
Happy Reading!😊
Pukul 15.00 WIB, Vira terbangun oleh suara berisik yang berasal dari luar.
Plak,, terdengar suara t*mp*ran yang begitu keras.
"Sudah berapa kali ibu bilang, jangan pernah mencoba kabur dari panti ini!" teriak bu Cece.
"Ampun bu,, maafkan aku.." tangis orang yang dit*mp*r itu.
"Ini peringatan terakhir untuk kamu!" ucap bu Cece. "Untuk hukuman kali ini, kamu tidak akan mendapat makan malam" lanjut bu Cece kemudian langsung pergi.
"Hiks,, hiks,, hiks.." orang itu menangis tersedu-sedu.
Banyak orang yang mengerumuninya. Mereka menatap orang itu tanpa mau membantunya.
Vira keluar untuk melihat sumber suara yang membuatnya terbangun.
"Kenapa mereka berkerumun?" gumam Vira.
Vira menatap kerumunan itu. Satu persatu orang dikerumunan itu pergi. Sampai hanya tersisa orang yang dikerumuni saja.
"April" gumam Vira.
Ya, orang itu adalah April.
April dan Vira saling menatap. April menatap Vira dengan mata yang berlinang air mata. Sementara Vira menatap April dengan wajah datarnya.
April bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamarnya. April berjalan dengan menundukkan kepalanya. Vira menatap April yang berjalan.
April masuk ke kamar dan naik ke ranjangnya yang ada di atas ranjang Vira. April membaringkan tubuhnya membelakangi Vira.
Vira berhenti menatap April, dan beralih menatap ke area luar kamarnya. Vira baru menyadari kalau kamar yang ditempatinya menghadap lapangan. Di sebelahnya masih banyak kamar lain yang ada penghuninya.
__ADS_1
Sepanjang hari itu, Vira tidak beraktivitas sama sekali. Dia tidak ingin keluar dari kamarnya. Bahkan Vira melewatkan makan malam.
Semua orang sedang makan malam, kini di kamar hanya ada Vira dan April. Vira duduk dan melamun di atas ranjangnya. April juga sama, dia hanya melamun sambil tiduran saja.
Vira sudah bosan dari tadi melamun. Akhirnya dia memutuskan naik ke atas ranjang April.
"Hei, apa kau tidur?" tanya Vira mengintip ke atas ranjang April.
April melihat ke arah Vira, dan menjawab tidak.
Tanpa persetujuan April, Vira naik keranjang dan duduk. April kaget melihat Vira yang naik ke ranjangnya dan tiba-tiba duduk. April pun ikutan duduk bersama Vira.
"Ayo ceritakan masalahmu" ucap Vira.
April mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti.
"Aku melihat, kamu memikul banyak masalah. Kamu pasti ingin membaginya dengan seseorang" Vira menjawab pertanyaan April yang ada di pikirannya. "Aku siap mendengarkan semua masalahmu" lanjut Vira.
"Heheh.." April tertawa kecil. "Kamu pasti ingin menertawakanku kan, seperti yang lain?" tanya April.
Kini giliran Vira yang mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu? Menertawakan apa? Aku tidak mengerti" tanya Vira.
"Apa kau tidak mengetahui apapun?" April malah balik bertanya.
Vira menggelengkan kepalanya.
April menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Vira memang benar. April memikul banyak masalah di bahunya. Sudah dari dulu April ingin membaginya dengan orang lain, namun April tidak mempercayai orang lain. Mungkin Vira adalah orang yang tepat untuk April berbagi masalah.
"Aku sering berusaha kabur dari sini" ucap April. "Bahkan tadipun, aku mencoba kabur. Tapi aku sering gagal" lanjut April.
"Kenapa kamu ingin kabur?" tannya Vira.
__ADS_1
"Vir, ini bukan panti asuhan yang sebenarnya. Ini itu penjara bagi anak-anak yang terbuang. Panti asuhan itu cuma nama samaran aja." jawab April.
Vira tambah mengerutkan keningnya.
"Setiap hari anak-anak disuruh bekerja, mereka disuruh melakukan pekerjaan yang berat. Seharusnya mereka mendapat kasih sayang dan ilmu. Tapi ini sebaliknya" jelas April.
April dan Vira sama-sama terdiam.
"Aku adalah salah satu anak yang tidak diinginkan. Aku tidak tau siapa dan di mana keluargaku. Aku tidak memiliki identitas keluarga. Aku dib*ang di sini sejak bayi. Namaku saja diberikan oleh pengasuh panti" April mulai menceritakan kisah hidupnya.
Vira mendengarkan dengan serius.
"Aku berusaha kabur dari sini, karna aku ingin mencari keluargaku. Aku tidak ingin m*t* tanpa memiliki identitas. Hiks,, hiks,, hiks.." April kembali menangis.
Vira membiarkan April menangis sepuasnya. Dengan membiarkan April menangis, itu akan sedikit mengurangi bebannya.
Setelah cukup lama menangis, April akhirnya berhenti. Kini hatinya sedikit tenang setelah bercerita dan menangis.
"Kamu beruntung karna kamu tidak mengetahui keluargamu. Percuma kamu mengetahui siapa keluargamu, tapi mereka tidak menyayangimu" ujar Vira.
April menatap Vira, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Vira.
"Jika aku bisa memilih, lebih baik aku tidak mengetahui siapa keluargaku. Aku ingin hidup bebas, tanpa ada yang mengaturku" Vira mengeluarkan isi hatinya.
"Tapi kenapa? Orang lain menginginkan keluarga yang utuh. Keluarga yang saling menyayangi, keluarga yang ada di saat kita dalam masalah. Kenapa kamu menginginkan sebaliknya?" April semakin tidak mengerti pada pemikiran Vira.
"Tidak semua orang menginginkan hal itu" jawab Vira.
Terima kasih sudah mampir😊
Silahkan tinggalkan jejak😆
Tbc..
__ADS_1