Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Rumah Baru


__ADS_3

Happy Reading!😊


Semua orang sudah berkumpul kembali. Kini Vira berdiri di samping Bima. Bima berdiri dengan tegak dan tegas sambil memegang tangan Vira.


"Dengar. Mulai sekarang, Syavira adalah anakku. Tidak ada yang boleh menyentuh anakku. Jika ada yang berani menyakitinya, maka akan berhadapan langsung denganku" teriak Bima di depan semua orang.


"Syavira? Apa maksudnya bos?" tanya salah satu anak buahnya.


"Ya, namanya Syavira" jawab Bima. "Apa kalian tidak mengerti apa yang ku katakan?" tanya Bima dengan keras.


"Mengerti bos" jawab para anak buah secara serempak.


Mereka tidak mau jika harus diberi penjelasan untuk yang ke-2 kalinya oleh Bima. Semua anak buah Bima ke luar. kecuali beberapa orang yang memang cukup dekat dengan Bima.


Ada 3 orang pria dewasa dan 3 orang anak seusia Vira.


"Kami butuh penjelasan" ucap salah satu pria dewasa itu.


"Rendi, Nathan, Roy, ajak Syavira untuk melihat markas kita" titah Bima.


"Baik om" patuh ke-3 anak itu.


Rendi, Nathan dan Roy, adalah ke-3 anak yang ditemui Vira sebelum Vira dibawa ke markas.


"Syavir, kamu bersama mereka dulu" ucap Bima.


Vira menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Vira mengikuti ke-3 anak itu.


3 orang dewasa yang bersama bima itu, ayah dari ke-3 anak yang mengajak Vira berkeliling. Ayah Rendi bernama Wisnu, ayah Nathan bernama Iqbal dan ayah Roy bernama Bram.


"Eh, tunggu" ucap Rendi.


"Kenapa?" tanya Nathan dan Roy bersamaan.


"Kita belum kenala" jawab Rendi. "Kenalin, gue Rendi" ucap Rendi memajukan tangannya.


Vira menatap tangan rendi yang meminta dibalas jabatannya. Vira membalas jabatan tangan Rendi tanpa berucap.


"Gue Roy" Roy dan Vira berjabat tangan.


"Nathan" Nathan juga melakukan hal yang sama seperti Rendi dan Roy.

__ADS_1


"Ko lo gak ngomong sih?" tanya Rendi.


"Lo lagi sariawan?" tabya Roy.


Vira hanya diam tak menjawab.


"Ah,, gue tau. Lo pasti bisu kan?" tanya Rendi.


"Eh, gak mungkin dia bisu. Tadi dia ngomong toil" Roy menjitak kepala Rendi.


"Aw,, sakit bege" keluh Rendi memegang kepalanya yang sakit.


"Vira" ujar Vira secara tiba-tiba.


"Vira?" tanya Rendi dan Roy bersamaan.


"Bukannya nama lo Syavira?" tanya Nathan.


"Em,, ya. Vira adalah nama panggilanku" jawab Vira.


"Aku? Gak salah nih? Kok bilangnya aku sih?" tanya Roy.


"Terus harus apa?" tanya Vira agak bingung.


"Mungkin dia belum terbiasa" ucap Nathan.


"Oo,, belum berbiasa. Ya udah, mulai sekarang harus dibiasain" ucap Rendi.


...***...


Di lain sisi.


"Bim, jelasin apa maksud dari semu ini?" tanya Bram.


Bima tidak menjawab. Dia malah berjalan ke arah singga sananya dan duduk santai.


"Bim" panggil Bram.


"Hem,, ya udah. Biar aku jelaskan" Bima mulai serius. "Aku dapat melihat ada sesuatu yang berbeda dari anak itu. Sesuatu yang selalu ingin terlampiaskan. Dia mempunyai kemampuan yang sama seperti kita" tutur Bima.


"Lalu akan kau apakan gadis itu?" tanya Wisnu.

__ADS_1


"Kau akan menjadikannya sebagai bud*kmu?" tanya Iqbal.


"Hahah.." Bima tertawa. "Tentu saja tidak. Aku akan menjadikannya sang Alpha. Dia akan menjadi kebanggaanku. Aku akan melatihnya" jawab Bima sambil merentangkan tangannya.


"Kau akan melatihnya di jalan yang salah?" tanya Wisnu.


"Hey,, kalian pikir apa pekerjaan kita selama bertahun-tahun?" tanya Bima.


Tidak ada yang menjawab perkataan Bima.


"Aku akan pulang. Jika ada masalah, kalian tangani dulu" ucap Bima.


Belum sempat Bram, Wisnu dan Iqbal menjawab, Bima sudah pergi.


Bima mengajak Vira untuk pulang ke rumahnya.


"Ayo, duduk di depan" ucap Bima.


Tanpa menjawab, Vira menuruti perkataan Bima.


15 menit kemudian, Vira dan Bima sudah sampai. Vira melihat rumah berukuran sedang yang terdiri dari 2 lantai. Rumah itu bercat abu dengan nuansa modern yang diberi sentuhan klasik.


Vira diajak masuk oleh Bram. Vira terpukau oleh tumah milik Bima.


"Dengar, mulai sekarang ini juga rumahmu. Mari kita jalani kehidupan selayaknya orang tua dan anak" ucap Devan.


Vira menganggukkan kepalanya.


"Aku harus memanggilmu apa?" tanya Vira.


"Terserah kau saja" jawab Bima.


Vira terdiam, dia bingung harus memanggil Bima dengan panggilan apa.


"Gimana kalau ayah aja. Biar gak ribet" usul Bima.


"Boleh" balas Vira.


Vira masih gugup berbicara dengan Bima.


Terima kasih sudah mampir😊

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak😆


Tbc..


__ADS_2