
Bima dan anak buah yang lainnya sedang berkumpul di markas. Mereka masih memikirkan masalah Vira. Meskipun Vira terkenal tegas, dingin dan galak, anak buah Bima tidak ada yang membenci Vira. Mereka tau sifat Vira memang sudah seperti itu. Mereka malah senang pada Vira. Bagi mereka, Vira adalah sosok Bima dalam bentuk perempuan.
Seluruh informan dikerahkan untuk mengetahui lokasi di mana Vira berada. Karna mereka mendapatkan kabar di negara Y sedang terjadi keributan. Seorang tahanan kabur.
Bima sangat yakin kalo tahanan itu adalah Vira.
"Bim, kau yakin tahanan yang kabur adalah Vira?" tanya Wisnu memastikan.
"Aku sangat yakin." jawab Bima dengan tegas.
"Aku ragu dia Vira." ucap Bram.
"Aku juga ragu. Jika benar itu Vira, maka dia sangat bodoh." timpal Iqbal.
"Hey! Jaga ucapanmu. Kau sebut putriku bodoh!" bentak Bima.
"Bukan Vira. Tapi keputusannya." ralat Iqbal.
"Huh.." Bima mendengus kesal.
"Apa yang dia lakukan sangat ceroboh. Dia membuat satu negara mencarinya. Aku yakin dia mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dulu." ucap Wisnu.
"Apa mungkin Vira sedang terdesak?" ucap Nathan ikut menimpali.
"Bisa jadi." balas Wisnu.
"Kabarnya tahanan itu terjun ke laut lepas." ucap Iqbal.
"Lagi-lagi ke laut." celetuk Rendi.
"Negara yang dekat dengan laut itu adalah negara J. Tetangga negara Y." ucap Iqbal.
"Maka bisa saja Vira ada di negara J. Benarkan?" tebak Bram.
"Em.. Mungkin." balas Iqbal.
"Apa yang akan kita lakukan Bim?" tanya Wisnu.
"Kalian diam lah. Aku sedang berpikir." balas Bima.
Suasana menjadi hening.
"Bos.. Bos.. Bos.." teriak Raka (anak buah Bima yang selalu di berada di depan komputer).
__ADS_1
Semua orang kaget saat Raka tiba-tiba berteriak.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Ada yang mengirim sinyal lewat halaman rahasia kita." jawab Raka.
Bima langsung perginke ruang kendali. Raka menunjukkan sinya itu. Sinyal itu sangat sederhana. Hanya angka 3 berjumlah 10. Bima menatap sinya itu.
"Syavira." lirih Bima.
Bima tau apa arti dari sinya itu.
"Cari dari mana asal sinyal itu." titah Bima.
"Baik bos." patuh Raka.
Tak sampai 2 menit, Raka sudah mengetahui lokasi dikirimkannya sinyal itu.
"Sinyal ini berasal dari negara J. Daerah ini berada dekat dengan negara Y." ucap Raka.
"Segera hubungi Zian. Kita haru minta bantuannya. Jangan sampai Vira tertangkap oleh anak buah Hanny." instruksi Bima.
"Apa kau yakin Vira ada di sana?" tanya Iqbal.
"Aku sangat yakin." balas Bima.
"Persiapkan diri kalian. Kita akan pergi ke negara J." teriak Bima.
"Baik bos." balas semua anak buah Bima.
Setelah menelpon Zian, Bima dan anak buahnya terbang ke negara J. Mereka siap bertarung melawan negara Y.
Di sisi lain.
Pertarungan antara Vira dengan anak buah Hanny tak dapat dihindari. Mereka bertarung dengan sengit. Namun karna kalah jumlah dan kalah tenaga. Vira kalah dan anak buah Hanny berhasil membawanya. Penduduk di sana tidak bisa membantu Vira karna kalah jumlah.
Vira di kurung di sebuah gudang yang masih ada di negara J. Mereka tidak membawa Vira ke negara Y karna perbatasan negara J sangat ketat saat malam hari. Penjagaannya melebihi waktu di siang hari.
Vira duduk di sebuah kursi dengan tangan diikat di tangan kursi. Kakinya juga diikat. Ikatan yang melilit tangan dan kakinya sangat kuat. Hingga meninggalkan bekas merah. Vira tidak sadarkan diri. Dia pingsan. Jaket yang dipakainya sudah terlepas dari tubuhnya.
Byur..
Seseorang menyiramkan Air pada Vira. Vira terperanjat kaget dan langsung sadar. Vira mengatur nafasnya karna kaget.
__ADS_1
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya seseorang.
Vira menatap orang itu. Senyum miring terlihat di bibirnya.
"Gara-gara kau, kaki cantikku jadi terluka." geram orang itu.
Orang itu adalah Hanny. Vira menatap Hanny dengan bengis.
"Kaki lo itu murah. Kalaupun putus, gak akan ada yang perduli." balas Vira.
Hanny berjalan cepat menuju Vira. Dan..
Plak..
Hanny menampar keras wajah Vira. Hingga sudut bibirnya robek.
"Jaga ucapanmu." tekan Hanny.
"lo jauh-jauh ke sini, bawa ratusan anak buah lo, cuman mau nangkep gue? Wah.. Berasa jadi artis gue. Bahkan kayaknya gue udah ngalahin artis internasional." ucap Vira.
"Tutup saja mulutmu itu. Jangan bicara lagi." titah Hanny.
"Kenapa? Lo gak suka denger suara gue?"
Hanny sudah jengah dengan omong kosong yang Vira katakan. Hanny memegang dagu Vira dengan kasar. Tatapan Hanny tertuju pada bibir Vira yang merah alami, lalu turun ke leher jenjang + putih mulus milik Vira. Tatapan Hanny turun lebih bawah menuju dada Vira. Di mana ada gunung kembar milik Vira. Vira tau tatapan Hanny tertuju pada apa.
Hanny kenatap Vira dengan intens. Meskipun tubuh Vira sudah terluka, Hanny tidak menyangka Vira masih secantik ini. Hanny harus mengakui kalo Vira lebih cantik dan lebih menawan darinya. Penglihatan Hanny tergannggu oleh tato yang ada di bawah tengkuk Vira.
Sejak bertemu dengan Vira, Hanny sangat penasaran pada tato itu. Awalnya Hanny menganggap tato itu hanyalah sebuah ukiran biasa. Namun sepertinya tato itu mempunyai lambang lain.
"Tato apa ini?" tanya Hanny.
"Lo gak usah nanya. Gue gak akan jawab." balas Vira.
"Aku bertanya, tato apa ini? Apa arti tato ini?" sentak Hanny.
"J4lang murahan kayak lo, gak pantas tau arti tato ini." balas Vira dengan sebuah hinaan.
Hanny sangat marah mendengar ucapan Vira.
"Gue akan jawab, asal lo potong sebelah kuping lo." ucap Vira.
Hanny menggeram. Dia sangat marah pada ucapan Vira.
__ADS_1
"Berikan cambuk milikku." titah Hanny dengan suara berat.
Hanny menahan amarahnya. Dia akan melampiaskan amarahnya lewat cambukan yang akan diberikannya pada seorang tahanan bermulut sombong dan kotor ini. Siapa lagi kalo bukan Vira.