Pria Brengsek Milik Cindy Milen

Pria Brengsek Milik Cindy Milen
Luka...


__ADS_3

MASIH POV CINDY...


.


.


.


Sudah hampir satu jam aku menunggu di ruangan Renal namun belum ada tanda-tanda menampakkan pria itu di tempat ini .


Jika aku tau akan selama ini lebih baik aku melihat Rain dibawah . Aku pun berdiri dari duduk ku dan berjalan mendekati pintu ruangan Renal namun belum aku memutar kenop pintu tiba-tiba pintu langsung terbuka dan menampilkan wajah Gabriella yang menatap bengis kearahku seraya memegang pecahan kaca yang diarahkan dileherku secara tiba-tiba .


" Wanita sialan , kau yang merusak hidupku , brengsek ! " ucapnya penuh amarah hingga membuat aku seketika memundurkan langkah kakiku kebelakang untuk menghindari tusukan benda tajam yang tengah di pegang wanita itu


Bahkan wanita itu tidak perduli dengan darah yang kini mengalir deras di telapak tangan nya akibat genggaman yang ia pegang .


" Kau merusak segalanya ! , kau merampas kebahagian ku " ucapnya lagi seraya memajukan langkahnya untuk mengikuti langkahku yang mundur


Aku pun terdiam seketika tak berani lagi bergerak setelah tubuhku tidak bisa lagi untuk di mundurkan . saat ini aku sudah terpojokkan di dinding ruangan


Renal tanpa bisa berbuat apapun , aku hanya bisa pasrah dan beharap seseorang bisa menolong ku saat ini .


" Orang seperti mu lebih baik mati ! , Sialan ! " Teriaknya marah seraya semakin mengarahkan benda tajam tersebut kearah leherku


" Gab " Panggilku pelan dengan nafas yang tercekat takut-takut


Aku memejamkan mataku berharap Gabriella tidak seberani itu namun aku salah , Seketika kurasakan benda tajam itu menggoreng leherku hingga kurasakan rasa sakit dan nyeri di bagian leherku .


Aku terus memejamkan mataku seraya terus memohon dan berdoa dalam hatiku agar Gabriella tidak membunuhku dan aku berdoa agar seseorang bisa datang untuk menyelamatkan nyawaku , aku tidak ingin mati seperti ini , aku masih ingin terus bersama Rain dan melihat anak itu tumbuh hingga besar nanti .


Seketika doaku pun terkabul saat ku dengar seseorang memanggil nama Gabriella dengan napas yang memburu . Namun aku masih terus menutup mataku tanpa berani untuk membuka kedua mataku saat ini .


" Gabriella " panggil seseorang yang aku kenalin suaranya adalah William.


" MATI ! , Kau harus mati " ucap wanita itu lagi mengabaikan panggilan William seraya terus menekankan benda tajam itu pada leherku


Aku terus memejamkan mataku tanpa berani untuk membukanya , aku bisa saja mendorong wanita itu kebelakang namun jika aku mendorong Gabriella bisa-bisa bayi tidak berdosa yang ada dia kandung wanita itu meninggal , aku tidak bisa membunuh orang yang tidak bersalah , pikirku .


" Gabriella sayang , aku tau kau bukan pembunuh " Ucap William dengan suara pelan dan terdengar tulus


Aku pun memberanikan diri untuk membuka mataku dan kulihat Willian yang tengah menahan benda tajam itu agar tidak melukai leher ku semakin dalam . William menatap Gabriella yang kini tengah dikabuti oleh kemarahan .


" Calon istri dan ibu dari anak ku bukanlah pembunuh , dia wanita yang baik " ucap William lagi seraya terus menatap lembut kearah Gabriella

__ADS_1


Kulihat telapak tangan William yang kini sudah berdarah bahkan bisa ku rasakan William tengah menahan benda itu sekuat tenaganya.


" Dia sudah merebut kebahagiaan ku , William ! " Ucapnya marah seraya menatap kearah pria itu


" Tidak , itu memang miliknya Gabriella . Kumohon sadarlah " ucap William lembut dengan wajah memohon


Namun dengan seketika pintu ruangan Renal pun kembali terbuka dan kini dapat kulihat Renal yang tengah berdiri di depan pintu dengan wajah Khawatir dan kilatan marah yang menjadi satu di wajahnya saat ini .


Saat Renal hendak melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah kami , aku pun langsung menggelengkan kepalaku agar Renal tidak mendekat , pria itu bisa saja memperkeruh keadaan saat ini karna Renal bukanlah orang yang bisa menggendalikan Emosi nya , sepintar-pintarnya pria itu aku tau bahwa Renal minim dalam hal ini , pikirku .


" Bukan ! , Renal milikku ! " Ucap Gabriella tetap pada pendiriannya


" Sebegitu kah kau mencintai Renal ? , tidakkah kau lihat aku yang selalu mencintaimu , Gabriell " ucap William lirih


Dan seketika kulihat perubahan dari raut wajah Gabriella yang sedikit tenang , dan kulihat benda tajam yang tengah di tahan William tak lagi menekan di tangan pria itu namun darah yang keluarkan dari telapak tangan William sangat banyak kulihat .


" Tapi aku tidak mencintai mu Willy " ucap Gabriella sendu dan pelan namun masih bisa terdengar oleh telingaku dan William


" Begitu pula dengan Renal , dia juga tidak mencintaimu " ucap William pelan menenangkan dan menyadarkan Gabriella


Kulihat William mencoba meraih tangan Gabriella untuk digenggam dan dengan perlahan pecahan kaca itu pun di ambil oleh William dan langsung dibuang oleh pria itu.


" Seberapa kuat pun kau berusaha dia tidak akan mencintai mu . cinta adalah hubungan yang timbal balik , jika kau berjuang dia juga harus berjuang , jika dia tidak berjuang untukmu dia tidak mencintaimu . Gabriella tatap aku , aku selalu mencintaimu dan menunggumu , berjuang untuk seseorang yang bahkan tidak mencintaiku , berjuang untuk membahagiakan mu dan Baby kita tapi Gabriella ini sudah terlalu jauh , kau bisa membunuh seseorang yang tidak melakukan apapun . Gabriella tolong berhenti sampai disini kita bisa membangun keluarga kecil yang bahagia dengan kau , aku dan baby kita tanpa ada orang lain , Gabriella aku mencintaimu dan baby yang ada diperut mu , jadi bisakah kamu berhenti sekarang ? , Aku mohon , aku tidak ingin kau menyakiti dirimu sendiri dan juga orang lain " ucap William panjang lebar menegangkan Gabriella seraya menggenggam tangan Gabriella dengan tangan nya yang berlumuran darah .


Aku terus menatap kearah William dan kurasakan William yang begitu mencintai Gabriella hingga membuat Gabriella terdiam sendu saat mendengar semua ucapan William , Gabriella seolah tersadar dengan apa yang ia perbuat saat ini .


William pun menarik Gabriella kedalam pelukannya dan membawa wanita itu keluar dari ruangan tersebut .


Saat Gabriella hendak meninggalkan ruangan tersebut keduanya berpapasan dengan Renal yang masih berdiri tak jauh dari pintu masuk , namun wanita itu tidak berbicara apapun ia malah memutarkan tubuhnya kearah ku dan menatap sendu kearah ku .


" Maafkan aku " ucapnya nya pelan namun aku tau saat melihat postur mulutnya


Aku hanya terdiam seraya melihat wajah pucat wanita itu sampai akhirnya Gabriella dan William keluar dari ruangan tersebut dan kini hanya menyisahkan aku dan Renal saja .


Renal berjalan kearah ku dengan wajah khawatir nya , namun aku hanya terdiam tanpa berniat untuk menyapa pria itu , jujur aku merasa sangat kesal karna pria itu semua ini terjadi , pikir ku.


" Maaf " ucap Renal seketika dengan suara pelan hingga membuat aku menatap kearah Pria itu


" Seharusnya kau tidak main-main dengan seseorang yang terlalu mencintaimu , lain kali berhati-hatilah Renal " Ucapku kesal seraya berjalan melewati pria itu dan hendak pergi namun Renal langsung mencekal lenganku dan berdiri tepat di depan ku .


" Maafkan aku , aku tidak bisa melindungi mu lagi " ucap Renal menyesal seraya menatap kearah ku dan seketika kulihat tatapan Renal yang tajam dan juga rahangnya yang mengeras seolah tengah menahan emosinya


Seketika kurasakan Ibu jari Renal menyentuh leherku yang terluka hingga membuat aku meringis pelan . Dan kembali kulihat Renal mengeram marah namun aku segera menahan tangan

__ADS_1


Pria itu , aku tau apa yang akan Renal lakukan jika ia membuka pintu dan mengejar Gabriella , bisa-bisa Renal membuat Gabriella kembali mengamuk .


" Kau terluka " ucapnya pelan dengan wajah khawatir


" Hanya sedikit " Ucapku menenangkan pria itu


" Kau harus segera diobati , Cindy " ucapnya khawatir


" Aku bisa menggunakan Plaster nanti " ucapku lagi terus menenangkan Renal namun pria itu semakin menjadi


" Kita kerumah sakit sekarang ! " Ucap nya lagi hingga membuat aku memutar bola mataku


" Ini hanya luka kecil , Renal " Ucapku membantah


" Tidak , kita harus tetap kerumah sakit ! " ucapnya Final dan aku pun hanya menuruti kemauan pria itu dengan pasrah


Sebelum kami pergi menuju rumah sakit kamu pun menjemput Rain terlebih dahulu di Daycare hingga membuat Resepsionis terlihat sedikit bingung dengan kehadiran kami pasalnya ini masih terlalu awal untuk menjemput Rain . namun wanita itu tidak terlalu banyak bertanya dan tak berapa lama Rain pun keluar dari gedung tersebut dan langsung di gendongan oleh Renal .


Rain pun melambaikan tangan mungilnya pada resepsionis yang ada di Daycare , kurasakan Rain sangat kerasan di tempat itu .


" Kok Daddy jemput nya cepet banget Tumben " Tanya Rain saat kami berjalan menuju lift


" Mommy terluka " ucap Renal hingga membuat Rain seketika panik saat mendengar ucapan pria itu


Seketika aku merasa ingin sekali memukul Renal dengan apapun , namun aku hanya terdiam tak menanggapi ucapan anak itu .


Seketika kurasakan lagi tatapan ingin tau dari orang-orang yang ada di sana saat kami sudah berada didalam lift hingga membuat aku sedikit menjaga jarak ku dari Renal namun pria itu langsung menarikku hingga mendekat di sampingnya . Dan kulihat satu-persatu pegawai dan pengunjung keluar dan sebagian pegawai yang mengenal Renal pun menatap penuh minat kearah kami . Seharusnya kami naik lift pribadi yang disediakan AA Store untuk Renal jika tau seperti ini , aku benar-benar merasa tidak nyaman jika seperti ini namun aku tetep terdiam mencoba untuk tetap bersikap tenang .


" Mana ? " Tanya Rain khawatir seraya menatap kearah ku


" Bukan luka yang besar sayang , kita tidak harus kerumah sakit hanya perlu diobati di rumah saja " Ucapku lembut namun kurasakan kembali tatapan ingin tau dan bisikk-bisikkan mereka yang ada di sana


" Luka nya dimana Mom ? " Tanya Rain lagi hingga membuat Renal ikut menolehkan pandangannya kearah ku


Aku pun menunjukkan luka kecil yang ada dileher ku dan detik berikutnya aku langsung merasa menyesal telah memberitahu Rain karena tanggapan anak itu sama saja dengan ayahnya .


" Kita harus kerumah sakit secepatnya Daddy , Mommy kehilangan banyak darah " ucap Rain dengan wajah khawatir dan nada suara yang terdengar ketakutan saat melihat luka pada leherku yang memang tidak terlalu besar namun terus mengeluarkan darah


Aku menggelengkan kepalaku agar Rain bersikap tenang karena kami masih berada di dalam lift , kenapa mereka lebay sekali , pikirku.


Saat hendak Protes tiba-tiba Rain yang memang lebih tinggi dariku langsung membekap mulutku dengan tangan mungilnya .


" Mommy Jangan banyak bicara , Nanti darahnya keluar-keluar terus . Mommy diam aja " ucapnya penuh kekhawatiran dengan wajah yang menurutku sangat menggemaskan

__ADS_1


Rasanya aku ingin sekali tertawa namun ku urungkan karena ketulusan dan ketakutan yang Rain berikan itu sangatlah nyata.


Aku hanya terdiam dan tersenyum lembut kearah anak itu , begitu pula dengan Renal yang ikut tersenyum saat melihat kelakuan putra nya .


__ADS_2