
PERHATIAN! NOVEL INI MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!
Happy Reading!๐
"Tapi tak disangka, kamu datang dan meminta aku menikah denganmu. Dengan alasan putrimu membutuhkan seorang ibu. Hahah.. putrimu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dariku. Kau tau, aku sering meny*ksanya. Aku senang saat aku meny*ksa putrimu itu" lanjut Dewi dengan tertawa jahatnya.
Devan memdekati Dewi dengan tujuann ingin men*mparnya. Namun Dewi segera menangkap tangan Devan dan menghempaskannya. Devan sedikit terpental ke belakang.
Dewi melihat pis*u buah yang ada di antara buah-buahan di atas meja ruang tamu. Dengan cepat Dewi mengambil pis*u itu, dan berjalan cepat menuju Devan.
Jleb,, Dewi men*suk perut Devan.
Devan membuka matanya merasakan benda tajam menembus kulit di perutnya. Dar*h segar keluar dari perut Devan.
Dewi menarik kembali pis*u yang dia tus*kkan.
Jleb,, untuk ke-2 kalinya Dewi men*sukan pis*u pada perut Devan. Devan kembali membuka matanya dengan lebar.
Dewi kembali menarik pis*u pada perut Devan. Dewi menggenggam pis*u itu.
Devan memegang perutnya yang berdar*h. Tangan Devan dipenuhi dengan dar*h dari perutnya. Tak lama tubuh Devan pun tumbang. Devan jatuh kelantai dengan posisi terlentang.
Dewi tersenyum kejam.
"Itu tanda terima kasihku padamu sayang" ucap Dewi. "Dan apakah boleh, aku menambahkan bonus untukmu?" tanya Dewi.
Devan tak bisa berbicara, dia menahan rasa sakitnya.
"Diam mu kuanggap sebagai jawaban iya" ucap Dewi.
Jleb,, Dewi men*sukkan pis*u pada Devan untuk yang ke-3 kalinya. Kini Dewi men*suk Devan dibagian dada sebelah kirinya, bertepatan dengan jantung Devan.
Dewi membiarkan pis*u itu terus men*ncab. Dewi sengaja melakukan itu pada Devan.
"Sampai jumpa lagi sayang" ucap Dewi menyeringai.
Setelah itu Dewi pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Devan tidak kuat menarik pis*u dari dadanya. Perlahan tenaga Devan melemah. Dan pandangannya mulai kabur.
Vira, maafkan ayah sayang. Ayah menyesal. Ayah akan tetap menyayangimu selamanya. Ucap Devan dalam hati.
Devan pun tak sadarkan diri. Devan meninggal dengan keadaan pisau masih men*ncab di dadanya.
Dewi menutup pintu kamarnya dan berjalan ke kamar mandi. Dewi menatap tangannya yang dipenuhi dar*h milik Devan. Dewi membersihkan tangannya sampai bersih. Dia menatap dirinya di cermin yang ada di kamar mandinya. Dewi tersenyum pada dirinya sendiri. Tapi seketika senyum Dewi memudar.
"Bagaimana ini? Aku harus memberikan penjelasan apa pada semua orang? Devan sudah mat*" gumam Dewi.
Dewi keluar dari kamar mandi. Dia melirik jam yang menempel di dinding. Jam menunjukan pukul 11.20 Wib. Sebentar lagi anak-anak akan pulang.
...***...
Vira sekelas dangan Indra dan Indri. Hanya saja jika setelah selesai sekolah, Vira langsung pulang. Sementara Indra dan Indri memilih main terlebih dahulu.
Hari inipun Vira pulang terlebih dahulu. Jujur saja, pikiran Vira tak bisa lepas dari Devan. Vira merasakan firasat buruk.
Vira berlari menuju rumah. Meskipun Vira anak orang kaya, Vira tidak datang dan pulang menggunakan supir. Devan memang menyediakan supir untuk anak-anaknya pergi dan pulang ke sekolah. Namun Vira tidak mau, karna Indra dan Indri selalu menolak semobil dengan Vira. Vira pun tak keberatan.
Vira selalu berjalan kaki atau diantarkan dengan motor oleh mang Setno.
"Mang, apa ayah keluar?" tanya Vira.
"Tidak non. Tuan ada di rumah" jawab mang Setno.
"Baiklah, terima kasih mang" Vira segera pergi ke dalam rumahnya.
Vira ingin langsung menemui ayahnya dan meminta maaf karna semalam dia berbicara kasar pada Devan. Vira baru sampai ruang tamu. Vira hendak melangkah ke arah tangga.
Langkah Vira terhenti melihat cairan merah menggenang di lantai rumahnya. Perlahan tapi pasti, Vira melihat cairan apa yang menggenang di ruang tamu.
Vira tertegun melihat sumber cairan merah itu. Ternyata, cairan merah itu adalah dar*h yang berasal dari tubuh Devan. Nafas Vira tertahan melihat tubuh Devan yang bergelimang darah, serta sebuah pis*u men*ncab pada dada Devan.
"AYAH..!" teriak Vira.
Vira segera memeluk tubuh Devan.
__ADS_1
"Ayah,, bangun,, ayah kenapa? Siapa yang melakukan ini pada ayah?" tangis Vira dengan histeris.
Vira menarik pis*u yang men*ncab di dada Devan.
Dewi terkejut oleh teriakan Vira.
"Vira" gumam Dewi.
Dewi segera turun ke bawah. Dari atas, Dewi melihat Vira memeluk tubuh Devan yang sudah tidak bernyawa. Ide jahat terlintas di pikiran Dewi untuk menyingkirkan Vira, dan juga untuk menghilangkan kecurigaan orang terhadapnya. Dewi akan menjadikan Vira sebagai kambing hitamnya.
Akting Dewi pun dimulai.
Dewi berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"VIRA!" teriak Dewi yang melihat Vira menarik pis*u dari dada Devan.
Vira terkejut dengan teriakan Dewi. Vira menatap Dewi.
"Tante, ayah kenapa tante? Tolong selamatkan ayah tante.." ucap Vira dengan berlinang air mata.
Vira masih memegang pis*u.
Dewi mendekati Vira. Vira juga berdiri mendekati Dewi.
"Tante,, tolong ayah, tante.. Tolong selamatkan ayah.." pinta Vira pada Dewi.
Plak,, Dewi men*mpar wajah Vira dengan sangat keras, hingga sudur bibir Vira berdarah. Bahkan Vira pun sampai mundur ke belakang akibat tamparan Dewi.
Vira melepaskan pis*u dari tangannya. Vira memegang wajahnya yang terasa panas. Vira menatap Dewi dengan tanda tanya. Mengapa Dewi menamparnya? Apa salahnya?
"Kenapa kau melakukan ini pada ayahmu?" tanya Dewi dengan keras.
Vira mengerutkan keningnya. Dia masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dewi.
Terima kasih sudah mampir ๐
Jangan lupa tinggalkan jejak๐
__ADS_1
Tbc..