
10 menit berlalu. Cuaca di laut semakin buruk. Badai besar terjadi. Para orang dewasa sedang mengatur laju kapal. Vira masih setia dengan posisinya. Dingin masih belum hilang dari tubuh Vira. Sekujur tubuh Vira merasakan sakit. Bibirnya terus bergetar menahan dingin.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang memeluk Vira. Punggung Vira menempel pada dads orang itu. Bagian bawah dagu orang itu menyentuh kepala Vira. Vira mendongkakkan kepalanya melihat siapa orang yang sudah lancang memeluknya dari belakang.
"Ian.." lirih Vira.
Vira memberontak. Dia tidak suka posisi seperti ini. Dia berusaha keluar dari pelukan Ian. Namun Ian malah mengerutkan pelukannya pada Vira.
"Lepasin gue!" tegas Vira.
"Biarkan seperti ini. Tubuhmu akan merasa hangat." ucap Ian.
Vira tidak bisa memberontak. Tubuhnya terlalu lemah melawan Ian yang kuat. Akhirnya Vira hanya bisa pasrah berada di dalam pelukan Ian.
Vira merasakan kehangatan dari tubuh Ian. Tubuhnya juga sudah tidak menggigil lagi. Perlahan kesadaran Vira menghilang dan digantikan oleh suara dengkuran halus dari Vira.
Ian tersenyum mengetahui Vira tertidur dipelukannya. Samuel, Robet, Geri dan Luis melihat hal itu. Mereka merasa aneh melihat Ian yang tersenyum.
Vira terbangun dari tidurnya. Saat terbangun, dia tidak mendapati siapa pun di dalam kapal. Tubuh Vira merasa lebih baik. Vira bangun dan dia melihat ke luar. Rupanya dia sudah sampai di daratan. Penglihatannya dikejutkan oleh Ian, Samuel, Robet, Geri dan Luis berkumpul. Mereka sedang membicarakan hal yang serius. Tapi bukan itu yang membuat Vira terkejut. Dia terkejut karna mereka memegang senjata api.
Dugaan Vira benar. Mereka bukan seorang nelayan. Vira harus segera pergi dari sini. Vira tidak mau setelah keluar dari mulut harimau, dia malah masuk ke mulut srigala. Dengan keahliannya mengendap-endap, Vira berhasil keluar dari kapal. Dia segera berlari dan menjauh dari kapal itu. Vira masuk ke dalam hutan yang ada di dekat pantai.
Vira berlari sejauh mungkin. Vira bingung harus ke mana. Bahkan dia tidak tau dia ada di negara mana. Yang Vira tau, dia sudah keluar dari negara Y.
Setelah cukup jauh, Vira berhenti dan mengistirahatkan tubuhnya. Tubuh Vira masih terasa sakit. Apalagi kakinya. Setelah lari dari kejaran anak buah Hanny, Vira terjun ke laut dan bernang di air yang dingin selama 30 menit. Lalu sekarang dia harus berlari menghindari Ian dan yang lainnya. Penderitaannya terasa sangat lengkap.
Dalam keadaan seperti ini, Vira hanya memikirkan satu orang, yaitu ayahnya, Bima. Andai Bima bersama dia, Vira pasti tidak akan kesulitan seperti ini.
Ayah. Gue harus minta tolong sama ayah. Cuma dia yang bisa nyelametin gue. Pikir Vira.
Vira menengadahkan kepalanya menghadap langi. Langit mulai gelap. Sebelum malam, Vira harus memberitahu Bima. Vira harus mendapat ponsel atau komputer yang bisa mengakses internet. Vira akan mendapatkan itu sebelum malam.
__ADS_1
Vira menyusuri hutan dengan harapan bertemu seseorang. Takdir menolong Vira. Vira menemukan sebuah perkampungan kecil di pinggir hutan. Tubuh Vira sangatlah lelah. Tapi dia tidak boleh menyerah. Sudah separuh jalan. Vira harus mencapai tujuannya.
Vira masuk ke perkampungan itu. Tidak banyak penduduk di sana. Hanya ada sekitar 30 orang. Vira menemukan sebuah tempat berisi komputer. Vira berpikir itu pasti warnet. Vira menghampiri warnet itu.
"Permisi." ucap Vira.
"Ya. Ada apa?" tanya penjaga warnet.
"Apa aku bisa mengakses internet di sini?"
"Kau punya uang? Jika punya, tentu bisa."
Sial! Umpat Vira. Dia sama sekali tidak mempunyai uang sepeserpun.
"Ahahah.." penjaga warnet itu tertawa terbahak-bahak.
Vira menatap aneh pada penjaga warnet yang tiba-tiba tertawa.
Vira menatapnya dengan datar.
"Apa kau sakit?" tanya penjaga warnet yang melihat wajah Vira.
Vira menggelengkan kepalanya.
"Kau sakit. Wajahmu sangat pucat."
"Tidak. Aku baik-baik saja." sangkal Vira.
Tidak ingin terus berbicara, Vira segera duduk disalah satu komputer. Dia langsung mengakses halaman yang hanya bisa diakses oleh anggota gengnya. Vira mengirimkan kode harasia. Sekali mengirimkan kode itu, Bima akan tau apa yang artinya.
Tak butuh waktu lama bagi Vira mengirimkan kode itu. Hanya 1 menit dia mengakses komputer. Dia terlalu lama mengakses komputer, bisa saja akan terlacak. Namun Vira tidak perlu khawatir halaman yang dia masuki terlacar. Halaman itu tidak akan terlacak oleh siapa pun.
__ADS_1
Setelah selesai, Vira menghampiri penjaga warnet.
"Terima kasih." ucap Vira.
"Sama-sama." balasnya. "Apa kau yakin baik-baik saja?"
"Ya. Aku tidak papa."
"Baik kalo begitu. Tapi kau harus hati-hati."
"Ya. Em.. Boleh aku tau ini negara apa?"
"Ini negara J. Sepertinya kau bukan orang sini."
"Iya aku tersesat."
"Mau kubantu?"
"Kau sudah membantuku. Terima kasih. Kelak aku akan membalas bantuanmu."
"Baiklah.."
Vira melangkahkan kakinya keluar dari warnet. Saat dia keluar, dia dikejutkan oleh puluhan orang berbadan besar yang sudah menunggunya. Vira tau mereka adalah anak buah Hanny.
Ah.. Sial! Umpat Vira.
"Kau harus ikut dengan kami." ucap salah seorang anak buah Hanny.
"Kalo aku tidak mau?" tanya Vira.
"Perintah kami hanya satu. Membawamu dengan cara apapun dan kondisu bagaimana pun." jawabnya dengan tegas.
__ADS_1
Vira menajamkan matanya. Dia tau mereka tidak main-main dengan ucapan mereka.