
Hanny mengajak Vira duduk. Alunan musik begitu keras hingga memekik gendang telinga. Semua orang bersukaria sambil meminum minuman dapat membuat mabuk. Sebenarnya Vira sendiri suka minum. Tapi dia sedang tidak berselera.
"Kau tidak minum?" tanya Hanny yang duduk di sebelah Vira.
"Tidak." jawab Vira.
"Kau tidak mau, atau tidak bisa minum?" tanya Hanny lagi.
"Tidak mau." tekan Vira.
"Kau pasti lemah dalam hal minum." ejek Hanny.
"Terserah kau saja." balas Vira.
Kini suasana hati Vira tambah kesal karna ejekan Hanny. Vira mengambil gelas yang ada di meja, lalu menuangkan minuman. Vira meminum minuman itu. Vira sedikit terkejut dengan rasa minuman itu. Hanny yang melihat itu hanya tersenyum.
"Enakkan? Rasanya beda dengan minuman lain." ucap Hanny.
"Hm.. ya. Lumayan." angguk Vira.
"Aku mau menari. Kau mau ikut?" tawar Hanny.
"Tidak dulu. Kau saja." tolak Vira.
"Baiklah. Sampai jumpa."
"Hm.."
Vira memperhatikan orang-orang yang begitu tampak senang. Perhatian Vira teralihkan orang seseorang yang menari dengan mengangkat tangannya dan mengacungkan 3 jari. Orang itu tampak menari mengelilingi Vira. Vira mengerutkan keningnya.
Apa gue salah liat? Gumam Vira.
Vira mencoba mempertajam penglihatannya. Dia tidak salah liat. Ada seseorang yang mengacungkan 3 jarinya.
Tidak mungkin. Siapa dia? Apa dia anggota ayah? Pikir Vira.
__ADS_1
Vira tidak asing melihat 3 jari itu. Pasalnya itu adalah tanda anggota geng Bima. Geng manapun tidak tau tanda itu. Vira berpikir, dia harus menemui orang itu. Tapi bagaimana? Jika dia langsung menemuinya, Vira akan ketahuan. Apakah ada cara lain?
Vira melihat semua orang menari. Dia mengerti harus bagaimana. Vira mengambil botol minum dan meminumnya langsung dari botol. Vira bangun dan menuju orang-orang yang menari. Vira ikut menari dengan semua orang. Vira berpura-pura menikmati musik dan bersenang-senang.
Hanny tersenyum melihat Vira. Sedari tadi Hanny memang mengawasi Vira. Hanny tertipu dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Vira.
Sepertinya kau mulai menikmati malam ini. Gumam Hanny.
Vira menari sambil mendekati orang yang memberi tanda 3 jari itu. Vira menari di sebelah orang itu. Pria berumur 30an yang sudah memberi Vira tanda.
"Siapa kau? Kenapa kau memberi tanda itu." tanya Vira sambil menari.
"Aku anak buah tuan Bima. Dan aku tau siapa kau." jawab pria itu.
Vira menari dengan lincah.
"Aku tidak tau bagaimana bos kecil bisa ada di sini dan bersama dengan Hanny."
"Aku tersesat dan sialnya dia menyelamatkanku. Sekarang aku terjebak di sini."
"Saat ini posisiku dirugikan."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Beritahu aku lokasi yang tidak bisa dijangkau oleh Hanny dan anak buahnya."
"Tidak ada."
"Apa! Apa maksudmu?"
"Semua wilayah ini sudah diawasi oleh Hanny. Semua jejak digital yang masuk maupun keluar sudah diretas. Jika ada jaringan keluar, akan langsung terlacak."
"Ck.. menyebalkan."
"Begini saja. Aku akan menyampaikan ini pada tuan Bima. Kemudian kita akan berkomunikasi lewat sinyal."
__ADS_1
"Ide bagus."
"Aku memberi jaminan 3 hari untuk bos kecil bisa keluar dari sini."
"Ya. Jangan sampai lebih dari 3 hari."
"Baik."
Vira melihat Hanny berjalan ke arahnya. Jangan sampai dia tau Vira sedang berbicara dengan pria itu.
"Kau mau minum?" tawar Vira pada pria itu. Vira berbicara dengan lembut dan halus.
Pria itu mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti kenapa Vira malah menawarkannya minum dengan nada bicara seperti itu. Pria itu melihat Hanny mendekati mereka. Dia mengerti kenapa Vira seperti itu.
"Tentu saja aku mau." balas pria itu sambil menyodorkan gelas yang dia pegang.
"Kenapa harus memakai gelas? Minum saja langsung dari botol ini. Kau tidak keberatankan?"
"Tentu saja tidak."
Pria itu mengambil botol minuman dari Vira. Dia hendak meminun minuman dari botol itu. Belum sempat botol itu mengenai bibir pria itu, Hanny langsung merebut botol itu.
Vira dan pria itu terkejut. Hanny memegang botol itu kemudian menaruhnya disalah satu meja yang ada di sana.
"Sedang apa kau di sini? Kenapa kau menari dengan pria ini? Kau juga memberikan minumanmu padanya." tanya Hanny dengan kesal.
"Memang apa salahnya? Aku hanya minum dan menari saja." balas Vira.
"Tapi tidak dengan pria ini."
"Aku ini masih waras. Aku wanita normal yang menyukai pria."
"Apa kau sudah lupa? Kau itu adalah gigoloku. Kau hanya milikku. Tubuh dan ragamu hanya milikku." tegas Hanny.
Hanny menarik tangan Vira dan kembali duduk di tempat awal.
__ADS_1