
PERHATIAN! NOVEL INI MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!
Happy Reading!😊
Robi dan Vira berhenti setelah memasuki hutan cukup dalam.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Vira.
"Kau pikir untuk apa?" Robi malah balik bertanya.
Vira terdiam. Ternyata benar dugaan Vira. Robi tidak mempunyai niat baik pada Vira.
Robi mengeluarkan kresek kecil. Dalam kresek itu terdapat gorengan bakwan. Robi mengambil 3 buah bakwan.
"Kau lihat ini? Apa kau tau ini apa?" tanya Robi.
Vira tidak menjawab pertanyaan Robi. Vira hanya memperhatikan Robi yang sedang memegang bakwan dengan tangannya.
"Dengar, kau tau persamaan kau dengan bakwan ini?" tanya Robi.
Lagi-lagi Vira hanya diam.
"Sama-sama mur*h*n" ucap Robi.
Vira mengepalkan tangannya, menahan amarah.
"Bahkan kau lebih mur*h*n dari bakwan ini. Bakwan ini masih mempunyai harga untuk dibeli. Tapi kau sama sekali tidak mempunyai harga, Vira. Tidak ada yang ingin membelimu, tidak ada yang menginginkanmu di dunia ini" Robi melontarkan kata-kata h*n*an pada Vira.
Vira menatap Robi dengan sangat kesal.
"Untuk apa kau hidup Vira? Orang yang sangat menyayangimu sudah tiada. Kau sendiri yang mel*ny*pkannya. Lebih baik kau m*t* saja" ucap Robi menyeringai licik.
"Diam!" bentak Vira.
"Kenapa? Apa kau tidak terima dengan kenyataan ini?" hardik Robi.
Robi melemparkan bakwan pada wajah Vira. Dengan sigap Vira menangkap salah satu bakwan yang hendak mengenai wajah Vira.
__ADS_1
Vira meremas bakwan itu dengan tangannya. Vira menggertakan giginya. Mata Vira memerah. Kini Vira tidak bisa menahan amarahnya.
Vira berjalan cepat ke arah Robi.
Bugh,, satu bogeman keras mendarat di wajah Robi. Robi tersungkur ke belakang.
Robi terkejut dengan tindakan Vira.
"Hey, apa yang kau lakukan? Kenapa kau mem*k*l wajahku?" tanya Robi.
Vira tidak menjawab. Vira mengambil kresek yang jatuh dan masih tersisa 2 buah bakwan.
Robi berusaha bangkit, namun Vira mendorongnya lagi. Robi kembali tersungkur. Vira mem*ks* Robi memakan bakwan yang ada di tangannya. Vira memasukan bakwan pada mulut Robi secara paks*. Kini tangan Vira sudah berlumuran minyak akibat memegang bakwan.
Setelah itu Vira berdiri kembali dan menatap Robi yang tampak mengatur nafasnya. Robi kesusahan bernafas karna Vira mem*ks* memasukan bakwan pada mulutnya.
Robi memuntahkan bakwan itu. Robi berdiri dengan mata yang melotot pada Vira.
"Apa-apaan kau ini? Cuih.." Robi melud*h di depan Vira.
Robi hendak mem*k*l Vira, namun dengan cepat Vira menghindar dan Vira balik memuk*l Robi.
Vira sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi. Sampai akhirnya Robi bertekuk lutut dihadapan Vura meminta ampun. Wajah Robi sudah terukir lukisan berwarna biru bekas puk*lan Vira.
"Ampun,, Vir,, aku salah. Aku ngaku salah,, maafkan aku.." Robi memeluk lutut Vira.
Vira menghempaskan tangan Robi dari lututnya.
"Ampun? Maaf? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Vira. "Bukankah kamu bilang aku mur*h*n? Tidak ada orang yang menginginkanku di dunia ini? Semua orang ingin aku mat*?" tanya Vira lagi.
Vira terdiam menatap Robi. Begitupun juga dengan Robi. Sungguh, saat ini Robi sangat takut pada Vira. badannya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi. Ingin sekali rasanya dia mencabut hardikan yang diberikannya pada Vira. Tapi,, mungkin itu sudah terlambat. Vira sudah diluar kendali.
"Sekarang memang akan ada orang yang mat*. Tapi bukan aku. Melainkan kamu" Vira menunjuk Robi dengan tegas.
"Ampun Vir,, aku salah,, aku minta maaf.." mohon Robi.
"Sekarang kata-kata itu sudah tidak berguna untukmu" ucap Vira.
__ADS_1
Vira perlahan mendekat pada Robi. Robi bangkit dan berupaya untuk lari dari Vira. Namun Vira dapat mencegah Robi melarikan diri.
Vira memegang kepala Robi dan memb*nturkannya pada pohon yang ada di hutan itu. Dar*h segar keluar dari kepala Robi.
Robi menangis kesakitan. Bagi Vira, tidak ada kata maaf untuk Robi.
berulang kali Vira memb*nturkan kepala Robi pada pohon. Robi sudah tidak bisa berdiri lagi. Badan Robi terlentang tidak berdanya. Tas yang di gendong Robi sudah terlepas dari punggungnya.
Vira membuka tas Robi dan mengambil 2 buah pensil. Vira memegang erat 2 pensil itu di tangannya.
Vira tersenyum mengerikan. Sudah terlintas ide jahat untuk membalas perbuatan Robi pada Vira.
"Vir,, apa yang ingin kamu lakukan?" Robi mulai panik karna Vira tersenyum aneh. "Jangan Vir,, jangan,, aku mohon.." mohon Robi yang sudah tau apa yang akan Vira lakukan padanya.
Vira tidak mendengarkan permohonan dari Robi. Akalnya sudah tidak bisa berpikir jernih.
Jleb,, Vira men*ncabkan 1 pensil pada dada sebelah kanan Robi.
"Akh.." teriakan Robi terdengar di dalam hutan.
"Satu lagi sebagai bonus untukmu" ucap Vira.
Jleb,, pensil ke-2 men*ncab pada dada kanan Robi, tepat pada jantungnya.
Robi membuka matanya dan berhenti bernafas. Ya,, akhirnya Robi,, kalian tau sendiriya gimana.
Wajah Vira terkena cipratan dar*h Robi. Vira berdiri dan menatap Robi yang sudah tidak bernyawa lagi.
Vira tersenyum dan melihat tangan yang digunakan untuk men*s*k dada Robi. Vira tersenyum. Entah apa yang dia rasakan. Yang jelas, Vira merasa lebih lega dan bebas.
"Hahahah.." Vira tertawa. "Akhirnya,, bebas. Aku bebas dari manusia ini" Teriak Vira.
Vira merasa lega sekali. Tidak ada beban dihatinya, seolah batu besar yang selama ini menimpa tubuhnya hilang begitu saja.
Terima kasih sudah mampir😊
Silahkan tinggalkan jejak😆
__ADS_1
Tbc..