
...MASIH POV RENAL .....
.......
.......
.......
Saat ini Aku dan Rain tengah menyantap pancake buatan Cindy seperti orang kesetanan , entah sudah berapa banyak pancake yang aku makan rasanya aku tidak merasa kenyang sedikit pun.
" Renal , hentikan . Kau sudah banyak makan " ucap Cindy memperingati ku seraya menarik piringku hingga membuat aku melirik Cindy dengan tatapan memohon
" Aku masih lapar Sayang " ucapku dengan nada merengek
" No . Kau sudah hampir memakan sepuluh pancake Renal , aku khawatir perutmu akan sakit " ucap Cindy datar
" Sayang— " ucapku terpotong
" No Renal , sekarang pergilah dan segera bawa turun koper-koper kita " ucapnya lagi dan aku pun berdiri dari dudukku dengan wajah pasrah hingga membuat Rain yang ada di sebrang sana terkekeh kecil
" Baiklah , baik " Ucapku pasrah dan mengalah seraya berjalan lesu menuju arah kamar untuk mengambil koper yang telah Cindy bereskan tadi
Aku membawa turun 3 koper berisi pakaian kami berdua dan juga pakaian Rain , sementara barang kami yang lainnya baru akan dibawa dua hari kemudian oleh pihak pengangkut barang.
" Apa kalian sudah siap ? " Tanyaku pada mereka.
" Ah sudah , ayo " ucap Cindy
Aku pun mengeret dua koper sekaligus menuju basement sementara Cindy memaksa untuk membawa koper kecil milik Rain yang sebelumnya aku tolak namun wanita itu tetap bersikeras hingga membuat aku hanya bisa pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Aku sudah memarikirkan mobilku digerasi rumah orang tua ku , aku pun membuka pintu mobil untuk Cindy dan juga untuk Rain lalu membuka pintu bagasi untuk mengeluarkan koper-koperku , beberapa penjaga rumah Papa dan Mama pun segera membawa Koper milikku dan juga miliki Cindy dan Rain , dengan sopan mereka menundukkan kepalanya untuk menyapaku dan juga menyapa Cindy .
" Nenek " ucap Rain berteriak didepan pintu padahal tidak ada tanda-tanda kehadiran Mama disini.
" Dia terlalu bersemangat " Ucapku sambil tersenyum lucu , sementara Cindy hanya terdiam dan masih saja terlihat gelisah .
Aku yang melihat keadaaan wanita itu pun langsung mengambil tangannya dan menggengam nya dengan Erat .
" jangan takut , sayang " ucapku menenangkan Cindy dan Cindy pun mengangguk kecil.
" Kakek " ucap Rain lagi dengan riangnya seraya berlari mendahului ku dan Cindy
Aku melihat Rain yang berlari menghampiri Papa yang saat ini tengah berdiri beberapa ratus meter dari kami dengan Mama yang ada di sampingnya saat ini.
__ADS_1
Aku pun berjalan mendekat kearah mereka dengan tangan yang masih menggengam tangan Cindy dengan eratnya .
" Owh Cucu Kakek " ucap Papa senang seraya menggendong tubuh kecil Rain dan memberikan kecupan singkat dipipi gembul anak itu
" Cindy " Panggil Mama dengan suara lembut hingga membuat Cindy menolehkan pandangannya kearah mama dan tersenyum kikuk.
" Jangan takut , kami sudah menerima mu " ucap Mama lagi menengangkan Cindy hingga membuat Cindy terlihat lega dan dia tersenyum tulus membalas senyuman Mama.
" Apa kalian sudah makan ? " Tanya Mama lagi masih dengan intonasi suara yang lembut.
" Sudah Ma " sahutku dan Mama pun mengangguk paham seraya mengambil tangan Cindy yang masih aku genggam dan membawa Cindy menuju kehalaman belakang diikuti dengan Papa dan Aku yang berjalan dibelakang mereka.
" Kakek " ucap Rain ceria di gendongan Papa
" Ada apa sayang ? " Tanya papa seraya menatap kearah anak itu
" Rain mau punya adik dong " ucap nya bangga dengan wajah ceria hingga membuat Papa langsung menolehkan kepalanya padaku
" Benarkah ? " Tanya Papa
" Iya Kakek , kata Dokter adik Rain ada dua , banyak kan Kek , tapi katanya adik Rain gak bisa keluar sekarang " ucapnya polos hingga membuat Papa semakin menatap tajam kearahku
" Nanti aku jelaskan Pa " ucapku pelan pada akhirnya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Rain sudah diantarkan oleh Cindy kekamar milik nya sendiri , Papa memang sengaja menyiapkan kamar khusus untuk Rain .
" Tolong buatkan Cindy susu hangat dan antarkan kekamar Rain , jangan terlalu manis karna dia bisa memuntahkan nya nanti " ucapku pada salah satu pelayan dirumah ini
Aku pun berlalu menuju ruang keluarga dan kulihat Papa yang tengah terduduk dan langsung menatapku seolah meminta penjelasan sementara Mama hanya menatap heran kearah kami .
" Jadi ? " Tanya Papa langsung saat aku tengah mendudukkan tubuhku di kursi
" Aku akan jelaskan nya , tapi Mama dan Papa tidak boleh memotong ucapan ku , oke ? " Ucapku dan Papa pun mengangguk paham sementara Mama hanya mengikuti Papa tanpa tau pembicaraan apa yang akan kami bicarakan.
Aku pun mulai menceritakan semua nya pada Papa dan Mama termasuk tentang kehamilan Cindy , semua nya kecuali tentang orang tua Cindy yang menolak kehadiran ku dan memilih tidak menganggap Cindy sebagai darah daging mereka .
" Jadi , kau menghamili Cindy tanpa ikatan pernikahan lagi ? " Ucap Papa dengan suara beratnya seraya memijit pelipisnya sementara Mama masih menatapku dengan tatapan tidak percaya
Aku pun mengangguk pelan bahkan aku tidak berani untuk menatap Papa yang kini menatap tajam kearah ku.
" Kau tidak bisa menahan hor— "
" Papa yang salah , siapa yang menyuruh untuk meninggalkan kami berdua waktu itu " ucapku cepat memotong ucapan Papa
__ADS_1
" Papa melakukan Itu untuk membuat hubungan mu membaik , bukan malah membuat cucu baru untuk Papa , Papa hanya bercanda tentang itu dengan Rain , apalagi kau memberikan dua cucu sekaligus , ya Tuhan kau luar biasa , Renal " ucap Papa frustasi
" Renal " panggil Mama pelan hingga membuat aku menatap kearah Mama
" Renal tidak bohong Ma , Mama bisa menghubungi Dokter Briana untuk lebih lengkapnya " Ucapku pada akhirnya.
" Cindy benar-benar luar biasa " ucap Mama memuji Cindy dengan mata berbinar hingga membuat Papa menghela nafas nya
" Cepat nikahi Cindy dan juga beritahu publik segera " ucap Papa padaku dan aku pun mengangguk paham
" Pa , kita akan punya dua cucu lagi " ucap Mama antusias dan Papa pun mengangguk setuju.
" Dan itu sesuai dengan keinginan Cucu pertama kita " ucap papa sambil tersenyum lembut
Setelah berbincang-bincang dengan Papa dan Mama aku pun masuk kedalam Kamar milik Rain dan kulihat Cindy dan Rain yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya .
Aku pun melangkahkan kakiku mendekat kearah mereka dan mencium kedua nya secara bergantian , saat ini sudah hampir malam tapi mereka baru saja terlelap .
Aku pun kembali keluar dengan gelas kosong milik Cindy , setidaknya wanita itu lebih gampang dibujuk untuk meminum susu nya.
Dengan perlahan aku menutup pintu dan berjalan menuju dapur seraya meletakkan gelas kotor milik Cindy di wastafel , tiba-tiba entah kenapa saat ini aku ingin memakan buah Strawberry , dengan malas aku pun berjalan menuju kekulkas untuk mendapatkan buah tersebut namun yang aku inginkan nihil .
" Sial " Umpatku kesal dan segera menutup kembali kulkas tersebut
Aku pun berjalan keluar dari dapur dan saat aku melewati ruangan keluarga aku meliha Papa dan Mama yang masih sibuk menonton televisi.
" Kau mau kemana Renal ? " Tanya Mama
" Membeli Strawberry , Ma " ucapku hingga membuat Mama sedikit mengerutkan keningnya begitu juga dengan Papa
" Strawberry ? , Sejak kapan kau suka buah itu ? " Tanya Papa heran
" Sejak Cindy mengandung Anakku , apa kalian ingin menitip sesuatu ? " Tanya ku seketika
" Tidak perlu " ucap Mama dan aku pun mengangguk paham seraya berlalu meninggalkan ruang tamu namun sebelum aku benar-benar pergi aku dapat mendengar teriakan Papa dari ruang keluarga
" Renal , Jangan lupa beli k*nd*m , Papa tau hormon mu itu sudah tidak tahan untuk segera dikeluarkan " ucap Papa berteriak hingga membuat aku mengeram kesal
" Akh dan juga , Papa sengaja membuat Kamar mu dan Cindy kedap suara " Sambungnya lagi hingga membuat aku memutar bola mataku dan segera memutar tubuhku untuk menghadap kearah Papa yang masih duduk santai di ruang keluarga
" Terima kasih , Pa " ucapku ketus dan Papa hanya tertawa hingga membuat aku sedikit kesal dan dengan cepat aku pun segera keluar untuk membeli apa yang aku inginkan
" Sabar sayang , delapan bulan lagi " ucapku pelan seraya menatap kearah bawah ku
" akh sial , ini benar-benar sial . Aku bahkan tidak tahan untuk dua minggu kedepan " ucapku menggerutu tak jelas
__ADS_1