
Happy Reading😊
Vira bersama teman-temannya berjalan menuju markas.
"Vir, tumben lo baik sama orang" ujar Rendi.
"Iya, biasanya juga gak peduli" timpal Roy.
"Emang kenapa?" tanya Vira.
"Ya,, aneh aja" jawab Rendi.
"Hari ini suasana hati gue lagi seneng" ucap Vira.
"Oo.." Rendi dan Roy hanya ber O ria saja.
"Tadi kenapa lo bales salam si Akbar?" tanya Nathan.
"Emang kenapa? Gak boleh?" tanya Vira.
"Emang agama lo apa?" tanya Nathan.
Vira berhenti dan terdiam.
"Kenapa berhenti?" tanya Roy.
"Lo gak punya agama?" tanya Rendi.
"Sembarangan aja lo" Vira menoyor kepala Rendi.
"Terus agama lo apa?" Nathan mengulangi pertanyaannya.
"Gak punya agama gue" jawab Vira.
"Yakin lo?" tanya Roy.
"Gue pikir yakin si" jawab Vira dengan ambigu.
"Terus kenapa lo jawab salam si Akbar?" ucap Rendi ragu pada Vira.
"Gak papa" ucap Vira.
"Lo kok tau jawaban salamnya?" heran Roy.
"Karna gue sering denger. Udah ah jangan bahas ini." Vira menoyor kepala Roy.
Nathan hanya diam saja mendengar percakapan Vira, Rendi dan Roy.
Skip.
Sebelum malam, Vira sudah berada di rumahnya. Vira tidak menginap di rumah Rendi, karna Bima berkata dia akan pulang malam ini. Namun itu entah kapan, bisa saja tengan malam.
Sebenarnya Vira tidak takut di rumah sendirian. Hanya saja Bima selalu menghawatirkan Vira jika di rumah sendirian.
Pukul 18.30, Vira turun ke bawah karena perutnya terasa lapar. Saat masuk dapur, Vira menemukan sosok ayah angkatnya yang sedang memasak.
"Ayah" ujar Vira.
Bima membalikkan badannya.
__ADS_1
"Eh, sayang" balas Bima.
"Ayah ini kenapa? Kenapa bisa terluka?" tanya Vira saat melihat punggung Bima ada luka sayatan.
Vira bisa melihat itu karna Bima bertelanjang dada. Bima baru menyadari kalau dia tidak memakai baju.
"Tidak papa sayang, ini hanya sebuah goresan" jawab Bima.
"Ayah bohong" Vira mematikan kompor dan menarik Bima ke ruang tengah.
Vira mendudukkan Bima.
"Ayah berbalik" titah Vira.
Bima menggelengkan kepalanya.
"Ayah.." geram Vira.
Bima menggelengkan kepalanya lagi.
"Ayah.." dengan paksa Vira membalikkan tubuh Bima.
Vira merasa ngilu saat melihat luka Bima.
"Ini hanya sebuah goresan kecil sayang" ucap Vira.
"Goresan kecil gimana, besar gini" balas Vira. "Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana" titah Vira.
Vira segera berlari ke kamarnya dan membawa kotak obat.
Vira mengambil salep dan membuka tutupnya. Vira mengeluarkan isi salep itu di jarinya. Vira dengan telaten mengoleskan salep itu pada luka Bima.
"Diam. Jangan bergerak. Salah sendiri terluka" ucap Vira.
Bima tak berani bergerak. Ucapan Vira terdengar dingin dan marah.
"Selesai" ucap Vira.
"Terima kasih sayang" ucap Bima.
Vira tak menanggapi ucapan terima kasih Bima. Bima yakin kalo Vira sedang marah padanya. Setelah mengoleskan salep, Vira berdiri. Dia akan pergi ke dapur. Saat Vira hendak melangkah, tiba-tiba Bima menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.
"Ah,, ayah lepasin aku" ucap Vira memberontak.
"Tidak akan" tolak Bima.
"Ayah.." Vira berusaha memberontak. Namun tenaga Bima jauh lebih kuat darinya.
Setelah cukup lama berjuang, akhirnya Vira menyerah dan memilih diam tak berkutik.
"Sudah selesai?" tanya Bima.
Vira mendengus kesal.
Bima melonggarkan pelukannya pada Vira. Bima menatap Vira dengan lekat. Vira dan Bima saling menatap.
"Kamu masih marah?" tanya Bima.
Vira membuang wajahnya. Rupanya Vira masih marah.
__ADS_1
"Maafkan ayah ya" ucap Bima.
"Seharusnya ayah tidak boleh menyepelekan luka seperti itu" omel Vira.
"Iya,, iya,, ayah salah. Maafkan ayah ya" ucap Bima.
"..." tidak menjawab.
"Ya udah, kalo gak mau maafin ayah, ayah gak mau lepasin kamu" ancam Bima.
Vira berusaha lagi melepaskan diri dari Bima. Namun semakin Vira berusaha, semakin kencang pula Bima memeluknya.
"Ah,, iya, iya" ucap Vira prustasi.
"Iya apa?" tanya Bima pura-pura tidak mengerti.
"Iya, aku maafin ayah" jawab Vira.
Akhirnya Bima melepaskan pelukannya dari Vira. Vira bernafas lega karna sang ayah sudah melepaskan pelukannya.
"Makasih ya sayang" ucap Bima.
"..." Vira tak menanggapi ucapan Bima.
Bima hendak memeluk Vira lagi, namun Vira segera menghindar.
"Iya sama-sama" balas Vira.
Vira pergi meninggalka Vira.
"Kamu mau ke mana?" tanya Bima sedikit berteriak.
"Ke dapur" jawab Vira.
Bima menyusul Vira. Bima melihat Vira yang melanjutkan masakan Bima.
"Biar ayah aja yang masak" ucap Bima.
"Biar aku aja. Ayah istirahat aja" tolak Vira.
"Udah biar a-" Bima tidak melanjutkan ucapannya karna mendapat tatapan tajam dari Vira. "O,ok. Ayah akan duduk beristirahat" ucap Bima.
Bima meninggalkan Vira di dapur.
10 menit kemudian, Vira sudah menyelesaikan masakannya. Vira menyajikan makanannya di atas meja makan. Vira dan Bima makan bersama.
"Eum,, ayah tidak tau kalau kau pintar memasak" ujar Bima disela-sela makannya.
"Aku tidak menunjukkan bakatku" balas Vira.
"Eh,, sombongnya.." ledek Bima.
"Bukan sombong ayah. Tapi bangga" ralat Vira.
"Iya,, iya.." Bima mengalah.
Terima kasih sudan mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
__ADS_1
Tbc..