Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Penyelamatan


__ADS_3

Vira meloncat dan menaiki jendela kecil yang ada di toilet. Berulang kali Vira terjatuh. Namun usahanya tak sia-sia. Vira berhasil keluar dari toilet. Seolah takdir mengizinkannya untuk kabur, tidak ada satu orang pun anak buah Hanny yang berjaga di sana.


Vira berlari mengikuti instingnya. 10 menit berlari, Vira masih tidak menemukan perumahan. Sekarang Vira berada di padang rumput. Vira berhenti untuk menstabilkan nafasnya. Vira memincingkan matanya. Dia bisa perumahan, namun masih jauh.


Dari arah belakang terdengar suara bising. Vira yakin itu adalah suara Hanny dan anak buah yang sedang mencarinya. Vira kembali melangkahkan kakinya. Dari arah depan Vira juga melihat segerombolan orang mendekat ke arahnya. Vira tidak mengetahui siapa mereka.


Vira bingung harus bagaimana. Dari arah belakang ada musuhnya. Dari arah depan entah musuh entah siapa. Vira terpaku melihat seuatu dari arah depan. Dia melihat bendera berlambangkan ular cobra yang sedang melilit pedang. Sudut bibir Vira terangka. Itu adalah kelompok Bima.


Tanpa di sadari, Hanny sudah mendekati Vira. Vira hendak berlari lagi. Namun tubuhnya tiba-tiba terasa kaku. Nafasnya terasa berat, pandangannya sedikit kabur, serta kepala terasa pusing. Sangat susah untuk Vira melangkahkan kaki.


Sebelum Hanny sampai pada Vira, kelompok Bima lebih dulu sampai padanya. Namun Bima sendiri masih ada di belakanh. Kelompok Bima dan Hanny bertemu. Dan terjadilah peperangan.


Hanny berhadapan dengan Vira. Dia tampak terkejut karna tiba-tiba ada pasukan seperti ini.


"Kamu tidak akan aku lepaskan." ucap Hanny.


Vira menyunggingkan senyum. "Gue yang gak akan lepasin lo."


"Kamu sudah menghianatiku. Kamu sudah membatalkan taruhan kita. Kamu seorang penghianat."


"Penghianat apa? Gue gak pernah balatin taruhan kita. Sampai kemarin malam taruhan itu masih berlaku. Cuman elo ya yang bego. 2 hari gue itu berusaha gak tidur sama lo. Gue kabur bukan karna gue mau pergi. Tapi gue cuman ngehindar dari lo." bantah Vira.


"Curang." geram Hanny.


"Curang gimana? Lo gak ngasih larangan jangan kabur dari lo. Gue juga gak ngasih larangan lo gak bisa kejar gue. Lo terlalu bego Hanny. Semalam gue berharap lo gak tkdur sama gue. Dan harapan gue kenyataan."


"Dasar gadis licik."


"Makasih pujiannya." Vira tersenyum. "Semalam adalah malam terakhir taruhan kita. Dan lo gagal. Gue yang menang taruhan ini. Makasih udah anter gue pulang ya. Sebagai imbalan, gue gak akan biarin lo pulang ke negara lo lagi. Hahah.."


Hanny mengacungkan senjata api pada Vira. Mereka hanya berjarak 5 meter saja.

__ADS_1


"Turunkan senjatamu. Atau kupecahkan kepalamu." perintah seseorang dengan naga berat dan begitu dingin.


Vira menyunggingkan senyum. Dia tau siapa pemilik suara itu. Suara itu adalah suara yang dia rinduka, yaitu Bima.


Bima dan Vira berjarak 5 meter. Kini Vira berada di tengah-tengah antara Bima dan Hanny.


Hannya membulatkan matanya melihat Bima.


"Kau.." Hanny tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Bukan kah kau Bima dari 'The Cobra'?" tebak Hanny.


"Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang sudak kau ketahui jawabannya." balas Bima.


Hanny tersentak kaget. Selama ini dia berusaha menghindar dari Bima. Dia berusaha tidak berurusan dengan Bima. Dia tau bagaimana dasyatnya kekuatan Bima. Namun sekarang? Kenapa Bima bisa terlibat.


"Aku tidak punyai urusan denganmu." ucap Hanny.


"Kau sudah melukai orang yang berharga bagiku. Jelas aku punya urusan denganmu." balas Vira.


"Siapa dia bagimu?" tanya Hanny pada Vira.


"He is my Dady." jawab Vira tersenyum miring.


Hanny menurunkan tangannya. Pertahanan Hanny goyah. Dia tidak percaya kalo Vira adalah putri Bima. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini.


Vira tersenyum sinis saat melihat Hanny begitu syok. Dengan tertatih Vira berjalan mendekat pada Bima. Dia memanfaatkan Hanny yang masih syok.


Hanny kembali menodongkan senjatanya pada Vira. Tatapannya menajam.


"Kau tidak akan pergi hidup-hidup." ucap Hanny.


Hanny bersiap menarik pelatuknya. Namun seseorang menendang Hanny hingga dia terjatuh. Rupanya orang itu adalah Nathan.

__ADS_1


Bima berjalan cepat menghampiri Vira. Meski terjatuh, Hanny tidak melepaskan senjatanya. Dengan sekali tarikan, Hanny mengarahkan senjatanya menarik platuknya.


Dor..


Suara tembakan menggema.


"VIRA..!" teriak Bima.


"VIRA..!" teriak Nathan.


Bima menangkap Vira yang hendak jatuh. Dan Nathan langsung menahan Hanny agar tidak kabur.


"Vira.. Sayang.. Buka mata kamu.." Bima membaringkan tubuh Vira di tanah dan memangku kepalanya.


"Sayang.. Ini ayah. Ayah udah dateng.." Bima menepuk pelan wajah Vira.


Vira membuka matanya sedikit. Kesadarannya hampir hilang.


"A-ayah.." lirih Vira


"Iya sayang.." balas Bima yang hampir menitikan air matanya.


"Ayah maafin Vira." ucap Vira dengan tenaga yang tersisa.


"Maaf buat apa sayang? Jangan bicara lagi." Bima mengelus kepala Vira dengan sayang.


"Vira sayang ayah.." Vira menutup matanya.


"Vira.. Vira. Bangun sayang.. Jangan tutup mata kamu."


Bima memeluk Vira dengan erat. Mulutnya tak bosan mengatakan bagun pada Vira.

__ADS_1


__ADS_2