Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Vira Si Gadis Licik


__ADS_3

PERHATIAN! NOVEL INI MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!


Happy Reading!😊


Setelah berbicara dengan April, Vira pergi ke kantor pengurus panti. Vira akan meminjam telepon dan menghubungi Dewi.


tok,, tok,, tok,, Vira ngetuk pintu terlebih dahulu.


"Permisi bu" Vira masuk ke kantor itu.


Di kantor itu hanya ada bu Titi saja. Entah kenapa di mana-mana selalu ada bu Titi. Apakah hanya bu Titi pengurus di panti ini?


Vira mendekati meja mu Cece.


"Ada apa?" tanya bu Titi dengan ketus.


"Saya mau meminjam telpon bu" jawab Vira tanpa ragu.


"Apa kamu bilang? Mau pinjam telpon?" bu Titi mengulangi jawaban Vira dengan pertanyaan.


"Iya bu" jawab Vira.


"Mau telpon siapa kamu? Emang kamu punya keluarga?" tanya bu Titi dengan sinisnya.


Vira mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Saya mau telpon mama saya bu" jawab Vira dengan tenang.


"Mama?" tanya bu Titi.


Bu Titi mengingat-ngingat sesuatu.


"Ah,, maksud kamu Dewi?" tanya bu Titi.


"Iya" jawab Vira.


Vira mengerutkan keningnya. Bagaimana bu Titi bisa kenal pada wanita ular itu? Ah aku lupa, mereka kan satu sifat. Pasti mereka sudah saling mengenal. batin Vira.


"Dewi itu mama tiri kamu. Untuk apa kamu menelponnya? Kenapa juga kamu sebut dia dengan panggilan mama?" bu Titi mulai melontarkan kata-kata hinaan untuk Vira.


Vira hanya diam mendengarkan hinaan yang diberikan oleh bu Titi.


"Dewi bilang, kamu itu anak yang tidak diinginkan. Setelah Dewi menikah dengan ayah kamu, kamu sudah tidak dianggap sebagai anak lagi oleh ayah kamu. Dan setelah ayah kamu mat*, kamu tidak punya lagi keluarga" ucap bu Titi.


Vira menatap tajam bu Titi. Vira ingin melampiaskan kemarahannya. Ingin sekali Vira menc*bik-c*bik mulut bu Titi dengan tangannya.


"Apa kau bertanya-tanya kenapa aku bisa tau?" tanya bu Titi bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"..." Vira tidak menjawab pertanyaan bu Titi.


"Aku, adikku, dan Dewi sudah berteman sejak lama. Jadi kami sudah tau kisah hidup satu sama lain" bu Titi menjawab pertanyaannya sendiri. Bu Titi terdiam sebentar.


Sudah kuduga batin Vira.


"Kami juga.." bu Titi hendak melanjutkan bicaranya. Namun Vira segera memotong perkataan bu Titi.


"Saya tidak bertanya tentang persahabatan bu Titi dan mama tiri saya" potong Vira."Bu, saya hanya meminta satu hal saja. Saya mau menjam telpon untuk menelpon mama tiri saya. Itu saja." lanjut Vira dengan penuh penekanan


Bu Titi terdiam, baru kali ini ada seseorang yang berani memotong pembicaraannya. Dan itupun seorang anak kecil. Sungguh, batin bu Titi sangat terhina.


"Kamu berani memotong perkataan saya?" tanya bu Titi penuh amarah.


Bu Titi berhadapan dengan Vira.


"Beraninya kamu!" bu Titi mengangkat tangannya dihadapan Vira. Bu Titi hendak mem*kul Vira.


Namun sebelum tangan bu Titi berhasil menyentuh wajah Vira, Vira terlebih dahulu menod*ngkan pensil di leher bu Titi. Gerakan Vira sangat sigap dan pandangan Vira sangat tajam. Begitu melihat ada pensil yang tergeletak di atas meja, saat bu Titi tidak melihat ke arahnya, Vira langsung mengambilnya. Vira berjaga-jaga kalau bu Titi bertindak nekat.


Bu Titi membulatkan matanya kaget, saat melihat sudah ada ujung pensil yang tajam menghadap ke lehernya.


"Diam, atau pensil ini akan menanc*b di lehermu" ancam Vira.


Bu Titi diam tak berkutik di hadapan Vira.


Vira berjalan mendekati telepon. Vira menekan angka nomor telpon rumahnya.


"Hallo" ucap suara orang dari sebrang.


Orang yang mengangkat telpon itu adalah Indri.


"..." Vira diam tak menjawab saat yang mengangkat telpon adalah Indri, dan bukannya Dewi.


"Hallo" ucap Indri lagi. "Mungkin salah sambung. Aku tutup aja deh" gumam Indri yang terdengar oleh Vira dari telpon.


"Hallo" jawab Vira pelan.


"Nah dijawab juga" ucap Indri. "Ini siapa ya?" tanya Indri.


"Bisa bicara dengan Dewi?" bukaannya menjawab pertanyaan Indri, Vira malah balik bertanya.


"Bisa, tungu sebentar" jawab Indri. "Ma,, mama.." panggil Indri.


"Iya" jawab Dewi. "Ada apa?" tanya Dewi.


"Ada yang mau bicara sama mama" jawab Indri.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Dewi heran.


"Gak tau, mama bicara aja sendiri" jawab Indri.


Indri memberikan telpon itu pada Dewi.


Percakapan Indri dan Dewi dapat terdengar secara jelas oleh Vira.


"Hallo, dengan siapa ini?" tanya Dewi.


"Vira" jawab Vira.


"Vira?" tanya Dewi.


"Iya. Ini aku Vira, anak tirimu" jawab Vira.


"Ada apa kamu menelepon?" tanya Dewi dengan tidak suka.


"Aku mau pulang" jawab Vira.


"Pulang? Kamu udah nyerah tinggal di sana? Kamu menderitakan, di sana?" tanya Dewi dengan sombongnya.


"Heheh,, jangan so atu kamu. Aku hanya mau mengambil foto ayahku saja, tanpa berniat untuk kembali tinggal di sana" jawab Vira.


Dewi terdiam oleh perkataan Vira.


"Biarkan aku menginap sehari di rumah. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku hanya akan mengambil foto saja" lanjut Vira.


"Serius kamu?" tanya Dewi tanpa menaruh curiga.


"Iya. Untuk yang terakhir kalinya, aku ingin bisa tidur di rumah ayahku" jawab Vira.


"Baiklah, besok aku akan menjemputmu" setuju Dewi.


"Iya. Terima kasih" ucap Vira.


"Em.."balas Dewi.


Vira mengakhiri panggilannya dengan Dewi. Vira meletakan kembali teleponnya dan membalikkan badannya. Vira melihat bu Titi masih berdiri di tempat yang sama.


Vira menatap bu Titi sekilas, kemudian dia berjalan ke luar kantor itu. Bu Titi melihat Vira yang sudah ke luar dari kantornya itupun bernafas lega.


"Benar apa yang dikatakan Dewi. Vira itu gadis yang licik" gumam bu Titi.


Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2