Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Mulai Dekat


__ADS_3

Happy Reading!😊


Bima menunjukan kamar untuk Vira. Kamar berukuran besar yang berada di lantai 2, bersebelahan dengan kamar milik Bima.


"Ini adalah kamarmu" Bima membuka pintu kamar itu. "Kamarku berada tepat di sebelah kamarmu" lanjut Bima.


Vira menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih" ucap Vira.


"Tidak perlu berterima kasih. Aku adalah ayahmu. Aku akan memenuhi semua keinginanmu" ucap Bima.


Vira hanya diam. Vira bingung harus bereaksi seperti apa.


"Sekarang kau istirahat" ucap Bima.


"Baiklah" balas Vira.


Vira masuk ke dalam kamar itu. Bima menutup kamar itu.


Vira terkagum-kagum melihat kamar itu. Kamar dengan cat berwarna abu dan hitam memenuhi dinding.


Vira menyimpan tasnya di atas tempat tidur. Di depan tempat tidurnya ada tv yang cukup besar. Vira berjalan mendekati jendela yang ada di sebelah kanan tempat tidurnya. Vira membuka tirai jendela itu. Vira dapat melihat ke luar.


Vira menggeserkan tubuhnya. Di sebelah kiri jendela itu, balkon. Vira berjalan ke arah balkon. Di balkon itu ada dua kursi dan di tengahnya ada meja bulat.


Jujur, saat ini Vira sangat senang karna mendapat ayah angkat seperti Bima. Namun Vira masih ragu pada kebaikan Bima. Vira berpikir, untuk sementara waktu dia akan menjalani hidupnya seperti ini. Vira akan memutuskan harus pergi dari Bima atau tidak setelah tinggal beberapa hari dengannya.


Tubuh Vira merasa lengket, dia ingin membersihkan tubuhnya. Vira mencari kamar mandi. Di kamar Vira, Ada dua pintu yang belum dia buka. Vira membuka salah satu pintu. Saat dilihat, ternyata ruangan itu adalah walk in closet.


"Apa ini? Kenapa walk in closetnya sangat luas? Apakah aku akan membuka toko baju di sini?" gumam Vira.


Vira membuka pintu terakhir. Dan pintu terakhir adalah ruangan yang Vira cari, yaitu kamar mandi. Vira membawa tasnya dan segera masuk ke kamar mandi.


10 menit berlalu. Badan Vira kini sudah segar.


Vira berjalan ke sebelah kiri tenpat tidurnya yang mana di sana terdapat sofa. Vira duduk dengan meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya. Dikarenakan Vira sangat lelah, tampa sadar Vira tertidur.


Tok,, tok,, tok,, seseorang mengetuk pintu kamar Vira.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Vira.


Tok,, tok,, tok,, orang itu mencoba lagi. Masih tidak ada jawaban dari Vira.


Akhirnya orang itu masuk ke kamar Vira. Orang itu adalah Bima.


"Vira.." panggil Bima.


Bima mengedarkan pandangannya.


"Ke mana Vira?" gumam Bima. "Vir.." Bima hendak memanggil Vira lebih keras lagi, namun saat dia melihat sofa, ternyata Vira tertidur di atas sofa.


"Hem,, rupanya kau di sini" gumam Bima.


Bima menggendong tubuh kecil Vira ke atas tempat tidur. Bima menyelimuti Vira sampai ke bahu. Bima mengelus kepala Vira dengan lembut.


"Andai anakku masih ada, mungkin dia sudah seusiamu" ucap Bima.


Bima memperhatikan wajah Vira dengan lekat. Seketika Bima teringat pada tatapan Vira yang tajam.


"Sebenarnya siapa kau? Apa yang membuatmu berubah menjadj seperti ini? Sungguh, kau sudah membuatku penasaran" ucap Bima.


Bima pun ke luar dari kamar Vira.


Malampun tiba. Bima memanggil Vira untuk turun. Vira pun turun ke lantai bawah.


"Ayo kita makan" ajak Bima.


Vira menganggukkan kepalanya.


"Ayah tidak bisa memasak, jadi kamu makan apa yang ada" ujar Bima.


"Lalu ini dari mana?" tanya Vira heran.


"Ayah membelinya di warteg" jawab Bima.


Vira hanya menganggukkan kepalanya.


Vira dan Bima menjalani makan malam dengan khidmat. Hanya ada percakapan singkat diantara mereka.

__ADS_1


2 minggu kemudian.


Vira sudah mulai terbiasa dengan suasana rumah Bima dan suasana markas. Selama 2 minggu, Vira tidak berkeliaran jauh. Hanya sebatas di markas saja. Hanya saja Vira terkadang merasa sepi, karna teman-teman barunya harus pergi ke sekolah. Sementara Vira tidak pergi ke sekolah.


Vira hanya bisa diam-diam melatih ilmu bela dirinya. Apalagi di markas terdapat ruang latihan. Saat sedang tidak ada siapa-siapa, Vira menggunakan kesempatan itu untuk berlatih.


Hubungan Vira dan Bima juga berjalan lancar, mulai ada peningkatan dalam hubungan mereka. Tapi Bima bukanlah orang yang sering diam di rumah. Terkadang Bima pergi selama beberapa hari, kemudian dia kembali lagi.


Jika Bima sedang pergi, maka Vira akan menginap di rumah Rendi. Bima selalu menitipkan Vira pada Wisnu.


Awalnya Wisnu, Iqbal dan Bram menaruh curiga lada Vira. Namun makin ke sini, Vira tidak menunjukkan gelagat mencurigakan. Apalagi setelah mereka tidak sengaja melihat Vira berlatih sendiri di ruang latihan.


Hari ini Bima ada di rumah. Vira dan Bima sedang melakukan makan malam. Sebenarnya Bima sangat ingin bertanya pada Vira akan kisah hidupnya, namun dia menahannya. Bima ingin Vira sendirilah yang bercerita padanya. Jika Vira sudah berani bercerita, berarti Vira sudah sepenuhnya percaya pada Bima. Bima mengetahui kalau sebenarnya Vira masih tidak percaya dan sangat berhati-hati padanya. Bima harus bisa membuat Vira percaya dan yakin padanya.


Selesai makan malam, biasanya Vira dan Bima masuk ke kamar masing-masing.


Vira sedang berdiri di depan pintu kamar Bima.


Tok,, tok,, tok,, Vira mengetuk pintu.


"Masuk" ucap Bima dari dalam.


Vira masuk ke kamar Bima. Ini adalah kali pertama Vira masuk ke kamar Bima.


"A-ayah" ucap Vira.


Deg,, hati Bima tersentuh saat Vira pertama kali memanggilnya dengan sebutan ayah. Selama Vira bersama Bima, Vura memang tidak pernah memanggil Bima dengan sebutan ayah. Vira berbicara hanya jika Bima bertanya saja.


"Iya" jawab Bima.


"Ada yang ingin aku ceritakan" ucap Vira.


Bima tersenyum pada Vira.


"Sini duduk" ucap Bima melambaikan tangannya.


Vira menuruti Bima dan duduk di sebelahnya.


Terima kasih sudah mampir😊

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak😆


Tbc..


__ADS_2