Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Pikiran Jahat


__ADS_3

Happy Reading!


"Biarku ceritakan" Vira bersiap menceritakan kisah hidupnya. "Ibuku meninggal saat usiaku 4 tahun. 6 bulan setelah ibuku meninggal, ayahku menikah lagi dengan wanita ular. Bukannya mendapat kasih sayang dari seorang ibu, tapi aku malah mendapat perlakuan kasar dari wanita ular itu. Wanita ular itu hanya menginginkan harta ayahku saja" Vira berhenti dari sejenak.


"Lalu apakah ayahmu tau?" tanya April penasaran.


"Setelah menikah dengan wanita itu, sikapnya berubah. Tak ada kasih sayang lagi untukku. Posisiku tergantikan oleh saudara tiriku. Bertahun-tahun aku hidup dengan keluarga palsu itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melawan sikap k*sar wanita ular itu" jawab Vira.


"Kau berhasil melawannya?" tanya April lagi.


"Awalnya iya. Aku berusaha menjelaskan pada ayahku, kalau wanita ular itu hanya menginginkan harta ayahku saja. Tapi dia tidak mempercayainya. Sampai akhirnya aku pulang sekolah dan menemukan ayahku sudah tidak bernyawa lagi" Vira mulai sedih mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


"Apa?" April kaget.


"Ayahku dib*n*h oleh seseorang. Dan aku yakin kalo orang yang sudah memb*n*h ayahku adalah Dewi, si wanita ular itu" ucap Vira dengan menajamkan tatapannya ke arah bawah.


"Apa dia di penjara?" tanya April.


Vira menggelengkan kepalanya.


"Mereka tidak curiga padanya. Mereka malah menuduh aku yang sudah memb*n*h ayahku sendiri" jawab Vira.


"Apa? Bagaimana bisa Vir?" April sangat terkejut.


"Dewi melihatku menc*b*t pisau dari dada ayahku" jawab Vira.


April menutup mulutnya pertanda sangat syok mendengar cerita dari Vira.


"Pisau? Apa ayahmu meninggal karna pisau?" tanya April tak percaya.


Vira menganggukkan kepalanya.


"Aku memang membenci ayahku. Tapi aku tidak akan sekej*m itu" ucap Vira. "Bahkan awalnya aku akan di penjara. Namun karna usiaku masih di bawah umur, jadi polisi tidak bisa memenjarakan ku" lanjut Vira.


Keduanya terdiam.


"Lalu bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya April.


"Beberapa bulan setelah ayahku meninggal, aku dituduh memb*n*h Robi. Robi adalah temanku. Tapi dia sering membullyku" jawab Vira.


April menunggu Vira melanjutkan kata-katanya.


"Lagi-lagi mereka tidak bisa memenjarakanku. Karna mereka tidak mempunyai bukti yang cukup kuat" Vira menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


"Siapa yang memb*n*h Robi?" tanya April.

__ADS_1


Vira menatap April.


"Kau pikir siapa?" ucap Vira sambil tersenyum licik.


"Apa kau yang memb*n*hnya?" tanya April.


Vira tersenyum pada April kemudian memalingkan wajahnya kesembarang arah.


"Vir, kamu bohongkan?" tanya April tidak percaya.


"Terserah kamu saja" jawab Vira.


Vira turun dari ranjang April dan kembali ke ranjang miliknya. Vira membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya.


"Tidurlah, jangan menangis terus. Tidak ada gunanya kau terus menangis" ucap Vira, kemudian Vira memejamkan matanya untuk tidur.


April masih setia pada posisinya. Dia tidak percaya kalau Vira pernah memb*n*h orang.


...***...


Keesokan harinya, Vira mulai menjalani aktivitas yang ada di panti itu.


Benar apa yang dikatakan April, anak-anak di panti ini disuruh bekerja. Di belakang area panti terdapat hutan lebat, jurang dan sugai yang cukup besar.


Setiap harinya, anak-anak disuruh untuk mencari kayu bakar dari hutan itu. Terkadang ada saja anak yang meninggal saat mencari kayu bakar. Rata-rata anak yang meninggal itu, karna terpatuk ular.


Vira memperhatikan aktivitas anak-anak itu. Sebagian bersar sudah bisa menggunakan gergaji, kapak dan parang.


"Jika mereka tidak suka tinggal di sini, kenapa mereka terus bertahan? Padahalkan mereka bisa melawan. Apalagi mereka sudah bisa menggunakan alat-alat seperti itu. Jika saja mereka bersatu dan melawan pengurus panti, mereka pasti bisa keluar dari sini" pikir Vira dalam hatinya.


"Hei, kenapa kamu hanya berdiri?" seseorang mendorong bahu Vira.


Vira menatap tajam orang itu.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Cepat sana kerja!" titah bu Cece.


Ya, orang yang mendorong Vira adalah bu Cece.


Vira menuruti perkataan bu Cece. Saat ini Vira belum bisa melawan. Vira harus memahami situasinya terlebih dahulu.


Saat ini Vira sedang memegang parang. Vira mendekati April yang juga memegang parang.


"Bagaimana cara menggunakan ini?" tanya Vira pada April.


"Caranya gampang. Kamu tinggal tebas-tebas saja seperti ini. Tapi kamu harus memakai tenaga saat menebasnya. Agar benda yang kamu tebas terpotong" jawab April sambil mempraktekkan.

__ADS_1


Vira mengikuti gerakan April. Dengan cepat Vira bisa menggunakan parang, bahkan Vira sudah mahir menggunakannya.


Satu persatu kayu sudah dipatahkan oleh Vira. Saat memegang parang, Vira teringat pada pisau yang dulu men*nc*b pada dada Devan.


Vira mempercepat gerakan memotong kayunya. Vira menjadi marah, mengingat itu.


"Vir, Vir, Vira!" April menghentikan aktivitas Vira.


Vira terkejut karna panggilan April.


"Kamu kenapa? Jangan melakukannya seperti itu, nanti kamu akan melukai orang lain, atau malah kamu sendiri yang terluka" ucap April.


Vira menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku Pril" ucap Vira.


"Hem,, iya. Sekarang lanjutkan, tapi dengan hati-hati" ucap April.


Vira melanjutkan pekerjaannya sambil memikirkan sesuatu.


"Pril" panggil Vira.


"Hem?" tanya April.


"Apa menurutmu parang ini bisa memb*n*h orang?" tanya Vira.


"Tentu saja bisa. Aku dengar ada orang yang dib*n*h oleh pisau. Jadi kalo pisau saja bisa memb*n*h orang, apalagi parang yang besar ini" bukannya April yang menjawab. Tapi Mila, yang berada di sebelah kiri Vira.


Vira dan April melihat ke arah Mila. Keduanya terdiam. Sesaat kemudian Vira tersenyum aneh. April melihat Vira yang tersenyum.


"Mila, kamu apaan sih?" tanya April.


"Kenapa? Emang benerkan?" jawab Mila dengan polosnya.


"Udah, lanjutin kerja kamu" titah April.


"Iya,, iya.." ucap Mila.


"Vir, kamu mikirin apa? Plis, jangan mikir yang enggak-enggak" tanya April.


Vira hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya itu. Terlintas ide jahat dipikiran Vira.


Terima kasih sudah mampir😊


Jangan lupa tinggalkan jejak😆

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2