
Happy Reading!😊
Malam hari.
Vira masuk ke kamar Devan. Devan tampak sedang duduk sambil mengecek beberapa berkas di tangannya. Di mejanya juga ada secangkir teh buatan Dewi.
"Ayah" ucap Vira.
"Eh, sayang" Devan menoleh ke arah Vira.
"Ayah sedang apa?" tanya Vira.
"Ayah sedang mengecek berkas perusahaan nak" jawab Devan tanpa melepaskan pandangannya dari berkas yang dipegangnya.
"Oo.." Vira hanya ber O ria saja.
"Ada apa sayang? Apa ada masalah?" tanya Devan melihat sekilas pada Vira yang terus berdiri.
"Em,, Vira mau.." Vira bingung harus menjawab apa.
"Mau apa?" tanya Devan.
"Ah, Vira mau melihat kondisi ayah saja. Akhir-akhir ini, ayah selalu pusing. Sebaiknya ayah tidak boleh bekerja dulu. Ayah harus istirahat" jawab Vira. Vira berpikir bagaimana cara agar Devan tidak meminun teh buatan Dewi.
Vira merebut berkas pada tangan Devan dan meletakannya di atas meja. Vira naik ke pangkuan Devan. Vira menghadap Devan dengan tangan mengalung pada leher Devan.
"Sayang,, ayah harus bekerja dulu" ucap Devan menatap Vira.
"Kenapa ayah terus bekerja? Ayahkan tau, ayah itu sering pusing. Jadi ayah harus berhenti dulu bekerja." balas Vira.
"Iya, ayah akan berhenti. Tapi nanti, setelah pekerjaan selesai" Devan membalas tatapan Vira.
"Ayah selalu begini. Ayah bekerja untuk siapa?" Vira turun dari pangkuan Devan.
"Sayang, ayah bekerja untuk kamu. Ayah ingin kamu tidak kekurangan apapun" jawab Devan.
"Ah,, aku tidak mau kekayaan, aku tidak mau uang yang banyak. Aku hanya mau ayah ada di sisiku. Ayah mendampingiku" Vira mulai berlinang air mata.
"Jangan bicara seperti itu sayang. Ayah melakukan ini untuk keluarga kita. Supaya keluarga kita hidup dengan nyaman" Devan mencoba menjelaskan pada Vira.
"Ayah kerja keras demi wanita ular itu" ujar Vira.
"Vira,, sudah berapa kali ayah bilang, jangan panggil mama Dewi dengan panggilan wanita ular. Sekarang dia itu mama kamu" tegas Devan.
"Ayah,, sudah berapa kali Vira bilang, Vira tidak mau wanita ular itu menjadi mama Vira. Mama Vira sudah meninggal" ucap Vira tak kalah tegas.
__ADS_1
Devan mengusap wajahnya gusar. Dia bingung harus dengan cara apa agar Vira mengerti.
"Asal ayah tau, yang membuat ayah sering pusing itu Dewi. Si wanita ular itu" ucap Vira. "Dia menambahkan rac*n pada teh ayah. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri yah.." lanjut Vira.
Devan menahan kemarahannya. Dia menahan agar dia tidak melakukan tindakan kasar pada putrinya itu.
"Cukup Vira, cukup. Kamu tidak boleh menuduh mama Dewi. Ayah sakit mungkin karna tubuh ayah yang sedang tidak sehat. Ini tidak ada kaitannya dengan mama Dewi" ucap Devan dengan lembut.
"Yah,, kenapa sih ayah tidak pernah percaya pada Vira. Wanita ular itu hanya meninginkan harta ayah saja" ucap Vira menggebu-gebu.
Tanpa disadari, tangan Devan melayang menuju wajah Vira. Vira menutup matanya, menerima t*mparan dari Devan. Namun Vira tak merasakan apapun. Vira membuka matanya.
Tangan Devan melayang di udara. Devan menahan dirinya untuk tidak men*mpar Vira.
"Kenapa yah? Kenapa ayah berhenti? T*mpar saja aku. Aku sudah terbiasa kok, jadi ayah tidak usah merasa bersalah" tantang Vira.
Devan menghempaskan tangannya dengan kasar. Pikiran Devan sedikit terbuka. Tapi Devan menyingkirkan pemikirannya itu.
"Hem,, ayah tidak berani menamparku lagi. Karna ayah sudah mulai menyadari itu" ucap Vira tersenyum miring.
Vira berjalan dan memecahkan gelas yang berisikan teh di meja Devan.
Prang,, potongan gelas berserakan di mana-mana.
Vira berjalan menuju pintu. Vira ingin keluar dari kamar Devan. Sebelum keluar, Vira memberi peringatan pada Devan.
"Ayah" panggil Vira.
Devan menoleh pada Vira.
"Ingat, kerja keras ayah akan sia-sia. Pada akhirnya ayah tidak akan mendapatkan apapun. Ayah hanya akan mendapatkan penyesalan, atas apa yang ayah perbuat" ucap Vira.
Setelah mengatakan itu, Vira langsung pergi meninggalkan Devan yang terdiam seribu bahasa.
Keesokan harinya, Devan tidak bekerja. Tubuh Devan merasa kurang fit. Devan masih memikirkan ucapan Vira tadi malam.
Vira berangkat sekolah tanpa sarapan dulu. Vira sangat marah pada Devan, karna tidak mau mendengarkan ucapannya. Tapi Vira juga sangat khawatir pada Devan. Dia takut, kalau Dewi akan mencelakai Devan.
Kini di rumah hanya ada Devan, Dewi, mbok Ayu dan Mang Setno saja. Mbok ayu lebih sering di belakang, sementara mang Setno di pos.
Pukul 11.00 WIB.
Kepala Devan masih terasa pusing. Malah lebih pusing dari tadi pagi. Devan masuk ke dapur untuk mengambil air. Devan terus memikirkan ucapan Vira. Untuk membuktikan ucapan Vira, Devan menggeledah dapur, siapa tau ada sesesuatu yang mencurigakan.
Setelah lama mencari, Devan tak menemukan apapun. Tiba-tiba mata devan tertuju pada tempat sampah. Devan segera mengecek tempat sampah itu.
__ADS_1
Devan tetkejut dia menemukan benda mencurigakan. Yaitu kantong plastik sangat kecil dan didalamnya sersisa bubuk sesuatu.
Devan mengambil kantong itu dan mengendusnya. Devan mencium bau yang menyengat dari kantong itu. Devan berteriak memanggil Dewi.
"Ma,, mama.." panggil Devan.
"Iya mas.." Dewi menemui Devan di dapur.
"Apa ini?" tanya Devan menunjukan kantong yang dia temukan.
Dewi membuka matanya lebar. Dia terkejut karna Devan menukan kantong bekas rac*n.
"E,, aku tidak tau mas. Memang apa itu? Dari mana kamu temukan itu?" Dewi menjawab dengan gelagapan.
"Aku menemukan ini dari tempat sampah" jawab Devan. "Aku tanya sekali lagi sama kamu, apa ini?" Devan mengulangi pertanyannya.
"A-aku tidak tahu. Kenapa kamu malah bertanya padaku?" Dewi semakin pucat.
"Kenapa kamu gugup? Kenapa wajah kamu semakin pucat? Ah,, atau benar apa yang dikatakan Vira selama ini. Kamu sudah mencampurkan rac*n pada teh yang aku minum" ucap Devan masih menebak-nebak.
"Eng,, enggak kok. Mas aku ini istri kamu, masa aku tega ngelakuin itu sama kamu" sangkal Dewi.
"Kegugupan kamu sudah menjawab semuanya" ucap Devan.
Devan sangat marah. Ternyata apa yang dikatakan oleh Vira itu benar. Devan menarik tangan Dewi dengan kasar. Devan akan mengusir Dewi dari rumahnya.
Tapi baru sampai ruang tamu, Devan melepaskan tangan Dewi. Kepala Devan berputar sangat hebat. Devan memegang kepalanya.
"Mas,, kamu kenapa?" tanya Dewi khawatir. "Mas.." Dewi memegang tangan Devan.
Devan tidak bisa berbuat apapun. Devan hanya merasakan sakit kepala serta dada yang berdegup kencang.
"Hahahah.." Dewi tertawa renyah.
Devan menatap Dewi dengan bingung.
"Ya, kamu benar mas. Aku sudah menambahkan racun pada teh kamu. Dan kamu tau? Kamu sudah meminum racun yang terakhir, dengan dosis yang paling tinggi. Hahahah.." jelas Dewi.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Devan menahan sakitnya.
"Masa kamu gak tau sih mas? Ya jelaslah karna harta kamu" jawab Dewi dengan sinis. "Bagaikan angin segar dulu kamu mendekatiku. Kamu tau, aku ditinggal mat* oleh suamiku. Ya,, karna aku membun*hnya. Dia sangatlah pelit padaku dan pada anak-anakku. Jadi aku membun*hnya. Tapi tak disangka, dia meninggalkan banyak hutang di mana-mana. Jika tau begini, lebih baik menceraikannya saja. Dari pada dia mat* meninggalkan hartanya, tapi aku tak bisa memilikinya sepeserpun karna untuk membayar hutangnya" Dewi berhenti sejenak.
"Tapi tak disangka, kamu datang dan meminta aku menikah denganmu. Dengan alasan putrimu membutuhkan seorang ibu. Hahah.. putrimu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dariku. Kau tau, aku sering meny*ksanya. Aku senang saat aku meny*ksa putrimu itu" lanjut Dewi dengan tertawa jahatnya.
Tbc..
__ADS_1