Psikopat Sejak Dini

Psikopat Sejak Dini
Tidak Akan Kalah


__ADS_3

Vira masuk ke dalam toilet. Vira bertumpu pada wastafel. Dia menatap dirinya di cermin. Rasa panas menyeruak dalam tubuh Vira. Kepala Vira sudah sangat berat. Kesadarannya pun mulai mulai tidak stabil.


"Gue harus tetep sadar. Gue gak boleh kalah dari si j4lang itu." ucap Vira.


"Akh.." Vira memegang kepalanya.


Plak..


Vira men4mpar wajahnya sendiri. Vira menimbulkan rasa sakit guna kesadarannya terjaga.


Plak..


Plak..


Plak..


Usaha Vira tak membuahkan hasil yang sempurna.


Cklek..


Beberapa orang masuk ke dalam toilet. Vira menatap orang-orang itu dari pantulan cermin. Sepertinya orang-orang itu bukan orang biasa. Terlihat dari pakaian mereka. Vira mendapat ide bagaimana dia agar terjaga. Ya.. setidaknya dia harus terlepas dari Hanny.


Vira meneganggak tubuhnya. Dia berjalan menuju pintu untuk keluar. Lebih tepatnya dia berjalan menuju orang-orang itu.


Bruk..


Vira menabrak mereka dengan sengaja.


"Minggir kalian." usir Vira dengan nada orang m4buk.


"Eh.. Siapa lo? Lo yang nabrak lo yang marah."


"Awas. Lo pada ngehalangin jalan gue." balas Vira.


"Wah.. ni anak kurang ajar ni. Kayaknya dia anak baru."


"Diankan anak yang di bawa sama si Hanny."


"Oh.. Jadi karna ada Hanny di belakang lo, lo jadi berani sama kita. Lo gak tau siapa kita?"


"Gue gak gak mau tau siapa kalian. Udah mingggir.." Vira mendorong salah satu dari mereka.


"Akh.. Wah.. Lo bener-bener ya."


"Kita kasih dia pelajaran."


"Iya."

__ADS_1


"Apa? Mau hajar gue? Ayo, sini maju kalian. Gue gak takut sama kalian." tantang Vira


"Ngelunjak ni anak."


"Hajar dia."


Vira bertarung dengan orang-orang itu. Lebih tepatnya Vira dikeroyok oleh orang-orang itu. Vira tidak melawan sama sekali. Dia menerima semua pvkukan dari mereka. Seluruh tubuh Vira menjadi korban.


Setelah puas, orang-orang itu meninggalkan Vira begitu saja.


"Dasar lemah."


"Tidak berguna."


"Payah."


Vira terbaring lemah tak berdaya. Semua tubuhnya terasa sakit. Dia tak memiliki tenaga untuk bangkit. Vira memilih untuk tetap dalam posisinya sekarang.


Vira menyunggingkan senyum di bibirnya. Entah kenapa, rasa sakit yang dia alami saat ini membuatnya bahagia. Perlahan kesadaran Vira hilang. Vira pingsan di toilet tanpa ada orang yang tau.


Tak berselang lama, ada orang yang masuk ke dalam toilet. Dia menemukan Vira tak sadarkan diri dalam toilet.


"Akh.." pekik orang itu.


"Mayat.. Mayat.. Ada mayat di sini." teriak orang itu.


Teriakan orang itu tak terdengar karna alunan musik yang memekik gendang telinga. Orang itu frustasi karna tidak ada yang mendengarkannya. Orang itu berjalan ke arah sumber musik. Orang itu mematikan musik dengan sepihak.


"Kenapa musiknya berhenti?"


"Kenapa ini?"


"Hey.. nyalakan lagi musiknya."


"Cepat putar kembali musiknya."


"Ada apa dengan musiknya?"


"Kenapa bisa berhenti?"


Semua pengunjung club mulai ricuh karna musik yang berhenti.


"DENGARKAN AKU. ADA MAYAT DI TOILET PEREMPUAN!" teriak orang itu.


"Apa!"


"Ada mayat?"

__ADS_1


"Mayat siapa?"


"Benarkah?"


"Hah.. Tidak mungkin."


"Aku jadi merinding."


"Aku tidak mau melihatnya."


Lagi-lagi mereka ricuh karna orang itu.


Hanny mengerutkan keningnya. "Mayat di toilet perempuan?" heran Hanny. "Ke mana Vira? Bukankah tadi dia ke toilet? Dia belum kembali. Tidak mungkin.." Hanny segera berlari menuju toilet.


Melihat Hanny berlari, orang-orang pun ikut berlari dengan Hanny.


Hanny membuka pintu toilet. Betapa terkejutnya dia melihat Vira tak sadarkan diri dengan tubuh yang penuh luka. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Banyak lebam di tubuhnya.


"Vira!" ucap Hanny.


Hanny mengangkat kepala Vira dan meletakkan di atas pahanya. Hanny mengarahkan jari telunjuknya ke arah hidung. Hanny merasa lega karna Vira masih bernafas.


"Dia masih hidup." ucap Hanyy. "Vira bangun. Kamu kenapa?" Hanny menepuk pelan wajah Vira. Namun Vira tak kunjung bangun.


Hanny membawa Vira pulang ke tempatnya. Saat ini Vira sudah berbaring di tempat tidur dengan pakaian yang sudah diganti dan juga luka yang sudah diobati. Namun Vira belum sadar.


Dokter bilang Vira tidak memiliki luka yang parah. Kemungkinan besar Vira dikeroyok karna dia m4buk berat. Hanny kesal karna rencananya gagal. Tapi dia juga merasa kasihan pada Vira.


Keesokan harinya, Hanny kembali melihat Vira. Namun Vira belum sadar. Hanny duduk di samping Vira. Dia akan menunggu sampai Via sadar. Tak lama, Vira mulai sadar.


"Em.." legung Vira. Vira mencoba mengumpulkan nyawanya.


"Akhirnya kau sadar juga." ucap Hanny.


Vira menatap Hanny tanpa ekspresi.


"Di mana aku?" tanya Vira.


"Kau di tempat awal." jawab Hanny.


Vira mencoba bangun. Tapi seluruh tubuhnya sakit. Hanny membantu Vira bangun. Vira bersandar di kepala ranjang.


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku terasa sakit?" tanya Vira sambil meringis.


"Kau tidak ingat kejadian kemarin malam?" Hanny balik bertanya.


Vira menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kau dikeroyok di toilet dan terluka." jawab Hanny.


"Benarkah?" Vira mencoba mengingat kejadian semalam. "Ah.. Iya. Kurang ajar mereka." ucap Vira setelah ingat.


__ADS_2