
"Aku tidak bergohong bos. Aku lebih dikagetkan saat tau bos kecil datang bersama Hanny." ucap Dion.
"Hanny? Siapa dia?" tanya Wisnu.
"Hanny adalah wanita yang sangat menyukai hal paling inti dari manusia. Pria ataupun wanita bisa dia tiduri. Dia punya kekuasan dan pengaruh paling kuat di negara Y. Tak ada satu pun yang berani padanya." jelas Dion.
Bima terdiam. "Apa kau berbicara dengannya?"
"Ya bos. Aku tau dia tidak mengenaliku. Jadi aku mengirimkan tanda khusus yang hanya dikatahui oleh anggota kita saja. Bos kecil mengenali tanda itu. Dia menghampiriku dan kami berbicara."
"Apa yang dia katakan?"
"Bos kecil tersesat dan Hanny menyelamatkannya. Sekarang bos kecil terjebak di sana."
"Kenapa Vira tidak melawan?" tanya Nathan.
"Kata bos kecil, posisinya dirugikan. Untuk saat ini bos kecil tidak bisa melawan. Awalnya bos kecil meminta bantuanku untuk menyampaikan pesan pada bos. Bos kecil meminta bantuan bos besar. Aku mematuhinya. Tapi entah kenapa bos kecil membatalkan titahnya. Dia bilang tidak mau melibatkan bos besar. Bos kecil yang memulai, maka bos kecil juga yang akan mengakhiri." jelas Dion dengan panjang lebar.
"Lalu kenapa kau memberitahuku?" tanya Bima.
"Bim, apa yang kau katakan? Dia itu putrimu! Kau tidak mau membantu putrimu sendiri?" protes Wisnu pada pertanyaan Bima.
"Dia sudah berkata seperti itu, maka aku tidak berhak mencampuri urusannya." balas Bima dengan santai. Meskipun hatinya berkecamuk khawatir.
"Kau ini." decak Wisnu. "Bagaimana kondisi Vira?" tanya Wisnu.
"Bos kecil tidak baik-baik saja" jawab Dion.
"Apa maksudmu? Ada apa dengan putriku?" desis Bima.
"Bos kecil terluka. Ada yang melukai dia. Sesudah dia membatalkan titahnya, dia masuk ke toilet. Tak berselang lama, seseorang mengatakan ada mayat di toilet. Dan ternyata itu bos kecil."
Bima terlonjak kaget. Dia langsung berdiri dan berjalan cepat ke arah Dion. Bima mencengkram kuat kerah baju dion.
__ADS_1
"Apa maksus ucapanmu itu? Kau mengatakan mayat itu putriku? Jadi maksudmu putriku sudah tiada?" Bima marah atas pernyataan Dion.
"Tidak bos. Bos kecil masih hidup. Tapi dia terluka. Hanny membawa bos kecil pergi. Oleh sebab itu aku melapor padamu." jelas Dion yang sudah sangat ketakutan.
Bima menghempaskan Dion.
"Kenapa kau tidak menolong Vira?" tanya Iqbal.
"Jika aku menolong bos kecil, identitas kami akan diketahui oleh anak buah Hanny. Dan kami tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari negara Y."
Suasana berubah hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
...πππ...
Vira sedang berada di balkon kamar yang dia tempati. Dari sana, Vira bisa melihat area luar dengan jelas. Vira baru sadar kalo dia menempati sebuah mansion mewah milik Hanny.
Apa yang sedang ayah lakukan sekarang Tanya Vira dalam hati. Vira tiba-tiba teringat pada Bima.
Vira merasa tidak tenang. Saat seperti ini, Vira ingin menyesap benda kecil panjang. Namun Vira tidak memiliki itu. Vira juga tidak memiliki uang. Ponsel dan dompetnya hilang entah ke mana. Mungkin sudah dimakan oleh paus di laut lepas. Vira bangkit dan berjalan menuju pintu.
Vira membuka pintu itu. Tebakan Vira benar. Pasti ada anak buah Hanny yang berjaga di luar kamar Vira.
"Kau punya rokok?" tanya Vira.
Penjaga itu mengangguk.
"Boleh kuminta?"
Tanpa menjawab, penjaga itu merogoh sakunya kemejanya dan mengeluarkan bungkus rokok disertai dengan pemantik. Dengan cepat Vira merebut rokok dan pemantik itu. Penjaga itu kaget karna Vira mengambil semua rokok miliknya.
"Mulai sekarang ini punyaku. Kau minta ganti saja pada bosmu." ucap Vira yang langsung masuk ke dalam kamar lagi.
Vira kembali duduk di balkon. Vira mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan ujung roko tersebut. Dari ujung yang satunya lagi, Vira menempelkan mulutnya dan menyesap dalam rokok itu. Vira mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya dengan perlahan.
__ADS_1
Vira menikmati momen-momen seperti ini. Tak terasa sudah 6 batang rokok Vira habiskan. Kini Vira menyesap batang ke-7. Saat Vira sedang menikmati rokoknya, tiba-tiba seseorang merebut roko yang dihisapnya dengan kasar.
Vira melihat ke arah orang itu. Orang itu adalah Hanny. Vira tidak menduga Hanny akan merampas rokok yang sedang dia nikmati. Hanny menatap Vira dengan tajam. Tatapan Vira jauh lebih tajam dari tatapan Hanny. Terjadi perang tatap antara Vira dan Hanny. Tidak ada yang mau mengalah.
"Kenapa lo rebut rokok gue?" desis Vira tak terima.
"Aku tidak mengizinkanmu merokok." balas Hanny.
"Itu hak gue. Lo gak punya buat larang gue."
"Aku mempunyai hak itu."
"Hak apa?"
"Kau adalah gigoloku. Aku punya hak penuh atasmu."
Bira menggeram. Dia sudah muak dengan kata 'gigolo'. Vira melemparkan bungkus roko pada Hanny dengan kasar.
"Bacot lo."
Vira perninggalkan Hanny. Vira keluar dari kamar dengan kesal. Vira tak perduli larangan Hanny yang tidak mengizinkannya pergi ke luar. Anak buah Hanny bingung pada Vira yang keluar dengan kesal.
"Hentikan dia." titah Hanny yang terdengar marah.
Dengan cepat para anak buah Hanny mengejar Vira. Vira melangkah cepat menuju pintu untuk keluar. Vira sangat kesal. Anak buah Hanny menghentikan Vira. Mereka mengepung Vira dari segala sisi. Mereka berusaha menangkap Vira. Namun Vira melawan dan membuat mereka bertekuk lutut.
"Vira berhenti!" teriak Hanny.
Vira tak menghiraukan titahan Hanny.
"Berhenti atau aku akan membatalkan taruhan kita. Aku akan membuatmu menjadi pelayanku. Dan kau tidak akan bisa keluar dari negara ini untuk selamanya." ancam Hanny.
Seketika Vira terdiam. Hanny menyunggingkan senyum saat Vira menghentikan langkahnya.
__ADS_1