Ibuk Nuril, dan Nuril kalah cepat dengan beliau.
__ADS_1
Mas Naufal tidak langsung menjawab, melainkan menatap Nuril dengan penih tanya. Dan Nuril justru bingung dengan tatapan Mas Naufal yang seakan bertanya kepada Nuril. Nuril mengangkat bahunya pelan sebagai jawaban atas ketidak tahuannya.
"Ali yang sakit Mbah Asoh."
"Apa..!" Suara kaget Nuril di sertai dengan raut kwatir begitu jelas terlihat di mata Mas Nuafal. Dan itu berhasil membuat Mas Naufal tersenyum yang entah harus di artikan seperti apa.
"Sudah tiga hari, Ali ada di Rumah Sakit. Bunda Ikah juga terus saja berada disana." Kata Mas Naufal lagi.
"Lha, gimana tho, Wi." Mbah Ibuk Nuril ikut terlihat kwatir. "Ayo, cepat temani Suamimu di Rumah Sakit." Sebuah pukulan kecil di bahu Nuril membuat Nuril tersadar dengan pikiran aneh aneh mengenai keadaan Gus Ali.
Tanpa bicara Nuril segera bangkit dari duduknya, dan sudah mau berjalan meninggalkan tempatnya. Namun, lekas tersadar bahwa Nuril belum tau dimana Gus Ali di rawat.
"Rumah Sakit mana.?" Tanya Nuril hati hati.
"Rumah Sakit Umum Kota." Jawab Mas Naufal masih dengan senyum misterius. "Kamar VIP."
Nuril bergegas meninggalkan tempatnya dan samar samar Nuril mendengar tanya Mbah Ibuknya perihal keadaan Gus Ali. Tapi, sama sekali sudah tidak mendengar jawaban Mas Naufal, karena Nuril terlalu sibuk dengan pikirannya.
Lima belas menit berlalu, Nuril sudah rapi dan bergegas mencari keberadaan Mbah Ibuknya dan Mas Naufal. Namun, hanya ketemu Mbah Ibuknya saja. Menurut penuturan Mbah Ibuknya Mas Naufal langsung pulang begitu Nuril meninggalkan mereka.
Berbekal motor metic butut milik Papanya, Nuril memacu pedal gasnya tanpa ampun. Dan jelas sekali terlihat di wajahnya rasa tidak sabar agar segera sampai di tempat yang di tujunya. Segala ketakutan akan hal apapun lenyap dari pikirannya. Karena, seluruh pikirannya penuh oleh bayangan tak berdaya Gus Ali, ataupun kesakitan yang di rasakannya.
Rintik rintik gerimis yang semakin membesar, juga sama sekali tidak Nuril hiraukan, hingga Nuril mendapati sebuah bangunan besar nan megah berada di depannya dengan keadaan basah kuyup.
Mengibas ibaskan gamis yang basah, Nuril melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit setelah terlebih dahulu bertanya dimana ruang yang dicarinya kepada Resepsionis. Dan dada Nuril begitu tidak mau diamnya, saat Nuril berdiri di depan pintu kamar rawat inap yang tengah tertutup rapat.
"Ceklek." Suara pintu kamar yang terbuka. Dan membuat orang yang berada di dalamnya menggiring tatapan ke arah pintu. "Assalamu'alaikum.." Lirih Nuril.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Bunda Ikah dan segera menyongsong kedatangan Nuril. "Masya'Allah, sampean basah kuyub seperti ini." Ucap Bunda Ikah lagi.
Nuril tidak menjawab hanya tersenyum yang lebih terlihat meringis saja. Apa lagi saat matanya bertubrukan dengan netra seseorang yang tengah duduk di bangsalnya.
"Ya Allah. Kok nekat hujan hujan begini. Nanti kalau sempean ganti sakit gimana." Ucap Bunda Ikah. "Ganti baju dulu."
"Tapi, Nda. Saya tidak bawa baju." Lirih Nuril.
Bunda Ikah tersenyum simpul. "Pakai baju punya Bunda."
"Ehh," Nuril merasa tidak enak.
"Sudah tidak apa apa. Ayo cepat." Kata Bunda Ikah sembari mengandeng Nuril menuju kamar mandi yang dimana setiap gerak Nuril tidak pernah lepas dari tatapan Gus Ali.
Abaya hitam milik Bunda Ikah, memang agak kebesaran di tubuh Nuril. Tapi, panjangnya yang hanya sebatas atas mata kaki Nuril, membuat Nuril salah tingkah. Apa lagi saat Nuril keluar dari kamar mandi tidak menjumpai Bunda Ikah ada disana, membuat Nuril semakin canggung.
Sadar dengan tatapan Gus Ali, Nuril semakin merendahkan pandangannya dan memilih berjalan ke arah sofa. "Bunda keluar sebentar membeli minuman hangat." Ucap Gus Ali dengan nada biasa, tidak lemah seperti sedang sakit.
__ADS_1
Nuril mengangkat kepalanya pelan, dan kembali matanya bersitubruk dengan netra teduh Gus Ali. "Bisa minta tolong.?" Kembali Gus Ali berucap.
"Apa.?" Nuril berdiri dari tempatnya duduk.
Melihat Nuril yang masih berdiri di tempatnya Gus Ali kembali berucap. "Aku mau minum obat."
Nuril mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan mendapati butiran pil yang berada di atas nakas tidak jauh dari tempat tidur Gus Ali.
"Hanya yang berwarna kuning saja." Ucap Gus Ali, begitu melihat Nuril tengah fokus membaca tulisan yang terdapat di bungkus pil tersebut.
Dua pil berwarna kuning, Nuril angsukan ke arah Gus Ali. "Tau darimana kalau aku sakit.?" Ucap Gus Ali.
"Fikri." Jawab Nuril pelan. "Kenapa tidak menghubungiku, kalau sampean sakit." Lanjut Nuril.
"Kamu kwatir, ya." Terdengar nada menggoda dari suara Gus Ali dan itu membuat Nuril berani mengangkat kepalanya meski hanya sesaat. Dan, meski itu hanya sesaat. Tapi, sukses membuat dada Nuril jempalitan dan wajahnya memerah. Karena, senyum Gus Ali yang berada tepat di depan wajah Nuril dengan jarak yang begitu dekatnya.
"Jangan kwatir, nanti aku sudah boleh pulang." Kalimat lanjutan dari Gus Ali membuat Nuril tersentak dan sadar akan satu hal, yakni infus yang sudah di lepas dari tangan Gus Ali. "Dan aku akan semakin baik, jika kamu ikut pulang ke rumah."
Nuril tak mampu berkata apa apa, selain hanya terus menunduk malu. Sungguh cinta membuat Nuril kehilangan pikiran rasionalnya, dan mendadak menjadi bodoh. Dan lumprah saja, karena siapapun itu ketika sedang jatuh cinta, akan tidak masuk akal. Termasuk itu Nuril sekalipun.
Cinta itu bukanlah hal yang memalukan. Terlebih jatuh cinta, terhadap yang sudah dihalalkan. Maka mengagungkan dan mensakralkannya, merupakan sebuah kwajiban terhadap pasangan yang sudah sah, dan itu merupakan jalan sebuah ibadah yang juga indah.
Nuril semakin membeku, saat tangannya yang memegang pil di raih oleh Gus Ali. Dan perlahan lahan, Gus Ali menuntun tangan Nuril menyuap ke bibir Gus Ali. Dan hangat bibir Gus Ali tertinggal di jemari Nuril, karena Gus Ali memang sengaja sekali meninggalkan jejak disana yang berhasil membuat dada Nuril meledakan berjuta bunga, terlebih kata kata yang di untai oleh Gus Ali setelahnya.
"Sebagian orang di uji hanya bisa mencintai, tanpa bisa menikahi. Dan keberuntunganku, adalah mencintai, di cintai, juga menikahinya. Cinta itu tetaplah sebuah kata, hingga seseorang datang memberi makna. Makna akan berartinya seseorang di samping kita untuk di jaga hingga usai segala hubungan di dunia ini, lantas kembali bersama dalam kekekalan di Jannahnya."
.
.
.
.
Bersambung...
####
Kupie pahit. Lagi, lagi dan lagi, efek Kupie pahit ini mah.
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862