
Satu malem terlewatkan. Tinggal 2 malalem lagi. Gue mau liat apa yang mau lo lakuin Hanny. Pikir Vira.
"Kenapa kau tidak melawan? Kau kan suka membvnuh orang. Masa kau kalah." protes Hanny.
"Bukannya aku gak mau ngelawan. Aku gak bisa. Saat itu kepalaku sangat pusing. Aku juga gak terlalu sadar." balas Vira.
Hanny mengembangkan mulutnya. Pertanda dia kesal.
"Aku ingat, sebelum itu aku gak terlalu mabvk. Tapi setelah meminum minuman darimu, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Tubuhku terasa panas." ujar Vira. Minuman apa yang kau berikan padaku?" tanya Vira pada Hanny.
Hanny bungkam. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkinkan dia menjawab itu minuman yang sudah dicampur obat.
"E-em.. minuman biasa. Aku gak nyampurin obat apa pun kok." jawab Hanny.
Vira tersenyum sinis. "Aku tidak bertanya soal obat. Aku juga tidak bertanya apakah kau mencampur minumanku dengan obat?" Vira berusaha menjebak Hanny dengan perkataannya. "Kenapa kau membahas obat? Sepertinya kau memang mencampurkan sesuatu di minumanku."
"Tidak. Itu tidak benar." sangkal Hanny.
"Kau sudah menjawab sebelum aku bertanya Hanny."
Hanny sangat kesal. Dia marah pada Vira yang berhasil menjebaknya dalam untaian kata.
"Hanny, taruhan tetaplah taruhan. Kau harus menepati taruhan yang sudah kau buat sendiri." ucap Vira.
"Aku tau. Masih ada 2 malam lagi. Kau akan segera menjadi milikku."
"Terserah. Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa memiliki-ku." balas Vira tersenyum meremehkan.
Hanny keluar dari kamar Vira dengan perasaan kesal.
Mari kita beralih pada orang-orang terdekat Vira yang saat ini sedang mengkhawatirkan Vira.
Rendi, Roy dan Nathan sudah kembali ke Indonesia. Mereka mengukuti perintah Vira yang menyuruh mereka pulang duluan. Sebenarnya mereka tidak mau. Namun bagaimana lagi. Mereka sudah mencari Vira di negara XX, tapi mereka tak kunjung menemukan Vira. Jadi mereka berpikir untuk meminta bantuan dari Bima.
Kini Bima, Wisnu, Bram, Iqbal, Rendi, Nathan dan Roy sedang berkumpul di markas. Bima duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang tak bersahabat.
"Jadi Vira menghilang?" tanya Bima.
__ADS_1
"Iya om." jawab Rendi.
"Sebenarna bukan hilang om, tapi Vira sempet menghubungiku dan menyuruh kami kembali." ralat Nathan.
"Dan kalian kembali tanpa dirinya." ucao Bima.
"Kenapa kalian kembali tanpa Vira? Seharusnya kalian mencarinya!" tanya Wisnu dengan sedikit berteriak.
"Ayah, kami sudah mencarinya ke seluruh tempat di negara XX. Tapi Vira tak ada di sana. Itu sebabnya kami memilih pulang dan minta bantuan para bapak." jelas Rendi.
"Ck.." Wisnu berdecak sebal.
"Iqbal, apa kau sudah menyuruh orang mencari Vira di negara XX?" tanya Bima.
"Sudah. Saat ini mereka sudah bergerak." jawab iqbal.
Bima menganggukkan kepalanya.
"Tapi.. di negara XX sedang ada kasus yang menggemparkan." ucap Bram.
"Kasus apa?" tanya Iqbal.
"Pembubvh itu bernyali besar. Aku penasaran bagaimana kondisi pembunvh itu sekarang inu." balas Iqbal.
"Polisi berasumsi pembunvh itu sudah mati. Karna malam itu lautan sedang terjadi badai yang besar." balas Bram.
Bima terdiam. Bima langsung teringat pada Vira. Target Vira adalah anggota keluarga Presiden negara XX. Bima yakin kalo yang menjadi pemberitaan adalah target Vira. Dan dia juga yakin Vira adalah pelaku pembunvhan itu.
"Negara mana yang terdekat dari laut itu?" tanya Bima.
"Negara W, G dan J." jawab Bram.
Bima terdiam. Dia sedang berpikir. Vira pasti ada di salah satu negara itu.
Saat Bima dan yang lainnya sedang berdiskusi, tiba-tiba salah satu anak buah Bima menerobos masuk.
"Hei.. Aku bilang kau tidak boleh masuk." ucap salah satu anak buah Bima menahan anak buah Bima yang ingin masuk.
__ADS_1
"Lepaskan aku." berontaknya.
Pintu utama terbuka. Semua orang tertuju pada 2 orang anak buah Bima.
"Maaf bos. Dia memaksa ingin masuk." adunya.
"Bos, ada yang harus kusampaikan."
"Apa kau tidak lihat kami sedang berdiskusi?" tanya Iqbal.
"Ini soal bos kecil."
"Biarkan dia masuk." ucap Bima.
Kini mereka menjadi berdelapan.
"Apa yang ingin kau sampaikan Dion?" tanya Bima.
"Aku tau di mana keberadaan bos kecil." jawab Dion.
"Di mana dia?" tanya Bima.
"Dia ada di negara Y." jawab Dion.
"Negara Y?" ulang Bima.
"Iya bos."
"Bram, seberapa jauh negara Y dari laut itu?" tanya Bima pada Bram.
"Sangat jauh. Itu melintasi Negara J." jawab Bram.
"Jangan berbohong padaku. Kau tau kan akibatnya jika kau berbohong padaku? Dari mana kau tau Vira ada di sana?" selidik Bima.
"Aku tidak berbohong. Aku bertemu dengan bos kecil." jawab Dion.
Semua orang masih tidak percaya dengan ucapan Dion. Dion tau tidak akan mudah membuat anggota inti percaya.
__ADS_1
"Aku baru saja sampai dari negara Y setelah menjalankan tugas darimu. Kemarin malam aku bertemu dengan bos kecil di club yang terkenal di negara Y. Tapi bos kecil tidak seperti biasa. Bos kecil memakai pakaian wanita penghibur." Dion mulai menjelaskan.
"Jaga bicaramu! Tidak mungkin putriku memakai pakaian seperti itu!" bentak Bima.