
Vira mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Bibir bawah Vira pucat pasi dan bergetar. Tubuhnya menggigil karna kedinginan.
Awak kapal itu berjumlah 5 orang. 4 orang pria berusia 40-an. Dan 1 orang pria berusia 20 tahun ke atas. Mereka bingung melihat Vira. Baru kali ini mereka mendapati seorang gadis berenang di tengah laut sendiri.
"Ponsel." ujar Vira.
"Hh?" semua pria menaikkan sebelah alis mereka.
"Kalian punya ponsel?" tanya Vira.
"Punya. Tapi ponsel kami mati karna kehabisan daya." jawab salah seorang awak kapal.
"Sial!" umpat Vira.
Mereka diam dan masih memperhatikan Vira. Entah dorongan dari mana, pria berusia 20 tahunan, mendekat pada Vira dan memakaikan jaket pada Vira. Vira sedikit kaget pada perlakuan pria itu.
"Hai, namaku Ian." ucapnya sambil tersenyum.
Ian mengulurkan tangannya pada Vira untuk bersalaman. Dengan ragu Vira membalas uluran tangan Ian dan bersalaman dengannya. Ian terkejut karna merasakan tangan Vira sangat dingin.
"Tanganmu dingin sekali." ujar Ian.
"Sebaiknya kita ke dalam. Sepertinya akan terjadi badai." ucap awak kapal lain.
"Iya." setuju Ian.
Awak kapal lain sudah masuk ke bagian dalam kapal. Tersisa Vira dan Ian. Ian berdiri dan menunggu Vira ikut berdiri. Vira mencoba berdiri, namun dia tidak punya tenaga. Tubuhnya terlalu lemah.
Dengan inisiatif sendiri, Ian menggendong tubuh Vira ala bridal style. Dia membawa Vira masuk ke bagian dalam kapal. Vira terkejut karna Ian tiba-tiba menggendongnya.
Siawa cowok ini? Apa dia gak takut sama gue? Padalah gue bawa senjata. Pikir Vira.
__ADS_1
Setelah di dalam, Ian mendudukkan Vira. Kemudian dia menuangkan air panas dari termos pada gelas. Ian memberikan air itu pada Vira.
"Ambil ini. Itu akan membuatmu merasa hangat." ucap Ian.
Vira menerima gelas itu tanpa mengucapkan terima kasih.
"Oh iya, kamu belum ngasih tau nama kamu siapa." Ian ingin kengetahui nama Vira.
"Syavira." jawab Vira.
"Syavira? Nama yang cantik." puji Ian. "Boleh aku panggil Sya?" tanya Ian.
"Terserah." balas Vira.
Ke-4 orang pria lain hanya memperhatikan interaksi Ian dan Vira. Mereka merasa asing melihat Vira. Mereka tak pernah melihat Vira sebelumnya.
"Syafira, siapa kau? Kenapa kau membawa senjata?" tanya pria bernama Samuel.
"Bagaimana kau bisa terluka?" tanya pria bernama Geri.
"Apa yang terjadi padamu, sampai-sampai kau seperti ini?" tanya pria bernama Luis.
Keempat pria itu mendapat tatapan tajam dari Ian. Seolah Ian mengisyaratkan untuk diam dan jangan berbicara.
Vira diam sambil menatap satu persatu dari mereka. Vira tidak mungkin mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia juga tidak mungkin mengatakan kalo dia baru saja kabur dari j4lang bernama Hanny.
"Em.. gue, maksudnya aku seorang polisi." bohong Vira dengan asal.
"Polisi?" heran Samuel. Mereka tampak terkejut pada jawaban Vira.
"Kenapa seorang polisi bisa ada di tengah laut? Apa sekarang ada polisi angkatan laut?" aneh Geri.
__ADS_1
"Aku sedang menjalankan tugas. Tapi tersesat dan berakhir seperti ini." alibi Vira.
"Oh.. Begitu kah? Kenapa kau--" saat Robet hendak bertanya, dia mendapatkan tatapan maut dari Ian. Robet pun langsung bungkam.
"Sudah lah. Kalian jangan bertanya lagi pada Sya." ucap Ian dan mendapat anggukan dari mereka.
Vira bisa merasakan perubahan dari keempat orang itu setelah ucapan Ian. Vira yakin mereka bukanlah nelayan biasa. Ada yang mencurigakan. Vira masih belum tau mereka musuh atau kawan. Bisa saja mereka adalah bagian dari kelompok Hanny.
"Berapa lama lagi sampai di daratan?" tanya Vira.
"Sekitar 1,5 jam." jawab Ian.
Vira terdiam. Vira berharap saat sampai di daratan, dia tidak berada di negara Y lagi. Dia sudah muak dengan negara Y dan Hanny.
"Setelah tiba di daratan, aku akan mengobati lukamu. Sekarang lebih baik kau tidur saja. Kau pasti lelah setelah terobang-ambing di laut." ucap Ian.
"Tidak. Aku akan tetap terjaga." tolak Vira.
Vira memeluk lututnya menahan dingin. Meskipun sudah memakai jaket dan meminum air hangat, Vira tetap merasa kedinginan. Tatapannya lurus ke depan matanya tidak sering berkedip.
"Baiklah kalo itu mau kamu. Tapi maaf ya, kami tidak punya makanan. Persediaan makanan kami sudah habis." sesal Ian.
"Tidak masalah." balas Vira.
Ian menatap Vira dengan seksama. Ian tau Vira sedang berbohong. Vira bukanlah seorang polisi. Dia juga tau kalo Vira bukan rakyat biasa. Ian tau dari tatapan Vira. Tatapan itu berbeda.
Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa aku tidak bisa membaca isi pikirannya? Aku juga tidak bisa memprediksi apa yang akan dia katakan. Sorot matanya sangat tajam. Pikir Ian.
Bagi Ian, Vira adalah seorang gadis paling misterius yang pernah dia temui. Dengan tato yang terlukis di bawah tengkuknya, membuat aura kemisteriusan Vira bertambah.
Tunggu, tato? Ian menemukan sesuatu yang tidak asing. Ian merasa pernah melihat tato itu. Tato dengan gambar ular cobra melilit pedang serta ular itu memakai mahkota di kepalanya. Ian sangat yakin kalo Vira adalah orang penting disebuah organisasi berbahaya.
__ADS_1