Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Berita Viral


__ADS_3

Happy Reading!😊


"Pagi ini ditemukan sesosok mayat perempuan berusia kurang lebih 30 tahun di salah satu kamar yang ada di panti asuhan. Keaadan mayat itu sangat mengenaskan. Terlihat dari luka yang dialami oleh korban, korban meninggal karna dibun*h oleh seseorang. Menurut informasi yang kami dapatkan, korban adalah salah satu pengurus panti asuhan. Korban bernama bu Cece" seorang reporter berbicara di depan kamera.


Pagi ini adalah pagi yang sangat cerah. Namun, pagi yang cerah itu dikejutkan dengan penemuan mayat disalah satu kamar yang ada di panti. Mayat itu adalah mayat bu Cece.


Orang yang pertama kali menemukan mayat bu Cece adalah bu Rini yang hendak memanggil bu Cece. Bu Rini segera menelpon pihak kepolisian untuk memeriksa mayat bu Cece. Polisi pun datang bersama dengan reporter berita.


Untuk sementara, para anak panti diminta untuk menjauhi TKP. Reaksi para anak panti bermacam-macam. Yang jelas, kaget itu pasti. Selain kaget, ada juga yang merasa sedih, senang, kasihan dan juga bodo amat. Tapi kebanyakan dari mereka merasa senang.


"Ih,, kasian banget ya" ucap Winda.


"Eh, ngapain juga kasian sama dia. Harusnya kita bersyukur karna sekarang, dia udah gak ada" ucap Mila.


"Mil, kamu gak boleh gitu" tegus April.


"Iya maaf" ucap Mila. "Eh, si Vira mana?" tanya Mila.


"Gak tau tuh. Biasanya sama kamu Pril" jawab Winda.


"Oh iya, ya. Dari tadi Vira gak ada. Sekarang di mana ya dia?" tanya April.


"Mungkin dia masih tidur kali" jawab Mila.


"Aku mau ngecek ke kamar dulu" ucap April.


Mila dan Winda menganggukkan kepala mereka.


April berjalan menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamarnya. Ternyata benar, Vira masih ada di kamar dan dia masih tidur dengan tenangnya.


"Vir,, bangun.." April mengguncangkan tubuh Vira.


"Em.." Vira terbangunkan. "Apa Pril?" tanya Vira yang masih menutupkan matanya.


"Kamu di sini tidur dengan tenang, sementara di luar sedang rusuh Vir" ucap April.


Tak ada reaksi dari Vira.


"Vir, bangun. Bu Cece meninggal Vir" April memberi tahu Vira kejadian yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Oh.." balas Vira.


April mengerutkan keningnya. Dia heran kenapa sikap Vira biasa-biasa saja. Tidak ada raut kaget dari wajah Vira.


"Vir, masa cuma oh doang sih jawabnya?" tanya April.


"Terus aku harus gimana?" Vira balik bertanya.


"Ya,, kaget kek. Syok kek, atau apalah gitu. Kalo kamu cuma jawab oh aja, itu keliatan kamu udah tau semuanya" jawab April.


"..." tak ada jawaban dari Vira. Vira malah melanjutkan tidurnya.


"Ya udah, aku pergi dulu. Lanjutin aja tidur kamu" ucap April yang hendak pergi.


Saat April selangkah laagi menuju ke luar, tiba-tiba April menyadari sesuatu. Dengan cepat April menutup pintu dan menguncinya dari dalam. April berjalan cepat ke arah Vira.


"Vir.." April mengguncangkan tubuh Vira.


"Em.." Vira kembali terbangun.


"Jangan bilang kalo kamu yang udah bun*h bu Cece" ucap April.


"Vir, jawab. Apa bener itu kamu?" tanya April dengan panik.


"Kalo iya kenapa?" Vira memberikan pertanyaan sebagai jawaban.


April menutup mulutnya tidak percaya.


"Tega kamu ya Vir" ucap April.


"Tega? Kamu bilang aku tega?" tanya Vira. "Lebih tega mana, orang yang setiap hari meny*ksa anak? Orang yang setiap hari memperlakukan anak sebagai bud*k? Orang yang setiap hari tega menyuruh anak melalukan pekerjaan dewasa?" Vira bertanya pada April dengan lantang.


Untung saja di luar tidak ada yang mendengar pembicaraan Vira dengan April.


"Ya, aku memang tega. Tapi aku lebih gak tega jika setiap hari aku harus melihat temen-temen aku dis*ksa sama wanita itu" lanjut Vira.


"Ya tapi gak harus seperti itu jugakan?" tanya April.


"Terus aku harus seperti apa? Aku harus ngomong baik-baik sama dia? Bu Cece tolong bu Cece jangan s*ksa anak-anak lagi. Aku gak tega bu. Kalo bu Cece masih mengakuin hal yang sama, maka bu Cece akan saya b*n*h. Apa seperti itu?" tanya Vira lagi.

__ADS_1


April terdiam.


"Kalo aku bicara seperti itu, bisa-bisa aku yang dib*n*h sama dia Pril" ucap Vira. "Aku udah bilang sama kamu. Saat tiba waktunya, aku akan membalas semuanya" lanjut Vira.


Vira dan April sama-sama terdiam. April menundukkan kepalanya.


"Hiks,, hiks,, hiks.." tiba-tiba April menangis.


April menangis karna mendengar ucapan Vira yang lantang dan berteriak. April tidak suka jika ada seseorang yang berteriak padanya. Jika ada orang yang berteriak padanya, April akan merasa kalau orang itu sedang memarahinya.


Sebenarnya Vira sudah tau akan hal itu. Hanya saja Vira tidak dapat mengontrol emosinya.


April masih menangis.


"Ah.." geram Vira prustasi karna melihat april yang sangat cengeng.


Vira membanting bantalnya kesembarang arah. Vira turun dari ranjangnya dan berjalan ke luar kamar. Vira membuka kunci pintu dan membanting pintu itu dengan keras.


April tersentak dengan tindakan Vira. Baru kali ini Vira sekasar itu pada April. Biasanya semarah apapun Vira pada April, dia tidak akan seperti itu.


Vira berjalan menyusuri lorong kamar yang dipenuhi oleh beberapa anak panti.


"Ih,, aku dengar bu Cece dibun*h dengan dig**** lehernya" ucap salah satu anak panti.


"Beneran? Berani banget ya, yang bun*h bu Cece" ucap anak panti yang lain.


"Tapi aku penasaran siapa pelakunya"


"Aku juga sama"


Diam-diam Vira tersenyum mendengar pembicaraan anak-anak panti itu. Berita kematian bu Cece menjadi Viral dimedia sosial.


Seketika Vira teringat pada April. Vira mempunyai ide agar April tidak marah lagi padanya. Vira tahu, pasti sekarang April sangat marah padanya. Vira merutuki dirinya sendiri yang bersikap kasar pada April.


Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak


Tbc..

__ADS_1


__ADS_2