Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Kedatangan Dewi


__ADS_3

Happy Reading!


Vira masuk ke kamarnya untuk menemui April. Namun orang yang dicari Vira entah berada di mana. Vira mencari ke tempat lain.


Setelah lama mencari, Vita tak kunjung menemukan sahabatnya itu. Vira terpikir ada satu tempat yang belum dia datangi. Vira berlari menuju tempat itu.


Setelah sampai di tempat itu, Vira mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya. Vira bernafas lega saat sosok yang dicarinya ada.


Vira dapat melihat April yang tengah duduk di pinggir jurang yang ada di hutan belakang panti. Vira ikut duduk di sebelah April.


Vira menyodorkan 1 batang cokelat pada April. April menerima cokelat dari Vira.


"Maaf" itu yang diucapkan Vira pada April.


"Iya" balas April.


Vira dan April memakan coklat mereka.


"Kenapa kamu duduk di sini?" tanya Vira.


"Kamu juga duduk di sini" jawab April.


"Aku duduk karna ngikutin kamu" ucap Vira.


"Aku lagi mikir. Di mana ujung sungai itu" ucap April.


Ya,, memang April duduk di pinggir jurang dan melihat sungai yang berada di bawah jurang itu.


"Tidak ada ujungnya" balas Vira.


April mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Jika sungai berakhir, maka air sungai akan masuk ke laut atau ke danau, atau juga ke rawa. Tapi sebenarnya ada namanya untuk ujung sungai. Tapi menurut aku itu sama saja" jelas Vira.


April terdiam.


"Pril, apa kau tau kenapa air sungai dapat mengalir dengan normal?" tanya Vira.


April menggelengkan kepalanya.


"Karna air sungai memiliki jalur. Begitu juga dengan kita. Jalur hidup kita disebut takdir" ucap Vira.


April menganggukkan kepalanya.


"Kau lihat batu besar itu" Vira menunjuk batu besar yang ada di tengah-tengah sungai.

__ADS_1


"Iya" jawab April.


"Batu besar itu adalah halangan untuk air. Tapi lihat, sekuat apapun batu itu, tidak akan pernah bisa menghalagi laju air. Bahkan air bisa membuat batu besar hancur" ucap Vira.


April terdiam.


"Manusia itu seperti air. Mengalir mengikuti takdirnya. Mereka menghadapi masalah dan rintangan dengan cara mereka sendiri. Tapi terkadang jika ada masalah yang lebih besar, mereka menjadi lemah dan putus asa. Dan kau tau, aku bukanlah diantara orang yang lemah dan putus asa. Aku menghadapi masalah dengan caraku. Aku tidak perduli pendapat orang lain. Aku hanya mengikuti kata hatiku" ucap Vira panjang lebar.


"Tapi Vir, cara kamu.." perkataan April dipotong oleh Vira.


"Syut,, aku sudah bilang padamu. Aku tidak perduli pendapat orang lain" potong Vira.


Vira dan April kembali terdiam.


"Aku minta padamu, jangan beritahukan ini pada orang lain" pinta Vira.


Vira berdiri daru duduknya dan berjalan menjauh dari April.


"Vir" panggil Apri.


Vira membalikkan tubuhnya.


"Aku takut kalo kamu ketangkep" ujar April.


Vira tersenyum.


Vira pergi meninggalkan April. April sangat takut Vira akan tertangkap oleh polisi. Karna jika Vira tertangkap, maka Vira akan jauh darinya.


...***...


Di panti masih heboh oleh kasus kematian bu Cece. Namun Vira tidak memperdulikannya sama sekali. Banyak orang yang sengaja datang hanya untuk melihat mayat bu Cece. Bahkan Dewi yang mendapat kamar kematian bu Cece langsung datang.


Para polisi masih berada di TKP. Polisi mencari bukti dan jejak pelaku pembunuhan. Polisi juga mengecek CCTV. Namun itu semua tidak membuahkan hasil.


Dewi berbicara pada pengurus panti agar dia diizinkan untuk bertemu Vira. Dan pengurus panti pun mengizinkannya.


Vira sedang berada di kamar bersama dengan April. Tiba-tiba Dewi masuk begitu saja. Vira dan April melihat ke arah Dewi.


Seketika raut wajah Vira berubah. Vira membuang wajahnya.


"Saya mau berbicara dengan Vira" ucap Dewi.


"Aku tidak mau" tolak Vira.


"Kita harus bicara" tekan Dewi.

__ADS_1


"Heheh.." Vira tertawa kecil. "Apa yang harus dibicarakan? Apa sebelumnya, kita pernah bertemu?" tanya Vira.


Pertanyaan Vira bagaikan tamparan untuk dewi.


"VIRA!" teriak Dewi.


"Heheh,, tidak perlu berteriak. Aku hanya bercanda saja" ucap Vira. "Pril, tolong tolong tinggalkan kami" pinta Vira.


"Baik" jawab April.


April pun keluar dari kamar itu. Tersisalah Vira dan Dewi.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Dewi.


"Langsung saja apa yang ingin kau katakan. Tidak usah berbasa-basi" ucap Vira.


"Baiklah kalo itu yang kamu mau. Pasti kamu yang sudah membun*h bu Cece kan?" tanya Dewi.


Vira berjalan mendekati Dewi.


"Ya, aku yang membun*hnya. Aku juga bisa membun*hmu" jawab Vira.


Dewi terkejut dan memundurkan tubuhnya.


"Kenapa? Apa kau takut? Apa kau percaya?" tanya Vira.


"..." Dewi tidak menjawab. Dewi hanya menutup mulutnya saja.


"Apa kau gil*? Bagaimana mungkin aku yang membun*h bu Cece? Untuk apa aku membun*hnya?" tanya Vira.


Dewi mengerutkan keningnyan.


"Maksudmu?" tanya Dewi tidak mengerti.


"Bukan aku yang membun*hnya" jawab Vira.


"Kalo bukan kamu, lalu siapa?" tanya Dewi.


"Mana ku tau" jawab Vira.


Dewi merasa setelah cukup lama Vira berada di panti ini, Vira berubah. Dia seperti tidak tertekan, Vira tidak merasa tersiks*. Vira malah sebaliknya. Dia menjadi lebih pintar dan waspada.


Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2