
Dengan terpaksa Vira mengikuti Hanny. Kini mereka duduk berdua. Vira maupun Hanny tak ada yang berbicara. Vira hanya menikmati minuman sambil melihat orang-orang yang sedang menari.
"Apa kau menikmati pesta ini?" tanya Hanny.
"Oh, jadi ini sebuah pesta?" bukannya menjawab, Vira malah balik bertanya.
"Iya. Pesta ini untuk menyambutmu." jawab Hanny.
"Kalau saja dari awal aku tau ini adalah pesta penyambutanku, mungkin aku akan lebih cepat menikmatinya."
"Nikmati saja sekarang."
"Tapi,, untuk apa menyaambut orang yang akan pergi?" tanya Vira.
Hanny terdiam.
"Kau mau pergi?" Hanny mengerutkan keningnya.
"Tentu saja. Aku tidak mungkin terus berada di sini." jawab Vira lalu meneguk minumannya.
Hanny menajamkan matanya pada Vira.
"Jangan menatapku seperti itu." ucap Vira.
"Kau harus ingat, kau itu adalah gigoloku."
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memuaskanmu?"
Hanny terdiam.
"Oh ayo lah. Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu. Cari orang lain saja. Aku yakin kau punya banyak orang di sampingmu."
Hanny tersenyum smrik.
"Bagimana kalau kita bertaruh." usul Hanny.
"Bertaruh?" Vira menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Ya. Jika dalam waktu 3 hari aku tidak bisa menidurimu, aku akan membiarkanmu pergi. Bahkan aku sendiri yang akan mengantarmu pulang."
Vira menyimak Hanny.
"Tapi,, jika aku berhasil, kama kamu harus tetap di sini dan menjadi gidoloku. Seumur hidupmu."
"G1la lo ban95at. Seumur hidup gue harus jadi gigolo lo? Gue milih mat1 daripada hidup tapi jadi gigolo orang s1nting kayak lo. Dasar le5bi lo." cerca Vira.
"Terserah kau mau menerima atau tidak. Aku hanya memberikan kesempatan untukmu" balas Hanny.
Vira berpikir, taruhan yang Hanny berikan adalah jalannya untuk pergi dengan damai. Dia tidak perlu melibatkan Bima dalam hal ini. Toh ini juga resikonya. Vira yang memulai, maka dia juga yang harus mengakhiri. Selama 3 hari Vira hanya perlu meloloskan diri dari Hanny. Vira rasa tak begitu sulit.
"Baiklah. Aku setuju." ucap Vira.
"Bagus."
Vira dan hanny berjabat tangan.
"Tapi kau harus ingat janjimu." ucap Vira.
Vira memutar bola matanya jengah.
"Kau ma. Minuman spesial?" tawar Hanny.
"Minuman spesial?" ulang Vira.
"Ya. Minuman ini hanya ada di club ini saja. Di club lain tidak ada." jawab Hanny.
"Boleh." balas Vira.
"Ok." Hanny hangkit dan pergi menuju barista club.
5 menit kemudian, Hanny datang dengan membawa 2 gelas minuman berwarna hitam pekat. Hanny memberikan minuman itu pada Vira. Vira pun menerima minuman dari Hanny tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Apa kau memberiku racun?" tanya Vira.
"Ya. Minumlah racun itu." jawab Hanny.
__ADS_1
Vira meneguk minuman dari Hanny.
"Eum,, enak." ujar Vira. "Tapi lebih enak minuman instan yang ditaruh dalam plastik, lalu diminum dengan melubangi ujung plastik itu."
Hanny merasa geram. Bagaimana bisa Vira membandingkan minuman mahal dengan minuman eceran yang berbeda level. Tapi kemudian Hanny tersenyum penuh arti kala mengetahui apa yang akan terjadi.
Minumlah itu. Kemudian, kau akan lebih menikmati pesta ini, karna kau akan menghabiskan malammu bersamaku. Kau akan terus menjadi gigoloku. Batin Hanny.
Vira merasa ada yang aneh dari tubuhnya. Dia mulai merasa panas. Di situ Vira sadar. Dia sudah jatuh dalam perangkap Hanny. Lagi-lagi Vira terkecoh oleh Hanny. Vira berusaha bersikap biasa saja.
Kurang aja. Dasar wanita g1la. Berani-beraninya dia. Liat aja, gue gak akan biarin dia dapetin apa yang dia mau. Batin Vira.
"Aku ke toilet dulu." ucap Vira pada Hanny. Hanny menganggukkan kepalanya. Vira sedikit susah berjalan. Kepalanya sudah mulai pusing. Jalannya pun sempoyongan seperti orang sedang m4buk. Sebenarnya dia memang sudah m4buk.
Hanny menarik salah satu ujung bibirnya. "Kau akan segera menjadi milikku." seringai Hanny.
Vira berjalan menuju kamar mandi. Beruntung pria yang tadi berbicara dengannya berada di arah jalan toilet. Vira berjalan menuju ke arah pria itu dan dengan sengaja Vira menabrak itu.
Bruk.. Vira jatuh di atas tubuh pria itu.
"Batalkan rencananya. Jangan beritahu apapun pada ayahku. Jika sampai kau memberitahunya, kau akan habis di tanganku." ucap Vira.
"Apa! Tapi kenapa?" tanya pria itu.
"Aku akan pergi dari sini meski tanpa bantuan ayahku. Aku yang memulai, maka aku yang harus mengakhiri. Tidak boleh ada yang ikut campur. Termasuk ayahku."
"Baiklah jika itu mau mu." patuh pria itu.
Vira bangun dari jatuhnya.
"Apa kau tidak bisa melihat? Kau menghalangi jalanku." ucap Vira dengan marah.
"Maafkan aku nona. Aku tidak sengaja." sesal pria itu.
"Pergi dari jalanku!" Vira mendorong pria itu.
Vira melanjutkan langkahnya menuju toilet. Setelah sampai di toilet, Vira segera masuk ke dalamnya.
__ADS_1